--- In [email protected], salman harits <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Menurut saya alasan-alasan tersebut kurang pas, sebagaimana hal yang dulu dijadikan alasan oleh pejabat lama. > > Makanya kalau mau dilogika, alasan-alasan tersebut kurang masuk akal. > > Contoh, jaman dulu pejabat beralasan: karena akuntansi tidak/kurang relevan dengan anggaran. > Alasan ini menurut saya kurang masuk akal. > > Di akuntansi mempelajari mata kuliah akuntansi biaya atau akuntansi manajemen, ini sangat cocok dengan mata kuliah sistem perencanaan anggaran. > > Daripada belajar sistem perencanaan anggaran yang lebih banyak berkutat pada prosedur dan peraturan tentang anggaran yang kadang-kadang setelah lulus mungkin sudah berubah. > > Sekarang, alasannya kurang memerlukan tenaga akuntansi. > DJPBN setahu saya adalah instansi yang bertanggung jawab membuat LKPP. Selama ini LKPP kita masih dinilai disclaimer oleh BPK. > Menurut saya justru inilah saatnya DJPBN memberdayakan tenaga akuntansi, untuk memperbaiki laporan keuangannya apabila ternyata unsur disclaimernya ada di DJPBN. > nagabonarjadidua <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Dear all, > > Setditjen PBN melalui suratnya No.S-6224/PB.1/2007 yang ditujukan > kepada para Direktur dan Kepala Kanwil DJPBN menyatakan DJPB tidak > mengirimkan pegawai untuk mengikuti tugas belajar Program D III Khusus > dan D IV di STAN Tahun Anggaran 2007/2008 dengan alasan implementasi > KPPN Percontohan untuk mendukung reformasi birokrasi di DJPBN dan > mempertimbangkan proporsi kebutuhan organisasi terhadap program studi > Akuntansi. >
Saya juga termasuk orang yang kurang setuju, mengenai salah pengertian mengenai akuntansi yang cuma diartikan sebagai pembukuan dan pelaporan. Akuntansi itu merupakan suatu ilmu yang sangat kompleks yang tidak berkutat pada pembukuan dan pelaporan. Seperti pendapat salman harits itu ada benarnya. Ilmu Akuntansi biaya yang kemudian dilanjutkan ke Akuntansi manajemen itu juga salah satu seni dari ilmu akuntansi. Di ilmu itu kan diajarkan bagaimana memandang akuntansi dari sisi manajemen. Cuma mungkin hanya orang yang sudah belajar akuntansi yang bisa lebih mengerti apa sih yang dipelajari di sana, bukan hanya pembukuan kok. Jadi hampir semua cabang ilmu Ekonomi, baik Akuntansi, Manajemen, Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan IMO masih dibutuhkan kok di DJPBN. Kan DJPBN nggak cuma seksi perbendaharaan aja masih ada Bendum, Vera yang membutuhkan tenaga yang paham akuntansi. Lagipula sistem akuntansi kita juga masih butuh tenaga yang paham akuntansi agar LKPP kita bisa dapat Qualified Opinion atau kalo bisa Unqualified Opinion. Basuki Rahmat 060109414 Mahasiswa TB FEB UGM
