Yah baca saja tulisannya Dahlan Iskan salah seorang pasiennya. Normal nggak Dahlan Iskan itu?
Am Tue, 29 Mar 2022 07:24:51 +0530 schrieb ehhlin <[email protected]>: > Benar atau tidak satu theory adalah dibuktikan dengan di-praktek-kan > theory itu. Dr. Tewaran menurut yg. pernah saya baca telah men > cuci-otak itu terhadap 40,000-han (?) pasien , kenapa TAK diteliti > kembali para pasien itu, tentu ada record dari para pasien, > bagimana keadaan para pasien itu sekarang , apa "cuci-otak" itu > berhasil atau tidak, berada prosen gagal, berada prosen berhasil > dll.Jumlah 40,000 pasien itu sangat besar!!!Lin. > > > > > Sent from my Samsung Galaxy smartphone. > -------- Original message --------From: BILLY GUNADIE > <[email protected]> Date: 28/03/2022 8:17 p.m. (GMT+05:30) > To: [email protected], [email protected], GELORA45_In > <[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat > IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih Sepengetahuan > saya...IDI itu tidak berfungsi ...?BPJS...kenapa tidak > universal...ada yang ikut program ...ada yang tidak .Di Jerman juga > ada Ikatan dokter...pake sticker jarum dan uler.... Kebanyakan Mobil > dokter tidak mau pasang sticker, karena ada sangsinya... hypocrite > oath... Juga harus menolong nyawa orang....misalnya ada car > accident... Dokter tidak boleh meninggalkan begitu saja...Dan juga di > pengaruhi oleh pharmaceutical company...dengan insentive... Tour > packages...atau bonus...?Nyawa manusia jadi tidak relevant > lagi...?Juga kwalitas dokter badan diragukan...Terbukti ..pandemik .. > vaccine...yang terburu buru...klinikal uji...1-3...?Dan terbukti... > vaccine tidak menjadiksn kemebalan... Pfizer... Modena..Tidak ada > sangsinya....?Kenapa tidak ada data statistic Dr. Terawan. .sukses > dan kematian atas tetapinya....?Cuci otak....juga Di tolak di > Eropah ...Banyak juga teori yang di tolak..Antara lain guntingan > kertas koran Wegener soal plate tektonik... ? > > > > Sent from Rogers Yahoo Mail on Android > On Mon., Mar. 28, 2022 at 10:17 a.m., B.H. Jo<[email protected]> > wrote: Dahlan Iskan adalah seorang analis politik. Namun masalah dr. > Terawan adalah masalah medik yg. harus dianalisa dari segi sain medik > (medical science) dan bukan dianalisa dari segi politik. Kalau > Terawan mau membuka praktek seperti dukun atau penjual obat dipasar, > ya, boleh saja (bedasarkan hukum yg. ada di Indonesia) tetapi tidak > boleh memakai nama dokter atau profesor yg. dipakai oleh organisasi > dokter (IDI). IDI harus melindungi nama dan kredebilitas dokter2 lain > dibawah organisasinya dimana terapi atau perawatan harus berdasarkan > sain medik. Kalau pasien2 dari Terawan mendapat kerugian kesehatan > dari metodenya yg. belum teruji, ya langsung berhadapan dgn. polisi > kriminal. BH Jo > > > > > > > On Monday, March 28, 2022, 03:07:41 AM MDT, BILLY > GUNADIE <[email protected]> wrote: > > > > > Oleh : Dahlan Iskan28 03 2022 > APAKAH Terawan bukan lagi dokter? Setelah > dipecat secara permanen dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI)? Tentu > Terawan tetap dokter. Sepanjang ijazah dokternya tidak dicabut –oleh > universitas yang memberikannya: Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia juga > tetap dokter sepanjang ilmu kedokterannya tidak dicabut dari otaknya > –oleh Tuhannya: Yesus. Apakah Terawan masih bisa buka praktik sebagai > dokter? Sepanjang pemerintah masih mengizinkan, Terawan tetap bisa > praktik. Apakah Terawan masih bisa bekerja di rumah sakit –RS Pusat > Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta? Sepanjang direktur di > RS tersebut masih memercayainya, Terawan tetap bisa bekerja di > sana. Intinya: semua terserah pemerintah. Yang mengeluarkan izin itu > pemerintah –Kementerian Kesehatan. Bukan IDI. Masalahnya: dengan > pangkat yang sudah letnan jenderal TNI-AD, apakah Terawan masih > memerlukan untuk berpraktik sebagai mata pencaharian. Jabatan di > dunia kedokteran juga sudah mencapai puncak: menteri kesehatan. > Sebelum itu pun sudah direktur RSPAD. Sebagai ilmuwan, Terawan juga > sudah mencapai puncaknya: bergelar doktor. Inilah dokter dengan > capaian tertinggi yang pernah dipecat secara permanen dari IDI. IDI > adalah organisasi. Semua anggotanya harus dokter. Sebagai organisasi > biasa, IDI punya aturan dasar (AD/ART) yang harus ditaati. Sebagai > organisasi profesi, IDI punya kode etik yang juga harus diikuti. > Rasanya Terawan dianggap lebih melanggar kode etik daripada melanggar > AD/ART. Itu bisa dilihat dari proses pemecatannya: lewat > sidang-sidang dewan etika dokter. Yakni, satu lembaga yang mengawasi > apakah seorang dokter melanggar etika kedokteran atau tidak. Apakah > karena Terawan gigih ”melahirkan” Vaksin Nusantara di awal pandemi, > lalu dianggap melanggar kode etik IDI? Rasanya bukan itu. VakNus itu > murni soal izin dari BPOM. Izin tersebut tidak keluar karena VakNus > tidak memenuhi kriteria definisi vaksin. Saya pun pernah menulis: > mengapa Terawan ngotot menyebutnya vaksin. Mengapa, misalnya, tidak > menyebutnya terapi dendritik. Toh, para dokter yang mempraktikkan > stem cell atau PRP atau juga cell cure tidak ada yang dipecat dari > IDI. Rasanya pemecatan ini masih terkait dengan cuci otak. Yang > dikembangkannya jauh sebelum VakNus. Ia pernah dipecat sementara dari > IDI di soal cuci otak itu. Terawan dianggap tidak mau > mempertanggungjawabkannya secara ilmu kedokteran di depan IDI. Waktu > itu ributnya juga luar biasa. Tidak kalah dengan VakNus. Medsos belum > seeksis sekarang. Keriuhan waktu itu hanya terlihat di media > mainstream. Saking ributnya, saya sampai ingin mencoba sendiri. Saya > ke RSPAD. Saya minta dilakukan ”cuci otak”. Masih dr Terawan sendiri > yang mengerjakan. Belum seperti sekarang –sudah banyak dokter binaan > Terawan yang bisa melakukannya. Lalu, saya menulis pengalaman saya > menjalani praktik cuci otak itu (lihat Disway, 19/3/2021: Empat Misi > Terawan). Sampai dua atau tiga seri. Istri saya minta terapi itu > juga. Syaratnya: saya harus bersamanya. Maka, dua kali saya menjalani > cuci otak. Begitu banyak tokoh nasional yang juga menjalaninya > –sebelum dan sesudah saya. Lebih banyak lagi yang bukan tokoh: sudah > lebih dari 40.000 orang. Terawan dianggap tidak pernah mau > mempertanggungjawabkan itu. Sebenarnya ia bisa minta: agar pemecatan > sementaranya itu ditinjau. Lewat muktamar IDI berikutnya. Terawan > tidak mau memanfaatkan proses itu. Sampailah ada Muktamar IDI 2022. > Di Aceh. Pekan lalu. Status pemecatan sementara itu tidak boleh terus > menggantung: Terawan dipecat secara permanen. Di masa lalu Terawan > mengatakan: pernah memberikan penjelasan yang diminta. IDI menganggap > belum cukup. Terawan menganggap cukup. IDI terus mempersoalkan. > Terawan memilih diam seribu bahasa –sambil terus mempraktikkan terapi > cuci otak. Belakangan Terawan menulis disertasi: untuk meraih gelar > doktor. Di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Disertasinya > soal cuci otak itu. Terawan pernah mengatakan kepada saya: itulah > pertanggungjawaban tertinggi secara ilmiah soal cuci otak. Disertasi > itu diterima tim penguji di Unhas. Terawan berhak atas gelar doktor > cuci otak. Terawan tidak melayani permintaan IDI. Ia abaikan begitu > saja. Apakah tanpa menjadi anggota IDI Terawan masih dokter? Anda > sudah tahu. Masalahnya, tidak ada organisasi dokter di luar IDI. > Berarti, Terawan adalah dokter independen. Di antara > organisasi-organisasi profesi (dokter, wartawan, pengacara, dan yang > sejenis), IDI memang paling solid. Semua organisasi profesi sudah > tidak tunggal lagi. Organisasi wartawan tidak lagi hanya PWI. > Organisasi pengacara lebih banyak lagi. Hanya para dokter yang tidak > mau membentuk organisasi di luar IDI. Mungkin itu karena ada > legalitas yang kuat untuk IDI: izin praktik dokter tidak bisa > diterbitkan kalau tidak ada rekomendasi IDI. Di situ tertulis > eksplisit: IDI. Bukan organisasi dokter. Saya tidak tahu apakah sudah > ada yang mempersoalkan ”monopoli” IDI itu secara hukum. Tapi, harus > diakui: IDI adalah organisasi profesi yang paling ketat mengontrol > anggotanya. Yang terketat. Organisasi wartawan begitu longgar. Pun > organisasi advokat. Pelanggaran etika wartawan dan etika advokat > begitu banyak. Padahal, sebuah profesi tanpa pengawasan kode etik > sangat bahaya. Salah satu kriteria sebuah pekerjaan bisa disebut > profesi adalah: apabila pekerjanya memiliki otonomi untuk melakukan > atau tidak melakukan. Seorang dokter harus memutuskan sendiri obat > apa yang harus diberikan ke pasien. Berdasar ilmu yang mereka kuasai. > Dokter tidak bisa didikte siapa pun dalam mendiagnosis dan memberikan > obat. Wartawan seharusnya juga begitu. Ia punya otonomi untuk menulis > apa pun atau tidak menulis apa pun. Bukan karena disuruh atau > dilarang oleh siapa pun –termasuk oleh penguasa dan pemilik amplop: > tepatnya pemilik isi amplop. Pun pengacara: semestinya membela yang > ia anggap benar dan keadilan harus ditegakkan –apa pun risikonya. > Dokter, menurut pengamatan saya, adalah yang paling tinggi kadar > ketaatan pada kode etiknya. Dan IDI mengontrolnya dengan ketat –lewat > dewan etiknya. Saya sering melontarkan tantangan: ayo buka-bukaan. > Dalam satu forum profesi. Temanya: siapa di antara organisasi profesi > yang paling rusak –yang pelanggaran kode etiknya paling parah. Itu > sebagai bagian dari misi agar para pekerja profesi lebih taat pada > kode etik mereka. Terjadinya pelanggaran etika di berbagai profesi > jelas: karena uang. Atau jabatan. Atau fasilitas. Dan ini bagian yang > sangat memalukan dari sebuah profesi. Tapi, ini dia: pelanggaran > etika yang dilakukan Terawan tidak ada hubungannya dengan uang atau > jabatan atau fasilitas. Itu murni masalah keilmuan –mengerjakan > menyembuhkan di luar ilmu kedokteran. Maka, Terawan tidak perlu malu > dipecat dari IDI. Pun kalau salah –dalam Islam– ia masih harus dapat > pahala. ”Salah” di situ bisa dibuktikan dengan jatuhnya korban –saya > dua kali menjalani cuci otak: baik-baik saja. Saya dan banyak relawan > mendapatkan VakNus –alhamdulillah, Anda sudah tahu, baik semua. > (Dahlan Iskan) Sent from Rogers Yahoo Mail on Android On Mon., Mar. > 28, 2022 at 3:10 a.m., B.H. Jo<[email protected]> wrote: Tambahan: Apa > motifnya membuat terapi baru walaupun tidak teruji dimana sudah ada > terapi standar yg. teruji? 1) Cari nama dan2) Cari uang berlebihan > dengan mengabaikan atau dgn. potensi mengorbankan kesejahteraan > pasien2/masyarakat. Ini adalah tindakan pelanggaan etika profesi > (professional misconduct). BH Jo > > > > > > > On Monday, March 28, 2022, 12:41:06 AM MDT, 'B.H. > Jo' via GELORA45 <[email protected]> wrote: > > > > > > Dokter sebagai "anggota" dari profesi dokter (seperti, > misalnya, IDI), dr. Terwan harus hanya melakukan metode pengobatan > yg. telah teruji klinis (proven by a clinical trial about its > effectiveness and potential side-effects/complications) sebagai > terapi/perawatan standar ("standard of care"). Kalau belum teruji > klinis (undergone a clinical trial), dokter tidak boleh melakukan > pengobatan yg. belum teruji klinis. > > dr. Terawan telah melakukan terapi atau prosedur utk. stroke otak yg. > dinamakan "cuci otak" secara TIDAK ETIS. Stroke otak terjadi karena > pembuluh darah yg memberi "makan" (antara lain oxygen) > ke-otak, tersumbat oleh gumpalan darah (blood clot) yg. terbawa > dialiran darah ke otak. Kesumbatan dari pembuluh darah ke otak juga > bisa terjadi kalau diding dari pembuluh darah terus menjadi sempit > karena adanya proses arteriosklerosis di diding pembuluh darah yg. > bersangkutan. Stroke otak sudah ada terapi standarnya yg. telah > teruji klinis (yg. dipakai diseluruh dunia). Dan dr. Terawan > melakukan terapi baru yg. berlainan dgn. terapi standar tanpa diuji > klinis lebih dulu. Contoh: Cara melakukan uji klinis utk. terapi baru > utk. stroke otak atau terapi utk. penyakit lain, seperti berikut: dr. > Terawan harus minta ijin kpd. IDI/yg. berwenang bagian "uji klinis". > Dan dia harus menunjukan protokol uji klinisnya kpd. yg. berwenang > dimana terapi baru (yg. belum teruji) dibandingkan dgn. terapi > standar (yg. telah teruji ber-tahun2). Misal: akan diperlukan paling > sedikit 200 pasien yg. akan "mendapat terapi baru" dan 200 pasien yg. > akan "mendapat terapi standar". Kemudian mereka semua diawasi utk. > beberapa lama. Setelah waktu tertentu, kita bisa melihat berapa yg. > sembuh dan berapa yg. mendapat komplikasi dari terapi baru > dibandingkan dgn. terapi standar dimana statistik canggih akan > dipakai utk. mendapat hasil perbandingannya (yg. bisa dipercaya). > Terang kalau terapi baru hasil kesembuhannya kalah dgn./lebih sedikit > dari terapi standar atau hasil komplikasi dari terapi lebih banyak, > terapi baru TIDAK boleh dipakai utk. terapi sebagai pengganti dari > terapi standar. Yg. telah dilakukan oleh dr. Terawan adalah terapi > "cuci otak" yg. belum diuji klinis (clinical trial Phase III). Dan > dia melakukan terapi barunya yg. belum teruji sebagai pengganti > terapi standar. Jadi barangkali telah banyak pasien2 yg. dirugikan > tetapi kita/pasien2 nya tidak mengetahuinya. Tindakan medisnya adalah > TIDAK ETIS kalau disini namanya dia telah melakukan "professional > misconduct". Saya juga pernah bekerja di Jerman dan tindakan dr. > Terawan juga disana pasti dianggap melanggar etika kedokteran. 4-5 > tahun yg. lalu saya menggikuti diskusi terapi "cuci otak" dari dr. > Terawan tetapi tidak ingat secara detailnya lagi tetapi terapinya > tidak bisa masuk diakal. Juga rencana pembuatan vaksin "Nusantara" > dari dr. Terawan, tidak masuk diakal (does not make any sense). Kami > diskusikan vaksin Nusantara dgn. anggota2 medical group dari > US/Canada/Europe, kami juga geleng2 kepala dgn ide-nya. Sudah betul > sekali, IDI mencabut ijin praktek dari dr. Terawan, yg. telah > membahayakan pasien2 dan masyarakat di Indonesia. Cuma IDI kurang > tegas, semestinya ijin praktenya sudah harus dicabut beberapa tahun > yg. lalu. Tetapi ada ungkapan: "Better late than never". Salam,BH Jo > On Sunday, March 27, 2022, 07:33:29 PM MDT, BILLY GUNADIE > <[email protected]> wrote: > > > > > > Sent from Rogers Yahoo Mail on Android > On Sun., Mar. 27, 2022 at 9:09 p.m., Chan CT<[email protected]> > wrote: > > > Saya awam kedokteran, jadi TIDAK JELAS sampai dimana kebenaran > ilmiah terapi “cuci otak” juga vaksin Merah Putih yang diajukan dr. > Terawan itu, ... > Tapi, dari yang saya baca dimedsos, disamping pertentangan > ilmiah kedokteran juga ada pertentangan kepentingan antara IDI dan > dr. Terawan itu yang kemudian dituduh telah melanggar ketentuan > moral-etika kedokteran IDI. Yang satu menganggap kebijakan sosial dr. > Terawan itu bisa menggempur kepentingan pengusaha yang dibela > IDI, ...? Entahlah bagaimana konkritnya. > > Jadi, mestinya penemuan pengobatan dr. Terawan itu tidak > ditekan, ditindas begitu saja, tapi bisa diperdebatkan secara ilmiah > dan dibuktikan lebih lanut! Kalau saja pengembangan/penemuan dr. > Terawan itu yang sekarang ini dituduh pelanggaran, siapa tahu justru > itulah yang benar dan sebaiknya dikembangkan. Atau katakanlah juga > masih ada kekurangan yang perlu disempurnakan, ... tapi kesitulah > arah pengembangan agar manusia bisa hidup lebih baik dan sehat? > > Salam, > ChanCT > > > > > > From: 'B.H. Jo' via GELORA45 > Sent: Sunday, March 27, 2022 11:32 AM > To: GELORA45_In > Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita > 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih > > > > > Mestinya dr. Terawan sudah dipecat beberapa > tahun yg lalu waktu dia mulai melakukan terapi cuci otak (yg tidak > berdasarkan ilmu yg benar) , yg akan merugikan pasien2. > > BH Jo > > > > On Saturday, March 26, 2022, 08:00:04 PM MDT, Chan CT > <[email protected]> wrote: > > > > > > > > Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah > Putih > Kadek > Melda Luxiana - detikNews > Minggu, > 27 Mar 2022 07:57 WIB > > > Foto: > Dok. Kemenko Polhukam > > Jakarta > - Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dipecat dari > keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Menko Polhukam Mahfud Md > mengaku pernah menjalani terapi cuci otak oleh dokter Terawan dan > divaksin merah putih. Terawan > dan IDI sendiri memiliki hubungan yang panas dingin. Hubungan panas > dingin itu mulai terjadi sejak munculnya terapi 'cuci otak'. > > Kembali > ke Mahfud, dia mengatakan sudah dua kali terapi cuci otak. Karena > merasa hasil terapi cuci otak bagus, dia kemudian mengajak istrinya > untuk ikut terapi. > > > "Saya > pernah dua kali cuci otak atau DSA (Digital Subtraction Angiography) > ke dokter Terawan, yakni, ketika masih ketua MK sekitar tahun 2011 > dan pada tahun 2017. Saya bukan ahli medis tapi kalau perasaan saya > sih hasilnya bagus, keluhan langsung hilang. Makanya saya sampai dua > kali dan yang kedua mengajak istri," kata Mahfud kepada detikcom, > Sabtu (26/3/2022). > > Baca > juga: > Disuntik > Vaksin Nusantara, Legislator Kecewa Terawan Dipecat IDI > > Selain > pernah terapi dengan dokter Terawan, Mahfud menuturkan dirinya juga > mendapat suntikan vaksin Nusantara yang dicetuskan oleh Terawan. > Mahfud mengaku usai mendapat vaksin Nusantara, imun tubuhnya > meningkat. > > "Saya > juga sudah ikut minta vaksin Nusantara yang digarap oleh Pak Terawan > sebelum dapat vaksin booster. Waktu mau booster dulu kan pejabat > non-tendis (tenaga medis) atau TNI/Polri masih harus antre atau > menunggu, tak bisa cepat. Saya juga tak mau cari-cari booster lewat > jalan tol," ujarnya. > > "Ketika > saya minta booster dan diberi tahu oleh Menkes bahwa selain tendis > dan TNI/POLRI belum boleh boostet maka saya ambil vaksin Nusantara. > Antibodi saya naik tinggi setelah divaksin Nusantara," lanjutnya. > > Baca > juga: > Adib > Khumaidi Dikukuhkan Jadi Ketum PB IDI 2022-2025 > > Meski > merasa hasil kerja dokter Terawan bagus, Mahfud tidak bisa memberikan > komentar terkait dipecatnya dokter Terawan dari IDI sebab sudah ada > mekanisme dan aturan tersendiri. Namun yang terpenting baginya asalah > kesembuhan dan imun tubuh meningkat. > > "Saya > bukan ahli medis, jadi saya tidak bisa menanggapi apa pun terkait > pemberhentian Pak Terawan dari IDI. Itu sudah ada aturan dan > mekanisme tersendiri. Kalau saya sendiri sih yang penting sembuh atau > imun dari virus," imbuhnya. > > Baca > berita selengkapnya di halaman berikut > > > Simak > Video 'Sederet Kontroversi Terawan Hingga Dipecat IDI': > > > > > > > > Sebelumnya, > kabar pemecatan Terawan Agus Putranto dari IDI dibenarkan oleh Ketua > Panitia Muktamar Ke-31 IDI dr Nasrul Musadir Alsa. Pemecatan itu > berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI. > > "Iya > (dipecat), dari hasil muktamar yang kami terima ya. Dari hasil yang > kita terima yang diserahkan panitia memang begitu, (sesuai) MKEK > iya," kata Nasrul saat dimintai konfirmasi, Sabtu (26/3). > > Baca > juga: > Pimpinan > DPR Khawatir Terawan Dipecat IDI Bikin Dokter Takut > Berinovasi > > Nasrul > mengatakan Terawan kini tak lagi bisa membuka praktik dokter. Hal itu > lantaran Terawan tidak bisa lagi mengurus surat izin praktik (SIP). > > "Ya > mestinya begitu ya, kan tidak bisa urus SIP dan sebagainya ya," kata > Nasrul. > > (dek/dnu) > > Baca > artikel detiknews, "Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci > Otak'-Vaksin Merah Putih" > selengkapnya > https://news.detik.com/berita/d-6002776/terawan-dipecat-idi-mahfud-md-cerita-dicuci-otak-vaksin-merah-putih. > > Download > Apps Detikcom Sekarang > https://apps.detik.com/detik/-- > > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup > ini, kirim email ke [email protected]. > Untuk > melihat diskusi ini di web, kunjungi > https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DB447898EA6E4EA996594AB87B9FC483%40A10Live. -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220329102006.782f1fb6%40lilik-ThinkPad-T420s.
