Taman Siswa & Warisan Perjuangan Ki Hajar Dewantara
Campus <https://universitassuryadarma.ac.id/category/news/>
 December 30, 2014
<https://universitassuryadarma.ac.id/taman-siswa-warisan-perjuangan-ki-hajar-dewantara/>
 Puskominfo Unsurya
<https://universitassuryadarma.ac.id/author/admin-unsurya/>

Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma – Membicarakan Pahlawan Nasional
Ki Hajar Dewantara tidak lengkap jika tidak menyebut Taman Siswa. Perguruan
ini mengusung konsep pendidikan dengan rasa nasionalisme untuk seluruh anak
bangsa Indonesia.

Taman Siswa hanyalah satu dari sekian banyak warisan perjuangan Ki Hadjar
Dewantara. Berikut cerita tentang Taman Siswa dan warisan perjuangan Ki
Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan nasional.

Taman Siswa, Oleh-Oleh dari Belanda

Pada 1913, Ki Hajar Dewantara beserta Douwes Dekker (Dr. Danudirdja
Setyabudhi) dan dr. Cipto Mangoenkoesoemo diasingkan ke Belanda karena
memprotes rencana perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dan Prancis di
negara jajahan mereka.

Meski harus hidup terasing dari Tanah Air, jiwa pejuang Ki Hajar Dewantara
tidak redup. Dia aktif dalam organisasi pelajar asal Indonesia di Belanda.
Di saat yang sama, ide-ide tokoh pendidikan barat menjadi fondasi Ki Hadjar
dalam merintis cita-cita memajukan pendidikan di Indonesia untuk para
pribumi.

Ki Hadjar memanfaatkan kesempatan pengasingan di Belanda untuk mendalami
masalah pendidikan dan pengajaran hingga meraih Europeesche Akte. Ki Hajar
kembali ke Indonesia pada 1918 dan

Dia kemudian bergabung dengan sekolah binaan saudaranya. Pengalaman selama
di Belanda digunakan untuk mengembangkan kembangkan konsep belajar di
sekolah tersebut.

Pada 3 Juli 1922, Ki Hajar mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut
Tamansiswa  atau perguruan Taman Siswa.  Lembaga ini bertujuan memberikan
kesempatan dan hak pendidikan yang sama bagi para pribumi jelata Indonesia
seperti yang dimiliki para priyayi atau orang-orang Belanda.

Taman Siswa menanamkan rasa kebangsaan pada anak didiknya. Metode
pendidikannya merupakan gabungan perspektif Barat dengan budaya nasional.
Meski demikian, Taman Siswa tidak mengajarkan kurikulum pemerintah Hindia
Belanda.

Karena mengusung nasionalisme Indonesia itulah, pemerintah kolonial Belanda
berupaya merintangi Taman Siswa dengan mengeluarkan Ordonansi Sekolah Liar
pada 1 Oktober 1932. Namun, Ki Hajar Dewantara gigih memperjuangkan haknya
hingga ordonansi itu dicabut.

Selain mengembangkan Taman Siswa, Ki Hajar tetap menulis. Tema tulisannya
kini tidak lagi politik, melainkan bernuansa pendidikan dan kebudayaan
berwawasan kebangsaan. Tulisan-tulisan itu menjadi media Ki Hajar dalam
meletakkan dasar-dasar pendidikan nasional bagi bangsa Indonesia.

Ajaran Ki Hadjar Dewantara

Peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini
mewariskan tiga ajaran yang hingga kini masih terkenal, “Ing ngarsa sung
tulodo, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani.” Konsep ini
bermakna, “Di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di
belakang memberi dorongan.” Konsep tersebut masih relevan diterapkan dalam
dunia pendidikan nasional dewasa ini.

Selain itu, ada juga konsep belajar tiga dinding. Konsep ini mengacu pada
bentuk ruang sekolah yang rata-memiliki empat dinding. Ki Hajar
menyarankan, ruang kelas hanya dibangun dengan tiga sisi dinding; sedangkan
satu sisi lainnya terbuka. Filosofi ini mencerminkan, seharusnya tidak ada
batas atau jarak antara dunia pendidikan di dalam kelas dengan realitas di
luarnya.

Dengan kata lain, sekolah sebaiknya tidak hanya mengajarkan teori, tetapi
juga kemampuan lainnya. Sehingga, anak tidak hanya pandai secara akademik,
tetapi juga mampu menerapkan ilmunya tersebut.

Bentuk konsep tiga dinding ini bisa diterjemahkan dengan berbagai kegiatan
tambahan di luar sekolah seperti outbond dan karya wisata ke berbagai
tempat. Tentu saja, kegiatan-kegiatan tambahan itu dikemas dengan
nilai-nilai edukatif.

Pendidikan memanusiakan manusia

Menurut kacamata Ki Hajar Dewantara, “pengajaran” bersifat memerdekakan
manusia dari aspek hidup lahiriah seperti kemiskinan dan kebodohan.
Sebaliknya, “pendidikan” memerdekakan manusia dari aspek hidup batin.
Melalui pendidikan, manusia dididik memiliki otonomi berpikir dan mengambil
keputusan, martabat serta mentalitas demokratik.

Pendidikan juga harus dimulai dari persamaan persepsi pemangku pendidikan
tentang konsep mendidik itu sendiri. Dalam arti yang sesungguhnya,
pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia (humanisasi), misalnya
melalui konsep “penguasaan diri”.  Ki Hajar meyakini, jika setiap peserta
didik mampu menguasai dirinya, maka mereka juga akan mampu menentukan
sikapnya sebagai pribadi merdeka, mandiri dan dewasa. (Dari berbagai sumber)

Sumber: http://news.okezone.com/

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavgQR1O1%3DJZC%3DtG3-Y7H-wOFNVOaf5KZadrj4GANVeCVWw%40mail.gmail.com.

Reply via email to