Kalo boleh ikutan komentar,
   
  "Hubbudunya" (cinta dunia) seperti yang Pak Agung Sayuta analogikan antara 
perang uhud dan fenomena kenaikan BBM mungkin kurang pas. 
   
  Pada perang uhud, rakyat/pasukan menjadi lupa karena setelah menang perang 
(yang nyatanya hanya jebakan taktik musuh) pasukan/rakyat berebutan untuk 
mendapatkan "piala" berupa rampasan perang yang terdiri dari 
emas/perak/perhiasan yang sangat berlimpah.
   
  Beda dengan fenomena kenaikan BBM yang sebagian besar lebih disebabkan oleh 
ketidak becusan mayoritas para pengurus negara dari tingkat atas hingga tingkat 
rendah yang hanya mementingkan perut pribadi/keluarga/kelompok nya 
masing-masing sehingga melupakan rakyat yang seharusnya kita layani. Lihat saja 
korupsi dan "Mafia" yang masih terjadi disegala bidang yang tidak ada 
habis-habisnya.
   
  Menurut saya selama ini secara relatif, terdapat hubungan yang tidak seimbang 
antara atasan dan bawahan, apalagi hal ini telah terjadi selama berpuluh2 tahun 
sebagai akibat perilaku KKN di negara kita. Dalam era keterbukaan dewasa ini 
yang baru berumur sangat muda, bisa dimaklumi jika beberapa dari kita 
menggunakan era demokrasi ini untuk berpendapat yang kadang2 "kelepasan". Yang 
perlu kita sikapi dengan bijak adalah mengambil inti dari setiap pendapat 
tersebut. 
   
  Bila kita berusaha mencari titik temu setiap pendapat agar tercipta sistem 
yang lebih baik, maka hubungan antara atasan dan bawahan akan tercipta lebih 
harmonis, fair dan seimbang. Setiap orang jadi tahu hak dan kewajibannya. 
Bawahan harus melaksanakan hak dan kewajibannya dengan menghormati hak dan 
kewajiban atasan, demikian juga atasan/pimpinan harus melaksanakan hak dan 
kewajibannya dengan menghormati hak dan kewajiban para bawahan. Semuanya harus 
berpedoman dengan kode etik dan mendapat perlakuan yang sama di hadapan hukum 
dan peraturan.
   
  Terakhir, Ada pertanyaan klise yang setiap orang/pribadi dapat berbeda 
pendapat dalam menjawabnya. Pertanyaan tersebut adalah:
  "Mana yang harus dipilih (harus salah satunya tidak boleh kombinasi), 
Berbicara Jujur ataukah Berbicara Sopan????"
   
  Saya pribadi memilih "Berbicara Jujur", pertimbangannya adalah berbicara 
sopan dapat mengaburkan kebenaran yang ingin kita sampaikan. Bisa2 sesuatu yang 
buruk bisa dianggap tidak buruk oleh lawan bicara kita. Misal: salah satunya 
yang sering terjadi dinegara kita: PELANGGARAN sering "disopankan" dengan 
Kesalahan Prosedur or kesalahan administrasi, dan hal ini akan berakibat pada 
konsekuensi hukum yang sangat jauh dari yang seharusnya.
   
  Bagaimana dengan para miliser sekalian??? Pilih Mana??? Bicara dengan Jujur 
or Bicara dengan Sopan???
   
   
   
  

Agung_Sayuta <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          --- In [email protected], "jonny wijaya" <[EMAIL 
PROTECTED]> wrote:
>
Assalam'mualaikum Wr.Wb.

Yth. Rekan Millisers Forum Prima,

Beberapa hari terjadi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM.
Beberapa hari terjadi adu pendapat penyaluran BLT.
Beberapa hari lagi mungkin ada penetapan kenaikan harga BBM.
Beberapa hari lagi BLT akan dibagikan.
Beberapa hari lagi mungkinkah terjadi antrian panjang kendaraan si
miskin, si nengah, dan si kaya memperebutkan BBM yang menjelang naik.
Beberapa hari lagi mungkinkah terjadi perebutan BLT oleh si tua dan si
muda, tanpa mengenal lagi rasa kasih sayang... tanpa mengenal lagi
etika bermasyarakat... tanpa mengenal lagi rasa sa

> [Non-text portions of this message have been removed]
>



                           


"Kill Corruption for Our Kids Better Future" 
www.amirsyah,blogspot.com 
www.azzahku.multiply.com
       

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke