Jarak Palangkaraya-Buntok kurang lebih 195 km, lebih jauh sedikit dari jarak Jakarta-Bandung. Waktu tempuh Jakarta Bandung saat ini sekitar 2,5 jam. karena lewat jalan tol yg pastinya mulus. Halangan utama paling kemacetan ketika mau masuk ke kota Bandung. Pemandangan kanan kiri begitu indah, berbukit bergunung nan elok. Waktu tempuh Palangkaraya Buntok saat ini sekitar 6 jam, karena jalannya jauh dari mulus, sebagian masih tanah/pasir. Sebagian sudah diperkeras dan di aspal. Namun yang paling memakan waktu cukup lama adalah belum selesainya 4 buah jembatan utama yang melintasi sungai besar, seperti sungai dan anak sungai kahayan, kapuas dan barito.
Bentangan jembatan itu panjangnya mulai dari 195 meter sampai 650 meter. Saat ini sudah nampak kaki-kaki jembatan yang sedang di garap. Diharapkan pada tahun 2009 semuanya sudah selesai.Tapi aktivitas ini dapat berjalan setelah melalui perjuangan panjang dan amat melelahkan. Sepanjang perjalanan ke Buntok hampir tidak ada sinyal telepon selular. Maklum jalan itu termasuk jalan baru (walaupun rencana dan awal pembangunannya sudah makan waktu puluhan tahun). Apabila nanti rampung, perjalanan ke Buntok dapat di tempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Yang cukup seru adalah ketika menyeberang. Jangan membayangkan ada dermaga yang bagus dan memenuhi syarat. "Ferry" penyeberangan juga sangat sederhana, baik di lihat dari besarnya, apalagi pertimbangan dari faktor keselamatannya. Ferry terdiri dari 2 buah perahu yang di rekatkan dan diatasnya di beri papan sebagai landasan untuk kendaraan2 roda 4 maupun roda 2, dan untuk berdiri penumpang lainnya. Ferry digerakkan oleh sebuah mesin untuk dapat menyeberang. Awak ferry sekali-kali menguras perahu yang mulai di penuhi air secara manual. Ngeri rasanya, dan hanya bisa berdoa dan pasrah ketika perahu penyeberangan mulai bergerak. Sejauh mata memandang adalah hutan yang rusak, padang alang2, tanah2 terlantar, penduduk yang jarang bahkan nyaris tidak pernah menemui perkampungan. Tidak ada ladang- ladang pertanian. Seandainya mobil mogok, ban pecah dsb, mungkin lebih lama untuk mendapatkan pertolongan. Kata beberapa pengemudi travel, bisa juga nginep di jalan. Saya membayangkan betapa sulitnya dan penuh dengan risiko, ketika para bendahara mau menyetor penerimaan negara ke Bank-Bank Persepsi yang mutlak harus menggunakan sistem MPN. Sistem tunggal yang saat ini di berlakukan. Mereka harus menempuh jarak ratusan kilometer, dalam kondisi infrastruktur yang menyedihkan dan risiko tentu keamanan. Saya bisa memaklumi, Kalimantan yang begitu kaya dg SDA tapi miskin segalanya terutama infrastruktur. Kesejahterahan nampak masih jauh dr masyarakat lokal, melahirkan suatu tuntutan dari Majelis Adat Dayak Nasional baru-baru ini agar Kalimantan diberikan "Otonomi khusus". Saya khawatir apabila pengambil kebijakan di tingkat pusat mengabaikan hal ini, desakan itu tentu akan semakin kuat. Ketika saya cubit lengan saya terasa begitu sakit. Ternyata saya tidak sedang bermimpi. Subasita Fr The Heart of Borneo.
