Wah.. jangan menggeneralisir BMT seperti itu semua mas.. saya sendiri
(mahasiswa) mendapatkan modal untuk usaha dari salah satu BMT di jakarta dan
itu tanpa agunan koq.. jumlah yang diberikan pun lumayan. Padahal saya masih
mahasiswa, dan sekarang alhamdulillah usahanya lancar dan berkembang. Bahkan
bukan hanya saya lho yang menjadi nasabah pembiayaan. Banyak dari UMKMK
seperti pedangang somay, bakso, tukang pecel, tukang pulsa sampe tukang
ayam.
Memang tidak semua BMT bisa melakukan hal yang seperti itu. Kita tahu
ekonomi Islam di indonesia masih kecil. Kalo dari indikator bank syariah ya
baru 2% jadi ya baru sebatas itu saja. Mungkin para BMT juga harus melakukan
manajemen yang baik dahulu sehingga harus berhati-hati ketika menyalurkan
dana.
Ehm.. BMT juga bukan lembaga sosial kan? BMT itu lembaga profit, harus
menggaji karyawannya, harus amanah juga terhadap dana yang dihimpun, jadi
wajar dunk untuk sekarang2 ini ada beberapa BMT yang memang ketat sekali
dalam hal melakukan pembiayaan.
Mungkin yang perlu diperhatikan sekarang adalah bagaimana BMT-BMT tersebut
mekalukan transaksi yang memang tidak dilarang oleh syariah, misalnya tidak
mengambil bunga, tidak ada gharar atau maysir juga penyalurannya jelas untuk
barang yang halal (bukan untuk usaha judi atau miras misalnya)

Jadi.. mari terus dukung EKONOMI ISLAM agar tetap maju dan berkembang

-FARIZAL-
http://farizal-alboncelli.blogspot.com/

Pada 12 Januari 2009 03:56, Sofyan Sulaiman <[email protected]>menulis:

>    Baitul Mal wat Tamwil atau disingkat dengan BMT merupakan lembaga
> keuangan syai'ah yang mampu menjangkau rakyat bawah. Dengan kehadiran BMT
> tentu saja menyenangkan kita. Darurat yang selama ini menjadi alasan
> kebanyakan orang untuk menambung di perbankan konvesional, tidak bisa di
> pakai lagi.
> Tapi, perkembangkan selanjutnya dengan banyak bertaburnya BMT di Indonesia,
> BMT menjadi tidak Islami. Apa yang dilakukan BMT hanya mengadopsi system
> perbangkan konvensional, kemudian hanya memodifikasi akad-akadnya dengan
> akad-akad system syari'ah, tapi secara substansinya sama saja dengan system
> perbankan konvensional, yaitu hanya mengejar profit saja.
> Sebagai contoh, BMT tidak memberi pembiayaan *mudharabah* jika seorang
> nasabah atau calon nasabah tidak mempunyai anggunan atau anggunannya tidak
> sepadan dengan biaya yang di minta. Artinya hanya orang-orang kaya saja yang
> dapat mendapatkan dana-dana pembiayaan, atau orang yang mempunyai anggunan
> yang besar. Sedangkan orang miskin tidak akan mendapatkan pembiayaan
> tersebut. Sehingga orang miskin tidak akan terangkat perekonomiannya.
> Padahal modal atau dana yang dikumpulkan didapat dari masyarakat berbagai
> elemen, tanpa memandang sesoarang itu kaya atau miskin. Tapi mengapa ketika
> simiskin membutuhkan modal di persulit?
> Bisa kita lihat kejadian ini pada bank konvensional, bank mengumpulkan dana
> dari masyarakat, kemudian hanya orang-orang kaya saja yang dapat menikmati
> dana tersebut. Jadi apa bedanya BMT dengan bank konvensional?.
> Jika kita lihat dalam sejarah, misalnya *mudharabah*, di zaman Rasulullah
> dan para sahabat, kita tidak akan jumpai shahibul mal mensyarati mudharib
> untuk memiliki anggunan, Karena yang dibangun adalah mitra bisnis, bukan
> kreditur dan debitur.
>
>
> ------------------------------
> Ada Naruto, Sandra Dewi dan MU di
> <http://sg.rd.yahoo.com/id/search/top2008/*http://id.promo.yahoo.com/topsearches2008/>.
>
> 
>



-- 
FARIZAL ALBONCELLI
Executive Secretary MGe-Event
www.mge-event.com
Blog: http://farizal-alboncelli.blogspot.com/
FS: [email protected]
mobile: 021 950 42948

Kirim email ke