Pada Sabtu (7/3) menjelang keberangkatan saya ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis Jurnalistik dan Manajemen Media yang diselenggarakan oleh Bagian Pengembangan Pegawai Sekretariat Direktorat Jenderal Perbendaharaan, saya menyempatkan waktu sejenak untuk membuka milis Forum Prima yang sangat saya banggakan melalui internet kantor. Dua postingan yang ada saat itu mengundang saya untuk turut berkomentar.
Postingan pertama berasal dari miliser dengan username "Sukarnon". Beliau memosting ke milis pada 6 Maret 2009 dengan nomor postingan 12336 di bawah judul PLUS TALENT MANAGEMENT. Pada postingannya ini dia menambahkan apa yang telah disampaikan oleh "Budisan" terkait tema Talent Management. Materi yang ditulis membuat saya terkagum akan kemahirannya menulis dan kedalaman pengetahuannya tentang Talent Management. Bahasa yang digunakannya terasa renyah, alur penulisannya teratur, dan kedalaman materi menandakan yang bersangkutan benar-benar ahli dalam bidangnya. Namun, alasan keterkaguman saya terhadap tulisan "Sukarnon" mulai saya ragukan setelah membaca postingan kedua dari miliser "Budisan" pada tanggal yang sama, dengan nomor postingan tepat pada nomor berikutnya setelah postingan "Sukarnon" di atas. Pada postingannya, "Budisan" sungguh mengagumi tulisan "Sukarnon" tentang Talent Management. Namun, beliau enggan untuk memberikan apresiasi atas apa yang dilakukan "Sukarnon" lantaran yang bersangkutan tidak menyertakan sumber tulisan yang dikutip olehnya. Seraya menunjukkan sebuah link yang mungkin menjadi referensi "Sukarnon" dalam membuat tulisannya, beliau menawarkan kepada miliser semuanya (juga tentunya saya) jika mau mempelajari lebih jauh tentang Talent Management dan masuk ke link yang dimaksud. Keterkaguman saya menjadi hilang sama sekali setelah saya mencoba masuk ke dalam link yang dirujuk oleh "Budisan". Betapa saya benar-benar menyaksikan sendiri bagaimana sama persisnya antara tulisan yang dibuat oleh Yodhia Antariksa pemilik situs http://strategimanajemen.net dengan apa yang diposting oleh "Sukarnon". Hanya saja, "Sukarnon" dalam postingannya menambahkan 1 kalimat yang terdiri atas 35 kata pada awal tulisannya dan diberi jeda dengan tanda koma (,) kemudian mengutip habis tulisan Yodhia Antariksa yang diposting pada tanggal 15 September 2008 pukul 12.10 am, serta mengakhirinya dengan sebuah kata-katanya sendiri : "thank's" tanpa menuliskan sedikitpun sumber dari mana dia mendapatkan kutipan itu. Siapapun akan memiliki pendapat yang sama dengan saya untuk mengatakan bahwa telah terjadi penggunaan tulisan orang lain untuk suatu kepentingan dalam bentuk tulisan lainnya tanpa menyebutkan sumber dari mana tulisan itu berasal. Dalam hal ini, menurut saya "Sukarnon" telah mengutip tulisan Yodhia Antariksa mengingat tulisan Antariksa ada lebih dahulu dibanding tulisan "Sukarnon". Menurut saya juga, "Sukarnon" bukanlah Yodhia Antariksa, dan Yodhia Antariksa bukanlah salah seorang miliser Forum Prima, sehingga antara "Sukarnon" dan Yodhia adalah dua orang yang berbeda tentunya. Oleh karena itu, dengan tingkat keyakinan yang "haqqul yaqin" bahwa telah terjadi upaya secara sengaja untuk mengutip sebagian atau seluruh tulisan orang lain dan mengesankan bahwa tulisan itu asli darinya (ditandai dengan penambahan 35 kata dimuka dan satu kata di akhir kutipan) maka saya perlu mengambil suatu sikap. Saya berada pada posisi untuk tidak berapresiasi terhadap apa yang dilakukannya, namun tetap memandang bagus isi tulisan (kutipan)nya, seraya mengingatkan kepada semua miliser untuk tetap menjaga etika penulisan dengan mencoba untuk menghargai karya tulis orang lain dalam bentuk penulisan sumbernya. Postingan reply nomor 12339 itu saya beri judul PLUS PLUS TALENT MANAGEMENT : TURUT BERDUKA ATAS BUDAYA PLAGIATOR. Dari sinilah mulai bermunculan postingan reply lainnya atas judul postingan saya yang sangat provokatif. Postingan reply pertama muncul pada 8 Maret 2009 dengan nomor postingan 12342 yang dikirim oleh "yondi_l". Jujur saja, saya tidak dapat mengambil inti dari postingannya kecuali sebuah kalimatnya yang berbunyi "Buat Bung Sukarnon terus menulis bung!...". Pikiran saya melayang membawa saya pada kesimpulan bahwa judul yang saya buat sudah membuat orang lain simpati pada "Sukarnon" dengan tetap memberinya semangat untuk "keep on writing". Postingan reply kedua muncul pada 10 Maret 2009 yang berasal dari Harsono Budi Waluyo di Kendari. Saya kenal dengan nama ini karena beliau sering sekali menulis di forum ini terutama saat mengomentari postingan-postingan saya sebelumnya. Saya pun tahu tentang posisi kedinasannya mulai dari SK mutasi Maret 2004 (satu SK dengan saya) sampai dengan sekarang di KPPN Percontohan Kendari. Pada intinya, beliau ingin menyampaikan bahwa memberikan cap plagiator kepada "Sukarnon" bukanlah tindakan yang tepat. Lagi-lagi muncul sebuah dukungan untuk menjaga semangat menulis "Sukarnon". Pada satu kalimat yang dapat saya kutip disini adalah "Sebuah permintaan maaf saya rasa pantas untuk ke-khilafan ini." Saya mulai bingung, kok sepertinya ada kesan bahwa postingan saya telah mematahkan semangat "Sukarnon" untuk terus menulis, dan siapa pula yang dimaksud beliau untuk minta maaf atas sebuah kekhilafan. Apakah "Sukarnon" yang telah ceroboh mengutip tanpa menyebutkan sumbernya ataukah saya yang telah menggunakan judul "plagiator" terhadap orang yang menurut keyakinan saya memenuhi kriteria seorang plagiator? Saat membaca postingan HaBeWe (biasa beliau menyingkat namanya) ini saya sedang berada di Jakarta dalam sebuah acara pelatihan jurnalistik. Di samping saya duduk Heryanto Sijabat, salah seorang miliser aktif Forum Prima. Si Abang ini pernah menanyakan saya (juga teman-teman pelatihan) tentang keberanian saya mereply tulisan "Sukarnon" dengan memberikan judul yang bombastis. Begitu muncul postingan nomor 12351 dari HaBeWe di atas dengan berbagai maksudnya, kepada si Abang saya tunjukan layar laptop saya yang terhubung dengan jaringan LAN tempat pelatihan tentang perbandingan antara tulisan "Sukarnon" dengan sumber asli http://strategimanajemen.net. Komentarnya saat itu hanyalah "Kalau begitu, gak perlu kamu minta maaf". Kometarnya itu membuat saya yakin bahwa sayalah target dari permintaan maaf atas kekhilafan saya menuduh orang sebagai plagiator. Postingan balasan mengenai tema plagiator ini masih berlanjut. Kali ini kembali datang dari "Budisan", orang pertama yang "membongkar" postingannya "Sukarnon". Melalui postingan nomor 12400 yang dikirim tanggal 20 Maret 2009 beliau mengajak semua miliser agar jangan asal menuduh (Mr. Sukarnon sebagai plagiator) dan menyetujui adanya permintaan maaf atas kekhilafan ini. Lagi-lagi dukungan untuk keep on writing kepada "Sukarnon" muncul. Saya semakin merasa tersudutkan atas suatu kesan bahwa tindakan saya seakan-akan sudah mematahkan semangat "Sukarnon" untuk menulis. Pada bagian akhir beliau mengajak miliser untuk mampu membedakan plagiator-teri dan plagiator-kakap. Dimana dapat dimungkinkan seorang penulis handal sekalipun dahulunya bisa saja seorang plagiator-teri. Terakhir yang saya pantau, terdapat satu lagi postingan tentang tema ini. Datangnya bukan dari siapa-siapa, melainkan kembali HaBeWe menulis. Pada postingannya nomor 12404 tanggal 20 Maret 2009, dia menegaskan bahwa apa yang telah dilakukan "Sukarnon" bukanlah tindakan plagiat, hanya saja dia menyayangkan tidak dicantumkannya sumber yang mungkin karena terlalu menggebu-gebunya "Sukarnon" menulis. Atas dasar postingan-postingan di atas dan atas dasar keadaan yang mulai tersudutkan [menurut pendapat pribadi saya], maka sesuai kaidah jurnalistik, saya memiliki hak jawab yang berisi antara lain: 1. Saya tetap bersikap bahwa apa yang sudah dilakukan oleh "Sukarnon" termasuk dalam kategori perbuatan plagiat. Konsekuensinya, subjek dari seorang yang melakukan tindakan itu disebut plagiator. Terlepas apakah nanti dia mau dikategorikan plagiator-teri atau plagiator-kakap. "Plagiator adalah mereka yang dengan sengaja mengambil ide, pendapat, atau karya tulis orang lain, baik secara utuh atau dimodifikasi sedikit supaya tidak nampak sama persis, dan mengakui (atau memberikan kesan kepada pembacanya) bahwa ide, pendapat dan karya tulis itu adalah milik (buah tangan)nya." [Budisan : Forum Prima mailing list, posting #12400, 2009]. Saya tidak akan meminta maaf untuk sebuah perbuatan yang saya yakini bukan kesalahan atau kekhilafan saya. 2. Pada saat mengikuti pelatihan jurnalistik, saya sempat berbincang sejenak dengan salah seorang narasumber yang merupakan Direktur Rakyat Merdeka Institute. Saya menyampaikan tentang keinginan saya untuk menyediakan dua halaman di blog saya (http://rahmanjakarta.wordpress.com) yang akan berisi ketikan ulang utuh dari dua buku yang saya punya. Buku pertama berjudul Fiqih Lima Mazhab dan buku kedua berjudul Menjadi Kekasih Allah yang merupakan kumpulan wejangan dari Syaikh Abdul Qadir Jaelani kepada murid-muridnya dalam setiap pengajian. Maksud saya melakukan itu adalah untuk sekadar membagi pengetahuan dari buku yang pernah saya baca kepada pengunjung blog saya, meski mereka tidak sempat membeli bukunya namun bisa mendapatkannya dari blog saya. Di pengantar halaman itu tetap akan saya announce tentang sumbernya, lengkap dengan judul buku dan siapa penulisnya. Namun, narasumber tadi dengan nada keras mengingatkan saya untuk membatalkan maksud tadi karena bagaimanapun dan untuk tujuan apapun apa yang akan saya lakukan termasuk kategori pelanggaran terjadap hak cipta. Betapa saya menggebu-gebu sebelumnya untuk membuat dua halaman tambahan di blog saya itu, betapa tidak ada maksud komersialisasi blog saya, betapa baiknya maksud tujuan saya, betapa saya tetap akan mencantumkan sumber isi halaman itu, namun, karena tindakan tersebut masuk dalam pelanggaran hak cipta, dengan senang hati saya batalkan. 3. Tidak ada maksud sedikitpun dengan mengingatkan "Sukarnon" (juga miliser lainnya) untuk menghargai karya tulis orang lain dengan menuliskan sumber ketika mengutip serta dengan menggunakan judul : TURUT BERDUKA ATAS BUDAYA PLAGIATOR, bahwa saya hendak mematikan semangat menulis yang bersangkutan. Apalah artinya saya ini yang hanya menjadi pembaca setia dari milis. Apapula kekuatan dan kewenangan saya untuk melakukan itu. Tujuan saya semata-mata untuk mengajak semua miliser agar dalam menulis tetap menjunjung etika jurnalistik (etika penulisan) meski forum kita ini hanyalah forum warung kopi [HaBeWe : 2009]. Justru sebagai bentuk dari hasil pelatihan jurnalistik dan manajemen media yang saya ikuti, saya mengajak semua miliser untuk menggiatkan kegiatan tulis menulis seraya tetap memperhatikan kaidah dan etika penulisan. 4. Satu hari sebelum saya muat tulisan ini di milis, terlebih dahulu saya muat di blog saya. Beberapa saat setelah itu banyak bermunculan komentar dari teman-teman yang menyempatkan membaca tulisan saya. Diantaranya ada yang mengungkapkan pengalaman pribadinya saat banyak orang lain men-copypaste materi dari blognya untuk dmuat di blognya sendiri tanpa mencantumkan sumber dia mendapatkannya. Baginya tindakan itu sangat menyakitkan hatinya. Namun, tidak banyak yang dapat diperbuat kecuali menyayangkan tindakan tersebut seraya mengikhlaskannya. Kometar kedua datang melalui SMS ke saya langsung yang mengatakan : "I've read you blog. Never ever feel guilty for what you've done about `plagiat'. You're doing a good job!". Dan yang paling menarik adalah komentar seorang teman yang didahulukan dengan mempertanyakan apa poin dari tulisan saya yang panjang lebar ini. Saya jawab: "Poinnya adalah plagiator tetaplah plagiator, jangan beri dia ruang justifikasi hanya dengan alasan media melakukan plagiator (kepentingan akademik atau forum warung kopi), tujuan melakukan plagiator (menambah wawasan orang lain atau sekadar belajar menulis), apalagi harus dilihat perkategori (plagiator-teri atau plagiator-kakap). Atas jawaban itu, teman saya kembali menulis : "I agree with you." 5. Satu hal yang saya yakini, tidak ada seorang penulis handal pun saat ini yang mengawali karirnya dengan melakukan plagiat. Sekalipun sebagai plagiat-teri. [Maaf], seorang maling kelas teri jika terus diasah kemampuannya, siapa yang dapat memungkiri jika yang bersangkutan besarnya menjadi maling kelas kakap. Seorang petinju yang berangkat dari kelas bulu, dengan latihan keras dan pengalaman naik ring siapa bilang tidak bisa jadi petinju kelas berat. Seorang anak balita memang bagus diberikan kebebasan bermain untuk merangsang pertumbuhan fisik dan psikisnya, namun tetap saja jika balita tadi dibiarkan melakukan kesalahan tanpa menegurnya akan berdampak tidak baik bagi kepribadiannya di kemudian hari. 6. For "Sukarnon", I just wanna say : "keep on writing, stop copying and pasting or you have to write down the source(s)!" 7. Thanks for Bayu Biru sudah menggugah saya buat memosting tulisan ini yang sebenarnya telah saya kirim ke e-mail masing-masing nama yang terlibat dalam diskusi tentang plagiator termasuk "Sukarnon" sendiri. Terima kasih atas perhatian semuanya. Semoga forum kita bisa menjadi ajang memuaskan hasrat menulis teman-teman yang punya talenta untuk itu. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan. Benteng Selayar, 21 Maret 2009 : 02.30 am (waktu tulisan pertama saya buat) Rahman Yang Baru Belajar Jurnalistik --- In [email protected], Bayu Biru <bayu_1...@...> wrote: > > > Dear Miliser, > > Apa yg gw tangkp dr tulisan Pak Budisan ttg Perbedaan antara Plagiator dan > Plagiator? > > Klo kta pake definisi Pak Budisan ttg Plagiator n kta liat fakta yg dtulis > Mr. Sukarnon n yg dtulis Yodhia Antariksa, jelas bangt (mnrt gw) Mr. Sukarnon > tuh Plagiator. So, mnrt gw Pak Rahman benar. Soal apakh Teri or Kakap, jarang > or sering, kali Mr. Sukarnon sndiri yg tau. Ato spt Pak Budisan bilng, > perhatikan (awasi?) aja tulisan2ny brikutny d milis ini. > > Beda antara Plagiator n Plagiator tuh trnyata bkan cma ia Teri or Kakap. Tp > jg it depens on definisi Plagiator yg kta buat. Plagiator mnrt Pak Rahman > kali aja beda ma Plagiator mnrt Den Boedhi. Gw yakin, Pak Rahman past stuju > bangt ma definisi Plagiator Pak Budisan n ttap ga brgeming ma pndptny. > Apalagi, mnrt Pak Budisan, Bu Marlina jg puny âcatatanâ ttg Mr. Sukarnon. > Lalu, apakh Den Boedhi puny pndpt beda ttg definisi Plagiator Pak Budisan? > > Kmungkinn Den Boedhi beda pndpt pasti ada. Kali aja ia puny definisi, > Plagiator tuh klo tulisn-plagiatny lbh banyk dr tulisn-asliny. Tp gw yakin, > Den Boedhi jg stuju ma definisi Plagiator Pak Budisan. Mnrt gw, Den Boedhi > cma bilng Mr. Sukarnon tuh ga sngaja jd Plagiator. Sapa tau, kali aja ia > buru2 posting n ga smpat ngasih âcatatn rferensiâ (di bag bwh tulisan). > Tp btw, klo ia smpat buat rfrerensi di bag bwh tulisan, jgn2 tulisan asli Mr. > Sukarnon (kalimat prtama) di bag atas nanti dikira pembaca tulisan asli > Yodhia Antariksa. > > So, kali cma ada 1 cara spy tulisn Mr Sukarnon ga dkira plagiat. Buat kalimat > si2p yg misahin 1 kalimat Mr Sukarnon di atas n tulisn Yodhia Antariksa di > bwh. Bilng aja, âNih ada tulisn dr internt yg mnrt gw bsa mlengkapi > (kkurangn) tulisn Mr Budisanâ. Ga prlu nyebut referensi (nama Yodhia n > alamat blogny), mnrt gw, jg gpp. Yg pnting ada info that itâs not Mr > Sukarnonâs. Tp lbh baik lg klo ia mo sebutin referensiny. Krn di blog > Yodhia trnyata kta jg bsa baca pndpt2 yg tunjukin klemahn tulisn Yodhia. > > Ma2 gw prnah kasih nasehat, âmenggali untuk mencari kebenaran itu > kadang/seringkali menyakitkan (melukai) hati mereka yang dengan sengaja, > karena alasan tertentu, harus menyembunyikan (mengubur) kebenaran tersebutâ > Tp klo gw Mr Sukarnon, gw ga ragu lg utk minta maaf k forum atas kkhilafan > ini. Kita liat aja, apakh Mr Sukarnon yg (sama spt Pak Rahman) sholeh n puny > cita2 mulia itu mau mlakukanny. > > From Bayu Biru with Love > Ketik G spasi TK spasi M3....Gali n Temukan Kebenaran, Meski (upaya itu) > Melelahkan & Menyakitkan.... > > > --- On Fri, 3/20/09, budisan <budisan_2...@...> wrote: > > From: budisan <budisan_2...@...> > Subject: [Forum Prima] Perbedaan antara Plagiator dan Plagiator > To: [email protected] > Date: Friday, March 20, 2009, 1:23 AM > > Teman-teman Miliser yang budiman, > â¦â¦â¦â¦â¦ > Plagiator, menurut saya, adalah mereka yang dengan sengaja mengambil ide, > pendapat, atau karya tulis orang lain, baik secara utuh atau dimodifikasi > sedikit supaya tidak nampak sama persis, dan mengakui (atau memberikan kesan > kepada pembacanya) bahwa ide, pendapat dan karya tulis itu adalah milik(buah > tangan)nya. > â¦â¦â¦. > Saya setuju dengan pendapat HaBeWe supaya kita jangan asal menuduh (Mr. > Sukarnon sebagai plagiator) tanpa disertai dengan bukti yang nyata (fakta). > Saya juga setuju dengan HaBeWe bahwa âSebuah permintaan maaf saya rasa > pantas untuk ke-khilafan â¦â. > â¦â¦.. > Saya merasa yakin, atau paling tidak menyimpan harapan, suatu saat nanti Mr.. > Sukarnon bisa menjadi seorang penulis yang handal. Anda tidak percaya? > Mari kita nantikan dan perhatikan tulisan-tulisan beliau selanjutnya di milis > ini. > ...... >

