===========================================================================
I Made Wiryana (0521-106 5328)            Universitas Gunadarma - Indonesia
Rechnernetze und Verteilte Systeme  http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/made
Universitaet Bielelfeld                                   Check my e-zine :
[EMAIL PROTECTED]    http://nakula.rvs.uni-bielefeld.de/majalah
Pendukung  Open Source Campus Agreement - legal, cerdik, mandiri dan hemat
===========================================================================

On Wed, 6 Sep 2000, Djoko Susilo wrote:

> Perlu diluruskan dulu scope-nya. Sertifikasi ISO tidak sedikitpun
> menyinggung masalah kualitas, apalagi pengujian produk. ISO lebih
> menekankan pada konsistensi penerapan suatu SOP (Standard Operating
> Procedure) dalam suatu perusahaan. ISO secara berkala melakukan audit
> SOP yang ada. Jadi lebih ke arah tertib administrasi. DIN, SNI (kita
> juga punya lho...), JIS, dll. secara umum mensyaratkan level tertentu
> untuk menentukan kualitas produk.

Justru itu saya sebutkan ISO itu lebih kepada "di awang-awang" artinya
asumsi yang diambil, "kalau.. administrasi, atau prosedur X" ini
dlaksanakan maka akan menghasilkan produk bagus. Oh iya itu mungkin untuk
ISO seperti 9000.  Untuk beberapa ISo mungkin berbeda (saya harus liat
daftar ISO, untuk nomor detailnya.

SNI (Standard National Indonesia) memang sudah ada tapi saya kurang paham,
Kalau DIN agak berbeda, karena relatif bukan hanya seperti versi ISO (DIN
ini termasuk toleransi ukuran produk juga, misal kertas A4 itu khan DIN).

> TUV dan CE lebih concern pada keselamatan pengguna. Level keamanan dan
> keselamatanlah yang diuji, bukan kualitas produknya. Yang penting produk
> tersebut aman bagi konsumen.

TUV dan CE memang cenderung untuk keselamatan (makanya saya sebut
"kualitas" minimum yang harus dipenuhi).  Kualitas sendiri memiliki
definisi yang tidak sama untuk tiap "standard".  Beberapa definisi bisa
dilihat di sini (ada IEEE, ANSI, DIN)

http://wiryana.dhs.org/folie/folie01.html

Jadi yang namanya "kualitas produk" itu sendiri masih sangat
"questionable".

> Konsumen pada dasarnya hampir-hampir tidak peduli pada
> label/sertifikat semacam ini. Yang penting dia cocok dengan produknya
> dan mampu beli, beres. Dan lagi konsumen tetap tidak mungkin menuntut
> badan sertifikasi (TUV, dll) yang telah memberi label "OK" pada suatu
> perusahaan/produk. Produsenlah yang harus menanggung klaim. Komitmen
> produsen/developer lah yang menentukan kualitas.

Hm.. mungkin itu di Indonesia... berbeda sekali dg di sini (yang serba
ketat).  Konsumen bisa menuntut produsen, kalau ternyata menyeleweng dari
standard.   "Kommitment" saja belum cukup untuk membuktikan kualitas ini.

Pada penerapan tertentu, (militer, kesehatan) konsumen akan sangat peka
sekali terhadap standard ini.

> ++++ test case: berapa banyak anggota milis ini yang peduli standar saat
> membeli komputer dan peripheralnya, atau produk lainnya? Ada yang mau
> berpartisipasi? ++++

Mungkin ini karena latar belakang kita 8-)

Senang ada yang mau diskusi masalah ginian.he.he.h

IMW


------------------------------------------------------------------------
[EMAIL PROTECTED] - Mailing List MIKRODATA

Informasi : http:[EMAIL PROTECTED]
Arsip     : http://www.mail-archive.com/forum%40mikrodata.co.id/
WAP       : http://mikrodata.co.id/wap/index.wml

Milis ini menjadi kontribusi beberapa rubrik yang diasuh tim MIKRODATA.
Termasuk rubrik-rubrik yang ada di media lain.

Kirim email ke