Dear miliser tanpa mengurangi rasa hormat, saya bermaksud mengkhususkan tulisan ini kepada Mr Budisan, Mr Bayu Biru dan the special one Yangkung. Dear Mr Budisan, Sebelumnya saya mengucapakan terima kasih atas kebesaran hati bapak. Saya setuju dengan pendapat bahwa milis ini merupakan ajang bagi kita untuk belajar menulis. Ketika seseorang melempar sebuah postingan, ini akan merangsang pembaca untuk menggali lebih dalam lagi. Dan ketika seseorang itu (merasa) menemukan yang lebih lengkap kemudian menambahkan sebagai tambahan referensi dari postingan pertama saya merasa itu bukanlah sebuah tindakan plagiat, hanya sayang memang karena terlalu menggebu gebu, lupa mencantumkan sumber referensi (atau dengan asumsi semua sudah mengetahui sumbernya). Akan sangat berbeda jika orang tersebut menulis dalam kaitannya dengan tugas akademisnya. Karena konon sebuah tulisan akademis memiliki syarat untuk mencantumkan daftar pustaka. Karena dapat dipastikan salah satu metoda penulisannya adalah library research jadi ada keharusan mencantumkan referensi.
Dear Bayu Biru, Terima kasih atas dukungan buat saya untuk terus keep writing, walau kadang (lebih tepatnya sering), tulisan saya susah dimengerti dan membosankan. Saya memang masih perlu waktu lama untuk mengasah ketrampilan dalam mengungkapkan sesuatu melalui tulisan. Kadang perasaan yang terlalu bersemangat membuat tulisan saya terlalu tajam dan kasar. Saya sendiri tidak terlalu merisaukan apakah seseorang akan melihat saya melalui kaca mata hitam ataupun kaca mata putih. Toh tak selamanya orang akan memakai kaca mata hitam (kecuali tuna netra of course... he he he). Dear YANGKUNG, Setelah sekian lama bertapa, saya merasa sangat tersanjung ketika Bapak muncul dengan me-reply postingan saya. Saya yakin "KENangan inDAh sehaRI hari" masih terpatri dalam sanubari. Sayang jarak yang meretas terlalui jauh untuk digapai, sehingga senampan Kakap Merah mustahil untuk diantarkan...... Salam hangat dari Kendari HaBeWe --- In [email protected], budisan <budisan_2...@...> wrote: Teman-teman Miliser yang budiman, Membaca cerita tentang Profesor dalam tulisan Yondi tentang plagiator, saya teringat pengalaman saya ketika mengikuti kursus bahasa Inggris di Pasca Sarjana UGM. Suatu saat saya dipanggil oleh seorang instruktur bahasa Inggris yang menanyakan kepada saya tentang esai saya yang tidak mencantumkan daftar pustaka sebagai referensi. Menurutnya, saya bisa dituduh sebagai plagiator apabila saya tidak menyertakan daftar pustaka dalam esai saya. ........ Walaupun dalam hati saya merasa geli (aneh, lucu), karena kemudian saya harus mencari-cari referensi dari esai yang telah saya buat sebelumnya. Plagiator, menurut saya, adalah mereka yang dengan sengaja mengambil ide, pendapat, atau karya tulis orang lain, baik secara utuh atau dimodifikasi sedikit supaya tidak nampak sama persis, dan mengakui (atau memberikan kesan kepada pembacanya) bahwa ide, pendapat dan karya tulis itu adalah milik(buah tangan)nya. Saya setuju dengan pendapat HaBeWe supaya kita jangan asal menuduh (Mr. Sukarnon sebagai plagiator) tanpa disertai dengan bukti yang nyata (fakta). Saya juga setuju dengan HaBeWe bahwa Sebuah permintaan maaf saya rasa pantas untuk ke-khilafan. Pada bagian paling bawah tulisan ini saya kutip tulisan Mr. Sukarnon yang dicap sebagai plagiat dan sumber asli yang digunakannya sebagai referensi.

