Semoga Allah merahmati semua yang mengikuti milis ini dan yang
berpartisipasi di dalam milis ini. Amiin... 

Saya bukanlah ulama dan bukanlah orang yang berpegang pada mazhab bahkan
golongan, hizbiy atau faham manapun. Tetapi saya sebagai tholibul ilmi hanya
berusaha berpegang kepada Qur'an dan Sunnah Nabi SAW dan mengikuti pemahaman
para shahabat r.a ajma'in melalui para ulama salafushalih yang awal maupun
mutaakhirin.

Sebagai tholibul ilmi, saya hanya menyampaikan yang benar secara ilmiyah
dengan hujjah atau dalil yang shahih adapun perdebatan buat saya lebih
dihindari karena keterbatasan ilmu dan sekecil mungkin 

menghindari penyampaian berdasarkan hawa nafsu.

Jika ada yang tidak berkenan maka sesungguhnya Allah lah yang membolak
balikkan hati.

 

Apakah di mililis ini ada larangan menyampaikan yang haq ? Bagaimana Pak
Moderator...?

Afwan...

 

 

Abu Syauqi 

 

Berikut artikel email dari saudara kita yang berasal dari milis Assunnah

 

----- Original Message ----- 

From:  <mailto:[EMAIL PROTECTED]> iam prasetyo 

To:  <mailto:[EMAIL PROTECTED]> [EMAIL PROTECTED] 

Sent: Saturday, June 30, 2007 11:21 AM

Subject: Re: [assunnah] Dalil Sholawat dengan "Sayyidina Muhammad"

 

Assalamu'alaykum warohmatulloh wabarokatuh....

Alhamdulillah saya mememukan artikel yang saya ambil dari buku Ensiklopedia
bid'ah karangan "Hammid bin abdullah al-Mathar" penerbit Darul Haq, Jakarta
hal 394

Orang berakal tidak akan mengingkari bahwa Muhammad Shallallohu alaihi wa
sallam adalah sayyid (pemimpin) anak keturunan Adam, setiap mukmin yang
berakal mempercayai ini dan bahwa Nabi shallollohu alaihi wa sallam adalah
sayyid-Nya seluruh manusia, sedangkan sayyid itu mempunyai hak untuk
dihormati dan ditaati serta hak untuk memerintah.
Mentaati Nabi Shallallohu alaihi wa sallam termasuk menaati Alloh SWT,
sebagaimana firmannya, "Barangsiapa yang mentaati Rosul itu, sesungguhnya ia
telah mentaati Alloh." (an-Nisa':80).
Kami dan juga kaum mukmin lainnya, tidak meragukan bahwa Nabi kita Muhammad
shallollohu alaihi wa sallam adalah sayyid kita, manusia yang paling baik
dan paling utama disisi Alloh SWT, dan bahwasanya beliau harus ditaati semua
perintahnya.
Diantara konsekuensi keyakinan kita adalah hendaknya kita tidak melanggar
apa yang telah beliau syari'atkan, baik merupa perkataan, perbuatan maupun
keyakinan.
Yang beliau syari'atkan kepada kita tentang cara bersholawat kepada beliau
dalam tasyahud adalah dengan mengucapkan:

"Allohumma sholli ala muhammad wa ala ali muhammad kama shollaita ala
ibrohim wa ala ali ibrohim innaka hamidu majid".

Atau ungkapan lainnya yang disebutkan dalam hadits-hadits yang mengupas
tentang tata cara sholawat kepada beliau shallallohu alaihi wa sallam. Saya
tidak memgetahui adanya hadits yang menyebutkan ungkapan sholawat yang
disebutkan penanya, yaitu,

"Allohumma sholli ala sayyidina muhammad wa ala ali sayyidina muhammad... "

Jika ungkapan ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallohu alaihi wa
sallam, maka yang lebih utama bagi kita adalah tidak bersholawat dengan
ungkapan seperti itu, akan tetapi dengan ungkapan yang telah diajarkan
kepada kita.
Dalam kesempatan ini saya ingin mengingatkan kepada setiap orang yang
beriman bahwa Nabi Muhammad Shallallohu alaihi wa sallam adalah sayyid kita,
bahwa konsekuensi keimanan ini adalah tidak boleh melanggar apa yang beliau
telah syari'atkan dan tidak boleh menguranginya, jadi tidak boleh
mengada-ada dalam urusan agama Alloh yang bukan darinya dan tidak boleh
mengurangi dari agama Alloh yang telah ditetapkan darinya. Inilah
konsekuensi pengakuan bahwa beliau adalah sayyid kita, ini adalah hak Nabi
Shallallohu alaihi wa sallam terhadap kita.
Karena itu, orang-orang yang mengada-ada (berbuat bid'ah) dalam
dzikir-dzikir atau sholawat atas Nabi shallallohu alaihi wa sallam yang
tidak pernah disyariatkan oleh Alloh melalui lisan Rosul-NYA shallallohu
alaihi wa sallam, sesungguhnya bid'ah mereka ini bertolak belakang dengan
persaksian mereka, karena orang yang meyakini bid'ah itu meyakini bahwa
Muhammad Shallallohu alaihi wa sallam adalah sayyid, sebab konsekuensi
keyakinan ini adalah tidak melampaui apa yang beliau syari'atkan dan tidak
menguranginya.
Oleh karena itu, hendaknya setiap orang memperhatikan dan menghayati apa
yang terkandung dalam ucapannya sehingga perkaranya menjadi jelas baginya
dan sampai ia sadar bahwa dirinya adalah pengikut, bukan pembuat syari'at.

(Nur'ala ad-Darb, fatawa Fadilah asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan
2/13)




 

 

  _____  

From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Muhtadin
Sent: Saturday, August 11, 2007 12:52 PM
To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Menjawab sholawat ketika disebut nama
NabiMuhammad

 

Allahumma Sholli 'alaa Sayyidinaa Muhammad,

 

Maaf P' Agus, saya hanya ngingetin aja agar kita jangan jadi orang yang
merasa paling bener sendiri dengan mengangap yang lain yaa. rada2 Salah
karena dalilnya dianggap kurang kuat, dhoif lah, palsu lah dll karena
Mailist ini kan untuk umum.ya.kan P' Mod?

Dari Kalimat yang antum sampaikan terasa sangat jelas bahwa terkesan orang
yang mengamalkan selain dari yang antum tuliskan sepertinya Salah Saja
karena antum menganggapnya melaksanakan ibadah dengan syak or perkiraan saja
padahal mereka juga kan mengikut apa2 yang diajarkan oleh para 'Ulamanya,
kalo bicara tentang hadits ya  memang shoheh . tapi jangan sampai
nyalah-nyalahin . karena kalo diperdebatkan pun Ana yakin nggak akan ketemu
kata sepakat alias "Ooo .ini nich yang paling Bener. yang lain salah dan
nggak boleh dilakuin", apalagi diskusinya oleh kita2 & apalagi lagi hanya
lewat email.. Sepertinya nggak bakal nyambung da.h.

Antum boleh mengatakan demikian kecuali kalo antum tuch. ketemu langsung ama
Nabi dan dapat jawaban langsung dari Beliau bahwa Golongan ANU mengada-ada,
yang ono juga nambah2in sedang golongan atau faham yang sampeyan amalkan
sekarang nich baru BENER sesuai dengan apa yang Nabi mu ini amalkan.

Jadi singkatnya aja nich kalo di tempat umum jangan tok menyampaikan
pendapat satu faham saja, apalagi jika kita memang tahu bahwa ada yang
pemahamannya begini, ada yang begitu dan lain2 sedang untuk pengamalannnya
yaaa kita serahkan saja pada apa yang diyakininya, misalnya masalah mo pake
Sayyidina atau nggak sepertinya nggak ada yang Salah juga dan InsyaAllah
dua2nya Benar, kalo mo bukti benernya yang rasanya kita kudu mati dulu baru
bisa ngerasain.

 

Shollu 'alaa  Muhammad.

 

Ibnu Husein

 

  _____  

From: [EMAIL PROTECTED]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of susanto.agus
Sent: Friday, August 10, 2007 2:43 PM
To: 'Forum Ukhuwah Pekerja Muslim di Kawasan EJIP'
Subject: Re: [ FUPM-EJIP ] Menjawab sholawat ketika disebut nama
NabiMuhammad

 

Wa'alaikum salam Wr. Wb.

 

Jazakallahu khoir atas tanggapannya. Semoga kita mendapatkan rahmat dari
Allah SWT.

 

Untuk kesimpulan 2. Justru saya hanya mencoba menjelaskan bahwa hendaknya
dalam beribadah berpegang kepada

                               dalil yang shahih. Ibadah bukan dengan syak
atau perkiraan (berpegang kepada hadits dhoif 

                               apalagi maudhu/palsu ).

                               Jika kita sebagai tholibul ilmi, insya Allah
kita akan terus mencari ilmu dan mendapatkan bahwa 

                               setiap ibadah harus ada contohnya, dalam hal
ini sunnah Rasul yang mulia.

Untuk kesimpulan 3. Jika kita sebagai tholibul ilmi, saya persilakan mencari
riwayat hadits yang mencantumkan shalawat 

                               Nabi dengan ziyadah sayyidina. Para
shahabatpun tidak ada yang meriwayatkan. Bahkan para 

                               ulama yang bermanhaj salafpun tidak ada yang
menganjurkan tambahan sayyidina.

                               Jikalau sekarang ini ada maka justru saya
ingin ditunjukkan dalilnya.

 

Akhir kata : 1. Hendaknya kita berusaha menjelaskan persoalan yang
menyangkut addin haruslah dengan metode ilmiyah 

                      sesuai dengan pemahaman para shahabat
radhiyallahu'anhum ajma'in serta penjelasan para ulama 

                      salafusshalih. 

                      Merekalah sebaik-baiknya umat pada masa Nabi SAW. 

                  2. Kaidah : Jika sekiranya perbuatan itu baik (dalam hal
addin) tentu para shahabat r.a ajma'in sudah 

                      melakukannya. 

 

Wallahu 'alam

 

Abu Syauqi

                               



______________________________________________________________________
This email has been scanned by the MessageLabs Email Security System.
For more information please visit http://www.messagelabs.com/email 
______________________________________________________________________
********************************************************
Mailing List FUPM-EJIP ~ Milistnya Pekerja Muslim dan DKM Di kawasan EJIP
********************************************************
Ingin berpartisipasi dalam da'wah Islam ? Kunjungi situs SAMARADA :
http://www.usahamulia.net

Untuk bergabung dalam Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]

Untuk keluar dari Milist ini kirim e-mail ke :
[EMAIL PROTECTED]
********************************************************

Kirim email ke