Assalmanu`alaikum
 
Menurut saya tidak semua yang ada di dlm Al Qur`an dan As Sunnah itu
rasional (masuk akal), Dalam fiqh sunnah jilid 1 bab thaharah bab
menguasap khuff, Ali ra. mengatakan : " Seandainya dien ini menurut akal
tentu yang diusap adalah alas khuff (bukan atas khuff)".
 
Masuk akal atau tidak Seluruh isi Al Qur`an wajib diimani dan dijalankan
(dijadikan mabda`, dustur, aqidah atau namanya idiologi).

-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of NC Drilling - IND
Sent: Monday, June 04, 2007 3:58 PM
To: 'gunawan'; 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?



Assalamu'alaikum wr.wb

 

Berarti kalau tidak rasional tidak bisa di jadikan ideologi (sesuai
dengan artikel akhi sebelumnya ) atau artinya yang jadi patokan adalah
rasio ( karena menurut artikel antum  " Pertanyaan berikutnya, apakah
setiap akidah agama bisa menjadi ideologi? Jawabannya tidak, bergantung:
Pertama, apakah akidahnya adalah akidah yang rasional atau tidak? Kedua,
apakah akidah tersebut bisa memancarkan sistem (nizhâm) atau tidak? Jika
dari kedua pertanyaan tersebut jawabannya ya, atau dengan kata lain
merupakan akidah rasional yang bisa memancarkan sistem"

 

Kira-kira seperti itu nggak ?

 

 

 

-----Original Message-----
From: gunawan [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: 04 Juni 2007 15:42
To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'; NC Drilling - IND
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?

 

 

Assalamu'alaikum wr. Wb, 

 

Coba sedikit menjawab akhi, jika keliru mohon diluruskan

 

Secara sederhana, rasional adalah kata serapan dari rational  yang
maknanya rationable, capable of reasoning, dll.

Dalam bahasa kita, rasional dapat dijelaskan dengan sesuatu yg masuk
akal atau dapat dimengerti secara timbangan akal.

Akal sendiri adalah kata serapan dari bahasa arab, yaitu aqal - termasuk
bentuk "fi'il" bukan "isim", dengan kata lain akal adalah suatu proses
aktivitas, yaitu proses aktivitas berfikir. Untuk menghasilkan
pemikiran, proses ini melibatkan 4 faktor, otak, fakta, indera, dan
informasi. 

 

Proses berfikir merupakan sarana untuk memahami atau jembatan proses
memahami sesuatu, termasuk mencari dan memahami kebenaran. Dengan
demikian, akal berfungsi menjadi alat Ma'rifatullah, Ma'rifaturRosul,
memahami hukum2 dalam Al Qur'an dan Hadits, dll. 

 

Setelah akal menemukan kebenaran yaitu Al Qur'an sebagai hudan-petunjuk,
maka melalui timbangan akal pulalah kita harus terikat dengan isi Al
Qur'an tersebut, kenapa demikian? Karena akal kita sesunguhnya terbatas,
kemampuan indera dan otak kita terbatas sehingga tidak dapat menjangkau
beberapa kejadian2 yang ada dlm Al Qur'an. Sikap kita dalam kondisi
seperti ini adalah sami'na wa atho'na. Akal dapat membuktikan eksistensi
sesuatu yang melahirkan keimanan, tapi akal tidak dapat membuktikan
hakikat sesuatu karena keterbatasan indera kita. 

 

Dengan sudut pandang ini, hanya orang2 berakal-lah atau rasional-lah
yang telah beriman kepada ALLAH SWT, Rosulallah, Al Qur'an, Hari Akhir,
Syurga, Neraka, tunduk dan memperjuangkan hukum Syara'....   

 

Wassalamu'alaikum Warohmatulloh,

 

Gunawan

 

Wa'alaikum Salam Warohmatulloh

 

Assalamu'alaikum wr.wb

 

 

Mau tanya dikit  akhi

 

Arti dari kata RASIONAL itu apa ya ?

 

Kalau yang ana tahu artinya sesuai dengan rasio ( akal ) atau dengan
kata lain masuk akal 

Sama nggak ya pengertian akhi dengan pengertian ana

 

Wassalam

 

 

 

Abu Aisyah

 

 

 

-----Original Message-----
From: gunawan [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: 02 Juni 2007 8:58
To: [EMAIL PROTECTED]; Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan
EJIP
Subject: [ FUPM-EJIP ] Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?

 


 
<http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-waie/index.php/2007/06/01/benarkah-is
lam-hanya-agama-bukan-ideologi/> Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan
Ideologi?


 <http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-waie/index.php/category/soal-jawab/>
Soal Jawab June 1st, 2007 

Soal:

 

Banyak pertanyaan seputar Islam sebagai agama dan ideologi. Ada yang
menyatakan, Islam adalah agama, bukan ideologi. Ada juga yang
menyatakan, Islam adalah agama sekaligus ideologis. Mana yang benar? 

 

Jawab:

Harus diakui, istilah ideologi adalah istilah baru, setelah munculnya
ideologi dunia, seperti Kapitalisme dan Sosialisme. Bagi Islam dan kaum
Muslim, istilah ideologi ini merupakan istilah serapan, seperti istilah
'aqîdah, dharîbah, dustûr (UUD) dan qânûn (UU) pada zaman masing-masing
ketika istilah tersebut muncul pertama kali, dan diadopsi oleh kaum
Muslim. Istilah 'aqîdah, misalnya, sekalipun tidak digunakan dalam
nas-nas al-Quran dan as-Sunnah, pada akhirnya bisa diterima oleh kaum
Muslim, setelah digunakan oleh para ulama ushuluddin pada pertengahan
abad ke-6 H.1 Istilah ini merupakan padanan dari kata îmân, yang
digunakan baik dalam al-Quran maupun as-Sunnah. Demikian halnya
penggunakan istilah dharîbah, digunakan oleh para fukaha kaum Muslim
kira-kira pada abad ke-8 H.2 Hal yang sama juga terjadi dalam kasus
dustûr dan qânûn, yang digunakan pada abad ke-18 H, setelah
negara-negara Eropa mulai bangkit serta membuat UUD dan peraturan
perundang-undangan. Istilah UUD dan peraturan perundang-undangan ini
kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab dengan istilah ad-dustûr wa
al-qawânîn. Awalnya, istilah ini dipakai oleh para ulama bahasa untuk
menulis buku yang berisi aturan bahasa, seperti kitab Dustûr al-Muntahâ
atau Dustûr al-Mubtadi'.3 

 

Dalam konteks penggunaan istilah ideologi, istilah ini kemudian
digunakan dalam bahasa Arab dengan sebutan yang sama, yaitu idiyuluji,
atau dengan sebutan yang berbeda, yaitu mabda'. Intinya adalah pemikiran
paling mendasar, yang tidak dibangun dari pemikiran yang lain.4
Pemikiran seperti ini, menurut Muhammad Muhammad Ismail, hanya ada pada
pemikiran yang menyeluruh tentang alam, manusia dan kehidupan; serta apa
yang ada sebelum dan setelahnya; juga hubungan antara alam, manusia dan
kehidupan dengan apa yang ada sebelum dan setelahnya.5 Bagi kaum Muslim,
pemikiran seperti ini adalah akidah Islam itu sendiri. Sebab, akidah
Islam adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam, manusia dan
kehidupan; yaitu dari mana, untuk apa dan akan ke manakah alam, manusia
dan kehidupan ini? Maka dari itu, tentu alam, manusia dan kehidupan itu
tak lain merupakan ciptaan Allah, untuk mengabdi kepada-Nya, dan hanya
kepada-Nyalah semuanya akan kembali. Manusia akan dibangkitkan dan
dimintai pertanggungjawaban setelah kematiannya di dunia, sementara yang
lain tidak. Karena itu, sebelum kehidupan ini, ada Allah, Zat Yang Maha
Pencipta, dan setelah kehidupan ini akan ada Hari Kiamat, dan hisâb.
Agar semua proses kehidupan manusia itu bisa dipertanggungjawabkan di
hadapan Allah kelak, maka Allah menurunkan syariah (aturan) untuk
kehidupan manusia, yang kelak juga akan dijadikan standar oleh Allah
untuk meminta pertanggungjawaban mereka. Inilah pemikiran mendasar, yang
juga disebut fikrah kulliyah Islam. Pemikiran mendasar inilah yang juga
disebut mabda' atau idiyuluji. Inilah substansi ideologi, yaitu apa dan
bagaimana ideologi itu sendiri. 

Pertanyaan berikutnya, apakah setiap akidah agama bisa menjadi ideologi?
Jawabannya tidak, bergantung: Pertama, apakah akidahnya adalah akidah
yang rasional atau tidak? Kedua, apakah akidah tersebut bisa memancarkan
sistem (nizhâm) atau tidak? Jika dari kedua pertanyaan tersebut
jawabannya ya, atau dengan kata lain merupakan akidah rasional yang bisa
memancarkan sistem, maka akidah tersebut bisa menjadi ideologi.
Sebaliknya, jika tidak maka akidah tersebut pasti tidak akan bisa
menjadi ideologi. Contohnya, akidah Yahudi maupun Nasrani. Kedua akidah
ini tidak bisa menjadi ideologi, karena bukan merupakan akidah
'aqliyyah, yang bisa memancarkan nizhâm. Ini berbeda dengan akidah
Islam. Akidah Islam adalah akidah rasional yang bisa memancarkan nizhâm,
yang bukan hanya sistem peribadatan saja, melainkan juga sistem
pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, dan semua sistem kehidupan
yang lainnya. 

Bukti lain bahwa Islam bisa menjadi ideologi adalah dari aspek keutuhan
ajaran Islam, yang bukan hanya berisi gagasan, konsep atau pemikiran,
yang disebut dengan fikrah (ide), tetapi juga berisi tharîqah (metode)
bagaimana fikrah tersebut diterapkan, dipertahankan dan diemban ke
seluruh dunia. Pada tataran konsep, misalnya, Islam bukan saja berisi
akidah tentang keimanan kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari
Kiamat serta Qadha' dan Qadar-yang baik dan buruknya berasal dari Allah;
tetapi juga seluruh aturan yang dibutuhkan oleh manusia, baik dalam
konteks ubudiah, muamalah maupun untuk mengurus dirinya sendiri (akhlak,
makanan dan pakaian). Semua itu hanya bisa diwujudkan kalau ada metode
untuk mewujudkannya, yaitu adanya partai yang memperjuangkan terwujudnya
fikrah tersebut, dan adanya negara yang menerapkannya. Demikian halnya,
semua itu bisa dipertahankan jika ada sanksi hukum dan negara yang
mempertahankannya, berikut peranan partai politik dan umat yang
mengontrolnya. Begitu juga, semua itu akan bisa diemban ke seluruh dunia
jika ada dakwah, jihad dan negara yang mengembannya.

Karena itu, Islam bukan hanya agama, melainkan juga ideologi. Penggunaan
ideologi ini untuk Islam tentu absah, dilihat dari substansinya; bukan
dari aspek sumber, dari mana ideologi tersebut dihasilkan; akal atau
wahyu? Sebab, pada aspek ini, persoalannya adalah persoalan sumber,
bukan substansi. Artinya, dari aspek sumber ideologi, ideologi yang ada
saat ini bisa dikategorikan menjadi dua: yaitu ideologi yang bersumber
dari akal manusia dan ideologi yang bersumber dari wahyu. Islam adalah
satu-satunya ideologi yang bersumber dari wahyu. Selain Islam, baik
Kapitalisme, Solialisme maupun Komunisme adalah ideologi yang bersumber
dari akal manusia. Hanya saja, sering ada kesengajaan untuk merancukan
ideologi dari substansinya ke sumbernya. Akibatnya, Islam ditolak
sebagai ideologi, dengan alasan, Islam adalah ajaran yang bukan
bersumber dari akal manusia, melainkan dari wahyu Allah. Padahal konteks
permasalahannya bukan disitu. Ini sebenarnya merupakan upaya penyesatan
yang bertujuan untuk menolak Islam sebagai ideologi. Padahal dengan
menolak Islam sebagai ideologi, sama saja dengan menolak Islam sebagai
sistem pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, politik dalam dan luar
negeri. Tentu itu bertentangan dengan akidah Islam dan kaum Muslim,
apapun mazhabnya. 

Kita tidak yakin ada orang Islam yang berani melakukan itu, apalagi
sampai lancang mengatakan, bahwa ideologi Islam adalah sumber konflik.
Sebab, risikonya jelas: melawan akidah yang diyakininya, bahkan
menginjak-injak fikih yang dipelajari dan diajarkannya sendiri; kecuali,
jika dia menjadi kepanjangan tangan kaum imperialis penjajah untuk
sengaja melemahkan Islam dan kaum Muslim, demi mendapatkan secuil
kenikmatan dunia, yang belum tentu didapatkannya. Wallâhu a'lam. d 

 


Catatan Kaki:

1.      Lihat, Lu'ayyi Shafi, Al-'Aqîdah wa as-Siyasah: Ma'âim
Nazhariyyah 'Ammah li ad-Dawlah al-Islâmiyyah, al-Ma'had al-'Alami li
al-Fikr al-Islami, cetakan I, 1996, hlm. 51. 

2.      Lihat, Imam as-Syafi'i, Al-Umm, Dar al-Ma'rifah, Beirut, cetakan
III, 1393, IV/200. Beliau telah menggunakan istilah dharîbah tersebut
untuk menyebut jizyah. Istilah ini kemudian digunakan oleh para fuqaha'
berikutnya, dan setelah itu bukan hanya untuk menyebut jizyah, tetapi
menjadi istilah tersendiri untuk praktik pemungutan uang yang ditetapkan
oleh negara kepada rakyatnya. Ibn Taimiyah menjelaskan, bahwa istilah
dharîbah ini tidak memiliki batasan tersendiri dalam konteks bahasa,
tetapi dikembalikan pada penggunaan berdasarkan konvensi kaum atau umat
tertentu. Lihat, Majmu' al-Fatawa, XIX/253. 

3.      Lihat, Shadiq Hasan al-Qanuji, Abjad al-'Ulûm, Dar al-Kutub
al-'Ilmiyyah, Beirut, 1978, III/259. 

4.      Lihat, Muhammad Muhammad Ismail, Al-Fikr al-Islâmi, Maktabah
al-Waie, Beirut, 1958, hlm. 9-10. 

5.      Lihat, Ibid, hlm. 10. 

********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke