Bagian-6 : Prajurit kaki CIA

Setelah kegagalan ini, Eduard berhubungan dengan seorang pria yang dia
sebut 'HAU' melalui CIA di Jakarta. HAU tampaknya menjadi semacam ayah
angkat bagi teman Eduard, Bahrun Naim dan masih berhubungan dengannya di
Suriah. Dia setuju untuk bertemu Eduard setelah terlebih dahulu menanyakan,
antara lain, I'Im, putra Abu Bakar Bashir, yang masih menjadi penjamin
Eduard.

HAU mengenalkannya pada Mael. Wanita muda yang selalu bercadar ini adalah
anak dari orang tua Jemaah Islamiyah terkemuka, namun telah berpaling dari
JI. Dia telah meninggalkan orang tua dan dua anaknya untuk bergabung dengan
ISIS - keputusan dramatis untuk seorang wanita sendirian. Dia juga tampak
mencintai Bahrun Naim, bahkan ingin menjadi istri keduanya dan berencana
mengikutinya ke Suriah. Belakangan dia mengatakan bahwa keinginan
terbesarnya adalah di suatu harinanti meledakkan dirinya sendiri untuk
tujuan Islam. Dia tidak pernah datang ke Suriah, tetapi dari Jakarta dia
berhubungan dekat dengan istri Bahrun Naim di Suriah.

Ketika Eduard pertama kali bertemu dengannya, di pertemuan itu hadir HAU.
Kedua kalinya dia datang sendiri. Mereka punya janji di sebuah pusat
perbelanjaan. Eduard ada di sana, seperti biasa, jauh sebelumnya, dan dari
lantai yang lebih tinggi dia melihat Mael masuk, serba hitam, seperti
biasa. Dia terutama memperhatikan ransel besar di punggungnya, yang
membuatnya gugup. Mael meletakkan tas di lantai di sebelah meja mereka dan
meninggalkannya di sana ketika dia perlu pergi ke toilet. Eduard diam-diam
dan sangat hati-hati melihat ke dalam tas, dan lega dia hanya melihat
pakaian, tidak ada yang menyerupai bom.

Mereka jadi klik. Mereka lebih sering bertemu, dia mendapatkan
kepercayaannya. Karena Mael dicari oleh polisi Indonesia, Eduard juga
mengatur tempat persembunyiannya. Dia membayar sewanya dengan uang dari CIA
dan membantunya dengan segala cara yang mungkin. Itu menghilangkan
kecurigaan terakhir Mael. Dia mulai curhat padanya, memberitahu dia tentang
kontaknya dengan teman-temannya di Suriah, termasuk istri Bahrun Naim, dan
dengan demikian, tanpa dia sadari, memberinya banyak informasi tentang
pergerakan Naim dan orang Indonesia lainnya di Suriah.!

Kepercayaan Mael tidak bersyarat, dia dan Eduard berbicara satu sama lain
seperti kakak dan adik. Tidak hanya tentang Suriah atau ISIS, tetapi juga
tentang masa kecilnya, keluarga yang ditinggalkannya, hubungan bengkok yang
dia miliki dengan orang tuanya. Eduard juga melakukan kontak dengan mereka
dan dia menengahi mereka, sehingga Mael dapat melihat orang tua dan
anak-anaknya lagi di beberapa tempat pertemuan. Dia memberinya telepon yang
tak seorang pun kecuali dirinya memiliki nomor. Dia selalu bisa
meneleponnya ke nomor telepon itu.

Sementara Mael tidak lagi memiliki jejak kecurigaan, kecurigaan tumbuh pada
HAU. Dia adalah bagian dari inti lama JI dan bahkan terlibat dalam bom Bali
tahun 2002. Bahrun Naim sangat mengaguminya. HAU mencium bahaya dan
memperingatkan Mael bahwa Eduard tidak baik. Mael tidak ingin tahu tentang
itu, tetapi kecurigaan HAU makin bertambah. 'Eduard mengajukan pertanyaan
intel', 'Saya pikir dia mata-mata'. Mael menolak mendengarkan, tetapi HAU
memutuskan semua kontak dengan Eduard.

Berkat informasi yang didapat Mael dari Suriah, Eduard semakin mengetahui
tentang gerak Bahrun Naim. Dia tidak pernah tinggal di alamat yang sama
untuk waktu yang lama, tetapi pada akhirnya Eduard dapat memberi CIA
informasi yang dibutuhkan Amerika: alamat, rute, dan waktu ketika Naim
mengendarai mopednya ke markasnya setiap hari. Pada 8 Juni 2018, dia
dibunuh oleh pesawat tak berawak Amerika dengan rudal. Dia berusia 34
tahun. Tak lama setelah itu, CIA mengakhiri misinya.

Berlanjut ke bagian-7……

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavg7EOZrNFrjiMiFhQ2NMv_MXErKQALf%2BtOeKd7uhSzoEg%40mail.gmail.com.

Reply via email to