Sedikit saya ingin mengingatkan anda tentang dua kejahatan yaitu "white collar 
crime" dan "green collor crime" dengan mengunakan logika semua kejahatan sama, 
baik yang "color ijo" maupun "kerah putih" namun ternyata pada tataran praktis 
tetap berbeda yang satu bisa "diadili" dengan digebuk pakai daun kelor yang 
satunya harus dengan jaksa dan pengacara handal bergaji mahal. Ada hukum yang 
sering Cak Nur (almarhum) kemukakan—dalam bahasa Latin—coruptio optimi pessima 
("kejahatan oleh orang terbaik adalah kejahatan yang terburuk", "corruption by 
the best is the worst"), maka pelanggaran prinsip keadilan dan 
keseimbangan—yang merupakan salah satu pikiran etika yang baik yang harus 
menjadi perhatian bersama—oleh siapapun akan mendatangkan bencana yang jauh 
lebih besar.

Stigma negatif masa lalu pernah terjadi bukan saja melanggar hak-hak satu 
generasi tapi juga beberapa generasi berikutnya lalu siapa yang bertanggung 
jawab? Jangan mudah kita membuat stigma lalu cepat menghukum utamakan dialog 
itu lebih baik.  Dengan konfirmasi kepada yang bersangkutan layaknya seorang 
teman adalah sebuah langkah bijak dan elegant. 

Kalau anda seorang intelektual lalu bagaimana anda menilai Afrika Selatan yang 
terus melangkah maju? jawabnya karena dibaliknya ada ketokohan seorang 
Mandella. Bagaimana dengan Jepang atau China? Atau mungkin memang filosofi  
hidup bagaikan roda yang terus berputar sudah menjadi budaya kita "adakalanya 
diatas adakalanya dibawah" jika diatas berarti sedang berkuasa hingga dapat 
berbuat apa saja dan berbuat aniaya kepada yang dibawah (sedang kesusahan) 
sehingga yang satu ada yang berusaha dengan segala cara agar roda tidak 
berputar sehingga selalu tetap diatas, sebaliknya ada yang terus berusaha juga 
dengan segala cara agar membaliknya keadaan agar bisa berbalas. Keduanya adalah 
contoh yang buruk. Mengapa kita tidak seperti bangsa yang sedang mengarungi 
samudera dengan sebuah bahtera besar bernama Indonesia meskipun untuk sampai 
tujuan harus ada seorang nakhoda yang kita pilih secara demokratis yang terbaik 
diantara kita.

Kang Sejo pun berkata "aku ingin mencontek Jepang atau China meskipun cuma 
peniti, jarum pentul atau mainan anak-anak tapi jangan tuduhkan aku plagiator"

salam,
yondi

--- In [email protected], Hermawan Moudy <cimo...@...> wrote:
>
> Mas sukarnon ini teman baik saya satu angkatan, bagaimanapun juga, mengkopi 
> paste dalam volume begitu besar tanpa sama sekali menyebutkan sumber adalah 
> kesalahan yang cukup kasar dan menyesatkan. Jadi, sengaja atau tidak sengaja, 
> itu tetap kesalahan dan semoga dikemudian hari tidak diulangi lagi. Dan tetap 
> aktiflah menulis, anggap kesalahan ini sebagai jalan untuk menjadi penulis 
> yang jauh lebih baik (jauh dibandingkan saya yang jarang nulis).
> 
> Piss...
> Moudy H
> 
> 
> 
> 
> ________________________________
> Dari: arahman231 <arahman...@...>
> Kepada: [email protected]
> Terkirim: Selasa, 24 Maret, 2009 21:32:47
> Topik: [Forum Prima] Re: PLAGIATOR OH.. PLAGIATOR : KLARIFIKASI "SI PENUDUH" 
> PLAGIATOR
> 
> 
> Pada Sabtu (7/3) menjelang keberangkatan saya ke Jakarta untuk mengikuti 
> kegiatan Bimbingan Teknis Jurnalistik dan Manajemen Media yang 
> diselenggarakan oleh Bagian Pengembangan Pegawai Sekretariat Direktorat 
> Jenderal Perbendaharaan, saya menyempatkan waktu sejenak untuk membuka milis 
> Forum Prima yang sangat saya banggakan melalui internet kantor. Dua postingan 
> yang ada saat itu mengundang saya untuk turut berkomentar.
> 
> Postingan pertama berasal dari milise
>


Kirim email ke