Terakhir, Ada pertanyaan klise yang setiap orang/pribadi dapat berbeda pendapat
dalam menjawabnya. Pertanyaan tersebut adalah: "Mana yang harus dipilih (harus
salah satunya tidak boleh kombinasi), Berbicara Jujur ataukah Berbicara
Sopan????"
.............
Topik yang saya sampaikan saya kira sudah sangat jelas, dan masing2
dipersilahkan memilihnya dengan logika dan hati nurani masing2. Tidak ada
paksaan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ingat, pilihan itu ada
klausulnya:
1. setiap orang/pribadi dapat berbeda pendapat dalam menjawabnya.
2. "Mana yang harus dipilih (harus salah satunya tidak boleh kombinasi)
Bila memang ada yang ingin dikombinasikan, silahkan saja itu hak pribadi dan
kebebasan berpikir:)
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Masih ingat petuah ayahanda saya, Permasalahannya bukan apa yang kamu
sampaikan tapi bagaimana kamu menyampaikannya.
............................................................................
Saya juga ada petuah yang berusaha saya camkan dalam hati:
"Jangan lihat siapa yang bicara, lihat isi pembicaraannya"
"Meskipun ada di dalam kubangan lumpur yang hitam dan berbau, jika ada emas
atau mutiara di dalamnya, kita pasti akan tetap berusaha mengambil
emas/mutiaranya"
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Coba kita bayangkan apa reaksi atasan kita dan bagaimana hubungan kita
dengan atasan kita, apabila kita berkata "Bapak, konsep surat ini
salah, tata bahasanya kacau, materinya juga tidak jelas. Gimana sih
Bapak ini, bisa bikin surat ga sih? Gitu kok bisa dipromosi?
Seharusnya begini lo cara bikin surat ini!" Sambil kita sodorkan
konsep surat kita.
Apakah yang kita sampaikan benar? Mungkin benar sekali! Apakah kita
jujur? Jujur sekali? Tapi benarkah cara yang kita sampaikan?
.........................
Contoh kasus ini memang benar, tapi tidak relevan. Cara seperti ini kalau
diterapkan di jalanan malah akan lebih gawat lagi resikonya. Bisa2 kekerasan
secara fisik terjadi:)
Teman saya juga punya beberapa pengalaman pribadi dalam kasus mengonsep surat:
1. Pernah dicoba dengan cara tersebut di atas, tetap saja sang bos tidak
bergeming dan bersikukuh konsepnya lah yang harus dilaksanakan. Karena bos
bilang begitu, maka Done!!
2. Pernah suatu ketika konsep surat dari Bos kesalahannya sangat fatal,
bahkan bertentangan dengan KMK tentang tata persuratan dinas, hal ini sudah di
komunikasikan dengan saaangat halus, ada dasar hukumnya sampai cape deeeh....
Tapi sang bos tetap bersikukuh konsepnyalah yang OK. Akhirnya: karena bos
bilang begitu, maka Done!!
3. Mungkin ada yang pernah mengalami kisah ringan berkaitan dengan tata surat
dinas berikut ini: Dulu waktu Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) berubah jadi
Direktorat Jenderal Perbendaharaan maka singkatan yang sering digunakan kalo
gak salah adalah DJPb atau DJPBn. Padahal dalam tata cara dan berdasarkan
surat2 keluaran dari kantor pusat yang di pake adalah DJPBN. Walaupun konsep
yang ditawarkan dengan sangat sopan sampai cape deeh adalah DJPBN, sang Bos
tetap teguh pada pendiriannya menggunakan DJPb/DJPBn, dan terpaksa: karena bos
bilang begitu, maka Done!!
Akhirnya tak beberapa lama kemudian, datanglah surat edaran dari kantor pusat
yang kembali menegaskan KMK persuratan dinas dengan pemakaian DJPBN. Setelah
itu, baru konsep2 surat bisa memakai istilah yang baku.
Salah satu maksud topik ini adalah untuk menginformasikan bahwa mungkin
sebagian kita masih sangat paternalisme dengan cara yang berlebihan. Manusia
dianggap lebih tinggi salah satunya karena jabatannya, sehingga tata bahasa
kita menjadi berbeda saat bertemu dengan orang yang derajatnya di anggap
berbeda.
Sopan atau kesopanan adalah intrepetasi budaya yang penerapannya bisa sangat
berbeda. sedangkan jujur or kejujuran adalah axioma yang tidak berbeda dalam
setiap budaya.
Sopan memang penting, namun dalam prakteknya menjadi lebih diutamakan dari
kejujuran. Bahkan banyak orang tetap tidak ngeh/tidak terima walaupun kejujuran
itu telah disampaikan dengan sopan. Hal ini mungkin ada 2 sebab:
1. Merasa kedudukannya (karena jabatan, keturunan, ilmu, dsb) lebih baik dari
orang yang menyampaikan kebenaran sehingga walaupun telah sopan bahkan saangat
sopan tetap saja tidak terima.
2. Penyampaiannya saangat sopan or terlalu sopan sehingga inti dari kejujuran
tersebut menjadi kabur dan tidak dapat diterima oleh orang yang menerimanya.
3. Kombinasi kedua hal tersebut.
Hal ini sempat diparodikan dalam Bajaj Bajuri oleh Mpok Minah yang selalu
menggunakan kata Ma..af, bila hendak berpendapat.
Bicara tentang kesopanan yang bisa berbeda dalam perspektif budaya, saya
punya cerita menarik:
Suatu ketika rumah kami kedatangan tamu yang adalah tetangga yang berbeda
suku. Istri saya pun menyuguhkan sekadar teh manis dan cemilan, dan
mempersilahkan untuk meminumnya. Teman saya pun meminumnya dan tidak sampai
habis. Setelah beberapa waktu sang tamu pamit pulang meninggalkan gelas teh
yang berisi setengah. Setelah menutup pintu, istri saya berkata pada saya:
"Teman ayah itu gak sopan ya, disuguhin minum kok gak dihabisin". Kebetulan
saya dan istri berasal dari suatu suku yang diajarkan untuk berbuat sopan
dirumah orang lain dengan cara bila dihidangkan teh, maka harus dihabiskan.
Sayapun menjelaskan bahwa teman saya itu berasal dari suku yang beranggapan
bila bertamu dan menghabiskan hidangan yang disajikan adalah tidak sopan. Jadi
gak perlu diributkan kok. Istri saya pun menjadi paham dan maklum sambil
membentuk huruf bulat di bibirnya: "Ooooo...."
Every people have their own perspective, and have freedom to choice:)
"Kill Corruption for Our Kids Better Future"
www.amirsyah,blogspot.com
www.azzahku.multiply.com
[Non-text portions of this message have been removed]