--- In [email protected], amir syah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
...  
>   Terakhir, Ada pertanyaan klise yang setiap orang/pribadi dapat 
berbeda pendapat dalam menjawabnya. Pertanyaan tersebut adalah:
>   "Mana yang harus dipilih (harus salah satunya tidak boleh 
kombinasi), Berbicara Jujur ataukah Berbicara Sopan????"
>    
>   Saya pribadi memilih "Berbicara Jujur", pertimbangannya adalah 
berbicara sopan dapat mengaburkan kebenaran yang ingin kita 
sampaikan. Bisa2 sesuatu yang buruk bisa dianggap tidak buruk oleh 
lawan bicara kita. Misal: salah satunya yang sering terjadi dinegara 
kita: PELANGGARAN sering "disopankan" dengan Kesalahan Prosedur or 
kesalahan administrasi, dan hal ini akan berakibat pada konsekuensi 
hukum yang sangat jauh dari yang seharusnya.
>    
>   Bagaimana dengan para miliser sekalian??? Pilih Mana??? Bicara 
dengan Jujur or Bicara dengan Sopan???

HaBeWe say:
Dear Amir Syah,
Kombinasi keduanya adalah yang paling baik, yaitu mengutamakan 
kejujuran dengan penyampaian yang sopan.
Tapi karena diwajibkan pilih salah satu, maka saya cenderung pilih 
bicara sopan.
Kesopanan dalam etika pergaulan di setiap lapisan masyarakat tetap 
dibutuhkan. Pertanyaannya Kesopanan yang seperti apakah? tentunya 
kesopanan yang diterima oleh lingkungan tersebut. Bukan kesopanan 
menurut diri sendiri. Contoh, jika Anda berasal dari etnis jawa maka 
Anda akan dianggap sopan jika menyuruh orang (yang lebih tua) untuk 
makan dengan kata "dahar". Tetapi jika kata "dahar' ini ditujukan 
kepada saudara dari etnis sunda, maka Anda akan dianggap kurang 
sopan karena menurut orang sunda yang sopan adalah "Tuang".
Intinya dengan berlaku sopan akan membawa kedamaian bagi diri 
sendiri dan lingkungan.

Yang perlu ditekankan disini dalam kesopananpun kita diharuskan 
berbuat dan berbicara atas dasar kejujuran.
Anda berpendapat bahwa berbicara sopan dapat mengaburkan kebenaran 
yang ingin kita sampaikan. bahkan lebih jauh Anda mengatakan: Bisa2 
sesuatu yang buruk bisa dianggap tidak buruk oleh lawan bicara kita. 
Misal: salah satunya yang sering terjadi dinegara kita: PELANGGARAN 
sering "disopankan" dengan Kesalahan Prosedur or kesalahan 
administrasi.

Di sini saya melihat ada kerancuan. Dalam kacamata saya itu 
bukanlah "disopankan" tapi memang ada niatan untuk mengaburkan 
kebenaran, karena memang ada konspirasi dibelakangnya untuk 
meringankan seandainya kasus tersebut harus dibawa ke jalur hukum.
Sepengetahuan saya kata "Pelanggaran" dalam bahasa Indonesia yang 
baku sudah sopan dan tidak ada tingkatan untuk bahasa yang lebih 
sopan lagi (CMIIW). kata yang sopan seharusnya tidak berimbas pada 
tinggi rendahnya hukuman. Contoh: seseorang tertangkap mencuri 2 
potong baju di mall. Dalam persidangan meskipun kata yang dipakai 
adalah: mengutil 2 potong baju, mencuri 2 potong baju, atau maling 2 
potong baju maka hukumannya semestinya tetap sama.

Dinegeri ini memang terlalu banyak kesopanan yang dipaksakan dan 
keliru. Katanya sih memperhalus (terutama dikalangan elit politik, 
pejabat pejabat tinggi) padahal maksud sebenarnya adalah membela 
koleganya itu (memperingan) dari jeratan hukum atau paling tidak 
untuk antisipasi apabila dirinya mengalami kasus yang sama kelak.

Sekali lagi saya tekankan: kesopanan bukan berarti mengaburkan 
kejujuran. Kesopanan tetap harus atas dasar kejujuran.

Namun sayang, "Sopan" telah mati di negeri ini. Sophan Sopiaan 
meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Umum Sragen akibat 
kecelakaan saat mengendarai sepeda motornya.
Semoga amal ibadahnya diterima Tuhan dan diberikan tempat terbaik 
disiNya, serta kepada mBak Widyawati beserta kedua anaknya diberikan 
ketabahan atas musibah ini. Amin

Dari Kendari 

HaBeWe


   



Kirim email ke