Kalau lembur beneran ya jelas bukan fiktif dong. Jd berhak utk mengambil uang lemburnya. Yg jadi masalah adalah yg nggak lembur tapi ngambil uang lembur, makanya orang2 tmsk saya menyebut 'Lembur Fiktif' Kasus temen2 di KPPN percontohan yg memang ekstra lembur sdh layak untuk mendapatkannya. Malah hrs dapat lebih. Krn apa? Karena mrk lembur kadang lebih dr 4 jam sehari plus sabtu minggu lembur juga. Jd kalau lembur mesti dibatasi hanya maks 3 jam sehari dan sebulan tdk boleh lebih dr 14 jam, sangat2 kasihan mrk. T
Trus Solusinya bgmn? Buat aturan baru yg adil dan bijaksana. Kemudian tutup peluang orang2 yg berani utk mengingkari hati nurani. Terapkan lembur at cost spt dlm hal sppd. Lembur banyak dapat banyak lembur dikit dapetnya jg dikit. --- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Bukan Lemburnya yang jadi masalah. > Tapi pada fiktip dan tidaknya. > > Emangnya yang lembur beneran... Lihatlah rekan-rekan kita di KPPN Percontoh. > Lembur itu udah seperti wajib. > Trus kalo lembur beneran.. emangnya di anggap Kerja ikhlas sukarela pak???? > > > > > Pada tanggal 15/02/08, nagayamuni <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > > > Lembur fiktif sepertinya memang sulit dihilangkan. Karena Apa? Karena > > adanya aturan yg sangat longgar yg memungkinkan orang2 yg mau > > mengingkari hati nurani untuk coba2 nggak peduli. Toh sdh disediakan > > pagunya. Kenapa nggak di ambil? Mubadzir kalau nggak diambil. Itu > > mungkin alasan dia. Alasan Yang kedua barangkali selama ini belum ada > > yg masuk penjara gara2 ngembat duit lemb >
