On Mon, 4 Sep 2000, I Made Wiryana wrote:


>He.h.e. tampaknya "beda platform" pada aplikasi kritis (misal yang dipakai
>NASA, pesawat terbang) maka ketersediaan source code  bagi pihak ke 3 yang
>menguji adalah syarat utama.  (Nggak heran di NASA terkenal, software
>hanya akan dipakai kalau ada source codenya).
>
Argumentasi "beda platform" tidak relevan.
Aplikasi kritis tidak hanya NASA dan semacamnya. Aplikasi komersial yang
digunakan pada perbankan dan industri obat-obatan tidak kalah kritisnya.
Coba bayangkan, apa yang terjadi jika S/W nya salah meletakkan titik desimal
pada perhitungan komposisi obat, misalnya. Barangkali malapetaka yang
diakibatkannya jauh lebih besar dibanding NASA dan semacamnya. Untuk
aplikasi semacam ini saya tidak tahu apakah mereka juga mau membuka source
code nya.

>Nah si vendor harus mendefinisikan "coveraing area" dari sistemnya
>(biasanya lalu dilakukan reachability analysis) dari masukan yagn
>ada.  Memang tujuannya bukan mengantisipasi kondisi yang unpredictable,
>tapi "menjamin" dari apa yang telah dijanjikan oleh modul tersebut.
>

Nah... terbatas sekali kan?

>Tampaknya istilah Third Party Testing agak beda yang kita pakai (bukan
>third party product testing yang saya maksud).  Jadi pada dasarnya third
>party testing ini adalah metoda pengujian yang dilakukan oleh pihak ke 3
>(tentunya berdasarkan deskripsi dan framework yang telah
>
Bingung saya... Jadi siapa dong yang melakukan Third Party Testing ini?
Saya kutipkan pernyataan Anda:
++He.heh.e. justru kalau module dibuat oleh vendor yang sama maka tingkat
++safetiness-nya bisa "diragukan", karena secara alami sulit dilakukan
++"third party certification" (semuanya disertifkasi, dibuat, diinstal
++vendor yang sama).
Third Party Testing menurut pengertian saya (dalam konteks ini tentunya)
adalah pengujian yang dilakukan oleh pihak ketiga, bukan oleh developernya
sendiri.


>> produknya jeblok. Jadi vendor sendirilah yang masih menjadi jaminan mutu.
>
>Tergantung lagi kepada produk "klas " mana 8-)  Seperti di Jerman ini,
>tetap ada badang seperti TUV, yang akan melakukan sertifikasi tiap produk
>8-).  Tahun ini sesuai dg UU yang baru (mulai 2000), maka vendor seperti
>MS, SAP; dll akan mulai kena wajib sertifikasi.
>
Produk dengan "klas" yang mana lagi ya...
Justru pihak ketiga (badan sertifikasi) semacam TUV, CE, ISO, NEMA, dll. ini
yang saya ragukan kontribusinya dalam menjaga kualitas suatu produk
(termasuk S/W kalau nantinya juga diberlakukan). Ruang lingkup mereka hanya
sebatas kualitas administratif dan normatif (random check dan sampling test
secara berkala, bisa 6 bulan sekali atau setahun sekali). Makanya
sertifikasi ini lebih sering dimanfaatkan sebagai marketing tool saja. Di
koran (Indonesia) sering dimuat iklan keberhasilan mendapatkan sertifikasi
ini. Bahkan sering pula satu halaman penuh. Padahal biaya sertifikasinya
sendiri sudah cukup mahal...
Kalau Anda pernah terlibat langsung dalam implementasinya, maka Anda akan
berpendapat lain. Saya tidak sinis terhadap badan semacam ini, tapi juga
tidak bisa berharap terlalu banyak.
Jadi kalau tujuannya untuk promosi, yes this is the right choice. Tapi kalau
tujuannya untuk mempertahankan  atau meningkatkan kualitas, please
reconsider. Perusahaan yang baik pada umumnya sudah menerapkan "internal
standard" yang levelnya di atas badan sertifikasi semacam itu.

DSU



------------------------------------------------------------------------
[EMAIL PROTECTED] - Mailing List MIKRODATA

Informasi : http:[EMAIL PROTECTED]
Arsip     : http://www.mail-archive.com/forum%40mikrodata.co.id/
WAP       : http://mikrodata.co.id/wap/index.wml

Milis ini menjadi kontribusi beberapa rubrik yang diasuh tim MIKRODATA.
Termasuk rubrik-rubrik yang ada di media lain.

Kirim email ke