Baitul Mal wat Tamwil atau disingkat dengan BMT merupakan lembaga 
keuangan syai’ah yang mampu menjangkau rakyat bawah. Dengan kehadiran BMT tentu 
saja menyenangkan kita. Darurat yang selama ini menjadi alasan kebanyakan orang 
untuk menambung di perbankan konvesional, tidak bisa di pakai lagi.
  Tapi, perkembangkan selanjutnya dengan banyak bertaburnya BMT di Indonesia, 
BMT menjadi tidak Islami. Apa yang dilakukan BMT hanya mengadopsi system 
perbangkan konvensional, kemudian hanya memodifikasi akad-akadnya dengan 
akad-akad system syari’ah, tapi secara substansinya sama saja dengan system 
perbankan konvensional, yaitu hanya mengejar profit saja.
  Sebagai contoh, BMT tidak memberi pembiayaan mudharabah jika seorang nasabah 
atau calon nasabah tidak mempunyai anggunan atau anggunannya tidak sepadan 
dengan biaya yang di minta. Artinya hanya orang-orang kaya saja yang dapat 
mendapatkan dana-dana pembiayaan, atau orang yang mempunyai anggunan yang 
besar. Sedangkan orang miskin tidak akan mendapatkan pembiayaan tersebut. 
Sehingga orang miskin tidak akan terangkat perekonomiannya. Padahal modal atau 
dana yang dikumpulkan didapat dari masyarakat berbagai elemen, tanpa memandang 
sesoarang itu kaya atau miskin. Tapi mengapa ketika simiskin membutuhkan modal 
di persulit?
  Bisa kita lihat kejadian ini pada bank konvensional, bank mengumpulkan dana 
dari masyarakat, kemudian hanya orang-orang kaya saja yang dapat menikmati dana 
tersebut. Jadi apa bedanya BMT dengan bank konvensional?.
  Jika kita lihat dalam sejarah, misalnya mudharabah, di zaman Rasulullah dan 
para sahabat, kita tidak akan jumpai shahibul mal mensyarati mudharib untuk 
memiliki anggunan, Karena yang dibangun adalah mitra bisnis, bukan kreditur dan 
debitur. 
   
  
       
---------------------------------
 Ada Naruto, Sandra Dewi dan MU di .

Kirim email ke