Bagaimana HT Memposisikan akal Batasan mengenai akal itu sendiri belum dipahami dan tetap menjadi persoalan di kalangan ulama' kaum Muslim, termasuk ahli filsafat dari dulu hingga sekarang. Hal itu tampak jelas dari, misalnya, anggapan al-Ghazali bahwa akal itu seperti cermin; (8) juga dari pandangan filosof Muslim dan mutakallimin yang membagi akal menjadi tujuh macam akal seperti yang telah disimpulkan oleh al-Amidi dan al-Jurjani,(9)padahal akal itu faktanya hanya satu.
Karena itu, demi kebaikan manusia, kehidupan dan alam semesta, harus dipahami
fakta akal, proses berpikir, dan metode berpikir.(10) Di sinilah HT melakukan
analisis terhadap fakta akal, wilayah kerja akal, dan metode berpikir
(menggunakan akal) yang benar.
Setelah meneliti dan menganalisis fakta akal, HT memandang bahwa akal
(al-'aql), pemikiran (al-fikr), dan kesadaran (al-idrâk) adalah satu realita
yang sama; yaitu sebagai proses pemindahan fakta ke dalam otak, dengan
perantaraan indera, yang didukung oleh adanya informasi awal, yang dengan
itulah fakta ditafsirkan. (11)
Dengan demikian, dalam pandangan HT, akal atau pikiran itu terdiri dari empat
komponen: (1) fakta inderawi; (2) indera; (3) otak; (4) informasi awal.
Walhasil, aktivitas berpikir (menggunakan akal) harus melibatkan keempat
komponen ini, yang jika salah satunya tidak ada, tidak akan pernah terjadi yang
namanya proses atau aktivitas berpikir.
Dari batasan tersebut, HT kemudian mengklasifikasikan fungsi akal menjadi dua:
(1) idrak, dan (2) fahm. Dalam konteks idrak, akal berfungsi untuk menghukumi
fakta yang memang bisa diindera, baik secara langsung maupun melalui
tanda-tandanya, yang kemudian ditopang dengan informasi awal tentang fakta
tersebut. Seperti kesimpulan, bahwa alam itu makhluk, karena bersifat terbatas,
tidak abadi dan azali. Sedangkan dalam konteks fahm, akal hanya berfungsi
memahami fakta berdasarkan informasi yang akurat tentang fakta tersebut,
sementara faktanya itu sendiri tidak bisa diindera. Contoh, pedihnya adzab
Akhirat itu adalah fakta (bukan imajinasi) yang bisa dipahami oleh akal melalui
informasi Allah, sementara akal tidak pernah bisa menjangkau fakta (kenyataan
adzab) tersebut. Tetapi, fakta tersebut nyata, karena sumber informasinya
akurat, dan pasti benar.
Maka, dalam pembahasan akidah, HT tidak terlibat dalam perdebatan, misalnya:
apakah sifat Allah sama dengan dzat-Nya, ataukah tidak; sesuatu yang nota bene
menjadi perdebatan panjang antara Ahlusunnah di satu sisi, dan Muktazilah di
sisi lain. Perdebatan seperti ini dianggap keliru oleh HT, karena yang dibahas
adalah fakta yang tidak bisa dijangkau oleh akal, sementara dalil naqli juga
tidak ada yang membahasnya. Semuanya ini tentu karena HT mempunyai batasan yang
jelas tentang akal, wilayahnya, kapan bisa digunakan dan tidak, termasuk mana
yang bisa di-idrak, dan mana yang hanya bisa di-fahm saja.
Dalam konteks hukum syara', dimana akal hanya bisa berfungsi untuk memahami, HT
pun telah meletakkan akal bukan sebagai hakim, sebagaimana Muktazilah, yang
menyatakan bahwa akal bisa menentukan baik dan buruk, termasuk terpuji dan
tercela. Tetapi, HT memandang:
Kebaikan adalah apa yang dinyatakan baik oleh syara', sedangkan keburukan
adalah apa yang dinyatakan buruk oleh syara'.
Demikian juga:
Perkara terpuji adalah apa yang diridhai oleh Allah, sedangkan perkara tercela
adalah apa yang dimurkai oleh Allah.
Jadi, tuduhan bahwa HT mendewa-dewakan akal itu jelas menyesatkan. Sebaliknya,
HT telah meletakkan akal sesuai dengan proporsi yang seharusnya dimainkan oleh
akal. Intinya, HT tidak menghalangi akal untuk menghukumi sesuatu yang
sesungguhnya bisa dilakukan oleh akal; sebaliknya, HT Tidak membebaskan
(artinya mencegah, red.) akal untuk menghukumi sesuatu yang tidak mampu
dijangkau oleh akal.
Regards
Daryono
Process Engineer
Process Engineering B (Machining)
PT. Astra Honda Motor
phone : 021-89981818
ext : 8572 / 8574
________________________________
From: [EMAIL PROTECTED] on behalf of ie_ib
Sent: Tue 6/5/2007 8:31 AM
To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?
Assalmanu`alaikum
Menurut saya tidak semua yang ada di dlm Al Qur`an dan As Sunnah itu rasional
(masuk akal), Dalam fiqh sunnah jilid 1 bab thaharah bab menguasap khuff, Ali
ra. mengatakan : " Seandainya dien ini menurut akal tentu yang diusap adalah
alas khuff (bukan atas khuff)".
Masuk akal atau tidak Seluruh isi Al Qur`an wajib diimani dan dijalankan
(dijadikan mabda`, dustur, aqidah atau namanya idiologi).
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of NC
Drilling - IND
Sent: Monday, June 04, 2007 3:58 PM
To: 'gunawan'; 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?
Assalamu'alaikum wr.wb
Berarti kalau tidak rasional tidak bisa di jadikan ideologi (sesuai
dengan artikel akhi sebelumnya ) atau artinya yang jadi patokan adalah rasio (
karena menurut artikel antum " Pertanyaan berikutnya, apakah setiap akidah
agama bisa menjadi ideologi? Jawabannya tidak, bergantung: Pertama, apakah
akidahnya adalah akidah yang rasional atau tidak? Kedua, apakah akidah tersebut
bisa memancarkan sistem (nizhâm) atau tidak? Jika dari kedua pertanyaan
tersebut jawabannya ya, atau dengan kata lain merupakan akidah rasional yang
bisa memancarkan sistem"
Kira-kira seperti itu nggak ?
-----Original Message-----
From: gunawan [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 04 Juni 2007 15:42
To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'; NC Drilling - IND
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?
Assalamu'alaikum wr. Wb,
Coba sedikit menjawab akhi, jika keliru mohon diluruskan
Secara sederhana, rasional adalah kata serapan dari rational
yang maknanya rationable, capable of reasoning, dll.
Dalam bahasa kita, rasional dapat dijelaskan dengan sesuatu yg
masuk akal atau dapat dimengerti secara timbangan akal.
Akal sendiri adalah kata serapan dari bahasa arab, yaitu aqal -
termasuk bentuk "fi'il" bukan "isim", dengan kata lain akal adalah suatu proses
aktivitas, yaitu proses aktivitas berfikir. Untuk menghasilkan pemikiran,
proses ini melibatkan 4 faktor, otak, fakta, indera, dan informasi.
Proses berfikir merupakan sarana untuk memahami atau jembatan
proses memahami sesuatu, termasuk mencari dan memahami kebenaran. Dengan
demikian, akal berfungsi menjadi alat Ma'rifatullah, Ma'rifaturRosul, memahami
hukum2 dalam Al Qur'an dan Hadits, dll.
Setelah akal menemukan kebenaran yaitu Al Qur'an sebagai
hudan-petunjuk, maka melalui timbangan akal pulalah kita harus terikat dengan
isi Al Qur'an tersebut, kenapa demikian? Karena akal kita sesunguhnya terbatas,
kemampuan indera dan otak kita terbatas sehingga tidak dapat menjangkau
beberapa kejadian2 yang ada dlm Al Qur'an. Sikap kita dalam kondisi seperti ini
adalah sami'na wa atho'na. Akal dapat membuktikan eksistensi sesuatu yang
melahirkan keimanan, tapi akal tidak dapat membuktikan hakikat sesuatu karena
keterbatasan indera kita.
Dengan sudut pandang ini, hanya orang2 berakal-lah atau
rasional-lah yang telah beriman kepada ALLAH SWT, Rosulallah, Al Qur'an, Hari
Akhir, Syurga, Neraka, tunduk dan memperjuangkan hukum Syara'....
Wassalamu'alaikum Warohmatulloh,
Gunawan
Wa'alaikum Salam Warohmatulloh
Assalamu'alaikum wr.wb
Mau tanya dikit akhi
Arti dari kata RASIONAL itu apa ya ?
Kalau yang ana tahu artinya sesuai dengan rasio ( akal ) atau
dengan kata lain masuk akal
Sama nggak ya pengertian akhi dengan pengertian ana
Wassalam
Abu Aisyah
-----Original Message-----
From: gunawan [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 02 Juni 2007 8:58
To: [EMAIL PROTECTED]; Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan
EJIP
Subject: [ FUPM-EJIP ] Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan
Ideologi?
Benarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?
<http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-waie/index.php/2007/06/01/benarkah-islam-hanya-agama-bukan-ideologi/>
Soal Jawab
<http://www.hizbut-tahrir.or.id/al-waie/index.php/category/soal-jawab/> June
1st, 2007
Soal:
Banyak pertanyaan seputar Islam sebagai agama dan ideologi. Ada
yang menyatakan, Islam adalah agama, bukan ideologi. Ada juga yang menyatakan,
Islam adalah agama sekaligus ideologis. Mana yang benar?
Jawab:
Harus diakui, istilah ideologi adalah istilah baru, setelah
munculnya ideologi dunia, seperti Kapitalisme dan Sosialisme. Bagi Islam dan
kaum Muslim, istilah ideologi ini merupakan istilah serapan, seperti istilah
'aqîdah, dharîbah, dustûr (UUD) dan qânûn (UU) pada zaman masing-masing ketika
istilah tersebut muncul pertama kali, dan diadopsi oleh kaum Muslim. Istilah
'aqîdah, misalnya, sekalipun tidak digunakan dalam nas-nas al-Quran dan
as-Sunnah, pada akhirnya bisa diterima oleh kaum Muslim, setelah digunakan oleh
para ulama ushuluddin pada pertengahan abad ke-6 H.1 Istilah ini merupakan
padanan dari kata îmân, yang digunakan baik dalam al-Quran maupun as-Sunnah.
Demikian halnya penggunakan istilah dharîbah, digunakan oleh para fukaha kaum
Muslim kira-kira pada abad ke-8 H.2 Hal yang sama juga terjadi dalam kasus
dustûr dan qânûn, yang digunakan pada abad ke-18 H, setelah negara-negara Eropa
mulai bangkit serta membuat UUD dan peraturan perundang-undangan. Istilah UUD
dan peraturan perundang-undangan ini kemudian diterjemahkan dalam bahasa Arab
dengan istilah ad-dustûr wa al-qawânîn. Awalnya, istilah ini dipakai oleh para
ulama bahasa untuk menulis buku yang berisi aturan bahasa, seperti kitab Dustûr
al-Muntahâ atau Dustûr al-Mubtadi'.3
Dalam konteks penggunaan istilah ideologi, istilah ini kemudian
digunakan dalam bahasa Arab dengan sebutan yang sama, yaitu idiyuluji, atau
dengan sebutan yang berbeda, yaitu mabda'. Intinya adalah pemikiran paling
mendasar, yang tidak dibangun dari pemikiran yang lain.4 Pemikiran seperti ini,
menurut Muhammad Muhammad Ismail, hanya ada pada pemikiran yang menyeluruh
tentang alam, manusia dan kehidupan; serta apa yang ada sebelum dan setelahnya;
juga hubungan antara alam, manusia dan kehidupan dengan apa yang ada sebelum
dan setelahnya.5 Bagi kaum Muslim, pemikiran seperti ini adalah akidah Islam
itu sendiri. Sebab, akidah Islam adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam,
manusia dan kehidupan; yaitu dari mana, untuk apa dan akan ke manakah alam,
manusia dan kehidupan ini? Maka dari itu, tentu alam, manusia dan kehidupan itu
tak lain merupakan ciptaan Allah, untuk mengabdi kepada-Nya, dan hanya
kepada-Nyalah semuanya akan kembali. Manusia akan dibangkitkan dan dimintai
pertanggungjawaban setelah kematiannya di dunia, sementara yang lain tidak.
Karena itu, sebelum kehidupan ini, ada Allah, Zat Yang Maha Pencipta, dan
setelah kehidupan ini akan ada Hari Kiamat, dan hisâb. Agar semua proses
kehidupan manusia itu bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak, maka
Allah menurunkan syariah (aturan) untuk kehidupan manusia, yang kelak juga akan
dijadikan standar oleh Allah untuk meminta pertanggungjawaban mereka. Inilah
pemikiran mendasar, yang juga disebut fikrah kulliyah Islam. Pemikiran mendasar
inilah yang juga disebut mabda' atau idiyuluji. Inilah substansi ideologi,
yaitu apa dan bagaimana ideologi itu sendiri.
Pertanyaan berikutnya, apakah setiap akidah agama bisa menjadi
ideologi? Jawabannya tidak, bergantung: Pertama, apakah akidahnya adalah akidah
yang rasional atau tidak? Kedua, apakah akidah tersebut bisa memancarkan sistem
(nizhâm) atau tidak? Jika dari kedua pertanyaan tersebut jawabannya ya, atau
dengan kata lain merupakan akidah rasional yang bisa memancarkan sistem, maka
akidah tersebut bisa menjadi ideologi. Sebaliknya, jika tidak maka akidah
tersebut pasti tidak akan bisa menjadi ideologi. Contohnya, akidah Yahudi
maupun Nasrani. Kedua akidah ini tidak bisa menjadi ideologi, karena bukan
merupakan akidah 'aqliyyah, yang bisa memancarkan nizhâm. Ini berbeda dengan
akidah Islam. Akidah Islam adalah akidah rasional yang bisa memancarkan nizhâm,
yang bukan hanya sistem peribadatan saja, melainkan juga sistem pemerintahan,
ekonomi, sosial, pendidikan, dan semua sistem kehidupan yang lainnya.
Bukti lain bahwa Islam bisa menjadi ideologi adalah dari aspek
keutuhan ajaran Islam, yang bukan hanya berisi gagasan, konsep atau pemikiran,
yang disebut dengan fikrah (ide), tetapi juga berisi tharîqah (metode)
bagaimana fikrah tersebut diterapkan, dipertahankan dan diemban ke seluruh
dunia. Pada tataran konsep, misalnya, Islam bukan saja berisi akidah tentang
keimanan kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat serta Qadha' dan
Qadar-yang baik dan buruknya berasal dari Allah; tetapi juga seluruh aturan
yang dibutuhkan oleh manusia, baik dalam konteks ubudiah, muamalah maupun untuk
mengurus dirinya sendiri (akhlak, makanan dan pakaian). Semua itu hanya bisa
diwujudkan kalau ada metode untuk mewujudkannya, yaitu adanya partai yang
memperjuangkan terwujudnya fikrah tersebut, dan adanya negara yang
menerapkannya. Demikian halnya, semua itu bisa dipertahankan jika ada sanksi
hukum dan negara yang mempertahankannya, berikut peranan partai politik dan
umat yang mengontrolnya. Begitu juga, semua itu akan bisa diemban ke seluruh
dunia jika ada dakwah, jihad dan negara yang mengembannya.
Karena itu, Islam bukan hanya agama, melainkan juga ideologi.
Penggunaan ideologi ini untuk Islam tentu absah, dilihat dari substansinya;
bukan dari aspek sumber, dari mana ideologi tersebut dihasilkan; akal atau
wahyu? Sebab, pada aspek ini, persoalannya adalah persoalan sumber, bukan
substansi. Artinya, dari aspek sumber ideologi, ideologi yang ada saat ini bisa
dikategorikan menjadi dua: yaitu ideologi yang bersumber dari akal manusia dan
ideologi yang bersumber dari wahyu. Islam adalah satu-satunya ideologi yang
bersumber dari wahyu. Selain Islam, baik Kapitalisme, Solialisme maupun
Komunisme adalah ideologi yang bersumber dari akal manusia. Hanya saja, sering
ada kesengajaan untuk merancukan ideologi dari substansinya ke sumbernya.
Akibatnya, Islam ditolak sebagai ideologi, dengan alasan, Islam adalah ajaran
yang bukan bersumber dari akal manusia, melainkan dari wahyu Allah. Padahal
konteks permasalahannya bukan disitu. Ini sebenarnya merupakan upaya penyesatan
yang bertujuan untuk menolak Islam sebagai ideologi. Padahal dengan menolak
Islam sebagai ideologi, sama saja dengan menolak Islam sebagai sistem
pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, politik dalam dan luar negeri. Tentu
itu bertentangan dengan akidah Islam dan kaum Muslim, apapun mazhabnya.
Kita tidak yakin ada orang Islam yang berani melakukan itu,
apalagi sampai lancang mengatakan, bahwa ideologi Islam adalah sumber konflik.
Sebab, risikonya jelas: melawan akidah yang diyakininya, bahkan menginjak-injak
fikih yang dipelajari dan diajarkannya sendiri; kecuali, jika dia menjadi
kepanjangan tangan kaum imperialis penjajah untuk sengaja melemahkan Islam dan
kaum Muslim, demi mendapatkan secuil kenikmatan dunia, yang belum tentu
didapatkannya. Wallâhu a'lam. d
Catatan Kaki:
1. Lihat, Lu'ayyi Shafi, Al-'Aqîdah wa as-Siyasah: Ma'âim
Nazhariyyah 'Ammah li ad-Dawlah al-Islâmiyyah, al-Ma'had al-'Alami li al-Fikr
al-Islami, cetakan I, 1996, hlm. 51.
2. Lihat, Imam as-Syafi'i, Al-Umm, Dar al-Ma'rifah,
Beirut, cetakan III, 1393, IV/200. Beliau telah menggunakan istilah dharîbah
tersebut untuk menyebut jizyah. Istilah ini kemudian digunakan oleh para
fuqaha' berikutnya, dan setelah itu bukan hanya untuk menyebut jizyah, tetapi
menjadi istilah tersendiri untuk praktik pemungutan uang yang ditetapkan oleh
negara kepada rakyatnya. Ibn Taimiyah menjelaskan, bahwa istilah dharîbah ini
tidak memiliki batasan tersendiri dalam konteks bahasa, tetapi dikembalikan
pada penggunaan berdasarkan konvensi kaum atau umat tertentu. Lihat, Majmu'
al-Fatawa, XIX/253.
3. Lihat, Shadiq Hasan al-Qanuji, Abjad al-'Ulûm, Dar
al-Kutub al-'Ilmiyyah, Beirut, 1978, III/259.
4. Lihat, Muhammad Muhammad Ismail, Al-Fikr al-Islâmi,
Maktabah al-Waie, Beirut, 1958, hlm. 9-10.
5. Lihat, Ibid, hlm. 10.
<<winmail.dat>>
******************************************************** Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP ******************************************************** Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA : http://www.usahamulia.net Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke : [EMAIL PROTECTED] ********************************************************
