Terimakasih atas sharing ceritanya. Adik saya Alm Huda Rosdiana juga pernah 
terjebak di kelompok Islam model ini. Kami mengetahui dari catatan hariannya 
yang kemudian saya tulis menjadi buku Huda Bidadari Cinta Kami (sudah tayang di 
Kick Andy edisi 12 Maret 2010). 
 
Keluarga kami percaya, bahwa kelompok inilah yang akhirnya membuat adik kami 
memburuk kondisi kesehatannya. Dia dipaksa berinfak sehingga meninggalkan uang 
yang bahkan tak cukup untuk membeli air minum. Dan karena dia tak cukup lagi 
uang untuk makan dan minum, dia pun kerap puasa. Tubuhnya jadi lemah. dia ingin 
melawan tapi tak bisa karena selalu dijaga.  
 
Huda, adik saya berhasil keluar karena dia menyadari ada yang salah dalam 
penyampaian dakwah. Tapi dia dilepas di tengah hutan dengan mata tertutup, 
sehingga dia menangis dalam gelap dan tak tahu arah pulang. Huda ketika itu 
baru saja masuk menjadi mahasiswa baru di UI dan sedang mencari teman. Kini dia 
sudah tiada.  
 
Baiknya teman-teman mencermati lingkungan. Jangan sampai terjebak dalam 
organisasi ini. Tangan organisasi ini ada di mana-mana. di kawasan Depok, 
CIganjur, Cipulir, Mampang mereka memiliki markas. 
 
 
enci siti darojah
 
 


--- On Wed, 3/31/10, Muflikha Zahra D.H <[email protected]> wrote:


From: Muflikha Zahra D.H <[email protected]>
Subject: {FoSSEI} AJARAN YANG MENJEBAKQ,..
To: "FOSSEI NASIONAL" <[email protected]>
Date: Wednesday, March 31, 2010, 8:07 PM


  








Assalamu’alaykum,.. Wr,.. Wb,..
 
Teman2 milisQ semuanya,.. sebentar lagi akan banyak mahasiswa baru, yang bisa 
jadi mereka akan jadi target seperti aQ dulu yang yang juga menjadi korban 
karena keluguanQ. Mungkin sedikit pengalamanQ ini bisa menjadi pembelajaran 
bagi temen2 agar jangan sampai temen2 semua dan orang2 disekitar kalian menjadi 
target berikutnya. Karena gerakan mereka cepat banget,…


Berikut sepenggal dari kisahQ:
AJARAN YANG MENJEBAKKU
Pada suatu sore di tahun 2005, saat aku masih semester 1, ketika sedang 
berwudzu, untuk menunaikan shalat dhuhur di masjid, aku bertemu dengan dua 
orang mbak-mbak.. Namanya Mbak Ida dan Mbak Ela. Mereka mengajakku berkenalan.
Tidak ada hujan tidak ada angin, malamnya mereka datang ke kosku. Ketika itu 
aku lagi semangat-semangatny a belajar bahasa arab. Kebetulan, waktu itu 
kakakku lagi pulang ke rumah di Magelang sana. Mereka mengajakku untuk ikut 
mengaji. Awalnya sih aku nggak mau, karena menurutku hari telah begitu larut. 
Tapi begitu kudengarkan berbagai bujuk rayuannya, akhirnya aku pun tertunduk 
juga. Mereka mengatakan bahwa berjihad mencari ilmu tidak boleh ditunda-tunda, 
karena kita tidak akan pernah tau kapan ajal akan menjemput kita. Jelas saja 
aku tertohok, apa lagi mereka bawa-bawa Al Quran segala. Di samping itu mereka 
mengatakan bahwa aku juga akan diajari bahasa Arab.secara intensif hingga dalam 
waktu singkat, aku pasti bisa. Tawaran itu begitu menggiyurkan. aku pun segera 
bersiap-siap dan pamit pada mbak-mbak kos dengan alasan ngaji dan mabit.
Dengan boncengan bandotan kami pun pergi meninggalkan kosku. Aku dibawa ke 
Monjali. Di sana aku dipertemukan dengan seorang ustadz bernama Bp. Bakri. 
Jelas saja aku heran. Yang namanya ngaji kan biasanya banyak orang, tapi ini 
beda. aku sendirian mengaji. Aku tidak mau. Apalagi hanya dengan seorang lelaki 
yang sama sekali belum kukenal, itu kan bukan muhrim. Kuminta Mbak. Ida untuk 
menemaniku, alhamdulillah ia pun bersedia.
Ngaji yang benar benar-benar mencurigakan. Bp. Bakri mengatakan bahwa Al Quran 
sekarang ini, bukanlah Al Quran yang sebenarnya, tapi sebagian sudah dirubah 
oleh orang Yahudi. Dia juga mengatakan bahwa kita tidak akan bisa berIslam 
secara kaffah jika kita masih tinggal di negara Indonesia Sebuah negara yang 
berdasarkan Pancasila, bukan berdasarkan Islam. Karena itu kita harus 
mendirikan negara Islam. Di samping itu kita juga harus berinfak 
sebesar-besarnya. berbagai pertanyaan aku lontarkan. Tetapi apa daya, dia ahli 
tafsir, dan Alquran dia hapalkan secara sempurna. Sementara aku, seorang 
mahasiswa lugu dengan pengetahuan agama yang begitu minim, hanya bisa menelan 
mentah-mentah tanpa bisa mengkritisi.
Terakhir dia mengatakan, bahwa besuk pagi aku akan di bawa ke Jakarta untuk di 
bai’at. Aku tidak mau, apalagi aku belum pamit. Tapi dia sekali lagi dengan 
dalil-dalil Al Qurannya memberikan penjelasan kepadaku,
“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa berat, dan 
berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah 
lebih baik bagimu jika kamu tidak mengetahuinya”.(QS At Taubah: 47)
Paginya aku berangkat ke Jakarta dengan ditemani oleh Bp. Khusni, seseorang 
yang juga sama sekali belum aku kenal. Kami naik bus menuju ke Semarang. Di 
Semarang kami berhenti menunggu mobil jemputan. Ternyata di dalam mobil sudah 
ada 2 orang yang seusia denganku. Namanya Siska dan Eni. Mereka berdua berasal 
dari Cilacap. Kemudian kami turun di salah satu stasiun kereta api di Semarang. 
Di sana kami naik kereta ekonomi menuju ke Bogor. Sesampainya di Bogor kami 
menunggu mobil jemputan lagi dan di dalamnya sudah ada dua orang remaja bernama 
Resti dan Ajeng dan juga seorang ibu rumahtangga bernama Mbak Ratna. Sekarang 
semuanya berjumplah 6 orang.
Ketika kami hampir sampai di suatu tempat di Jakarta, mata kami ditutup dengan 
sebuah kain dan gorden yang ada di sekeliling mobil di tutup rapat. Sesampainya 
di sana kami langsung masuk ke garasi. Dengan cepat garasi dikunci. Semua itu 
bertujuan, agar markas mereka tidak dapat dilacak.
Sejenak kami diizinkan untuk istirahat. Dalam senggangnya waktu kami berenam 
saling mencurahkan perasaan kami. Aku menangis tersedu-sedu, karena aku sadar 
bahwa aku akan dimasukkan dalam sebuah organisasi garis keras. Kesedihanku 
ternyata telah mengetuk hati Siska, Eni dan Mbak. Ratna. Mereka ikut-ikutan 
menangis bersama aku. Tapi Resti dan Ajeng tetap tegar dan semangat. Mereka 
yakin, bahwa ini adalah perjuangan menuju Ridha Allah SWT.
Kemudian kami dikumpulkan di ruang rapat. Di sana kami diberi penjelasan dan 
diwawancarai satu-satu dengan materi seperti yang telah diberikan oleh Bp. 
bakri tadi malam. Mereka menyuruh kami untuk infak sebesar-besarnya. Aku tidak 
setuju. Aku merasa bahwa Islam tidak memberatkan, jadi menurutku, kita memang 
harus berinfak tetapi sesuai dengan kemampuan kita. Mereka menjawab dengan ayat:
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan baginya 
jalan ke luar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. 
dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan 
(keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. 
Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap waktu” (Q.S Ath 
Thalaq 2-3).
Mereka mengatakan bahwa setiap umat muslim adalah juru dakwah, jadi setelah 
kami di bai’at, kami harus mengajak orang lain untuk ikut golongan kami. Kami 
harus menikah dengan golongan kami, jadi dalam pernikahan pun wali dan saksi 
pun harus dari golongan kami juga. karena jika tidak, berarti pernikahan kami 
tidak sah. Rasa bingung membuatku menanyakan alasan mereka berda’wah secara 
sembunyi-sembunyi. Namun pertanyaan itu juga mampu dijawab mereka. Mereka 
megatakan bahwa Rasulullah pun pada awalnya juga melakukan da’wah secara 
sembunyi-sembunyi. Selain itu ada sebuah pernyataan yang membuatku takut, yaitu 
kita bisa mengambil barang siapa saja dan dengan cara apapun, selama barang 
yang kita ambil adalah barang orang kaya yang mengambil hak ummat. Semua itu 
dilakukan untuk kepentingan maslahah mursalah. Aku semakin takut saat mereka 
mengatakan bahwa darah semua orang kafir adalah halal untuk dibunuh. dan semua 
orang yang bukan golongannya adalah orang
 kafir.
Malamnya kami dipaksa melakukan sumpah. Aku menolak, tapi lama-kelamaan mereka 
mulai menampakkan kekerasan. Aku takut, mengingat bahwa darah orang yang bukan 
golongannya adalah halal. Setelah itu kami dianggap telah lahir kembali sebagai 
orang suci tanpa dosa seperti bayi yang baru lahir dan diberi nama hijrah 
sebagaimana hijrahnya rasul dari Mekah ke Madinah yang akan meninggalkan semua 
masa lalu kami dan akan melakukan apapun untuk golongan. Mereka lupa bahwa 
Islam digariskan untuk menjadi golongan-golongan.
Paginya kami di pulangkan. Tetapi sebelum pulang kami harus mau di foto. 
Sebagai bukti dokumentasi bahwa kami merupakan anggota. Kami juga harus 
menandatangani surat kontrak. Dalam foto itu nampak wajahku yang lagi menangis. 
Mau gimana lagi, kami tidak bisa pulang sebelum kami melengkapi bukti bahwa 
kami adalah anggota golongan.
Tidak ada satu ayatpun yang mereka sampaikan itu salah, namun sebaiknya kita 
tidak menerima ayat-ayat itu secara terpisah-pisah, karena Al-Quran itu 
komperhensif. Ada ayat tentang jihad, namun juga ada ayat tentang kasih sayang, 
sebagaimana Allah yang maha membalas perbuatan dosa hambanya dan Allah pun Maha 
Memberi Ampunan. Beruntunglah aku memiliki keluarga dan sahabat yang bisa 
mem-back upku sehingga aku dapat keluar dari golongan ini tanpa melalui tindak 
kekerasan seperti pengalaman banyak penghianat golongan mereka yang lain.


Mudah-mudahan bermanfaat,. ..
Memory of  2005


Muflikha “ZAHRA” Dwi Hartanti
ForSEI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Mobile : 085292747168
Email   : zahra_...@yahoo. co.id
SEMANGAT!!!
PRIBADI TANGGUH,.PANTANG MENGELUH!!!
ALLAHU AKBAR!!!



Lebih aman saat online. 
Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk 
Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!








      

Kirim email ke