Dr Terawan itu specialisasi di bidang apa? On Wed, Mar 30, 2022 at 12:56 PM ehhlin <[email protected]> wrote:
> Bg. Jo, > Ndak terlalu bertele-tele, Apakah IDI mengadakan study yg mendalam, luas, > ilmiah, impartial terhadap para pasien Dr. Tewaran, entah 40,000 (???).dan > term ask yg sebenarnya pasien sehat atau tidak, Apa hasilnya study itu > dgn segala detail nya hingga sampai pada kesimpulan harus pecat dr > Tewaran..... Dengan ini kan tak usah berlarut debat lagi. > > > > Sent from my Samsung Galaxy smartphone. > > -------- Original message -------- > From: "B.H. Jo" <[email protected]> > Date: 30/03/2022 1:33 p.m. (GMT+05:30) > To: BILLY GUNADIE <[email protected]>, [email protected], > GELORA45_In <[email protected]>, ehhlin <[email protected]> > Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci > Otak'-Vaksin Merah Putih > > Bung Lin, > > Kritik/komentar saya terhadap dr. Terawan sebelumnya adalah *dilihat dari > segi metode penelitian.* > > Dari diskusi di luar negeri, telah diketahui bahwa pasien2 yg. mendapat > "cuci otak" dari Terawan, tidak mempunyai stroke tetapi orang2 sehat. > Tentunya, prosedur "diagnotic angiography" dilakukan terhadap orang sehat, > ya tidak akan berubah menjadi lebih sehat. Prosedur yg. dilakukan adalah > utk. diagnose, bukan prosedur utk. terapi. Contohnya; Dahlan Iskan, Mahmud > Md khan (orang sehat) yg. tidak mempunyai penyakit stroke. Orang tidak ada > stroke di cuci otaknya, ya tentunya tetap tidak ada stroke. > Saya mendapat email japri dari anggota dari Gelora45 kita ini, yg. juga > telah mendapat "cuci otak" dari Terawan. Dia (anggota Gelora45 ini) adalah > orang sehat, dicuci otaknya yg. tidak bertambah sehat otaknya (atau > bertambah pintar, ha ha ha). Sudah untung tidak mendapat komplikasi dari > prosedurnya. > > Terawan telah melanggar etik medis dimana penipuan terhadap publik, yg. > tidak mengerti prosedur medik, telah terjadi. > > Dibawah ini ada 2 ahkli luar negeri yg. melihat/mengikuti tindakan dari > Terawan *dari segi prosedurnya*: > > *Akhli dari America:* > Some one posted on Dr Terawan before. And as I recall he is a radiologist. > In that posting, I read about his claim of “cuci otak”(literal English > translation: brain wash?). Also as I recall he claimed that he can cure one > year old stroke. > In the video of the previous posting, it was shown an angiographic suite. > I interpreted his claim of “cuci otak” is angiographic procedure of > thrombolysis for stroke patient. I am a radiologist and familiar with this > procedure. Thrombolytic procedure for stroke is done by inserting a > catheter from the groin, into the blood vessel (artery) in the brain where > the blood clot is located that cause blockage and stroke (this explanation > is for members who are not familiar with this procedure). Thrombolytic > procedure is done by delivering drug through catheter directly into the > blood clot to open up circulation to the brain affected by stroke. This > procedure is done in US under strict criteria for acute stroke patient who > still meet the golden hour criteria following the onset of stroke. > I got the feeling that by showing the (modern looking for Indonesian > public??)angiographic suite where he does the “cuci otak” he could > (FALSELY) appeal to the unsuspecting public that he can do amazing > procedure of cuci otak. If what I said is correct, we can conclude that > he is a quack making false claim, doing procedure that does not meet a > standard medical practice (to cure one year old stroke). > > Tom > > *Akhli dari Netherlands:* > I posted about the Quack Dr. Terawan a year or longer ago . > The procedure he performed was a purely diagnostic cerebral > angiography where as usual a little heparin was added to prevent > thrombus formation in the catheter during the procedure . The > patients were all healthy in the first place , *so no cure was > performed since there was no disease in the first place .* > > The procedure Tom described is indeed an interventional > angiographic procedure for thrombolysis where the catheter is > placed as close to the cerebral-thrombus as possible , where it > will be dissolved by Heparin or some other thrombolytic material , > or it can even be mechanically removed by means of a special > kind of catheter . None of these procedures however were > performed by Dr. Terawan and his healthy patients were all duped > by his nonsensical talk , since they were not knowledgable and > easily impressed by a white-coat . > > Most anything goes in Indonesia if you’ve got the right people > to back you up . > > That’s how a quack survives until - like Dahlan Iklan writes - > he is summoned back home by Jesus . > Ho > > Salam, > BH Jo > > On Tuesday, March 29, 2022, 01:43:44 AM MDT, ehhlin <[email protected]> > wrote: > > > Bg. Jo, > Dalam soal pengobatan, obat2an dn cara pengobatan.... apa yg bung > jelaskan, disini banyak dibincangkan oleh dunia medis setempat dn tertulis > dalam media semasa corona virus menjalar disini n > tetapi > "Suatu teori, benar atau salah hanya akan terbuktikan setelah teori itu > di-praktek-kan" > ini kan benar. > Bg tentunya juga sadar bahwa pembuatan obat2an dimonopoli oleh sejumlah > kelompok industry obat2an dibarat, walaupun diproduksi Di lain negara, > umpama India , promotion /marketing obat2an dari suatu pharmaceutical > company bukan soal kecil, wakil2 pharmaceutical company Saling bersaing > dihalaman rumah sakit dn biasalah Kalau sang dokter memberi resep obat > dari perusahan obat2an tertentu... saya tahu sendirian, dulu di Indonesia, > bahwa apotik memberi 10% pada dokter yg menganjurkan obat itu!!! Jadi > dibidang dunia medis tidaklah selalu bersih. > Mungkin saja Dr Terawan tidak memperduli standard dunia pharmacy barat, yg > lebih penting kan jiwa sipasien yg harus diselamatkan, disembuhkan dulu. > Jadi Apakah sejumlah 40,000 pasien Dr. Tewaran ini "bahan"" retrospective > ", yg menjadi masalah kan" gagal"atau "berhasil" - menyelamatkan jiwa > manusia," selidiki lah presentage kegagalan dn keberhasilan secara > luas-mendalam- . Ini kan jawabannya, lalu tindakan selanjutnya baru > diambil. Adakah "penyelidikan, study yg luas dn mendalam" oleh IDI??? > Salam, Lin > > > Sent from my Samsung Galaxy smartphone. > > -------- Original message -------- > From: "B.H. Jo" <[email protected]> > Date: 29/03/2022 10:31 a.m. (GMT+05:30) > To: BILLY GUNADIE <[email protected]>, [email protected], > GELORA45_In <[email protected]>, ehhlin <[email protected]> > Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci > Otak'-Vaksin Merah Putih > > Bung Lin, > > Meskipun dr. Terawan. misalnya, telah melakukan prosedur/metode "cuci > otak" sebanyak lebih dari 40,000 pasien dan data record-nya dari setiap > pasien, kita tidak akan bisa mengetahui pasti apakah metode yg. baru ini > (yg. belum teruji klinis dan kita namakan saja: *metode 2*) lebih baik > atau setara dgn. metode yg. telah ada sebagai terapi standar/patokan > (standard treatment/benchmark dan kita namakan saja: *metode 1*). Ini > disebabkan karena metode 2 tidak dibandingkan dgn. terapi/metode 1 pada > waktu dan situasi yg. sama/bersamaan. Penelitian, dimana meneliti pasien2 > yg. telah diterapi sebelumnya (yg. 40,000 itu), ini namanya penelitian > *"retrospective" > (ditinjau "kebelakang")*. > > Uji klinis yg. bisa dipercaya adalah penelitian yg. namanya penelitian > *"prospective" > (ditinjau "kedepan")*. Cara melakukan penelitian "prospective" sebagai > berikut: kita tidak boleh memilih pasien tertentu utk. mendapat metode 1 > atau metode 2. Kalau ada pasien baru yg. akan diteliti, dia harus mengambil > satu amplop tertutup dimana sudah ada isinya ttg. metode apa didalamnya > (misal: metode 1). Pasien dan dokter peneliti tidak tahu sebelumnya metode > apa didalamnya (yg. namanya: *"double blind" method*). Jadi tidak akan > ada pengaruh *"bias"* dari pasien dan dari dokter peneliti yg. bisa akan > mengurangi hasil statistik yg. bisa dipercaya/diandalkan. Misal: setelah 4 > tahun, kita mendapat pasien 1,200 dimana 567 pasien yg. mendapat metode 1 > dan 633 pasien mendapat metode 2 (jumlah total 1,200). Tentunya "double > blind" method tidak akan bisa mendapat jumlah jumlah pasien yg. sama: 600 > metode 1 dan 600 metode 2. Dan juga tidak akan bisa mendapat jumlah yg. > sama, misal, berapa jumlah pasien wanita, berapa yg. perokok, berapa yg. > umurnya tertentu dan sebagainya di metode 1 dan metode 2. Pada akhir jangka > penelitian, kita akan mengtahui berapa pasien yg. berhasil dan berapa > pasien yg. mendapat komplikasi (termasuk kematian) dari metode 1 dan metode > 2. Karena pasti ada perbedaan jumlah faktor/factor (pasien, jenis kelamin, > perokok, umur dsb.). Faktor2 ini bisa mempengaruhi hasil dari terapi, > misal, perokok akan bisa kena stroke otak lebih gampang drpd. yg. tidak > merokok. Jadi karena adanya perbedaan jumlah dari faktor2 akan diperlukan " > factor adjustment" dgn. perhitungan statistik yg. canggih. Dan hasil > statistik dari cara ini (prospective study yg. diuraikan tsb. diatas yg. > namanya *"prospective randomized double blind clinical trial Phase III*) > adalah cara penelitian dgn. hasil bisa dipercaya dan diandalkan (dipakai > diseluruh dunia). > > Saya kutip kenapa kalau mau mempelajari pasien2 telah diterapi oleh dr. > Terawan, tidak akan bisa menghasilkan hasil yg. bisa dipercaya atau bisa > diandalka karena ini adalah "retrospective study (ditinjau kebelakang)' > > *Quote:* > *DISADVANTAGES OF RETROSPECTIVE STUDIES* > > - inferior level of evidence compared with prospective studies. > - controls are often recruited by convenience sampling, and are thus > not representative of the general population and prone to selection bias. > - prone to recall bias or misclassification bias. > - *End of quote.* > > > *Apa yg. telah dilakukan oleh Terawan, per-tama2 tidak diteliti sama > sekali. Seharusnya, paling sedikit harus diteliti secara "retrospective" > walaupun hasilnya kurang bisa diandalkan dibandingkan dgn. penelitian > "prospective". Jadi kita tidak akan bisa tahu apakah terapi dari dr. > Terawan itu berguna atau malahan merugikan pasien2. Tentunya banyak orang > yg. tidak mengerti penelitian medis, bisa terpengaruh dari "jualan atau > bualan" dari terapinya. Sampai2 orang setingkat Mahmud Md bisa termakan > oleh bualan dr. Terawan. Sama saja kalau kita ketempat jualan obat/koyo > dipasar. Terawan telah menjual terapi baru tanpa ada bukti ttg. > kemanjurannya. Ini yg. dinamakan "pelangaran etik medis/professional > misconduct".* > > Salam, > BH Jo > > > On Monday, March 28, 2022, 07:54:59 PM MDT, ehhlin <[email protected]> > wrote: > > > Benar atau tidak satu theory adalah dibuktikan dengan di-praktek-kan > theory itu. > Dr. Tewaran menurut yg. pernah saya baca telah men cuci-otak itu terhadap > 40,000-han (?) pasien , kenapa TAK diteliti kembali para pasien itu, tentu > ada record dari para pasien, bagimana keadaan para pasien itu sekarang , > apa "cuci-otak" itu berhasil atau tidak, berada prosen gagal, berada prosen > berhasil dll. > Jumlah 40,000 pasien itu sangat besar!!! > Lin. > > > > > > Sent from my Samsung Galaxy smartphone. > > -------- Original message -------- > From: BILLY GUNADIE <[email protected]> > Date: 28/03/2022 8:17 p.m. (GMT+05:30) > To: [email protected], [email protected], GELORA45_In < > [email protected]> > Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci > Otak'-Vaksin Merah Putih > > Sepengetahuan saya...IDI itu tidak berfungsi ...? > BPJS...kenapa tidak universal...ada yang ikut program ...ada yang tidak . > Di Jerman juga ada Ikatan dokter...pake sticker jarum dan uler.... > Kebanyakan Mobil dokter tidak mau pasang sticker, karena ada sangsinya... > hypocrite oath... Juga harus menolong nyawa orang....misalnya ada car > accident... Dokter tidak boleh meninggalkan begitu saja... > Dan juga di pengaruhi oleh pharmaceutical company...dengan insentive... > Tour packages...atau bonus...? > Nyawa manusia jadi tidak relevant lagi...? > Juga kwalitas dokter badan diragukan... > Terbukti ..pandemik .. vaccine...yang terburu buru...klinikal uji...1-3...? > Dan terbukti... vaccine tidak menjadiksn kemebalan... Pfizer... Modena.. > Tidak ada sangsinya....? > Kenapa tidak ada data statistic Dr. Terawan. .sukses dan kematian atas > tetapinya....? > Cuci otak....juga Di tolak di Eropah ... > Banyak juga teori yang di tolak.. > Antara lain guntingan kertas koran Wegener soal plate tektonik... ? > > > > > Sent from Rogers Yahoo Mail on Android > <https://go.onelink.me/107872968?pid=InProduct&c=Global_Internal_YGrowth_AndroidEmailSig__AndroidUsers&af_wl=ym&af_sub1=Internal&af_sub2=Global_YGrowth&af_sub3=EmailSignature> > > On Mon., Mar. 28, 2022 at 10:17 a.m., B.H. Jo > <[email protected]> wrote: > Dahlan Iskan adalah seorang analis politik. Namun masalah dr. Terawan > adalah masalah medik yg. harus dianalisa dari segi sain medik (medical > science) dan bukan dianalisa dari segi politik. > > Kalau Terawan mau membuka praktek seperti dukun atau penjual obat dipasar, > ya, boleh saja (bedasarkan hukum yg. ada di Indonesia) tetapi tidak boleh > memakai nama dokter atau profesor yg. dipakai oleh organisasi dokter (IDI). > *IDI > harus melindungi nama dan kredebilitas dokter2 lain dibawah organisasinya > dimana terapi atau perawatan harus berdasarkan sain medik.* Kalau > pasien2 dari Terawan mendapat kerugian kesehatan dari metodenya yg. belum > teruji, ya langsung berhadapan dgn. polisi kriminal. > > BH Jo > > On Monday, March 28, 2022, 03:07:41 AM MDT, BILLY GUNADIE < > [email protected]> wrote: > > > Oleh : Dahlan Iskan > 28 03 2022 > APAKAH Terawan bukan lagi > dokter? Setelah dipecat secara permanen dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI)? > > Tentu Terawan tetap dokter. Sepanjang ijazah dokternya tidak dicabut –oleh > universitas yang memberikannya: Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia juga tetap > dokter sepanjang ilmu kedokterannya tidak dicabut dari otaknya –oleh > Tuhannya: Yesus. > > Apakah Terawan masih bisa buka praktik sebagai dokter? > > Sepanjang pemerintah masih mengizinkan, Terawan tetap bisa praktik. > > Apakah Terawan masih bisa bekerja di rumah sakit –RS Pusat Angkatan Darat > (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta? > > Sepanjang direktur di RS tersebut masih memercayainya, Terawan tetap bisa > bekerja di sana. > > Intinya: semua terserah pemerintah. Yang mengeluarkan izin itu pemerintah > –Kementerian Kesehatan. Bukan IDI. > > Masalahnya: dengan pangkat yang sudah letnan jenderal TNI-AD, apakah > Terawan masih memerlukan untuk berpraktik sebagai mata pencaharian. Jabatan > di dunia kedokteran juga sudah mencapai puncak: menteri kesehatan. Sebelum > itu pun sudah direktur RSPAD. Sebagai ilmuwan, Terawan juga sudah mencapai > puncaknya: bergelar doktor. > > Inilah dokter dengan capaian tertinggi yang pernah dipecat secara permanen > dari IDI. > > IDI adalah organisasi. Semua anggotanya harus dokter. Sebagai organisasi > biasa, IDI punya aturan dasar (AD/ART) yang harus ditaati. Sebagai > organisasi profesi, IDI punya kode etik yang juga harus diikuti. > > Rasanya Terawan dianggap lebih melanggar kode etik daripada melanggar > AD/ART. Itu bisa dilihat dari proses pemecatannya: lewat sidang-sidang > dewan etika dokter. Yakni, satu lembaga yang mengawasi apakah seorang > dokter melanggar etika kedokteran atau tidak. > > Apakah karena Terawan gigih ”melahirkan” Vaksin Nusantara di awal pandemi, > lalu dianggap melanggar kode etik IDI? > > Rasanya bukan itu. VakNus itu murni soal izin dari BPOM. Izin tersebut > tidak keluar karena VakNus tidak memenuhi kriteria definisi vaksin. > > Saya pun pernah menulis: mengapa Terawan ngotot menyebutnya vaksin. > Mengapa, misalnya, tidak menyebutnya terapi dendritik. Toh, para dokter > yang mempraktikkan stem cell atau PRP atau juga cell cure tidak ada yang > dipecat dari IDI. > > Rasanya pemecatan ini masih terkait dengan cuci otak. Yang dikembangkannya > jauh sebelum VakNus. Ia pernah dipecat sementara dari IDI di soal cuci otak > itu. Terawan dianggap tidak mau mempertanggungjawabkannya secara ilmu > kedokteran di depan IDI. > > Waktu itu ributnya juga luar biasa. Tidak kalah dengan VakNus. Medsos > belum seeksis sekarang. Keriuhan waktu itu hanya terlihat di media > mainstream. > > Saking ributnya, saya sampai ingin mencoba sendiri. Saya ke RSPAD. Saya > minta dilakukan ”cuci otak”. Masih dr Terawan sendiri yang mengerjakan. > Belum seperti sekarang –sudah banyak dokter binaan Terawan yang bisa > melakukannya. > > Lalu, saya menulis pengalaman saya menjalani praktik cuci otak itu (lihat > Disway, 19/3/2021: Empat Misi Terawan). Sampai dua atau tiga seri. Istri > saya minta terapi itu juga. Syaratnya: saya harus bersamanya. Maka, dua > kali saya menjalani cuci otak. > > Begitu banyak tokoh nasional yang juga menjalaninya –sebelum dan sesudah > saya. Lebih banyak lagi yang bukan tokoh: sudah lebih dari 40.000 orang. > > Terawan dianggap tidak pernah mau mempertanggungjawabkan itu. Sebenarnya > ia bisa minta: agar pemecatan sementaranya itu ditinjau. Lewat muktamar IDI > berikutnya. Terawan tidak mau memanfaatkan proses itu. Sampailah ada > Muktamar IDI 2022. Di Aceh. Pekan lalu. Status pemecatan sementara itu > tidak boleh terus menggantung: Terawan dipecat secara permanen. > > Di masa lalu Terawan mengatakan: pernah memberikan penjelasan yang > diminta. IDI menganggap belum cukup. Terawan menganggap cukup. IDI terus > mempersoalkan. Terawan memilih diam seribu bahasa –sambil terus > mempraktikkan terapi cuci otak. > > Belakangan Terawan menulis disertasi: untuk meraih gelar doktor. Di > Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Disertasinya soal cuci otak itu. > Terawan pernah mengatakan kepada saya: itulah pertanggungjawaban tertinggi > secara ilmiah soal cuci otak. > > Disertasi itu diterima tim penguji di Unhas. Terawan berhak atas gelar > doktor cuci otak. > > Terawan tidak melayani permintaan IDI. Ia abaikan begitu saja. > > Apakah tanpa menjadi anggota IDI Terawan masih dokter? > > Anda sudah tahu. > > Masalahnya, tidak ada organisasi dokter di luar IDI. Berarti, Terawan > adalah dokter independen. > > Di antara organisasi-organisasi profesi (dokter, wartawan, pengacara, dan > yang sejenis), IDI memang paling solid. Semua organisasi profesi sudah > tidak tunggal lagi. Organisasi wartawan tidak lagi hanya PWI. Organisasi > pengacara lebih banyak lagi. > > Hanya para dokter yang tidak mau membentuk organisasi di luar IDI. Mungkin > itu karena ada legalitas yang kuat untuk IDI: izin praktik dokter tidak > bisa diterbitkan kalau tidak ada rekomendasi IDI. Di situ tertulis > eksplisit: IDI. Bukan organisasi dokter. > > Saya tidak tahu apakah sudah ada yang mempersoalkan ”monopoli” IDI itu > secara hukum. Tapi, harus diakui: IDI adalah organisasi profesi yang paling > ketat mengontrol anggotanya. Yang terketat. Organisasi wartawan begitu > longgar. Pun organisasi advokat. > > Pelanggaran etika wartawan dan etika advokat begitu banyak. > > Padahal, sebuah profesi tanpa pengawasan kode etik sangat bahaya. > > Salah satu kriteria sebuah pekerjaan bisa disebut profesi adalah: apabila > pekerjanya memiliki otonomi untuk melakukan atau tidak melakukan. > > Seorang dokter harus memutuskan sendiri obat apa yang harus diberikan ke > pasien. Berdasar ilmu yang mereka kuasai. Dokter tidak bisa didikte siapa > pun dalam mendiagnosis dan memberikan obat. > > Wartawan seharusnya juga begitu. Ia punya otonomi untuk menulis apa pun > atau tidak menulis apa pun. Bukan karena disuruh atau dilarang oleh siapa > pun –termasuk oleh penguasa dan pemilik amplop: tepatnya pemilik isi amplop. > > Pun pengacara: semestinya membela yang ia anggap benar dan keadilan harus > ditegakkan –apa pun risikonya. > > Dokter, menurut pengamatan saya, adalah yang paling tinggi kadar ketaatan > pada kode etiknya. Dan IDI mengontrolnya dengan ketat –lewat dewan etiknya. > > Saya sering melontarkan tantangan: ayo buka-bukaan. Dalam satu forum > profesi. Temanya: siapa di antara organisasi profesi yang paling rusak > –yang pelanggaran kode etiknya paling parah. Itu sebagai bagian dari misi > agar para pekerja profesi lebih taat pada kode etik mereka. > > Terjadinya pelanggaran etika di berbagai profesi jelas: karena uang. Atau > jabatan. Atau fasilitas. Dan ini bagian yang sangat memalukan dari sebuah > profesi. > > Tapi, ini dia: pelanggaran etika yang dilakukan Terawan tidak ada > hubungannya dengan uang atau jabatan atau fasilitas. Itu murni masalah > keilmuan –mengerjakan menyembuhkan di luar ilmu kedokteran. > > Maka, Terawan tidak perlu malu dipecat dari IDI. Pun kalau salah –dalam > Islam– ia masih harus dapat pahala. > > ”Salah” di situ bisa dibuktikan dengan jatuhnya korban –saya dua kali > menjalani cuci otak: baik-baik saja. Saya dan banyak relawan mendapatkan > VakNus –alhamdulillah, Anda sudah tahu, baik semua. (Dahlan Iskan) > > Sent from Rogers Yahoo Mail on Android > <https://go.onelink.me/107872968?pid=InProduct&c=Global_Internal_YGrowth_AndroidEmailSig__AndroidUsers&af_wl=ym&af_sub1=Internal&af_sub2=Global_YGrowth&af_sub3=EmailSignature> > > On Mon., Mar. 28, 2022 at 3:10 a.m., B.H. Jo > <[email protected]> wrote: > *Tambahan: * > *Apa motifnya membuat terapi baru walaupun tidak teruji dimana sudah ada > terapi standar yg. teruji?* > > *1) Cari nama dan* > *2) Cari uang berlebihan dengan mengabaikan atau dgn. potensi mengorbankan > kesejahteraan pasien2/masyarakat.* > > *Ini adalah tindakan pelanggaan etika profesi (professional misconduct).* > > *BH Jo* > > On Monday, March 28, 2022, 12:41:06 AM MDT, 'B.H. Jo' via GELORA45 < > [email protected]> wrote: > > > Dokter sebagai "anggota" dari profesi dokter (seperti, misalnya, IDI), dr. > Terwan harus hanya melakukan metode pengobatan yg. telah teruji klinis > (proven by a clinical trial about its effectiveness and potential > side-effects/complications) sebagai terapi/perawatan standar ("standard of > care"). Kalau belum teruji klinis (undergone a clinical trial), dokter > tidak boleh melakukan pengobatan yg. belum teruji klinis. > > dr. Terawan telah melakukan terapi atau prosedur utk. stroke otak yg. > dinamakan "cuci otak" secara TIDAK ETIS. Stroke otak terjadi karena > pembuluh darah yg memberi "makan" (antara lain oxygen) ke-otak, tersumbat > oleh gumpalan darah (blood clot) yg. terbawa dialiran darah ke otak. > Kesumbatan dari pembuluh darah ke otak juga bisa terjadi kalau diding dari > pembuluh darah terus menjadi sempit karena adanya proses arteriosklerosis > di diding pembuluh darah yg. bersangkutan. > > Stroke otak sudah ada terapi standarnya yg. telah teruji klinis (yg. > dipakai diseluruh dunia). Dan dr. Terawan melakukan terapi baru yg. > berlainan dgn. terapi standar tanpa diuji klinis lebih dulu. Contoh: Cara > melakukan uji klinis utk. terapi baru utk. stroke otak atau terapi utk. > penyakit lain, seperti berikut: dr. Terawan harus minta ijin kpd. IDI/yg. > *berwenang > bagian "uji klinis"*. Dan dia harus menunjukan protokol uji klinisnya > kpd. yg. *berwenang* dimana terapi baru (yg. belum teruji) dibandingkan > dgn. terapi standar (yg. telah teruji ber-tahun2). Misal: akan diperlukan > paling sedikit 200 pasien yg. akan "mendapat terapi baru" dan 200 pasien > yg. akan "mendapat terapi standar". Kemudian mereka semua diawasi utk. > beberapa lama. Setelah waktu tertentu, kita bisa melihat berapa yg. sembuh > dan berapa yg. mendapat komplikasi dari terapi baru dibandingkan dgn. > terapi standar dimana statistik canggih akan dipakai utk. mendapat hasil > perbandingannya (yg. bisa dipercaya). *Terang kalau terapi baru hasil > kesembuhannya kalah dgn./lebih sedikit dari terapi standar atau hasil > komplikasi dari terapi lebih banyak, terapi baru TIDAK boleh dipakai utk. > terapi sebagai pengganti dari terapi standar.* > > Yg. telah dilakukan oleh dr. Terawan adalah terapi "cuci otak" yg. belum > diuji klinis (clinical trial Phase III). *Dan dia melakukan terapi > barunya yg. belum teruji sebagai pengganti terapi standar.* *Jadi > barangkali telah banyak pasien2 yg. dirugikan tetapi kita/pasien2 nya tidak > mengetahuinya.* Tindakan medisnya adalah TIDAK ETIS kalau disini namanya > dia telah melakukan *"professional misconduct". *Saya juga pernah bekerja > di Jerman dan tindakan dr. Terawan juga disana pasti dianggap melanggar > etika kedokteran. > > 4-5 tahun yg. lalu saya menggikuti diskusi terapi "cuci otak" dari dr. > Terawan tetapi tidak ingat secara detailnya lagi tetapi terapinya tidak > bisa masuk diakal. Juga rencana pembuatan vaksin "Nusantara" dari dr. > Terawan, tidak masuk diakal (does not make any sense). Kami diskusikan > vaksin Nusantara dgn. anggota2 medical group dari US/Canada/Europe, kami > juga geleng2 kepala dgn ide-nya. > > *Sudah betul sekali, IDI mencabut ijin praktek dari dr. Terawan, yg. telah > membahayakan pasien2 dan masyarakat di Indonesia*.* Cuma IDI kurang > tegas, semestinya ijin praktenya sudah harus dicabut beberapa tahun yg. > lalu. Tetapi ada ungkapan:* *"Better late than never".* > > Salam, > BH Jo > > On Sunday, March 27, 2022, 07:33:29 PM MDT, BILLY GUNADIE < > [email protected]> wrote: > > > > > Sent from Rogers Yahoo Mail on Android > <https://go.onelink.me/107872968?pid=InProduct&c=Global_Internal_YGrowth_AndroidEmailSig__AndroidUsers&af_wl=ym&af_sub1=Internal&af_sub2=Global_YGrowth&af_sub3=EmailSignature> > > On Sun., Mar. 27, 2022 at 9:09 p.m., Chan CT > <[email protected]> wrote: > Saya awam kedokteran, jadi TIDAK JELAS sampai dimana kebenaran ilmiah > terapi “cuci otak” juga vaksin Merah Putih yang diajukan dr. Terawan itu, > ... > Tapi, dari yang saya baca dimedsos, disamping pertentangan ilmiah > kedokteran juga ada pertentangan kepentingan antara IDI dan dr. Terawan itu > yang kemudian dituduh telah melanggar ketentuan moral-etika kedokteran IDI. > Yang satu menganggap kebijakan sosial dr. Terawan itu bisa menggempur > kepentingan pengusaha yang dibela IDI, ...? Entahlah bagaimana konkritnya. > > Jadi, mestinya penemuan pengobatan dr. Terawan itu tidak ditekan, ditindas > begitu saja, tapi bisa diperdebatkan secara ilmiah dan dibuktikan lebih > lanut! Kalau saja pengembangan/penemuan dr. Terawan itu yang sekarang ini > dituduh pelanggaran, siapa tahu justru itulah yang benar dan sebaiknya > dikembangkan. Atau katakanlah juga masih ada kekurangan yang perlu > disempurnakan, ... tapi kesitulah arah pengembangan agar manusia bisa hidup > lebih baik dan sehat? > > Salam, > ChanCT > > > *From:* 'B.H. Jo' via GELORA45 > *Sent:* Sunday, March 27, 2022 11:32 AM > *To:* GELORA45_In > *Subject:* Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci > Otak'-Vaksin Merah Putih > > Mestinya dr. Terawan sudah dipecat beberapa tahun yg lalu waktu dia mulai > melakukan terapi cuci otak (yg tidak berdasarkan ilmu yg benar) , yg akan > merugikan pasien2. > > BH Jo > > On Saturday, March 26, 2022, 08:00:04 PM MDT, Chan CT < > [email protected]> wrote: > > > *Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih* > Kadek Melda Luxiana - detikNews > Minggu, 27 Mar 2022 07:57 WIB > [image: Menko Polhukam Mahfud Md] > > Foto: Dok. Kemenko Polhukam > > Jakarta - Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dipecat dari > keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Menko Polhukam Mahfud Md mengaku > pernah menjalani terapi cuci otak oleh dokter Terawan dan divaksin merah > putih. > Terawan dan IDI sendiri memiliki hubungan yang panas dingin. Hubungan > panas dingin itu mulai terjadi sejak munculnya terapi 'cuci otak'. > > Kembali ke Mahfud, dia mengatakan sudah dua kali terapi cuci otak. Karena > merasa hasil terapi cuci otak bagus, dia kemudian mengajak istrinya untuk > ikut terapi. > > > "Saya pernah dua kali cuci otak atau DSA (Digital Subtraction Angiography) > ke dokter Terawan, yakni, ketika masih ketua MK sekitar tahun 2011 dan pada > tahun 2017. Saya bukan ahli medis tapi kalau perasaan saya sih hasilnya > bagus, keluhan langsung hilang. Makanya saya sampai dua kali dan yang kedua > mengajak istri," kata Mahfud kepada detikcom, Sabtu (26/3/2022). > > Baca juga: > Disuntik Vaksin Nusantara, Legislator Kecewa Terawan Dipecat IDI > > Selain pernah terapi dengan dokter Terawan, Mahfud menuturkan dirinya juga > mendapat suntikan vaksin Nusantara yang dicetuskan oleh Terawan. Mahfud > mengaku usai mendapat vaksin Nusantara, imun tubuhnya meningkat. > > "Saya juga sudah ikut minta vaksin Nusantara yang digarap oleh Pak Terawan > sebelum dapat vaksin booster. Waktu mau booster dulu kan pejabat non-tendis > (tenaga medis) atau TNI/Polri masih harus antre atau menunggu, tak bisa > cepat. Saya juga tak mau cari-cari booster lewat jalan tol," ujarnya. > > "Ketika saya minta booster dan diberi tahu oleh Menkes bahwa selain tendis > dan TNI/POLRI belum boleh boostet maka saya ambil vaksin Nusantara. > Antibodi saya naik tinggi setelah divaksin Nusantara," lanjutnya. > > Baca juga: > Adib Khumaidi Dikukuhkan Jadi Ketum PB IDI 2022-2025 > > Meski merasa hasil kerja dokter Terawan bagus, Mahfud tidak bisa > memberikan komentar terkait dipecatnya dokter Terawan dari IDI sebab sudah > ada mekanisme dan aturan tersendiri. Namun yang terpenting baginya asalah > kesembuhan dan imun tubuh meningkat. > > "Saya bukan ahli medis, jadi saya tidak bisa menanggapi apa pun terkait > pemberhentian Pak Terawan dari IDI. Itu sudah ada aturan dan mekanisme > tersendiri. Kalau saya sendiri sih yang penting sembuh atau imun dari > virus," imbuhnya. > > Baca berita selengkapnya di halaman berikut > > > Simak Video 'Sederet Kontroversi Terawan Hingga Dipecat IDI': > > > > > > > > Sebelumnya, kabar pemecatan Terawan Agus Putranto dari IDI dibenarkan oleh > Ketua Panitia Muktamar Ke-31 IDI dr Nasrul Musadir Alsa. Pemecatan itu > berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI. > > "Iya (dipecat), dari hasil muktamar yang kami terima ya. Dari hasil yang > kita terima yang diserahkan panitia memang begitu, (sesuai) MKEK iya," kata > Nasrul saat dimintai konfirmasi, Sabtu (26/3). > > Baca juga: > Pimpinan DPR Khawatir Terawan Dipecat IDI Bikin Dokter Takut Berinovasi > > Nasrul mengatakan Terawan kini tak lagi bisa membuka praktik dokter. Hal > itu lantaran Terawan tidak bisa lagi mengurus surat izin praktik (SIP). > > "Ya mestinya begitu ya, kan tidak bisa urus SIP dan sebagainya ya," kata > Nasrul. > > (dek/dnu) > > Baca artikel detiknews, "Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci > Otak'-Vaksin Merah Putih" selengkapnya > https://news.detik.com/berita/d-6002776/terawan-dipecat-idi-mahfud-md-cerita-dicuci-otak-vaksin-merah-putih > . > > Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/ > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DB447898EA6E4EA996594AB87B9FC483%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DB447898EA6E4EA996594AB87B9FC483%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1896328456.378107.1648351934643%40mail.yahoo.com > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1896328456.378107.1648351934643%40mail.yahoo.com?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DEFBCAA8B546499489C1268A05F66BDC%40A10Live > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DEFBCAA8B546499489C1268A05F66BDC%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1200279699.504553.1648449660657%40mail.yahoo.com > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1200279699.504553.1648449660657%40mail.yahoo.com?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/643607943.517631.1648458447446%40mail.yahoo.com > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/643607943.517631.1648458447446%40mail.yahoo.com?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/680310812.570336.1648478832873%40mail.yahoo.com > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/680310812.570336.1648478832873%40mail.yahoo.com?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > > -- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/tny2res7vx5254iua9i0ddcq.1648637159486%40email.android.com > <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/tny2res7vx5254iua9i0ddcq.1648637159486%40email.android.com?utm_medium=email&utm_source=footer> > . > -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2CL3ZefsTwYtho9A%2Bb2%2BVTB%3DROf9KsAVMQUzBROKeWV5g%40mail.gmail.com.
