Yah baca saja tulisannya Dahlan Iskan salah seorang pasiennya. Normal
nggak Dahlan Iskan itu?



Am Tue, 29
Mar 2022 07:24:51 +0530 schrieb ehhlin <[email protected]>:

> Benar atau tidak satu theory adalah dibuktikan dengan di-praktek-kan
> theory itu. Dr. Tewaran menurut yg. pernah saya baca telah men
> cuci-otak itu terhadap 40,000-han (?) pasien , kenapa TAK diteliti
> kembali para pasien itu, tentu ada record dari para  pasien,
> bagimana keadaan para pasien itu sekarang , apa "cuci-otak" itu
> berhasil atau tidak, berada prosen gagal, berada prosen berhasil
> dll.Jumlah 40,000 pasien itu sangat  besar!!!Lin.  
> 
> 
> 
> 
> Sent from my Samsung Galaxy smartphone.
> -------- Original message --------From: BILLY GUNADIE
> <[email protected]> Date: 28/03/2022  8:17 p.m.  (GMT+05:30)
> To: [email protected], [email protected], GELORA45_In
> <[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat
> IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih Sepengetahuan
> saya...IDI itu tidak berfungsi ...?BPJS...kenapa tidak
> universal...ada yang ikut program ...ada yang tidak .Di Jerman juga
> ada Ikatan dokter...pake sticker jarum dan uler.... Kebanyakan Mobil
> dokter tidak mau pasang sticker, karena ada sangsinya... hypocrite
> oath... Juga harus menolong nyawa orang....misalnya ada car
> accident... Dokter tidak boleh meninggalkan begitu saja...Dan juga di
> pengaruhi oleh pharmaceutical company...dengan insentive... Tour
> packages...atau bonus...?Nyawa manusia jadi tidak relevant
> lagi...?Juga kwalitas dokter badan diragukan...Terbukti ..pandemik ..
> vaccine...yang terburu buru...klinikal uji...1-3...?Dan terbukti...
> vaccine tidak menjadiksn kemebalan... Pfizer... Modena..Tidak ada
> sangsinya....?Kenapa tidak ada data statistic Dr. Terawan. .sukses
> dan kematian atas tetapinya....?Cuci otak....juga Di tolak di
> Eropah ...Banyak juga teori yang di tolak..Antara lain guntingan
> kertas koran Wegener soal plate tektonik... ?
> 
> 
> 
> Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
>    On Mon., Mar. 28, 2022 at 10:17 a.m., B.H. Jo<[email protected]>
> wrote: Dahlan Iskan adalah seorang analis politik. Namun masalah dr.
> Terawan adalah masalah medik yg. harus dianalisa dari segi sain medik
> (medical science) dan bukan dianalisa dari segi politik. Kalau
> Terawan mau membuka praktek seperti dukun atau penjual obat dipasar,
> ya, boleh saja (bedasarkan hukum yg. ada di Indonesia) tetapi tidak
> boleh memakai nama dokter atau profesor yg. dipakai oleh organisasi
> dokter (IDI). IDI harus melindungi nama dan kredebilitas dokter2 lain
> dibawah organisasinya dimana terapi atau perawatan harus berdasarkan
> sain medik.  Kalau pasien2 dari Terawan mendapat kerugian kesehatan
> dari metodenya yg. belum teruji, ya langsung berhadapan dgn. polisi
> kriminal. BH Jo
> 
>         
>         
>             
>                 
>                 
>                     On Monday, March 28, 2022, 03:07:41 AM MDT, BILLY
> GUNADIE <[email protected]> wrote: 
>                 
> 
>                 
> 
>                 Oleh : Dahlan Iskan28 03 2022
>                       APAKAH Terawan bukan lagi dokter? Setelah
> dipecat secara permanen dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI)? Tentu
> Terawan tetap dokter. Sepanjang ijazah dokternya tidak dicabut –oleh
> universitas yang memberikannya: Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia juga
> tetap dokter sepanjang ilmu kedokterannya tidak dicabut dari otaknya
> –oleh Tuhannya: Yesus. Apakah Terawan masih bisa buka praktik sebagai
> dokter? Sepanjang pemerintah masih mengizinkan, Terawan tetap bisa
> praktik. Apakah Terawan masih bisa bekerja di rumah sakit –RS Pusat
> Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta? Sepanjang direktur di
> RS tersebut masih memercayainya, Terawan tetap bisa bekerja di
> sana. Intinya: semua terserah pemerintah. Yang mengeluarkan izin itu
> pemerintah –Kementerian Kesehatan. Bukan IDI. Masalahnya: dengan
> pangkat yang sudah letnan jenderal TNI-AD, apakah Terawan masih
> memerlukan untuk berpraktik sebagai mata pencaharian. Jabatan di
> dunia kedokteran juga sudah mencapai puncak: menteri kesehatan.
> Sebelum itu pun sudah direktur RSPAD. Sebagai ilmuwan, Terawan juga
> sudah mencapai puncaknya: bergelar doktor. Inilah dokter dengan
> capaian tertinggi yang pernah dipecat secara permanen dari IDI. IDI
> adalah organisasi. Semua anggotanya harus dokter. Sebagai organisasi
> biasa, IDI punya aturan dasar (AD/ART) yang harus ditaati. Sebagai
> organisasi profesi, IDI punya kode etik yang juga harus diikuti.
> Rasanya Terawan dianggap lebih melanggar kode etik daripada melanggar
> AD/ART. Itu bisa dilihat dari proses pemecatannya: lewat
> sidang-sidang dewan etika dokter. Yakni, satu lembaga yang mengawasi
> apakah seorang dokter melanggar etika kedokteran atau tidak. Apakah
> karena Terawan gigih ”melahirkan” Vaksin Nusantara di awal pandemi,
> lalu dianggap melanggar kode etik IDI? Rasanya bukan itu. VakNus itu
> murni soal izin dari BPOM. Izin tersebut tidak keluar karena VakNus
> tidak memenuhi kriteria definisi vaksin. Saya pun pernah menulis:
> mengapa Terawan ngotot menyebutnya vaksin. Mengapa, misalnya, tidak
> menyebutnya terapi dendritik. Toh, para dokter yang mempraktikkan
> stem cell atau PRP atau juga cell cure tidak ada yang dipecat dari
> IDI. Rasanya pemecatan ini masih terkait dengan cuci otak. Yang
> dikembangkannya jauh sebelum VakNus. Ia pernah dipecat sementara dari
> IDI di soal cuci otak itu. Terawan dianggap tidak mau
> mempertanggungjawabkannya secara ilmu kedokteran di depan IDI. Waktu
> itu ributnya juga luar biasa. Tidak kalah dengan VakNus. Medsos belum
> seeksis sekarang. Keriuhan waktu itu hanya terlihat di media
> mainstream. Saking ributnya, saya sampai ingin mencoba sendiri. Saya
> ke RSPAD. Saya minta dilakukan ”cuci otak”. Masih dr Terawan sendiri
> yang mengerjakan. Belum seperti sekarang –sudah banyak dokter binaan
> Terawan yang bisa melakukannya. Lalu, saya menulis pengalaman saya
> menjalani praktik cuci otak itu (lihat Disway, 19/3/2021: Empat Misi
> Terawan). Sampai dua atau tiga seri. Istri saya minta terapi itu
> juga. Syaratnya: saya harus bersamanya. Maka, dua kali saya menjalani
> cuci otak. Begitu banyak tokoh nasional yang juga menjalaninya
> –sebelum dan sesudah saya. Lebih banyak lagi yang bukan tokoh: sudah
> lebih dari 40.000 orang. Terawan dianggap tidak pernah mau
> mempertanggungjawabkan itu. Sebenarnya ia bisa minta: agar pemecatan
> sementaranya itu ditinjau. Lewat muktamar IDI berikutnya. Terawan
> tidak mau memanfaatkan proses itu. Sampailah ada Muktamar IDI 2022.
> Di Aceh. Pekan lalu. Status pemecatan sementara itu tidak boleh terus
> menggantung: Terawan dipecat secara permanen. Di masa lalu Terawan
> mengatakan: pernah memberikan penjelasan yang diminta. IDI menganggap
> belum cukup. Terawan menganggap cukup. IDI terus mempersoalkan.
> Terawan memilih diam seribu bahasa –sambil terus mempraktikkan terapi
> cuci otak. Belakangan Terawan menulis disertasi: untuk meraih gelar
> doktor. Di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Disertasinya
> soal cuci otak itu. Terawan pernah mengatakan kepada saya: itulah
> pertanggungjawaban tertinggi secara ilmiah soal cuci otak. Disertasi
> itu diterima tim penguji di Unhas. Terawan berhak atas gelar doktor
> cuci otak. Terawan tidak melayani permintaan IDI. Ia abaikan begitu
> saja. Apakah tanpa menjadi anggota IDI Terawan masih dokter? Anda
> sudah tahu. Masalahnya, tidak ada organisasi dokter di luar IDI.
> Berarti, Terawan adalah dokter independen. Di antara
> organisasi-organisasi profesi (dokter, wartawan, pengacara, dan yang
> sejenis), IDI memang paling solid. Semua organisasi profesi sudah
> tidak tunggal lagi. Organisasi wartawan tidak lagi hanya PWI.
> Organisasi pengacara lebih banyak lagi. Hanya para dokter yang tidak
> mau membentuk organisasi di luar IDI. Mungkin itu karena ada
> legalitas yang kuat untuk IDI: izin praktik dokter tidak bisa
> diterbitkan kalau tidak ada rekomendasi IDI. Di situ tertulis
> eksplisit: IDI. Bukan organisasi dokter. Saya tidak tahu apakah sudah
> ada yang mempersoalkan ”monopoli” IDI itu secara hukum. Tapi, harus
> diakui: IDI adalah organisasi profesi yang paling ketat mengontrol
> anggotanya. Yang terketat. Organisasi wartawan begitu longgar. Pun
> organisasi advokat. Pelanggaran etika wartawan dan etika advokat
> begitu banyak. Padahal, sebuah profesi tanpa pengawasan kode etik
> sangat bahaya. Salah satu kriteria sebuah pekerjaan bisa disebut
> profesi adalah: apabila pekerjanya memiliki otonomi untuk melakukan
> atau tidak melakukan. Seorang dokter harus memutuskan sendiri obat
> apa yang harus diberikan ke pasien. Berdasar ilmu yang mereka kuasai.
> Dokter tidak bisa didikte siapa pun dalam mendiagnosis dan memberikan
> obat. Wartawan seharusnya juga begitu. Ia punya otonomi untuk menulis
> apa pun atau tidak menulis apa pun. Bukan karena disuruh atau
> dilarang oleh siapa pun –termasuk oleh penguasa dan pemilik amplop:
> tepatnya pemilik isi amplop. Pun pengacara: semestinya membela yang
> ia anggap benar dan keadilan harus ditegakkan –apa pun risikonya.
> Dokter, menurut pengamatan saya, adalah yang paling tinggi kadar
> ketaatan pada kode etiknya. Dan IDI mengontrolnya dengan ketat –lewat
> dewan etiknya. Saya sering melontarkan tantangan: ayo buka-bukaan.
> Dalam satu forum profesi. Temanya: siapa di antara organisasi profesi
> yang paling rusak –yang pelanggaran kode etiknya paling parah. Itu
> sebagai bagian dari misi agar para pekerja profesi lebih taat pada
> kode etik mereka. Terjadinya pelanggaran etika di berbagai profesi
> jelas: karena uang. Atau jabatan. Atau fasilitas. Dan ini bagian yang
> sangat memalukan dari sebuah profesi. Tapi, ini dia: pelanggaran
> etika yang dilakukan Terawan tidak ada hubungannya dengan uang atau
> jabatan atau fasilitas. Itu murni masalah keilmuan –mengerjakan
> menyembuhkan di luar ilmu kedokteran. Maka, Terawan tidak perlu malu
> dipecat dari IDI. Pun kalau salah –dalam Islam– ia masih harus dapat
> pahala. ”Salah” di situ bisa dibuktikan dengan jatuhnya korban –saya
> dua kali menjalani cuci otak: baik-baik saja. Saya dan banyak relawan
> mendapatkan VakNus –alhamdulillah, Anda sudah tahu, baik semua.
> (Dahlan Iskan) Sent from Rogers Yahoo Mail on Android On Mon., Mar.
> 28, 2022 at 3:10 a.m., B.H. Jo<[email protected]> wrote: Tambahan: Apa
> motifnya membuat terapi baru walaupun tidak teruji dimana sudah ada
> terapi standar yg. teruji? 1) Cari nama dan2) Cari uang berlebihan
> dengan mengabaikan atau dgn. potensi mengorbankan kesejahteraan
> pasien2/masyarakat. Ini adalah tindakan pelanggaan etika profesi
> (professional misconduct). BH Jo
> 
>         
>         
>             
>                 
>                 
>                     On Monday, March 28, 2022, 12:41:06 AM MDT, 'B.H.
> Jo' via GELORA45 <[email protected]> wrote: 
>                 
> 
>                 
> 
>                 
>         Dokter sebagai "anggota" dari profesi dokter (seperti,
> misalnya, IDI), dr. Terwan harus hanya melakukan metode pengobatan
> yg. telah teruji klinis (proven by a clinical trial about its
> effectiveness and potential side-effects/complications) sebagai
> terapi/perawatan standar ("standard of care"). Kalau belum teruji
> klinis (undergone a clinical trial), dokter tidak boleh melakukan
> pengobatan yg. belum teruji klinis. 
> 
> dr. Terawan telah melakukan terapi atau prosedur utk. stroke otak yg.
> dinamakan "cuci otak" secara TIDAK ETIS. Stroke otak terjadi karena
> pembuluh darah yg memberi "makan" (antara lain oxygen)
> ke-otak, tersumbat oleh gumpalan darah (blood clot) yg. terbawa
> dialiran darah ke otak. Kesumbatan dari pembuluh darah ke otak juga
> bisa terjadi kalau diding dari pembuluh darah terus menjadi sempit
> karena adanya proses arteriosklerosis di diding pembuluh darah yg.
> bersangkutan. Stroke otak sudah ada terapi standarnya yg. telah
> teruji klinis (yg. dipakai diseluruh dunia). Dan dr. Terawan
> melakukan terapi baru yg. berlainan dgn. terapi standar tanpa diuji
> klinis lebih dulu. Contoh: Cara melakukan uji klinis utk. terapi baru
> utk. stroke otak atau terapi utk. penyakit lain, seperti berikut: dr.
> Terawan harus minta ijin kpd. IDI/yg. berwenang bagian "uji klinis".
> Dan dia harus menunjukan protokol uji klinisnya kpd. yg. berwenang
> dimana terapi baru (yg. belum teruji) dibandingkan dgn. terapi
> standar (yg. telah teruji ber-tahun2). Misal: akan diperlukan paling
> sedikit 200 pasien yg. akan "mendapat terapi baru" dan 200 pasien yg.
> akan "mendapat terapi standar". Kemudian mereka semua diawasi utk.
> beberapa lama. Setelah waktu tertentu, kita bisa melihat berapa yg.
> sembuh dan berapa yg. mendapat komplikasi dari terapi baru
> dibandingkan dgn. terapi standar dimana statistik canggih akan
> dipakai utk. mendapat hasil perbandingannya (yg. bisa dipercaya).
> Terang kalau terapi baru hasil kesembuhannya kalah dgn./lebih sedikit
> dari terapi standar atau hasil komplikasi dari terapi lebih banyak,
> terapi baru TIDAK boleh dipakai utk. terapi sebagai pengganti dari
> terapi standar. Yg. telah dilakukan oleh dr. Terawan adalah terapi
> "cuci otak" yg. belum diuji klinis (clinical trial Phase III). Dan
> dia melakukan terapi barunya yg. belum teruji sebagai pengganti
> terapi standar. Jadi barangkali telah banyak pasien2 yg. dirugikan
> tetapi kita/pasien2 nya tidak mengetahuinya. Tindakan medisnya adalah
> TIDAK ETIS kalau disini namanya dia telah melakukan "professional
> misconduct". Saya juga pernah bekerja di Jerman dan  tindakan dr.
> Terawan juga disana pasti dianggap melanggar etika kedokteran. 4-5
> tahun yg. lalu saya menggikuti diskusi terapi "cuci otak" dari dr.
> Terawan tetapi tidak ingat secara detailnya lagi tetapi terapinya
> tidak bisa masuk diakal. Juga rencana pembuatan vaksin "Nusantara"
> dari dr. Terawan, tidak masuk diakal (does not make any sense). Kami
> diskusikan vaksin Nusantara dgn. anggota2 medical group dari
> US/Canada/Europe, kami juga geleng2 kepala dgn ide-nya. Sudah betul
> sekali, IDI mencabut ijin praktek dari dr. Terawan, yg. telah
> membahayakan pasien2 dan masyarakat di Indonesia. Cuma IDI kurang
> tegas, semestinya ijin praktenya sudah harus dicabut beberapa tahun
> yg. lalu. Tetapi ada ungkapan: "Better late than never". Salam,BH Jo
> On Sunday, March 27, 2022, 07:33:29 PM MDT, BILLY GUNADIE
> <[email protected]> wrote: 
> 
>                 
> 
>                 
> 
> Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
>    On Sun., Mar. 27, 2022 at 9:09 p.m., Chan CT<[email protected]>
> wrote:   
> 
> 
> Saya awam kedokteran, jadi TIDAK JELAS sampai dimana kebenaran 
> ilmiah terapi “cuci otak” juga vaksin Merah Putih yang diajukan dr.
> Terawan itu, ... 
> Tapi, dari yang saya baca dimedsos, disamping pertentangan 
> ilmiah kedokteran juga ada pertentangan kepentingan antara IDI dan
> dr. Terawan itu yang kemudian dituduh telah melanggar ketentuan
> moral-etika kedokteran IDI. Yang satu menganggap kebijakan sosial dr.
> Terawan itu bisa menggempur kepentingan pengusaha yang dibela
> IDI, ...? Entahlah bagaimana konkritnya.
>  
> Jadi, mestinya penemuan pengobatan dr. Terawan itu tidak 
> ditekan, ditindas begitu saja, tapi bisa diperdebatkan secara ilmiah
> dan dibuktikan lebih lanut! Kalau saja pengembangan/penemuan dr.
> Terawan itu yang sekarang ini dituduh pelanggaran, siapa tahu justru
> itulah yang benar dan sebaiknya dikembangkan. Atau katakanlah juga
> masih ada kekurangan yang perlu disempurnakan, ... tapi kesitulah
> arah pengembangan agar manusia bisa hidup lebih baik dan sehat? 
>  
> Salam,
> ChanCT
>  
> 
> 
>  
> 
> From: 'B.H. Jo' via GELORA45 
> Sent: Sunday, March 27, 2022 11:32 AM
> To: GELORA45_In 
> Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 
> 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih
>  
> 
> 
> 
> Mestinya dr. Terawan sudah dipecat beberapa 
> tahun yg lalu waktu dia mulai melakukan terapi cuci otak (yg tidak
> berdasarkan ilmu yg benar) , yg akan merugikan pasien2.
>  
> BH Jo
>  
> 
> 
> On Saturday, March 26, 2022, 08:00:04 PM MDT, Chan CT 
> <[email protected]> wrote: 
>  
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah 
> Putih
> Kadek 
> Melda Luxiana - detikNews
> Minggu, 
> 27 Mar 2022 07:57 WIB
> 
> 
> Foto: 
> Dok. Kemenko Polhukam
> 
> Jakarta 
> - Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dipecat dari
> keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Menko Polhukam Mahfud Md
> mengaku pernah menjalani terapi cuci otak oleh dokter Terawan dan
> divaksin merah putih. Terawan 
> dan IDI sendiri memiliki hubungan yang panas dingin. Hubungan panas
> dingin itu mulai terjadi sejak munculnya terapi 'cuci otak'.
> 
> Kembali 
> ke Mahfud, dia mengatakan sudah dua kali terapi cuci otak. Karena
> merasa hasil terapi cuci otak bagus, dia kemudian mengajak istrinya
> untuk ikut terapi.
> 
> 
> "Saya 
> pernah dua kali cuci otak atau DSA (Digital Subtraction Angiography)
> ke dokter Terawan, yakni, ketika masih ketua MK sekitar tahun 2011
> dan pada tahun 2017. Saya bukan ahli medis tapi kalau perasaan saya
> sih hasilnya bagus, keluhan langsung hilang. Makanya saya sampai dua
> kali dan yang kedua mengajak istri," kata Mahfud kepada detikcom,
> Sabtu (26/3/2022).
> 
> Baca 
> juga:
> Disuntik 
> Vaksin Nusantara, Legislator Kecewa Terawan Dipecat IDI
> 
> Selain 
> pernah terapi dengan dokter Terawan, Mahfud menuturkan dirinya juga
> mendapat suntikan vaksin Nusantara yang dicetuskan oleh Terawan.
> Mahfud mengaku usai mendapat vaksin Nusantara, imun tubuhnya
> meningkat.
> 
> "Saya 
> juga sudah ikut minta vaksin Nusantara yang digarap oleh Pak Terawan
> sebelum dapat vaksin booster. Waktu mau booster dulu kan pejabat
> non-tendis (tenaga medis) atau TNI/Polri masih harus antre atau
> menunggu, tak bisa cepat. Saya juga tak mau cari-cari booster lewat
> jalan tol," ujarnya.
> 
> "Ketika 
> saya minta booster dan diberi tahu oleh Menkes bahwa selain tendis
> dan TNI/POLRI belum boleh boostet maka saya ambil vaksin Nusantara.
> Antibodi saya naik tinggi setelah divaksin Nusantara," lanjutnya.
> 
> Baca 
> juga:
> Adib 
> Khumaidi Dikukuhkan Jadi Ketum PB IDI 2022-2025
> 
> Meski 
> merasa hasil kerja dokter Terawan bagus, Mahfud tidak bisa memberikan
> komentar terkait dipecatnya dokter Terawan dari IDI sebab sudah ada
> mekanisme dan aturan tersendiri. Namun yang terpenting baginya asalah
> kesembuhan dan imun tubuh meningkat.
> 
> "Saya 
> bukan ahli medis, jadi saya tidak bisa menanggapi apa pun terkait
> pemberhentian Pak Terawan dari IDI. Itu sudah ada aturan dan
> mekanisme tersendiri. Kalau saya sendiri sih yang penting sembuh atau
> imun dari virus," imbuhnya.
> 
> Baca 
> berita selengkapnya di halaman berikut
> 
> 
> Simak 
> Video 'Sederet Kontroversi Terawan Hingga Dipecat IDI':
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Sebelumnya, 
> kabar pemecatan Terawan Agus Putranto dari IDI dibenarkan oleh Ketua
> Panitia Muktamar Ke-31 IDI dr Nasrul Musadir Alsa. Pemecatan itu
> berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI.
> 
> "Iya 
> (dipecat), dari hasil muktamar yang kami terima ya. Dari hasil yang
> kita terima yang diserahkan panitia memang begitu, (sesuai) MKEK
> iya," kata Nasrul saat dimintai konfirmasi, Sabtu (26/3).
> 
> Baca 
> juga:
> Pimpinan 
> DPR Khawatir Terawan Dipecat IDI Bikin Dokter Takut 
> Berinovasi
> 
> Nasrul 
> mengatakan Terawan kini tak lagi bisa membuka praktik dokter. Hal itu
> lantaran Terawan tidak bisa lagi mengurus surat izin praktik (SIP).
> 
> "Ya 
> mestinya begitu ya, kan tidak bisa urus SIP dan sebagainya ya," kata 
> Nasrul.
> 
> (dek/dnu)
> 
> Baca 
> artikel detiknews, "Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci
> Otak'-Vaksin Merah Putih"
> selengkapnya 
> https://news.detik.com/berita/d-6002776/terawan-dipecat-idi-mahfud-md-cerita-dicuci-otak-vaksin-merah-putih.
> 
> Download 
> Apps Detikcom Sekarang 
> https://apps.detik.com/detik/-- 
> 
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google 
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup
> ini, kirim email ke [email protected].
> Untuk 
> melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DB447898EA6E4EA996594AB87B9FC483%40A10Live.

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220329102006.782f1fb6%40lilik-ThinkPad-T420s.

Reply via email to