Lagi-lagi menyanjung produk Luar Negeri!

  ----- Original Message ----- 
  From: Ulumuddin. Ihya 
  To: Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP 
  Sent: Thursday, March 29, 2007 12:56 PM
  Subject: [ FUPM-EJIP ] Intel--Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia


  Intel--Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia
  Ken Conboy
  Penerbit Pustaka Primatama, Jakarta 2007
  ISBN: 978-9-793-93015-2
  XIV + 294 halaman


  Akhir-akhir ini media massa Indonesia--terutama televisi--mempunyai 
  tradisi baru. Setiap kali terjadi peristiwa besar--terutama teror 
  bom--maka sebagai bagian dari kemasan pemberitaannya, stasiun 
  televisi gemar menghadirkan "pengamat intelijen" untuk melakukan 
  analisa. 

  Manullang, Suripto dan Almarhum Juanda adalah beberapa "pengamat 
  intelijen" yang sering mengoceh di layar televisi kita. Tapi karena 
  dilakukan dalam durasi yang sangat singkat maka tentu saja ocehan 
  para "pengamat intelijen" tersebut menjadi terkesan sumir, menjemukan
  dan acapkali bodoh. 

  Ketika asap ledakan Bom Bali I atau II belum lagi pupus, maka 
  para "pengamat intelijen" itu sudah mengoceh tentang teori "small 
  nuclear bomb". Dan cilakanya sebagai pemirsa kita tak pernah mendapat
  kesempatan untuk mendengar pertanggung-jawaban mereka, ketika 
  ternyata hasil penyelidikan polisi menunjukkan bahwa bom tersebut 
  adalah bom biasa yang berdaya ledak tinggi. 

  Para "pengamat intelijen" tersebut juga gemar  mengaitkan sebuah 
  peristiwa--yang belum lagi diselidiki secara tuntas oleh polisi--
  sebagai sebuah konspirasi negara asing untuk memecah-belah Indonesia.
  Dan cilakanya mereka tak pernah mampu untuk menerangkan 
  secara "masuk akal" bagaimana cara kerja dan ditil konspirasi 
  tersebut dijalankan.

  Memang kalau diocehkan hanya secara garis besar, kisah-kisah 
  intelijen akan mejemukan. Kisah-kisah intelijen baru akan menarik 
  kalau dituliskan secara panjang lebar dan dirangkai dalam gaya 
  fiksi. 

  Dan pada kenyataannya kisah-kisah intelijen memang boleh dikatakan 
  sebagai fiksi. Karena sifat operasi intelijen yang serba samar-
  samar, maka tidak akan pernah ada alat yang bisa mengukur atau 
  memverifikasi apakah kisah-kisah tersebut memang benar demikian.

  Kita tidak pernah tahu sejauh mana sebenarnya kebenaran yang ada 
  dalam kisah tentang CIA, KGB atau Mossad, yang ditulis oleh mereka 
  yang mengaku dekat atau pernah menjadi bagian dari institusi 
  tersebut. Sebaliknya kita juga cenderung untuk percaya bahwa
  fiksi "The Hunt for The Red October" juga mengandung kebenaran. Tapi 
  karena si penulis mampu menghidupkan kisah-kisah tersebut maka tak 
  terlalu perduli lagi terhadap fakta dan kebenaran. Kita hanya 
  menikmati kisah-kisah tersebut. Dan memang demikianlah hakekatnya 
  membaca kisah-kisah intelijen.

  Berbeda dengan "pengamat intelijen" seperti Manullang, Suripto atau 
  Juanda, Ken Conboy tidak mengoceh secara sumir di televisi. Ia 
  menuliskan berbagai kasus dan peristiwa yang pernah terjadi dalam 
  dunia intelijen Indonesia dalam uraian-uraian yang rinci, "masuk 
  akal" dan enak.

  Buku ini berisi berbagai kasus dan peristiwa yang terjadi dalam 
  dunia Intelijen Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga tahun 2000-
  an. Walau pun Ken Conboy hanya bercerita tentang "intel melayu", 
  tapi ia mampu membuat kita terpukau seperti ketika membaca
  kisah-kisah tentang Mossad dalam "The Way of Deception".

  Dalam kisah "Durna"--misalnya--Ken Conboy bercerita tentang 
  pertarungan perebutan kekuasaan dalam memanfaatkan intelijen. 
  (Karena ruang geraknya yang serba tertutup maka intelijen selalu 
  memiliki kecenderungan untuk merambah kemana-mana dan gampang
  dimanfaatkan oleh fihak-fihak yang berkepentingan. Kisah-kisah 
  tentang intrik politik dengan memanfaatkan intelijen, kisah-kisah 
  tentang bagaimana seorang kepala negara harus "menjinakkan" 
  intelijen agar selalu berfihak pada kepentingannya, kisah-kisah
  "deception" dsb adalah kisah-kisah intelijen yang menarik untuk 
  dibaca).

  Dalam "Kerajaan Pertapa" Ken Conboy bercerita tentang intelijen 
  Indonesia yang tak putus-putusnya menguping dan mengintip gerak-
  gerik para diplomat Kore Utara. (Sebagaimana diketahui, pada masa 
  Orde Baru isyu tentang komunis adalah sesuatu yang harus selalu
  diwaspadai). Acapkali, setelah capek memasang alat penyadap dan 
  menguping, maka yang didengar seorang agen di ujung sana hanyalah 
  suara dua makhluk berlainan jenis yang sedang berkencan; bukan 
  pembicaraan politik atau perencanaan teror. 

  Dalam "Sasaran Sulit" Ken Conboy bercerita tentang bagaimana 
  intelijen Uni Soviet merekrut beberapa perwira TNI untuk mensuplai 
  informasi. (Dan kita tentu masih ingat skandal seorang kolonel 
  Angkatan Laut yang tertangkap karena mensuplai peta-peta kelautan 
  kita terhadap intelijen Uni Soviet).

  Dalam "Faruq" Ken Conboy bercerita tentang Umar Faruq dan jaringan 
  teror al-Qaeda di Indonesia. 

  Sebagaimana kita ketahui pada tahun 2002 Umar Faruq tertangkap oleh 
  BIN dan dikirim ke sebuah pangkalan AS di Afghanistan untuk ditahan. 
  Memang dalam uraiannya Ken Conboy tidak sempat mengulas bagaimana Al 
  Faruq di kemudian hari bisa lolos dari tahanan. (Kalau saja ada
  sedikit simpul fakta tambahan, maka Ken Conboy pasti bisa menyajikan 
  kisah lain yang menarik, yaitu tentang "siapa memanfaatkan 
  siapa", "siapa mengumpan siapa" sebagaimana layaknya yang banyak 
  terjadi di dunia intelijen. Tapi kerinduan kita untuk membaca 
  kisah "siapa mengumpan siapa" bisa kita peroleh dalam tulisan Ken 
  Conboy tentang "Komando Jihad").

  Ken Conboy mendasarkan tulisan-tulisannya atas pemberitaan di media 
  masa, atas wawancara dengan beberapa mantan aparat intelijen atau 
  dengan mempelajari berkas-berkas di dinas intelijen yang karena 
  perjalanan waktu sudah boleh diungkap kepada umum. Tapi, sebagaimana 
  yang telah diuraikan di atas, kita sebenarnya tak perlu terlalu 
  perduli dengan sumber-sumber si pengarang. Ini adalah kisah
  intelijen, yang sampai "kucing bertanduk" pun sukar untuk 
  diverifikasi. Seyogianyalah kita sadar bahwa buku yang kita baca ini 
  bukanlah sebuah buku sejarah. Ini adalah sebuah buku fiksi, atau 
  buku tentang sebuah fakta atau peristiwa tapi yang sarat dengan 
  fiksi.

  Sementara membaca buku ini pasti akan ada dari kita yang teringat 
  dengan kasus kematian aktivis demokrasi Munir. Sebagaimana kita 
  ketahui, dari hasil penyelidikan kepolisian yang diberitakan oleh 
  media masa, sebelum kematian Munir pesawat telepon selulernya 
  beberapa kali menerima panggilan yang--setelah dilacak--ternyata 
  adalah nomor salah satu saluran telepon di kantor BIN (Badan 
  Intelijen Negara) di bilangan Pasar Minggu. Kalaulah saja ada
  beberapa tambahan "simpul" fakta yang lain, Ken Conboy pasti bisa 
  menyajikan kisah intelijen yang menarik di seputar kasus kematian 
  Munir. (Munir meninggal dengan dugaan bahwa ada seseorang yang 
  meracuni minumannya. Dan di beberapa kisah dalam buku ini kita 
  mengetahui bahwa ternyata praktek menaruh sesuatu di dalam
  minuman atau makanan korban, agar si korban terberak-berak, 
  menghabiskan waktu di WC, dan karena itu kamarnya bisa digeledah 
  atau tasnya dicuri, merupakan praktek yang sudah biasa dilakukan oleh
  agen-agen Bakin atau BIN).

  Sementara membaca buku Ken Conboy ingatan kita juga akan dibawa 
  melayang ke buku memoar Yoga Sugama, mantan kepala Bakin dan seorang 
  tokoh yang sudah malang-melintang di dunia intelijen. Dalam buku 
  memoar Yoga Sugama  kita dapat membaca sebuah kisah tentang 
  bagaimana seorang intelijen Indonesia "digarap" oleh intelijen lain 
  yang juga orang Indonesia. Dalam perjalanan untuk memberi briefing 
  dalam sebuah rapat para dutabesar kita di sebuah tempat di Eropa, si 
  intelijen ini mampir semalam di Bangkok. Ketika bermalam di hotelnya 
  di Bangkok, si intelijen kepincut dan menghabiskan malamnya dengan 
  seorang perempuan. Sial baginya, ketika ia bangun pagi, tasnya yang 
  berisi bahan-bahan briefing telah lenyap bersamaan dengan lenyapnya 
  si perempuan. Peristiwa itu sampai ke telinga Pak Harto, dan Yoga 
  Sugama mendapat teguran keras. Kalau Ken Conboy bisa mencari 
  beberapa "simpul" fakta tambahan, maka kisah ini pasti akan menarik 
  sekali untuk dibaca.

  Sebenarnya masih banyak kisah-kisah intelijen Indonesia yang menarik 
  untuk diuraikan dalam bentuk cerita. Tapi apa yang telah dilakukan 
  oleh Ken Conboy dalam bukunya yang berjudul "Intel" ini sudah
  merupakan sebuah lompatan besar. Buku ini tak kalah menarik dengan 
  buku-buku penulis asing yang membahas CIA, KGB, atau Mossad. 

  Ken Conboy telah membuktikan dirinya sebagai "pengamat intelijen" 
  yang sebenarnya. Ia tidak sekedar "bercuap-cuap" di televisi tentang 
  sebuah teori konspirasi yang sumir. Ken Conboy telah menulis
  kisah-kisah yang rinci, runut dan masuk akal.

     



------------------------------------------------------------------------------


  ********************************************************
  Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
  ********************************************************
  Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
  http://www.usahamulia.net

  Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
  [EMAIL PROTECTED]

  Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
  [EMAIL PROTECTED]
  ********************************************************
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke