Teman-teman Miliser yang budiman,

Membaca cerita tentang Profesor dalam tulisan Yondi tentang plagiator, saya 
teringat pengalaman saya ketika mengikuti kursus bahasa Inggris di Pasca 
Sarjana UGM.  Suatu saat saya dipanggil oleh seorang instruktur bahasa Inggris 
yang menanyakan kepada saya tentang esai saya yang tidak mencantumkan daftar 
pustaka sebagai referensi. Menurutnya, saya bisa dituduh sebagai plagiator 
apabila saya tidak menyertakan daftar pustaka dalam esai saya.

Lalu, secara jujur saya sampaikan kepada instruktur saya bahwa ketika menulis 
esai tersebut saya sama sekali tidak menggunakan referensi, sama seperti ketika 
kita menulis sebuah esai pendek dalam ujian TOEFL.  Namun, instruktur tersebut 
tetap menyarankan kepada saya agar sebaiknya menyertakan daftar pustaka sebagai 
referensi dalam esai saya.  Akhirnya, saya tidak punya pilihan lain selain 
memenuhi permintaan instruktur saya. Walaupun dalam hati saya merasa geli 
(aneh, lucu), karena kemudian saya harus mencari-cari referensi dari esai yang 
telah saya buat sebelumnya.

Plagiator, menurut saya, adalah mereka yang dengan sengaja mengambil ide, 
pendapat, atau karya tulis orang lain, baik secara utuh atau dimodifikasi 
sedikit supaya tidak nampak sama persis, dan mengakui (atau memberikan kesan 
kepada pembacanya) bahwa ide, pendapat dan karya tulis itu adalah milik(buah 
tangan)nya.  Mengenai ide, pendapat dan ekspresi lainnya yang penulisannya 
relatif pendek biasanya sulit untuk dibuktikan apakah ia merupakan ide/pendapat 
asli penulisnya atau hanya merupakan ide/pendapat plagiat.  Meskipun demikian, 
saya yakin banyak di antara kita yang tahu kepada siapa kita akan mengacu 
ketika membaca ungkapan “Go to hell with your aid” atau pendapat “Power tends 
to corrupt, and absolute power corrupts absolutely”.   

Saya setuju dengan pendapat HaBeWe supaya kita jangan asal menuduh (Mr. 
Sukarnon sebagai plagiator) tanpa disertai dengan bukti yang nyata (fakta).  
Saya juga setuju dengan HaBeWe bahwa “Sebuah permintaan maaf saya rasa pantas 
untuk ke-khilafan …”.    

Pada bagian paling bawah tulisan ini saya kutip tulisan Mr. Sukarnon yang dicap 
sebagai plagiat dan sumber asli yang digunakannya sebagai referensi. Silakan 
Anda menilai berdasarkan fakta, dan jangan berdasarkan asumsi, apriori atau 
sentimen pribadi.  

Meskipun dalam catatan Bu Marlina (isteri saya) tulisan Mr. Sukarnon yang 
berindikasi plagiat tersebut bukanlah yang pertama yang diposting dalam milis 
ini, tetapi saya tetap mendukung beliau untuk “Keep writing!”.  Alasan saya, 
karena menulis adalah sebuah proses pembelajaran. Untuk menjadi seorang penulis 
yang handal, kita seringkali tidak melalui jalur proses pembelajaran yang sama. 
 Selain itu, tanpa bermaksud membela diri, kita juga sebaiknya mampu membedakan 
antara plagiator-teri dan plagiator-kakap (mirip dengan alasan untuk membedakan 
antara “maling-ayam” dan “maling-uang-milyaran”).  Bukan tidak mungkin sebagian 
dari para penulis handal saat ini dulu, ketika masih berusia muda, mereka 
adalah para plagiator-teri.

Saya merasa yakin, atau paling tidak menyimpan harapan, suatu saat nanti Mr. 
Sukarnon bisa menjadi seorang penulis yang handal.  Anda tidak percaya? 
Mari kita nantikan dan perhatikan tulisan-tulisan beliau selanjutnya di milis 
ini.              


Salam,
budisan

= = = = = = = =

Kutipan dari sumber asli tulisan Mr. Sukarnon (Written by Yodhia Antariksa) :

Sumber : …
http://strategimanajemen.net/2008/09/15/2-filosofi-kunci-mengenai-talent-management/

DISKRIMINASI DIPERLUKAN DALAM TALENT MANAGEMENT

Perbincangan mengenai pengembangan mutu SDM kini tengah disemarakkan dengan 
gagasan mengenai talent management. Esensi dasar dari gagasan ini adalah 
bagiamana sebuah organisasi mesti mampu secara konstan merekrut, mengembangkan, 
dan kemudian mempertahankan barisan SDM yang bertalenta tinggi serta berkinerja 
unggul.

Barisan SDM dengan talenta unggul yang menduduki strategic positions pada 
akhirnya memang merupakan life blood dari sebuah organisasi bisnis. Disini kita 
mungkin perlu menyimak sebuah ungkapan dari paman Bill Gates. Begini ia pernah 
berujar : silakan ambil 25 eksekutif kunci dengan talenta unggul dari 
perusahaan kami, dan dalam waktu tak berapa lama Microsoft akan langsung roboh. 

Pertanyaanya kini adalah : lalu strategi terbaik apa yang mesti dilakoni untuk 
mampu mengembangkan talent management secara kokoh? Dalam kaitannya dengan hal 
ini, saya mencoba memetakan dua catatan filosofis yang layak digenggam manakala 
kita hendak merajut strategi talent management secara optimal.

Catatan yang pertama adalah ini : serangkaian studi empirik menunjukkan bahwa 
kehebatan sebuah organisasi bisnis sangat ditentukan oleh hanya 30 % 
karyawannya, terutama mereka yang menduduki posisi strategic/core positions. 
Ilustrasinya sederhana : bagi sebuah warung makan, posisi seorang koki adalah 
posisi yang amat vital; dan bukan kasir atau pramusaji atau bagian purchasing. 
Demikian pula bagi Microsoft, posisi yang amat penting adalah barisan 
programmer, bukan mereka yang duduk di bagian finansial, warehouse, ataupun 
bagian customer service.

Implikasinya jelas : untuk mereka yang menduduki posisi core, maka kita harus 
mati-matian mendapatkan talenta kelas dunia. Namun bagi mereka yang tidak 
menduduki posisi core, kita cukup mendapatkan pekerja yang standard saja, tidak 
perlu bagus-bagus amat. Alasannya sederhana : seorang pramusaji dengan talenta 
kelas dunia tak akan memberikan impak yang signifikan bagi kemajuan sebuah 
rumah makan. Demikian juga, seorang finance manager yang super sekalipun tidak 
akan memberikan dampak yang berarti bagi maju mundurnya Micorosft. Karena 
itulah, untuk posisi-posisi non-core ini kita cukup memelihara karyawan yang 
memenuhi standard kualifikasi saja – tidak perlu berambisi merekrut yang 
terbaik. Sebab efek diferensiasi dari posisi-posisi non core terhadap level 
kinerja perusahaan tidak banyak.

Sebaliknya, untuk mereka yang menduduki posisi core atau strategis, maka kita 
mesti bertarung mati-matian untuk mendapatkan talenta super. Sebab dalam posisi 
ini, perbedaan kinerja antara level standar dengan level superior akan 
memberikan dampak yang sangat signifikan bagi kemajuan perusahaan. Seorang koki 
dengan kualifikasi standar mungkin akan membuat rumah makan kita bisa terus 
eksis, namun kalau kita bisa merebut koki dengan kualifikasi kelas dunia, pasti 
rumah makan kita akan kebanjiran pelanggan.

Fakta diatas membawa kita kepada catatan penting kedua : perusahaan mesti 
mengalokasikan sumber daya waktu dan energi yang lebih besar (mungkin hingga 
80%) untuk mengelola dan memelihara mereka yang duduk dalam posisi kunci 
(strategic positions); dan sisanya untuk mengelola para non-core employees. 
Nah, disinilah suka muncul masalah. Sering dengan alasan pemerataan, sebuah 
perusahaan memperlakukan semua karyawan dengan prioritas yang sama : semua 
mendapatkan porsi pelatihan yang sama, besaran bonus yang sama, dan kenaikan 
gaji yang sama.

Gaya manajemen a la sosialisme itu kelihatannya indah, namun dalam jangka 
panjang tidak akan pernah mampu membawa kita menuju kinerja puncak (gaya 
seperti ini mungkin lebih cocok untuk negeri Uni Soviet pada tahun 70-an dulu). 
 Sebaliknya, kita mesti mengalokasikan sumber daya yang berbeda antara karyawan 
core dan non-core. Untuk karyawan non core kita cukup mengalokasikan sumber 
daya pengembangan yang standard saja (ya, secukupnya sajalah….). Namun untuk 
core employees yang bersifat strategis, kita mesti mengalokasikan sumber daya 
habis-habisan untuk memelihara dan mengembangkan talenta terbaik mereka.

Dengan pendekatan semacam itu, kita tidak perlu lagi repot atau terlalu 
ambisius untuk mengembangkan semua karyawan (dan ini sering membikin kita 
selalu kehabisan energi). Kita cukup memfokuskan energi terbesar kita pada 
karyawan yang menduduki posisi kunci dan bersifat strategis (dan acapkali 
jumlah karyawan golongan ini tidak lebih dari 30% jumlah total karyawan). 
Talenta-talenta karyawan di golongan inilah yang mesti kita hajar 
habis-habisan. Dengan pola ini, kita bisa lebih fokus, lebih bisa menghemat 
energi, dan yang paling penting : bisa meraih hasil yang jauh lebih produktif.

Demikianlah, dua filosofi kunci yang mesti selalu dikenang tatkala kita hendak 
membangun sebuah sistem talent management yang unggul. Sebuah filosofi yang 
berangkat dari keyakinan bahwa : not everyone of us is equal. Sorry, 
kedengarannya ini agak diskriminatif, but this is a fact of life. Accept this, 
or you will be left behind the dust.
= = = = = = = = = = = =  

Kutipan dari tulisan Mr. Sukarnon yang diposting di milis ini :
          
--- On Thu, 3/5/09, sukarnon <[email protected]> wrote:
To Mr. Budisan 

Membaca postingan Bapak menurut saya masih ada yang kurang perlu ditambahkan 
Talent Management hal ini sering dilupakan oleh pejabat sehingga ketika sudah 
dilakukan change manajemen selanjutnya kehabisan gaya alias mandek untuk 
mengembangkan O dan P,>>> Perbincangan mengenai pengembangan mutu SDM kini 
tengah disemarakkan dengan gagasan mengenai talent management. Esensi dasar 
dari gagasan ini adalah bagiamana sebuah organisasi mesti mampu secara konstan 
merekrut, mengembangkan, dan kemudian mempertahankan barisan SDM yang 
bertalenta tinggi serta berkinerja unggul.

Barisan SDM dengan talenta unggul yang menduduki strategic positions pada 
akhirnya memang merupakan life blood dari sebuah organisasi bisnis. Disini kita 
mungkin perlu menyimak sebuah ungkapan dari paman Bill Gates. Begini ia pernah 
berujar : silakan ambil 25 eksekutif kunci dengan talenta unggul dari 
perusahaan kami, dan dalam waktu tak berapa lama Microsoft akan langsung roboh.

Pertanyaanya kini adalah : lalu strategi terbaik apa yang mesti dilakoni untuk 
mampu mengembangkan talent management secara kokoh? Dalam kaitannya dengan hal 
ini, saya (?) mencoba memetakan dua catatan filosofis yang layak digenggam 
manakala kita hendak merajut strategi talent management secara optimal.

Catatan yang pertama adalah ini : serangkaian studi empirik menunjukkan bahwa 
kehebatan sebuah organisasi sangat ditentukan oleh hanya 30 % karyawannya, 
terutama mereka yang menduduki posisi strategic/core positions. Ilustrasinya 
sederhana : bagi sebuah warung makan, posisi seorang koki adalah posisi yang 
amat vital; dan bukan kasir atau pramusaji atau bagian purchasing. Demikian 
pula bagi Microsoft, posisi yang amat penting adalah barisan programmer, bukan 
mereka yang duduk di bagian finansial, warehouse, ataupun bagian customer 
service.

Implikasinya jelas : untuk mereka yang menduduki posisi core, maka kita harus 
mati-matian mendapatkan talenta kelas dunia. Namun bagi mereka yang tidak 
menduduki posisi core, kita cukup mendapatkan pekerja yang standard saja, tidak 
perlu bagus-bagus amat. Alasannya sederhana : seorang pramusaji dengan talenta 
kelas dunia tak akan memberikan impak yang signifikan bagi kemajuan sebuah 
rumah makan. Demikian juga, seorang finance manager yang super sekalipun tidak 
akan memberikan dampak yang berarti bagi maju mundurnya Micorosft. Karena 
itulah, untuk posisi-posisi non-core ini kita cukup memelihara karyawan yang 
memenuhi standard kualifikasi saja – tidak perlu berambisi merekrut yang 
terbaik. Sebab efek diferensiasi dari posisi-posisi non core terhadap level 
kinerja perusahaan tidak banyak.

Sebaliknya, untuk mereka yang menduduki posisi core atau strategis, maka kita 
mesti bertarung mati-matian untuk mendapatkan talenta super. Sebab dalam posisi 
ini, perbedaan kinerja antara level standar dengan level superior akan 
memberikan dampak yang sangat signifikan bagi kemajuan perusahaan. Seorang koki 
dengan kualifikasi standar mungkin akan membuat rumah makan kita bisa terus 
eksis, namun kalau kita bisa merebut koki dengan kualifikasi kelas dunia, pasti 
rumah makan kita akan kebanjiran pelanggan.

Fakta diatas membawa kita kepada catatan penting kedua : perusahaan mesti 
mengalokasikan sumber daya waktu dan energi yang lebih besar (mungkin hingga 
80%) untuk mengelola dan memelihara mereka yang duduk dalam posisi kunci 
(strategic positions); dan sisanya untuk mengelola para non-core employees. 
Nah, disinilah suka muncul masalah. Sering dengan alasan pemerataan, sebuah 
perusahaan memperlakukan semua karyawan dengan prioritas yang sama : semua 
mendapatkan porsi pelatihan yang sama, besaran bonus yang sama, dan kenaikan 
gaji yang sama.

Gaya manajemen a la sosialisme itu kelihatannya indah, namun dalam jangka 
panjang tidak akan pernah mampu membawa kita menuju kinerja puncak (gaya 
seperti ini mungkin lebih cocok untuk negeri Uni Soviet pada tahun 70-an dulu). 
Sebaliknya, kita mesti mengalokasikan sumber daya yang berbeda antara karyawan 
core dan non-core. Untuk karyawan non core kita cukup mengalokasikan sumber 
daya pengembangan yang standard saja (ya, secukupnya sajalah….). Namun untuk 
core employees yang bersifat strategis, kita mesti mengalokasikan sumber daya 
habis-habisan untuk memelihara dan mengembangkan talenta terbaik mereka.

Dengan pendekatan semacam itu, kita tidak perlu lagi repot atau terlalu 
ambisius untuk mengembangkan semua karyawan (dan ini sering membikin kita 
selalu kehabisan energi). Kita cukup memfokuskan energi terbesar kita pada 
karyawan yang menduduki posisi kunci dan bersifat strategis (dan acapkali 
jumlah karyawan golongan ini tidak lebih dari 30% jumlah total karyawan). 
Talenta-talenta karyawan di golongan inilah yang mesti kita hajar 
habis-habisan. Dengan pola ini, kita bisa lebih fokus, lebih bisa menghemat 
energi, dan yang paling penting : bisa meraih hasil yang jauh lebih produktif.

Demikianlah, dua filosofi kunci yang mesti selalu dikenang tatkala kita hendak 
membangun sebuah sistem talent management yang unggul. Sebuah filosofi yang 
berangkat dari keyakinan bahwa : not everyone of us is equal. Sorry, 
kedengarannya ini agak diskriminatif, but this is a fact of life. Accept this, 
or you will be left behind the dust.<<<--- 

thank's




      

Kirim email ke