Betul kata Bung Yondi, hendaknya kita berhati-hati menggunakan kata
"jasa" dan koruptor". Bagaimanapun juga seorang koruptor tetaplah
koruptor dengan segala image negatif yang melekat padanya. Jangan
sampai pernyataan ini secara halus bisa mempengaruhi alam bawah sadar
kita untuk mencari pembenaran atas tindakan yang berhubungan dengan
Korupsi.

Reformasi Birokrasi yang tengah dan sedang berjalan ini sangat
memerlukan dukungan dari semua pihak, bukan hanya Instansi2 yang telah
diberikan Penghasilan yang "lebih", tetapi diharapkan seluruhnya harus
mendukungnya. Saya sangat prihatin bila di satu pihak, kita ini telah
berupaya untuk memberantas korupsi, tetapi di luar sana masih saja
tersiar berita-berita  tentang korupsi. Seolah-olah Korupsi itu "tidak
ada matinya".

Ada baiknya kita per individu senantiasa introspeksi pada diri kita
sendiri. Apakah hari ini kita sudah berbuat, bertindak dan melakukan
hal-hal yang benar, apakah kita hari ini kita bersih dari hal-hal yang
meragukan, hal ini sebagai kontrol diri kita setiap hari untuk secara
inividu membentengi dari hal-hal yang mengarah ke KKN.



Pada tanggal 27/03/09, yondi_l <[email protected]> menulis:
> Ada baiknya kita berhati-hati menyandingkan kata jasa dengan koruptor.
> Khawatir apa yang telah tertanam "dalam alam bawah sadar anda", sekali lagi
> telah tertanam "dalam alam bawah sadar anda" seperti dikatakan seorang
> "Master" bahwa imajinasi dapat membawa  kepada sosok pahlawan dengan
> jasa-jasanya. Bang Naga pun berteriak " mengapa kau angkat tanganmu
> Jenderal?" ekspresi penuh sejuta tanya dibawah patung jenderal besar.
>
> Generalisasi yang agak ceroboh dapat berakibat pada simplifikasi persoalan
> yang berujung pada banalitas kejahatan. Persoalan yang begitu membelenggu
> bangsa ini menjadi hal yang biasa dan banal (sepele), remeh temeh. Semua
> yang baik dimasa lalu harus tetap dijaga dan mengambil yang baru yang lebih
> baik dengan mengedepankan humanisme sebagai bangsa beradab.
>
> Demokratisasi dan reformasi birokasi yang sedang berjalan bertujuan
> meminimalisasi adanya "kambing hitam" atau bahkan korban yang tidak perlu.
> lewat saluran-saluran komunikasi politik yang sedang kita bangun. Ini pula
> yang membedakan sebuah negara dikatakan demokrasi mapan atau sebuah negara
> yang sedang merangkak menuju demokrasi yaitu dapat dilihat dari bagaima cara
> pandang warganya melihat sebuah persoalan  eksistensial baik berupa
> kehilangan harta, nyawa atau kegersangan jiwa yang semakin teralienasi
> (terasing) akibat lompatan kemajuan peradaban yang dapat disaksikan sampai
> keruang-ruang private.
>
> salam,
> yondi
>
> --- In [email protected], salman harits <soe_bb...@...> wrote:
>>
>> Tidak banyak yang memikirkan, betapa koruptor juga ada jasanya...
>
>>
>>
>>
>> [Non-text portions of this message have been removed]
>>
>
>
>

Kirim email ke