Bagian ke -4 :

Lewat ustadz Mudzakir, Eduard masuk Ngruki: Pesantren ABB yang berkembang
pesat di pinggiran kota Solo, jadi sarang teroris. Ngruki tidak suka
pengintai, misalnya wartawan dari CNN tidak diterima di sana. AIVD mencoba
masuk dengan orang-orangnya sendiri; itu juga tidak berhasil. Eduard
berhasil: dia diterima dengan baik dan ditunjuki sekitar kompleks sekolah
yang besar, melewati kelas dengan kata 'jihad' di atas pintu, melewati
masjid dan rumah-rumah keluarga Bashir. Para guru mengenakan pakaian
Taliban Afganistan, dengan celana pendek yang sudah dikenal, kemeja panjang
dan topi wol Afganistan, dan bangga bisa mengajarkan 'versi Islam yang
sebenarnya' di Ngruki.

Eduard berteman dengan berbagai ustadz dan berkat mereka dia bisa leluasa
bergerak di kompleks sekolah. Dia bahkan bisa bermalam di sana dan melihat
hal-hal yang tersembunyi dari orang lain, seperti pertemuan malam hari
antara buronan teroris, atau pelatihan tempur. Di Ngruki, Eduard bertemu
dengan putra Abu Bakar Bashir, Abdulrohim, yang semua orang panggil I'Im.
Dia ternyata adalah putra kesayangan ABB: dilatih di Afghanistan sebagai
pejuang jihad, tinggi dalam hierarki Jemaah Islamiyah dan di Ngruki orang
yang memutuskan siapa yang akan berbicara dengan ayahnya dan siapa yang
tidak. Edward adalah salah satu yang beruntung.

"Halo teman," kontak CIA-nya mengirim pesan melalui terenkripsi. Dinas
rahasia Amerika dan Belanda jelas sangat puas dengan hasil kerja Eduard.
"Ini hasil kerja yang bagus." "Kolega Belanda kami sangat tertarik." CIA
terkadang meminta informasi spesifik, atau memperingatkannya. "Harap
hati-hati."

Kontak utamanya di Ngruki adalah Ghozali. Dia bertemu dengannya di koridor:
seorang siswa yang agak aneh, tetapi sangat ingin tahu. Dia tidak belajar
di Ngruki, tetapi di universitas di kota. Ghozali ingin menjadi bagian dari
hard core di Ngruki, mengenal orang-orang penting dalam gerakan secara
pribadi, tetapi pada saat yang sama menjaga jarak. Dia tidak benar-benar
termasuk, karena dia bukan dari Jawa, seperti hampir semua orang di sini,
dan ibunya bukan Muslim tetapi Katolik, tetapi dia terpesona oleh Islam
radikal. Eduard meyakinkannya untuk berkolaborasi dalam proyeknya. Dia
menyuruh Ghozali melakukan 'penelitian' dan secara teratur membayarnya 2
juta rupiah.

Ghozali menceritakan semuanya, misalnya cerita rinci tentang perjalanan
yang dia lakukan dengan salah satu teroris ke Jakarta, di mana target
serangan lain sedang diamati. Pada 8 Agustus 2004, Eduard memperingatkan
petugas kasusnya bahwa serangan baru tampaknya sudah dekat: dia melihat ada
banyak kegatan dan gerakan, orang-orang berjalan masuk dan keluar,
wajah-wajah aneh, ada suasana tegang. Keesokan harinya pukul 10.30 WIB,
sebuah truk berisi bahan peledak diledakkan di pintu gerbang Kedutaan Besar
Australia di Jakarta.

Ghozali  terbukti sangat berharga. Dua nomor telepon yang diperoeh Eduard
dari Gozhali akhirnya mengakibatkan kematian peracik  bom Dr. Azahari.

CIA menyadari posisi penting Ghozali. "Kamu sangat akrab dengan Ghozali."
Dan: 'Terima kasih telah mengumpulkan informasi yang sangat rinci dan
tampaknya sangat penting.' Tapi juga bahayanya. Pada tahun 2006, Eduard di
ambang mendapatkan zat kimia melalui Ghozali. CIA berpikir itu terlalu
berisiko. “Sangat sulit bagi kami untuk menentukan apa yang dapat dilakukan
zat tersebut dan kami tidak ingin menempatkan Anda dalam risiko. Akhiri
aktivitas Anda untuk saat ini.' Tampaknya sumbangan yang diberikan Eduard
kepada Ghozali untuk 'penelitian' digunakan untuk membeli bahan peledak.
"Apa yang terjadi telah terjadi, tapi tolong jangan beri dia uang lagi
sampai kita tahu apa yang dilakukan Ghozali dengan uang itu."

Eduard akhirnya menghentikan pekerjaan intelijennya pada tahun 2007. Dalam
pertemuan di Hotel Golden Tulip di Zoetermeer, tiga petugas CIA dan enam
petugas AIVD mengatakan bahwa ancaman dari Jemaah Islamiyah sudah berkurang
dan mereka akan berhenti. AIVD, yang terutama diuntungkan dari operasi CIA,
akan sepenuhnya berhenti di tim Indonesia, tetapi Eduard tidak diberitahu
itu.

Eduard diperbolehkan untuk menulis di secarik kertas apa yang dia butuhkan
untuk melewati masa berakhir tugasnya dengan baik. Dia meminta $260.000.
Kembali di Indonesia, ia melkukan satu pertemuan terakhir dengan petugas
kasusnya untuk menyerahkan telepon dan laptop. Dia mendapat 18 ribu dolar.
'Tidak ada tugas lagi', petugas kasus memberitahunya.

Ia disarankan untuk secara bertahap mengurangi kontaknya di Jemaah
Islamiyah, tidak terlalu cepat, agar tidak menimbulkan kecurigaan lebih
lanjut.

Akan dilanjutkan……

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavgc89SFTnej4Tyhz_r3Tx%2BQWQ09DzLpSDCpEt54JrkUjA%40mail.gmail.com.

Reply via email to