Yth. Forum Prima Menarik sekali apa yang di posting Pak Subasita. Itulah memang gambaran yang nyata perbedaan pembangunan di P. Jawa dan Luar Jawa khususnya Kalimantan. Kesenjangan antar daerah merupakan isu laten yang terus dihembuskan dengan maskud-maksdu tertentu, baik untuk kepentingan pribadi maupun golongan ataupun memang benar-benar disuarakan untuk kepentingan masyarakat. Salah satu upaya untuk menjawab isu tersebut adalah dengan dikeluarkannya paket UU otonomi daerah yang realisainya adalah melalui pembayaran transfer ke daerah (DAU, DAK, Bagi Hasil). Dengan otonomi tersebut sebenarnya daerah diberi kewenangan yang lebih untuk membangun daerahnya masing2. Namun demikian masih sedikit penelitian yang dilakukan untuk mengukur tingkat keberhasilan dari otonomi daerah itu sendiri, sehingga perubahan sistem pemerintahan dari Sentralisasi ke Desentralisasi belum dapat diukur dan dipertanggungjawabkan dengan baik. Bahkan yang sering kita dengar justru dampak negatis dari otonomi itu sendiri.
Yang lebih menarik dari postingnya Pak Subasita adalah pernyataan adanya banyak kendala yang menghadang dalam pelaksanaan APBN, khusunya sisi penerimaan, dimana penyetoran penerimaan negara secara implisit dikatakan "ribet". Seharusnya ini menjadi warning bagi para desicion maker di kantor pusat agar dalam membuat keputusan juga mempertimbangkan kondisi geografis dan kendala-kendala dilapangan yang mungkin terjadi, sehingga peraturan yang dibuat dapat dilaksanakan dengan baik di seluruh daerah. Demikian kurang lebih pesan yang dapat saya tangkap dari postingnya Pak Subasita. (mohon maaf Pak kalo salah tangkap) Salam Perubahan Layang Seta --- In [email protected], "subasusal3" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Jarak Palangkaraya-Buntok kurang lebih 195 km, lebih jauh sedikit > dari jarak Jakarta-Bandung. Waktu tempuh Jakarta Bandung saat ini > sekitar 2,5 jam. karena lewat jalan tol yg pastinya mulus. Halangan > utama paling kemacetan ketika mau masuk ke kota Bandung. Pemandangan > kanan kiri begitu indah, berbukit bergunung nan elok. > Waktu tempuh Palangkaraya Buntok saat ini sekitar 6 jam, karena > jalannya jauh dari mulus, sebagian masih tanah/pasir. Sebagian sudah > diperkeras dan di aspal. Namun yang paling memakan waktu cukup lama > adalah belum selesainya 4 buah jembatan utama yang melintasi sungai > besar, seperti sungai dan anak sungai kahayan, kapuas dan barito. > > Bentangan jembatan itu panjangnya mulai dari 195 meter sampai 650 > meter. Saat ini sudah nampak kaki-kaki jembatan yang sedang di garap. > Diharapkan pada tahun 2009 semuanya sudah selesai.Tapi aktivitas ini > dapat berjalan setelah melalui perjuangan panjang dan amat > melelahkan. > > Sepanjang perjalanan ke Buntok hampir tidak ada sinyal telepon > selular. Maklum jalan itu termasuk jalan baru (walaupun rencana dan > awal pembangunannya sudah makan waktu puluhan tahun). Apabila nanti > rampung, perjalanan ke Buntok dapat di tempuh dalam waktu kurang > lebih 3 jam. > > Yang cukup seru adalah ketika menyeberang. Jangan membayangkan ada > dermaga yang bagus dan memenuhi syarat. "Ferry" penyeberangan juga > sangat sederhana, baik di lihat dari besarnya, apalagi pertimbangan > dari faktor keselamatannya. Ferry terdiri dari 2 buah perahu yang di > rekatkan dan diatasnya di beri papan sebagai landasan untuk > kendaraan2 roda 4 maupun roda 2, dan untuk berdiri penumpang lainnya. > Ferry digerakkan oleh sebuah mesin untuk dapat menyeberang. Awak > ferry sekali-kali menguras perahu yang mulai di penuhi air secara > manual. Ngeri rasanya, dan hanya bisa berdoa dan pasrah ketika perahu > penyeberangan mulai bergerak. > > Sejauh mata memandang adalah hutan yang rusak, padang alang2, tanah2 > terlantar, penduduk yang jarang bahkan nyaris tidak pernah menemui > perkampungan. Tidak ada ladang- ladang pertanian. Seandainya mobil > mogok, ban pecah dsb, mungkin lebih lama untuk mendapatkan > pertolongan. Kata beberapa pengemudi travel, bisa juga nginep di > jalan. > > Saya membayangkan betapa sulitnya dan penuh dengan risiko, ketika > para bendahara mau menyetor penerimaan negara ke Bank-Bank Persepsi > yang mutlak harus menggunakan sistem MPN. Sistem tunggal yang saat > ini di berlakukan. Mereka harus menempuh jarak ratusan kilometer, > dalam kondisi infrastruktur yang menyedihkan dan risiko tentu > keamanan. > > Saya bisa memaklumi, Kalimantan yang begitu kaya dg SDA tapi miskin > segalanya terutama infrastruktur. Kesejahterahan nampak masih jauh dr > masyarakat lokal, melahirkan suatu tuntutan dari Majelis Adat Dayak > Nasional baru-baru ini agar Kalimantan diberikan "Otonomi khusus". > Saya khawatir apabila pengambil kebijakan di tingkat pusat > mengabaikan hal ini, desakan itu tentu akan semakin kuat. > > Ketika saya cubit lengan saya terasa begitu sakit. Ternyata saya > tidak sedang bermimpi. > > Subasita > Fr The Heart of Borneo. >
