Kemaren malamkembali saya mendapatkan pertanyaan yang sering saya
dengar/dapatkan
emang ekonomi islam sama yang biasa (konvensional)beda yah???
saya
berusaha menghimpun seluruh ilmu yang telah saya dapatkan untuk dapat
saya jelaskan secara ilmiah tapi dalam waktu singkat...
maka sayapun menjawab
Ada hal-hal mendasar dalam ekonomi islam yang sangat berbeda dengan ekonomi
konvensional tapi juga ada beberapa yang juga sama
Contoh pertama, hal mendasar adalah definisi rationality dalam ekonomi
konvensional dengan ekonomi islam
Dalam
ekonomi konvensional, rationality didefinisikan "prinsip utama ilmu
ekonomi adalah bahwa setiap agen (pelaku) digerakkan hanya oleh
kepentingan diri sendiri (self interest), di mana produsen
hendak memaksimumkan keuntungan dan konsumen hendak memaksimumkan
utiliti" (Edgeworth) atau bermakna rasionaliti didefinisikan sebagai
tindakan manusia dalam memenuhi keperluan hidupnya yaitu memaksimumkan
kepuasan atau keuntungan senantiasa berdasarkan pada keperluan (need)
dan keinginan-keinginan (want) yang digerakkan oleh akal yang sehat dan
tidak akan bertindak secara sengaja membuat keputusan yang bisa
merugikan kepuasan atau keuntungan mereka. Menurut ilmu ekonomi
konvensional, sesuai dengan pahamnya tentang rational economics man,
tindakan individu rasional adalah tertumpu kepada kepentingan diri
sendiri (self interest) sedangkan dalam ekonomi islam Dalam ekonomi
Islam, tindakan rasional termasuklah memperoleh kepuasan atau
keuntungan atau mashlahah dalam ekonomi dan rohani baik di dunia maupun
di akhirat.Rationality dalam ekonomi islam bermakna:
• Konsisten dalam pilihan ekonomi
•
Content pilihan tidak mengandungi konten terlarang misalnya berupa
haram, berlebih-lebihan, mubazir, mudarat kepada masyarakat (taat
kepada rules Allah)
• Memperhatikan faktor eksternal seperti kebaikan hati (altruism) yang
sebenar, interaksi sosial yang mesra.
Yang kedua, dalam ekonomi konvensional uang adalah komoditi, barang dan dapat
diperjualbelikan
sedangakan dalam ekonomi islam uang bukanlah komiditi yang dapat
diperjualbelikan, uang adalah alat transaksi. Dan ada sebuah teori di ekonomi
islam yang menyatakan Money is Flow (beredar)
Ketiga
Berdasarkan teori Money is Flow, teori zakat dan rationality dalam
ekonomi islam serta teori PDB maka saya membuat kesimpulan atau saya
membuat sebuah teori sementara atau hipotesislah (coz hipotesis kan masih bisa
dirubah ntar):
Berdasarkan
ratioanlity dalam ekonomi konvensional, zakat (atau membantu orang yang
membutuhkan) bukanlah hal yang rasional Sedangkan dalam ekonomi islam
zakat adalah rasional
* Teori zakatcontoh zakat
penghasilan yang dibayarkan ketika pendapatan mencapai nisab tertentu,
yang mana pendapatannya itu adalah sisa dari kebutuhan pokoknya (karena
itulah dalam kalkulator-kalkulator zakat yang ada saat ini ada kolom
harga emas untuk menentukan nisab, ada kolom pendapatan dan ada kolom
pengeluaran kebutuhan pokok). Dalam teori zakat, ia wajib mengeluarkan
2,5% dari hartanya tersebut. Seandainya ia memang tidak mau
mengeluarkan zakat, ia bisa memilih opsi lain yakni dengan cara
menginvestasikan uangnya
* Teori PDBSalah satu indikator pertumbuhan ekonomi adalah Produk
Domestik Bruto, atau Gross Domestic Product.
Yang mana PDB ini dilihat dari 3 pendekatan yaitu pendekatan konsumsi, income
dan produksi
1.
Jika seseorang lebih memilih berzakat daripada menginvestasikan
uangnya, maka ia wajib memberikannya kepada orang yang tidak mampu.
Sehingga daya beli kalangan fakir miskin akan bertambah yang akan
menaikkan jumlah nominal PDB baik dari sisi konsumsi (karena adanya
penambahan daya beli masyarakat fakir miskin) maupun dari sis
pendapatan (karena bertambahnya daya beli maka pendapatan produsenpun
bertambah)
2. Jika ia lebih memilih menginvestasikan uangnya, maka PDB pun akan bertambah
dari sisi bertambahnya jumlah produksi
Mungkin kelihatannya panjang tapi penjelasannya gak nyampe 5 menit...
Ini
baru sekedar saya membahas tentang beberapa perbedaan teori dasar, saya
belum memasuki pembahasan mengenai lembaga keuangannya yang tentu lebih
menarik untuk dikaji