Dr Terawan itu specialisasi di bidang apa?

On Wed, Mar 30, 2022 at 12:56 PM ehhlin <[email protected]> wrote:

> Bg. Jo,
> Ndak terlalu bertele-tele, Apakah IDI mengadakan study yg mendalam, luas,
> ilmiah, impartial  terhadap para pasien Dr. Tewaran, entah 40,000 (???).dan
> term ask yg sebenarnya pasien sehat atau tidak,   Apa hasilnya study itu
> dgn segala detail nya hingga sampai pada kesimpulan harus pecat dr
> Tewaran..... Dengan ini kan tak usah berlarut debat lagi.
>
>
>
> Sent from my Samsung Galaxy smartphone.
>
> -------- Original message --------
> From: "B.H. Jo" <[email protected]>
> Date: 30/03/2022 1:33 p.m. (GMT+05:30)
> To: BILLY GUNADIE <[email protected]>, [email protected],
> GELORA45_In <[email protected]>, ehhlin <[email protected]>
> Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci
> Otak'-Vaksin Merah Putih
>
> Bung Lin,
>
> Kritik/komentar saya terhadap dr. Terawan sebelumnya adalah *dilihat dari
> segi metode penelitian.*
>
> Dari diskusi di luar negeri, telah diketahui bahwa pasien2 yg. mendapat
> "cuci otak" dari Terawan, tidak mempunyai stroke tetapi orang2 sehat.
> Tentunya, prosedur "diagnotic angiography" dilakukan terhadap orang sehat,
> ya tidak akan berubah menjadi lebih sehat. Prosedur yg. dilakukan adalah
> utk. diagnose, bukan prosedur utk. terapi. Contohnya; Dahlan Iskan, Mahmud
> Md khan (orang sehat) yg. tidak mempunyai penyakit stroke. Orang tidak ada
> stroke di cuci otaknya, ya tentunya tetap tidak ada stroke.
> Saya mendapat email japri dari anggota dari Gelora45 kita ini, yg. juga
> telah mendapat "cuci otak" dari Terawan. Dia (anggota Gelora45 ini) adalah
> orang sehat, dicuci otaknya yg. tidak bertambah sehat otaknya (atau
> bertambah pintar, ha ha ha). Sudah untung tidak mendapat komplikasi dari
> prosedurnya.
>
> Terawan telah melanggar etik medis dimana penipuan terhadap publik, yg.
> tidak mengerti prosedur medik, telah terjadi.
>
> Dibawah ini ada 2 ahkli luar negeri yg. melihat/mengikuti tindakan dari
> Terawan *dari segi prosedurnya*:
>
> *Akhli dari America:*
> Some one posted on Dr Terawan before. And as I recall he is a radiologist.
> In that posting, I read about his claim of “cuci otak”(literal English
> translation: brain wash?). Also as I recall he claimed that he can cure one
> year old stroke.
> In the video of the previous posting, it was shown an angiographic suite.
> I interpreted his claim of “cuci otak” is angiographic procedure of
> thrombolysis for stroke patient. I am a radiologist and familiar with this
> procedure. Thrombolytic procedure for stroke is done by inserting a
> catheter from the groin, into the blood vessel (artery) in the brain where
> the blood clot is located that cause blockage and stroke (this explanation
> is for members who are not familiar with this procedure). Thrombolytic
> procedure is done by delivering drug through catheter directly into the
> blood clot to open up circulation to the brain affected by stroke. This
> procedure is done in US under strict criteria for acute stroke patient who
> still meet the golden hour criteria following the onset of stroke.
> I got the feeling that by showing the (modern looking for Indonesian
> public??)angiographic suite where he does the “cuci otak” he could
> (FALSELY) appeal to the unsuspecting public that he can do amazing
> procedure of cuci otak. If what I said is correct, we can conclude that
> he is a quack making false claim, doing procedure that does not meet a
> standard medical practice (to cure one year old stroke).
>
> Tom
>
> *Akhli dari Netherlands:*
> I  posted  about  the  Quack  Dr.  Terawan  a  year  or  longer  ago .
> The  procedure  he  performed  was  a purely  diagnostic  cerebral
> angiography  where  as  usual  a  little  heparin  was  added  to  prevent
> thrombus formation  in  the  catheter  during  the  procedure .  The
> patients  were  all  healthy  in  the  first  place , *so  no  cure  was
> performed  since  there  was  no  disease  in  the  first  place .*
>
> The  procedure Tom  described  is  indeed  an  interventional
> angiographic  procedure  for  thrombolysis where  the  catheter  is
> placed  as  close  to  the  cerebral-thrombus  as  possible ,  where  it
> will  be  dissolved by  Heparin  or  some  other  thrombolytic material ,
> or  it  can  even  be  mechanically  removed  by  means of  a  special
> kind  of  catheter .  None  of  these  procedures  however  were
> performed  by  Dr.  Terawan and  his  healthy  patients  were  all  duped
> by  his  nonsensical  talk ,  since  they  were  not  knowledgable and
> easily  impressed  by  a  white-coat .
>
> Most  anything  goes  in  Indonesia  if  you’ve  got  the  right  people
>  to  back  you  up .
>
> That’s  how  a  quack  survives  until - like  Dahlan  Iklan  writes -
> he  is  summoned  back  home  by  Jesus .
> Ho
>
> Salam,
> BH Jo
>
> On Tuesday, March 29, 2022, 01:43:44 AM MDT, ehhlin <[email protected]>
> wrote:
>
>
> Bg. Jo,
> Dalam soal pengobatan, obat2an dn cara pengobatan.... apa yg bung
> jelaskan, disini banyak dibincangkan oleh dunia medis setempat dn tertulis
> dalam media semasa corona virus menjalar disini n
>  tetapi
> "Suatu teori, benar atau salah hanya akan terbuktikan setelah teori itu
> di-praktek-kan"
> ini kan benar.
> Bg tentunya juga sadar bahwa pembuatan obat2an dimonopoli oleh sejumlah
> kelompok  industry obat2an dibarat, walaupun diproduksi Di lain negara,
> umpama India , promotion /marketing obat2an dari suatu pharmaceutical
> company bukan soal kecil, wakil2 pharmaceutical company Saling bersaing
> dihalaman rumah sakit  dn biasalah Kalau sang dokter  memberi resep obat
> dari perusahan obat2an tertentu... saya tahu sendirian, dulu di Indonesia,
> bahwa apotik memberi 10% pada dokter yg menganjurkan obat itu!!! Jadi
> dibidang dunia  medis tidaklah selalu bersih.
> Mungkin saja Dr Terawan tidak memperduli standard dunia pharmacy barat, yg
> lebih penting kan jiwa sipasien yg harus diselamatkan, disembuhkan dulu.
> Jadi Apakah sejumlah 40,000 pasien Dr. Tewaran ini "bahan"" retrospective
> ", yg menjadi masalah kan" gagal"atau "berhasil"  - menyelamatkan jiwa
> manusia," selidiki lah presentage kegagalan dn keberhasilan secara
> luas-mendalam- . Ini kan jawabannya, lalu tindakan selanjutnya baru
> diambil.  Adakah "penyelidikan, study yg luas dn mendalam" oleh IDI???
> Salam, Lin
>
>
> Sent from my Samsung Galaxy smartphone.
>
> -------- Original message --------
> From: "B.H. Jo" <[email protected]>
> Date: 29/03/2022 10:31 a.m. (GMT+05:30)
> To: BILLY GUNADIE <[email protected]>, [email protected],
> GELORA45_In <[email protected]>, ehhlin <[email protected]>
> Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci
> Otak'-Vaksin Merah Putih
>
> Bung Lin,
>
> Meskipun dr. Terawan. misalnya, telah melakukan prosedur/metode "cuci
> otak" sebanyak lebih dari 40,000 pasien dan data record-nya dari setiap
> pasien, kita tidak akan bisa mengetahui pasti apakah metode yg. baru ini
> (yg. belum teruji klinis dan kita namakan saja: *metode 2*) lebih baik
> atau setara dgn. metode yg. telah ada sebagai terapi standar/patokan
> (standard treatment/benchmark dan kita namakan saja: *metode 1*). Ini
> disebabkan karena metode 2 tidak dibandingkan dgn. terapi/metode 1 pada
> waktu dan situasi yg. sama/bersamaan. Penelitian, dimana meneliti pasien2
> yg. telah diterapi sebelumnya (yg. 40,000 itu), ini namanya penelitian 
> *"retrospective"
> (ditinjau "kebelakang")*.
>
> Uji klinis yg. bisa dipercaya adalah penelitian yg. namanya penelitian 
> *"prospective"
> (ditinjau "kedepan")*. Cara melakukan penelitian "prospective" sebagai
> berikut: kita tidak boleh memilih pasien tertentu utk. mendapat metode 1
> atau metode 2. Kalau ada pasien baru yg. akan diteliti, dia harus mengambil
> satu amplop tertutup dimana sudah ada isinya ttg. metode apa didalamnya
> (misal: metode 1). Pasien dan dokter peneliti tidak tahu sebelumnya metode
> apa didalamnya (yg. namanya: *"double blind" method*). Jadi tidak akan
> ada pengaruh *"bias"* dari pasien dan dari dokter peneliti yg. bisa akan
> mengurangi hasil statistik yg. bisa dipercaya/diandalkan. Misal: setelah 4
> tahun, kita mendapat pasien 1,200 dimana 567 pasien yg. mendapat metode 1
> dan 633 pasien mendapat metode 2 (jumlah total 1,200). Tentunya "double
> blind" method tidak akan bisa mendapat jumlah jumlah pasien yg. sama: 600
> metode 1 dan 600 metode 2. Dan juga tidak akan bisa mendapat jumlah yg.
> sama, misal, berapa jumlah pasien wanita, berapa yg. perokok, berapa yg.
> umurnya tertentu dan sebagainya di metode 1 dan metode 2. Pada akhir jangka
> penelitian, kita akan mengtahui berapa pasien yg. berhasil dan berapa
> pasien yg. mendapat komplikasi (termasuk kematian) dari metode 1 dan metode
> 2. Karena pasti ada perbedaan jumlah faktor/factor (pasien, jenis kelamin,
> perokok, umur dsb.). Faktor2 ini bisa mempengaruhi hasil dari terapi,
> misal, perokok akan bisa kena stroke otak lebih gampang drpd. yg. tidak
> merokok. Jadi karena adanya perbedaan jumlah dari faktor2 akan diperlukan "
> factor adjustment" dgn. perhitungan statistik yg. canggih. Dan hasil
> statistik dari cara ini (prospective study yg. diuraikan tsb. diatas yg.
> namanya *"prospective randomized double blind clinical trial Phase III*)
> adalah cara penelitian dgn. hasil bisa dipercaya dan diandalkan (dipakai
> diseluruh dunia).
>
> Saya kutip kenapa kalau mau mempelajari pasien2 telah diterapi oleh dr.
> Terawan, tidak akan bisa menghasilkan hasil yg. bisa dipercaya atau bisa
> diandalka karena ini adalah "retrospective study (ditinjau kebelakang)'
>
> *Quote:*
> *DISADVANTAGES OF RETROSPECTIVE STUDIES*
>
>    - inferior level of evidence compared with prospective studies.
>    - controls are often recruited by convenience sampling, and are thus
>    not representative of the general population and prone to selection bias.
>    - prone to recall bias or misclassification bias.
>    - *End of quote.*
>
>
> *Apa yg. telah dilakukan oleh Terawan, per-tama2 tidak diteliti sama
> sekali. Seharusnya, paling sedikit harus diteliti secara "retrospective"
> walaupun hasilnya kurang bisa diandalkan dibandingkan dgn. penelitian
> "prospective". Jadi kita tidak akan bisa tahu apakah terapi dari dr.
> Terawan itu berguna atau malahan merugikan pasien2. Tentunya banyak orang
> yg. tidak mengerti penelitian medis, bisa terpengaruh dari "jualan atau
> bualan" dari terapinya. Sampai2 orang setingkat Mahmud Md bisa termakan
> oleh bualan dr. Terawan. Sama saja kalau kita ketempat jualan obat/koyo
> dipasar. Terawan telah menjual terapi baru tanpa ada bukti ttg.
> kemanjurannya. Ini yg. dinamakan "pelangaran etik medis/professional
> misconduct".*
>
> Salam,
> BH Jo
>
>
> On Monday, March 28, 2022, 07:54:59 PM MDT, ehhlin <[email protected]>
> wrote:
>
>
> Benar atau tidak satu theory adalah dibuktikan dengan di-praktek-kan
> theory itu.
> Dr. Tewaran menurut yg. pernah saya baca telah men cuci-otak itu terhadap
> 40,000-han (?) pasien , kenapa TAK diteliti kembali para pasien itu, tentu
> ada record dari para  pasien,  bagimana keadaan para pasien itu sekarang ,
> apa "cuci-otak" itu berhasil atau tidak, berada prosen gagal, berada prosen
> berhasil dll.
> Jumlah 40,000 pasien itu sangat  besar!!!
> Lin.
>
>
>
>
>
> Sent from my Samsung Galaxy smartphone.
>
> -------- Original message --------
> From: BILLY GUNADIE <[email protected]>
> Date: 28/03/2022 8:17 p.m. (GMT+05:30)
> To: [email protected], [email protected], GELORA45_In <
> [email protected]>
> Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci
> Otak'-Vaksin Merah Putih
>
> Sepengetahuan saya...IDI itu tidak berfungsi ...?
> BPJS...kenapa tidak universal...ada yang ikut program ...ada yang tidak .
> Di Jerman juga ada Ikatan dokter...pake sticker jarum dan uler....
> Kebanyakan Mobil dokter tidak mau pasang sticker, karena ada sangsinya...
> hypocrite oath... Juga harus menolong nyawa orang....misalnya ada car
> accident... Dokter tidak boleh meninggalkan begitu saja...
> Dan juga di pengaruhi oleh pharmaceutical company...dengan insentive...
> Tour packages...atau bonus...?
> Nyawa manusia jadi tidak relevant lagi...?
> Juga kwalitas dokter badan diragukan...
> Terbukti ..pandemik .. vaccine...yang terburu buru...klinikal uji...1-3...?
> Dan terbukti... vaccine tidak menjadiksn kemebalan... Pfizer... Modena..
> Tidak ada sangsinya....?
> Kenapa tidak ada data statistic Dr. Terawan. .sukses dan kematian atas
> tetapinya....?
> Cuci otak....juga Di tolak di Eropah ...
> Banyak juga teori yang di tolak..
> Antara lain guntingan kertas koran Wegener soal plate tektonik... ?
>
>
>
>
> Sent from Rogers Yahoo Mail on Android
> <https://go.onelink.me/107872968?pid=InProduct&c=Global_Internal_YGrowth_AndroidEmailSig__AndroidUsers&af_wl=ym&af_sub1=Internal&af_sub2=Global_YGrowth&af_sub3=EmailSignature>
>
> On Mon., Mar. 28, 2022 at 10:17 a.m., B.H. Jo
> <[email protected]> wrote:
> Dahlan Iskan adalah seorang analis politik. Namun masalah dr. Terawan
> adalah masalah medik yg. harus dianalisa dari segi sain medik (medical
> science) dan bukan dianalisa dari segi politik.
>
> Kalau Terawan mau membuka praktek seperti dukun atau penjual obat dipasar,
> ya, boleh saja (bedasarkan hukum yg. ada di Indonesia) tetapi tidak boleh
> memakai nama dokter atau profesor yg. dipakai oleh organisasi dokter (IDI). 
> *IDI
> harus melindungi nama dan kredebilitas dokter2 lain dibawah organisasinya
> dimana terapi atau perawatan harus berdasarkan sain medik.*  Kalau
> pasien2 dari Terawan mendapat kerugian kesehatan dari metodenya yg. belum
> teruji, ya langsung berhadapan dgn. polisi kriminal.
>
> BH Jo
>
> On Monday, March 28, 2022, 03:07:41 AM MDT, BILLY GUNADIE <
> [email protected]> wrote:
>
>
> Oleh : Dahlan Iskan
> 28 03 2022
>                                               APAKAH Terawan bukan lagi
> dokter? Setelah dipecat secara permanen dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI)?
>
> Tentu Terawan tetap dokter. Sepanjang ijazah dokternya tidak dicabut –oleh
> universitas yang memberikannya: Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia juga tetap
> dokter sepanjang ilmu kedokterannya tidak dicabut dari otaknya –oleh
> Tuhannya: Yesus.
>
> Apakah Terawan masih bisa buka praktik sebagai dokter?
>
> Sepanjang pemerintah masih mengizinkan, Terawan tetap bisa praktik.
>
> Apakah Terawan masih bisa bekerja di rumah sakit –RS Pusat Angkatan Darat
> (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta?
>
> Sepanjang direktur di RS tersebut masih memercayainya, Terawan tetap bisa
> bekerja di sana.
>
> Intinya: semua terserah pemerintah. Yang mengeluarkan izin itu pemerintah
> –Kementerian Kesehatan. Bukan IDI.
>
> Masalahnya: dengan pangkat yang sudah letnan jenderal TNI-AD, apakah
> Terawan masih memerlukan untuk berpraktik sebagai mata pencaharian. Jabatan
> di dunia kedokteran juga sudah mencapai puncak: menteri kesehatan. Sebelum
> itu pun sudah direktur RSPAD. Sebagai ilmuwan, Terawan juga sudah mencapai
> puncaknya: bergelar doktor.
>
> Inilah dokter dengan capaian tertinggi yang pernah dipecat secara permanen
> dari IDI.
>
> IDI adalah organisasi. Semua anggotanya harus dokter. Sebagai organisasi
> biasa, IDI punya aturan dasar (AD/ART) yang harus ditaati. Sebagai
> organisasi profesi, IDI punya kode etik yang juga harus diikuti.
>
> Rasanya Terawan dianggap lebih melanggar kode etik daripada melanggar
> AD/ART. Itu bisa dilihat dari proses pemecatannya: lewat sidang-sidang
> dewan etika dokter. Yakni, satu lembaga yang mengawasi apakah seorang
> dokter melanggar etika kedokteran atau tidak.
>
> Apakah karena Terawan gigih ”melahirkan” Vaksin Nusantara di awal pandemi,
> lalu dianggap melanggar kode etik IDI?
>
> Rasanya bukan itu. VakNus itu murni soal izin dari BPOM. Izin tersebut
> tidak keluar karena VakNus tidak memenuhi kriteria definisi vaksin.
>
> Saya pun pernah menulis: mengapa Terawan ngotot menyebutnya vaksin.
> Mengapa, misalnya, tidak menyebutnya terapi dendritik. Toh, para dokter
> yang mempraktikkan stem cell atau PRP atau juga cell cure tidak ada yang
> dipecat dari IDI.
>
> Rasanya pemecatan ini masih terkait dengan cuci otak. Yang dikembangkannya
> jauh sebelum VakNus. Ia pernah dipecat sementara dari IDI di soal cuci otak
> itu. Terawan dianggap tidak mau mempertanggungjawabkannya secara ilmu
> kedokteran di depan IDI.
>
> Waktu itu ributnya juga luar biasa. Tidak kalah dengan VakNus. Medsos
> belum seeksis sekarang. Keriuhan waktu itu hanya terlihat di media
> mainstream.
>
> Saking ributnya, saya sampai ingin mencoba sendiri. Saya ke RSPAD. Saya
> minta dilakukan ”cuci otak”. Masih dr Terawan sendiri yang mengerjakan.
> Belum seperti sekarang –sudah banyak dokter binaan Terawan yang bisa
> melakukannya.
>
> Lalu, saya menulis pengalaman saya menjalani praktik cuci otak itu (lihat
> Disway, 19/3/2021: Empat Misi Terawan). Sampai dua atau tiga seri. Istri
> saya minta terapi itu juga. Syaratnya: saya harus bersamanya. Maka, dua
> kali saya menjalani cuci otak.
>
> Begitu banyak tokoh nasional yang juga menjalaninya –sebelum dan sesudah
> saya. Lebih banyak lagi yang bukan tokoh: sudah lebih dari 40.000 orang.
>
> Terawan dianggap tidak pernah mau mempertanggungjawabkan itu. Sebenarnya
> ia bisa minta: agar pemecatan sementaranya itu ditinjau. Lewat muktamar IDI
> berikutnya. Terawan tidak mau memanfaatkan proses itu. Sampailah ada
> Muktamar IDI 2022. Di Aceh. Pekan lalu. Status pemecatan sementara itu
> tidak boleh terus menggantung: Terawan dipecat secara permanen.
>
> Di masa lalu Terawan mengatakan: pernah memberikan penjelasan yang
> diminta. IDI menganggap belum cukup. Terawan menganggap cukup. IDI terus
> mempersoalkan. Terawan memilih diam seribu bahasa –sambil terus
> mempraktikkan terapi cuci otak.
>
> Belakangan Terawan menulis disertasi: untuk meraih gelar doktor. Di
> Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Disertasinya soal cuci otak itu.
> Terawan pernah mengatakan kepada saya: itulah pertanggungjawaban tertinggi
> secara ilmiah soal cuci otak.
>
> Disertasi itu diterima tim penguji di Unhas. Terawan berhak atas gelar
> doktor cuci otak.
>
> Terawan tidak melayani permintaan IDI. Ia abaikan begitu saja.
>
> Apakah tanpa menjadi anggota IDI Terawan masih dokter?
>
> Anda sudah tahu.
>
> Masalahnya, tidak ada organisasi dokter di luar IDI. Berarti, Terawan
> adalah dokter independen.
>
> Di antara organisasi-organisasi profesi (dokter, wartawan, pengacara, dan
> yang sejenis), IDI memang paling solid. Semua organisasi profesi sudah
> tidak tunggal lagi. Organisasi wartawan tidak lagi hanya PWI. Organisasi
> pengacara lebih banyak lagi.
>
> Hanya para dokter yang tidak mau membentuk organisasi di luar IDI. Mungkin
> itu karena ada legalitas yang kuat untuk IDI: izin praktik dokter tidak
> bisa diterbitkan kalau tidak ada rekomendasi IDI. Di situ tertulis
> eksplisit: IDI. Bukan organisasi dokter.
>
> Saya tidak tahu apakah sudah ada yang mempersoalkan ”monopoli” IDI itu
> secara hukum. Tapi, harus diakui: IDI adalah organisasi profesi yang paling
> ketat mengontrol anggotanya. Yang terketat. Organisasi wartawan begitu
> longgar. Pun organisasi advokat.
>
> Pelanggaran etika wartawan dan etika advokat begitu banyak.
>
> Padahal, sebuah profesi tanpa pengawasan kode etik sangat bahaya.
>
> Salah satu kriteria sebuah pekerjaan bisa disebut profesi adalah: apabila
> pekerjanya memiliki otonomi untuk melakukan atau tidak melakukan.
>
> Seorang dokter harus memutuskan sendiri obat apa yang harus diberikan ke
> pasien. Berdasar ilmu yang mereka kuasai. Dokter tidak bisa didikte siapa
> pun dalam mendiagnosis dan memberikan obat.
>
> Wartawan seharusnya juga begitu. Ia punya otonomi untuk menulis apa pun
> atau tidak menulis apa pun. Bukan karena disuruh atau dilarang oleh siapa
> pun –termasuk oleh penguasa dan pemilik amplop: tepatnya pemilik isi amplop.
>
> Pun pengacara: semestinya membela yang ia anggap benar dan keadilan harus
> ditegakkan –apa pun risikonya.
>
> Dokter, menurut pengamatan saya, adalah yang paling tinggi kadar ketaatan
> pada kode etiknya. Dan IDI mengontrolnya dengan ketat –lewat dewan etiknya.
>
> Saya sering melontarkan tantangan: ayo buka-bukaan. Dalam satu forum
> profesi. Temanya: siapa di antara organisasi profesi yang paling rusak
> –yang pelanggaran kode etiknya paling parah. Itu sebagai bagian dari misi
> agar para pekerja profesi lebih taat pada kode etik mereka.
>
> Terjadinya pelanggaran etika di berbagai profesi jelas: karena uang. Atau
> jabatan. Atau fasilitas. Dan ini bagian yang sangat memalukan dari sebuah
> profesi.
>
> Tapi, ini dia: pelanggaran etika yang dilakukan Terawan tidak ada
> hubungannya dengan uang atau jabatan atau fasilitas. Itu murni masalah
> keilmuan –mengerjakan menyembuhkan di luar ilmu kedokteran.
>
> Maka, Terawan tidak perlu malu dipecat dari IDI. Pun kalau salah –dalam
> Islam– ia masih harus dapat pahala.
>
> ”Salah” di situ bisa dibuktikan dengan jatuhnya korban –saya dua kali
> menjalani cuci otak: baik-baik saja. Saya dan banyak relawan mendapatkan
> VakNus –alhamdulillah, Anda sudah tahu, baik semua. (Dahlan Iskan)
>
> Sent from Rogers Yahoo Mail on Android
> <https://go.onelink.me/107872968?pid=InProduct&c=Global_Internal_YGrowth_AndroidEmailSig__AndroidUsers&af_wl=ym&af_sub1=Internal&af_sub2=Global_YGrowth&af_sub3=EmailSignature>
>
> On Mon., Mar. 28, 2022 at 3:10 a.m., B.H. Jo
> <[email protected]> wrote:
> *Tambahan: *
> *Apa motifnya membuat terapi baru walaupun tidak teruji dimana sudah ada
> terapi standar yg. teruji?*
>
> *1) Cari nama dan*
> *2) Cari uang berlebihan dengan mengabaikan atau dgn. potensi mengorbankan
> kesejahteraan pasien2/masyarakat.*
>
> *Ini adalah tindakan pelanggaan etika profesi (professional misconduct).*
>
> *BH Jo*
>
> On Monday, March 28, 2022, 12:41:06 AM MDT, 'B.H. Jo' via GELORA45 <
> [email protected]> wrote:
>
>
> Dokter sebagai "anggota" dari profesi dokter (seperti, misalnya, IDI), dr.
> Terwan harus hanya melakukan metode pengobatan yg. telah teruji klinis
> (proven by a clinical trial about its effectiveness and potential
> side-effects/complications) sebagai terapi/perawatan standar ("standard of
> care"). Kalau belum teruji klinis (undergone a clinical trial), dokter
> tidak boleh melakukan pengobatan yg. belum teruji klinis.
>
> dr. Terawan telah melakukan terapi atau prosedur utk. stroke otak yg.
> dinamakan "cuci otak" secara TIDAK ETIS. Stroke otak terjadi karena
> pembuluh darah yg memberi "makan" (antara lain oxygen) ke-otak, tersumbat
> oleh gumpalan darah (blood clot) yg. terbawa dialiran darah ke otak.
> Kesumbatan dari pembuluh darah ke otak juga bisa terjadi kalau diding dari
> pembuluh darah terus menjadi sempit karena adanya proses arteriosklerosis
> di diding pembuluh darah yg. bersangkutan.
>
> Stroke otak sudah ada terapi standarnya yg. telah teruji klinis (yg.
> dipakai diseluruh dunia). Dan dr. Terawan melakukan terapi baru yg.
> berlainan dgn. terapi standar tanpa diuji klinis lebih dulu. Contoh: Cara
> melakukan uji klinis utk. terapi baru utk. stroke otak atau terapi utk.
> penyakit lain, seperti berikut: dr. Terawan harus minta ijin kpd. IDI/yg. 
> *berwenang
> bagian "uji klinis"*. Dan dia harus menunjukan protokol uji klinisnya
> kpd. yg. *berwenang* dimana terapi baru (yg. belum teruji) dibandingkan
> dgn. terapi standar (yg. telah teruji ber-tahun2). Misal: akan diperlukan
> paling sedikit 200 pasien yg. akan "mendapat terapi baru" dan 200 pasien
> yg. akan "mendapat terapi standar". Kemudian mereka semua diawasi utk.
> beberapa lama. Setelah waktu tertentu, kita bisa melihat berapa yg. sembuh
> dan berapa yg. mendapat komplikasi dari terapi baru dibandingkan dgn.
> terapi standar dimana statistik canggih akan dipakai utk. mendapat hasil
> perbandingannya (yg. bisa dipercaya). *Terang kalau terapi baru hasil
> kesembuhannya kalah dgn./lebih sedikit dari terapi standar atau hasil
> komplikasi dari terapi lebih banyak, terapi baru TIDAK boleh dipakai utk.
> terapi sebagai pengganti dari terapi standar.*
>
> Yg. telah dilakukan oleh dr. Terawan adalah terapi "cuci otak" yg. belum
> diuji klinis (clinical trial Phase III). *Dan dia melakukan terapi
> barunya yg. belum teruji sebagai pengganti terapi standar.* *Jadi
> barangkali telah banyak pasien2 yg. dirugikan tetapi kita/pasien2 nya tidak
> mengetahuinya.* Tindakan medisnya adalah TIDAK ETIS kalau disini namanya
> dia telah melakukan *"professional misconduct". *Saya juga pernah bekerja
> di Jerman dan  tindakan dr. Terawan juga disana pasti dianggap melanggar
> etika kedokteran.
>
> 4-5 tahun yg. lalu saya menggikuti diskusi terapi "cuci otak" dari dr.
> Terawan tetapi tidak ingat secara detailnya lagi tetapi terapinya tidak
> bisa masuk diakal. Juga rencana pembuatan vaksin "Nusantara" dari dr.
> Terawan, tidak masuk diakal (does not make any sense). Kami diskusikan
> vaksin Nusantara dgn. anggota2 medical group dari US/Canada/Europe, kami
> juga geleng2 kepala dgn ide-nya.
>
> *Sudah betul sekali, IDI mencabut ijin praktek dari dr. Terawan, yg. telah
> membahayakan pasien2 dan masyarakat di Indonesia*.* Cuma IDI kurang
> tegas, semestinya ijin praktenya sudah harus dicabut beberapa tahun yg.
> lalu. Tetapi ada ungkapan:* *"Better late than never".*
>
> Salam,
> BH Jo
>
> On Sunday, March 27, 2022, 07:33:29 PM MDT, BILLY GUNADIE <
> [email protected]> wrote:
>
>
>
>
> Sent from Rogers Yahoo Mail on Android
> <https://go.onelink.me/107872968?pid=InProduct&c=Global_Internal_YGrowth_AndroidEmailSig__AndroidUsers&af_wl=ym&af_sub1=Internal&af_sub2=Global_YGrowth&af_sub3=EmailSignature>
>
> On Sun., Mar. 27, 2022 at 9:09 p.m., Chan CT
> <[email protected]> wrote:
> Saya awam kedokteran, jadi TIDAK JELAS sampai dimana kebenaran ilmiah
> terapi “cuci otak” juga vaksin Merah Putih yang diajukan dr. Terawan itu,
> ...
> Tapi, dari yang saya baca dimedsos, disamping pertentangan ilmiah
> kedokteran juga ada pertentangan kepentingan antara IDI dan dr. Terawan itu
> yang kemudian dituduh telah melanggar ketentuan moral-etika kedokteran IDI.
> Yang satu menganggap kebijakan sosial dr. Terawan itu bisa menggempur
> kepentingan pengusaha yang dibela IDI, ...? Entahlah bagaimana konkritnya.
>
> Jadi, mestinya penemuan pengobatan dr. Terawan itu tidak ditekan, ditindas
> begitu saja, tapi bisa diperdebatkan secara ilmiah dan dibuktikan lebih
> lanut! Kalau saja pengembangan/penemuan dr. Terawan itu yang sekarang ini
> dituduh pelanggaran, siapa tahu justru itulah yang benar dan sebaiknya
> dikembangkan. Atau katakanlah juga masih ada kekurangan yang perlu
> disempurnakan, ... tapi kesitulah arah pengembangan agar manusia bisa hidup
> lebih baik dan sehat?
>
> Salam,
> ChanCT
>
>
> *From:* 'B.H. Jo' via GELORA45
> *Sent:* Sunday, March 27, 2022 11:32 AM
> *To:* GELORA45_In
> *Subject:* Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci
> Otak'-Vaksin Merah Putih
>
> Mestinya dr. Terawan sudah dipecat beberapa tahun yg lalu waktu dia mulai
> melakukan terapi cuci otak (yg tidak berdasarkan ilmu yg benar) , yg akan
> merugikan pasien2.
>
> BH Jo
>
> On Saturday, March 26, 2022, 08:00:04 PM MDT, Chan CT <
> [email protected]> wrote:
>
>
> *Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih*
> Kadek Melda Luxiana - detikNews
> Minggu, 27 Mar 2022 07:57 WIB
> [image: Menko Polhukam Mahfud Md]
>
> Foto: Dok. Kemenko Polhukam
>
> Jakarta - Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dipecat dari
> keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Menko Polhukam Mahfud Md mengaku
> pernah menjalani terapi cuci otak oleh dokter Terawan dan divaksin merah
> putih.
> Terawan dan IDI sendiri memiliki hubungan yang panas dingin. Hubungan
> panas dingin itu mulai terjadi sejak munculnya terapi 'cuci otak'.
>
> Kembali ke Mahfud, dia mengatakan sudah dua kali terapi cuci otak. Karena
> merasa hasil terapi cuci otak bagus, dia kemudian mengajak istrinya untuk
> ikut terapi.
>
>
> "Saya pernah dua kali cuci otak atau DSA (Digital Subtraction Angiography)
> ke dokter Terawan, yakni, ketika masih ketua MK sekitar tahun 2011 dan pada
> tahun 2017. Saya bukan ahli medis tapi kalau perasaan saya sih hasilnya
> bagus, keluhan langsung hilang. Makanya saya sampai dua kali dan yang kedua
> mengajak istri," kata Mahfud kepada detikcom, Sabtu (26/3/2022).
>
> Baca juga:
> Disuntik Vaksin Nusantara, Legislator Kecewa Terawan Dipecat IDI
>
> Selain pernah terapi dengan dokter Terawan, Mahfud menuturkan dirinya juga
> mendapat suntikan vaksin Nusantara yang dicetuskan oleh Terawan. Mahfud
> mengaku usai mendapat vaksin Nusantara, imun tubuhnya meningkat.
>
> "Saya juga sudah ikut minta vaksin Nusantara yang digarap oleh Pak Terawan
> sebelum dapat vaksin booster. Waktu mau booster dulu kan pejabat non-tendis
> (tenaga medis) atau TNI/Polri masih harus antre atau menunggu, tak bisa
> cepat. Saya juga tak mau cari-cari booster lewat jalan tol," ujarnya.
>
> "Ketika saya minta booster dan diberi tahu oleh Menkes bahwa selain tendis
> dan TNI/POLRI belum boleh boostet maka saya ambil vaksin Nusantara.
> Antibodi saya naik tinggi setelah divaksin Nusantara," lanjutnya.
>
> Baca juga:
> Adib Khumaidi Dikukuhkan Jadi Ketum PB IDI 2022-2025
>
> Meski merasa hasil kerja dokter Terawan bagus, Mahfud tidak bisa
> memberikan komentar terkait dipecatnya dokter Terawan dari IDI sebab sudah
> ada mekanisme dan aturan tersendiri. Namun yang terpenting baginya asalah
> kesembuhan dan imun tubuh meningkat.
>
> "Saya bukan ahli medis, jadi saya tidak bisa menanggapi apa pun terkait
> pemberhentian Pak Terawan dari IDI. Itu sudah ada aturan dan mekanisme
> tersendiri. Kalau saya sendiri sih yang penting sembuh atau imun dari
> virus," imbuhnya.
>
> Baca berita selengkapnya di halaman berikut
>
>
> Simak Video 'Sederet Kontroversi Terawan Hingga Dipecat IDI':
>
>
>
>
>
>
>
> Sebelumnya, kabar pemecatan Terawan Agus Putranto dari IDI dibenarkan oleh
> Ketua Panitia Muktamar Ke-31 IDI dr Nasrul Musadir Alsa. Pemecatan itu
> berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI.
>
> "Iya (dipecat), dari hasil muktamar yang kami terima ya. Dari hasil yang
> kita terima yang diserahkan panitia memang begitu, (sesuai) MKEK iya," kata
> Nasrul saat dimintai konfirmasi, Sabtu (26/3).
>
> Baca juga:
> Pimpinan DPR Khawatir Terawan Dipecat IDI Bikin Dokter Takut Berinovasi
>
> Nasrul mengatakan Terawan kini tak lagi bisa membuka praktik dokter. Hal
> itu lantaran Terawan tidak bisa lagi mengurus surat izin praktik (SIP).
>
> "Ya mestinya begitu ya, kan tidak bisa urus SIP dan sebagainya ya," kata
> Nasrul.
>
> (dek/dnu)
>
> Baca artikel detiknews, "Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci
> Otak'-Vaksin Merah Putih" selengkapnya
> https://news.detik.com/berita/d-6002776/terawan-dipecat-idi-mahfud-md-cerita-dicuci-otak-vaksin-merah-putih
> .
>
> Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DB447898EA6E4EA996594AB87B9FC483%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DB447898EA6E4EA996594AB87B9FC483%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1896328456.378107.1648351934643%40mail.yahoo.com
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1896328456.378107.1648351934643%40mail.yahoo.com?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DEFBCAA8B546499489C1268A05F66BDC%40A10Live
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DEFBCAA8B546499489C1268A05F66BDC%40A10Live?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1200279699.504553.1648449660657%40mail.yahoo.com
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1200279699.504553.1648449660657%40mail.yahoo.com?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/643607943.517631.1648458447446%40mail.yahoo.com
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/643607943.517631.1648458447446%40mail.yahoo.com?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/680310812.570336.1648478832873%40mail.yahoo.com
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/680310812.570336.1648478832873%40mail.yahoo.com?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/tny2res7vx5254iua9i0ddcq.1648637159486%40email.android.com
> <https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/tny2res7vx5254iua9i0ddcq.1648637159486%40email.android.com?utm_medium=email&utm_source=footer>
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAGjSX2CL3ZefsTwYtho9A%2Bb2%2BVTB%3DROf9KsAVMQUzBROKeWV5g%40mail.gmail.com.

Reply via email to