aslm.wah.........bisa kita telusuri bareng2, mungkin tu awal timbulnya para pengotor nama Islam. karena mereka Islam tidak dikenal sebagai agama rahmatan lil alamin....jadi penasaran...pingin liat tu wajah orangx kaya apa?
________________________________ From: aqied sh <[email protected]> To: [email protected] Sent: Mon, April 5, 2010 2:05:00 PM Subject: Re: {FoSSEI} AJARAN YANG MENJEBAKQ,.. maaf, mb mungkin maksid mb zahra islam sesat,,,bukan islam garis keras (saya tdk berani mendefinisikan dan mengkotak2 umat islam ke garis keras atau lunak atau memplem...) --- On Wed, 3/31/10, Muflikha Zahra D.H <zahra_...@yahoo. co.id> wrote: >From: Muflikha Zahra D.H <zahra_...@yahoo. co.id> >Subject: {FoSSEI} AJARAN YANG MENJEBAKQ,.. >To: "FOSSEI NASIONAL" <fos...@yahoogroups. com> >Date: Wednesday, March 31, 2010, 8:07 PM > > >> > > > > > > > >> > >> >Assalamu’alaykum,.. Wr,.. Wb,.. > >Teman2 milisQ semuanya,.. sebentar lagi akan banyak mahasiswa baru, yang >bisa jadi mereka akan jadi target seperti aQ dulu yang yang juga menjadi korban >karena keluguanQ. Mungkin sedikit pengalamanQ ini bisa menjadi pembelajaran >bagi temen2 agar jangan sampai temen2 semua dan orang2 disekitar kalian menjadi >target berikutnya. Karena gerakan mereka cepat banget,… > > >Berikutsepenggal >dari kisahQ: >AJARAN >YANG MENJEBAKKU >Pada suatu sore di tahun 2005, saat aku masih semester 1, ketika sedang >berwudzu, untuk menunaikan shalat dhuhur di masjid, aku bertemu dengan dua >orang mbak-mbak.. Namanya Mbak Ida >dan Mbak Ela. Mereka mengajakku berkenalan. >Tidak ada hujan tidak ada >angin, malamnya mereka datang ke kosku. Ketika itu aku lagi >semangat-semangatny a belajar bahasa arab. Kebetulan, waktu itu kakakku lagi >pulang ke rumah di Magelang sana. Mereka mengajakku untuk ikut mengaji. Awalnya >sih aku nggak mau, karena menurutku hari telah begitu larut. Tapi begitu >kudengarkan berbagai bujuk rayuannya, akhirnya aku pun tertunduk juga. Mereka >mengatakan bahwa berjihad mencari ilmu tidak boleh ditunda-tunda, karena kita >tidak akan pernah tau kapan ajal akan menjemput kita. Jelas saja aku tertohok, >apa lagi mereka bawa-bawa Al Quran segala. Di samping itu mereka mengatakan >bahwa aku juga akan diajari bahasa Arab.secara intensif hingga dalam waktu >singkat, aku pasti bisa. Tawaran itu begitu menggiyurkan. aku pun segera >bersiap-siap >dan pamit pada mbak-mbak kos dengan alasan ngaji dan mabit. >Dengan boncengan bandotan kami >pun pergi meninggalkan kosku. Aku dibawa ke Monjali. Di sana aku dipertemukan >dengan seorang ustadz bernama Bp. Bakri. Jelas saja aku heran. Yang namanya >ngaji kan biasanya banyak orang, tapi ini beda. aku sendirian mengaji. Aku >tidak mau. Apalagi hanya dengan seorang lelaki yang sama sekali belum kukenal, >itu kan bukan muhrim. Kuminta Mbak. Ida untuk menemaniku, alhamdulillah ia pun >bersedia. >Ngaji yang benar benar-benar >mencurigakan. Bp. Bakri mengatakan bahwa Al Quran sekarang ini, bukanlah Al >Quran yang sebenarnya, tapi sebagian sudah dirubah oleh orang Yahudi. Dia juga >mengatakan bahwa kita tidak akan bisa berIslam secara kaffah jika kita masih >tinggal di negara Indonesia Sebuah negara yang berdasarkan Pancasila, bukan >berdasarkan Islam. Karena itu kita harus mendirikan negara Islam. Di samping >itu kita juga harus berinfak sebesar-besarnya. berbagai pertanyaan aku >lontarkan. Tetapi apa daya, dia ahli tafsir, dan Alquran dia hapalkan secara >sempurna. Sementara aku, seorang mahasiswa lugu dengan pengetahuan agama yang >begitu minim, hanya bisa menelan mentah-mentah tanpa bisa mengkritisi. >Terakhir dia mengatakan, bahwa >besuk pagi aku akan di bawa ke Jakarta untuk di bai’at. Aku tidak mau, apalagi >aku belum pamit. Tapi dia sekali lagi dengan dalil-dalil Al Qurannya memberikan >penjelasan kepadaku, >“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun merasa >berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian >itu adalah lebih baik bagimu jika kamu tidak mengetahuinya”.(QS At Taubah: >47) >Paginya aku berangkat ke >Jakarta dengan ditemani oleh Bp. Khusni, seseorang yang juga sama sekali belum >aku kenal. Kami naik bus menuju ke Semarang. Di Semarang kami berhenti menunggu >mobil jemputan. Ternyata di dalam mobil sudah ada 2 orang yang seusia denganku. >Namanya Siska dan Eni. Mereka berdua berasal dari Cilacap. Kemudian kami turun >di salah satu stasiun kereta api di Semarang. Di sana kami naik kereta ekonomi >menuju ke Bogor. Sesampainya di Bogor kami menunggu mobil jemputan lagi dan di >dalamnya sudah ada dua orang remaja bernama Resti dan Ajeng dan juga seorang >ibu rumahtangga bernama Mbak Ratna. Sekarang semuanya berjumplah 6 orang. >Ketika kami hampir sampai di >suatu tempat di Jakarta, mata kami ditutup dengan sebuah kain dan gorden yang >ada di sekeliling mobil di tutup rapat. Sesampainya di sana kami langsung masuk >ke garasi. Dengan cepat garasi dikunci. Semua itu bertujuan, agar markas mereka >tidak dapat dilacak. >Sejenak kami diizinkan untuk >istirahat. Dalam senggangnya waktu kami berenam saling mencurahkan perasaan >kami. Aku menangis tersedu-sedu, karena aku sadar bahwa aku akan dimasukkan >dalam sebuah organisasi garis keras. Kesedihanku ternyata telah mengetuk hati >Siska, Eni dan Mbak. Ratna. Mereka ikut-ikutan menangis bersama aku. Tapi Resti >dan Ajeng tetap tegar dan semangat. Mereka yakin, bahwa ini adalah perjuangan >menuju Ridha Allah SWT. >Kemudian kami dikumpulkan di >ruang rapat. Di sana kami diberi penjelasan dan diwawancarai satu-satu dengan >materi seperti yang telah diberikan oleh Bp. bakri tadi malam. Mereka menyuruh >kami untuk infak sebesar-besarnya. Aku tidak setuju. Aku merasa bahwa Islam >tidak memberatkan, jadi menurutku, kita memang harus berinfak tetapi sesuai >dengan kemampuan kita. Mereka menjawab dengan ayat: >“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya dia akan mengadakan >baginya jalan ke luar. dan memberinya rezki dari arah yang tiada >disangka-sangkanya. dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah >akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang >dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap >waktu”(Q.S Ath Thalaq >2-3). >Mereka mengatakan bahwa setiap >umat muslim adalah juru dakwah, jadi setelah kami di bai’at, kami harus >mengajak orang lain untuk ikut golongan kami. Kami harus menikah dengan >golongan kami, jadi dalam pernikahan pun wali dan saksi pun harus dari golongan >kami juga. karena jika tidak, berarti pernikahan kami tidak sah. Rasa bingung >membuatku menanyakan alasan mereka berda’wah secara sembunyi-sembunyi. Namun >pertanyaan itu juga mampu dijawab mereka. Mereka megatakan bahwa Rasulullah pun >pada awalnya juga melakukan da’wah secara sembunyi-sembunyi. Selain itu ada >sebuah pernyataan yang membuatku takut, yaitu kita bisa mengambil barang siapa >saja dan dengan cara apapun, selama barang yang kita ambil adalah barang orang >kaya yang mengambil hak ummat. Semua itu dilakukan untuk kepentingan maslahah >mursalah. Aku semakin takut >saat mereka mengatakan bahwa darah semua orang kafir adalah halal untuk >dibunuh. dan semua orang yang bukan golongannya adalah orang kafir. >Malamnya kami dipaksa melakukan >sumpah. Aku menolak, tapi lama-kelamaan mereka mulai menampakkan kekerasan. Aku >takut, mengingat bahwa darah orang yang bukan golongannya adalah halal. Setelah >itu kami dianggap telah lahir kembali sebagai orang suci tanpa dosa seperti >bayi yang baru lahir dan diberi nama hijrah sebagaimana hijrahnya rasul dari >Mekah ke Madinah yang akan meninggalkan semua masa lalu kami dan akan melakukan >apapun untuk golongan. Mereka lupa bahwa Islam digariskan untuk menjadi >golongan-golongan. >Paginya kami di pulangkan. >Tetapi sebelum pulang kami harus mau di foto. Sebagai bukti dokumentasi bahwa >kami merupakan anggota. Kami juga harus menandatangani surat kontrak. Dalam >foto itu nampak wajahku yang lagi menangis. Mau gimana lagi, kami tidak bisa >pulang sebelum kami melengkapi bukti bahwa kami adalah anggota golongan. >Tidak ada satu ayatpun yang >mereka sampaikan itu salah, namun sebaiknya kita tidak menerima ayat-ayat itu >secara terpisah-pisah, karena Al-Quran itu komperhensif. Ada ayat tentang >jihad, namun juga ada ayat tentang kasih sayang, sebagaimana Allah yang maha >membalas perbuatan dosa hambanya dan Allah pun Maha Memberi Ampunan. >Beruntunglah aku memiliki keluarga dan sahabat yang bisa mem-back upku >sehingga aku dapat keluar dari >golongan ini tanpa melalui tindak kekerasan seperti pengalaman banyak >penghianat golongan mereka yang lain. > > >Mudah-mudahan bermanfaat,. .. >Memory of 2005 > > >Muflikha “ZAHRA” Dwi Hartanti >ForSEI UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta >Mobile: 085292747168 >Email : zahra_...@yahoo. co.id >SEMANGAT!!! >PRIBADI TANGGUH,.PANTANG MENGELUH!!! >ALLAHU AKBAR!!! > ________________________________ Lebih aman saat online. >Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat yang dioptimalkan untuk >Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan IE8 di sini!

