Bung Lin,
Meskipun dr. Terawan. misalnya, telah melakukan prosedur/metode "cuci otak" 
sebanyak lebih dari 40,000 pasien dan data record-nya dari setiap pasien, kita 
tidak akan bisa mengetahui pasti apakah metode yg. baru ini (yg. belum teruji 
klinis dan kita namakan saja: metode 2) lebih baik atau setara dgn. metode yg. 
telah ada sebagai terapi standar/patokan (standard treatment/benchmark dan kita 
namakan saja: metode 1). Ini disebabkan karena metode 2 tidak dibandingkan dgn. 
terapi/metode 1 pada waktu dan situasi yg. sama/bersamaan. Penelitian, dimana 
meneliti pasien2 yg. telah diterapi sebelumnya (yg. 40,000 itu), ini namanya 
penelitian "retrospective" (ditinjau "kebelakang"). 
Uji klinis yg. bisa dipercaya adalah penelitian yg. namanya penelitian 
"prospective" (ditinjau "kedepan"). Cara melakukan penelitian "prospective" 
sebagai berikut: kita tidak boleh memilih pasien tertentu utk. mendapat metode 
1 atau metode 2. Kalau ada pasien baru yg. akan diteliti, dia harus mengambil 
satu amplop tertutup dimana sudah ada isinya ttg. metode apa didalamnya (misal: 
metode 1). Pasien dan dokter peneliti tidak tahu sebelumnya metode apa 
didalamnya (yg. namanya: "double blind" method). Jadi tidak akan ada pengaruh 
"bias" dari pasien dan dari dokter peneliti yg. bisa akan mengurangi hasil 
statistik yg. bisa dipercaya/diandalkan. Misal: setelah 4 tahun, kita mendapat 
pasien 1,200 dimana 567 pasien yg. mendapat metode 1 dan 633 pasien mendapat 
metode 2 (jumlah total 1,200). Tentunya "double blind" method tidak akan bisa 
mendapat jumlah jumlah pasien yg. sama: 600 metode 1 dan 600 metode 2. Dan juga 
tidak akan bisa mendapat jumlah yg. sama, misal, berapa jumlah pasien wanita, 
berapa yg. perokok, berapa yg. umurnya tertentu dan sebagainya di metode 1 dan 
metode 2. Pada akhir jangka penelitian, kita akan mengtahui berapa pasien yg. 
berhasil dan berapa pasien yg. mendapat komplikasi (termasuk kematian) dari 
metode 1 dan metode 2. Karena pasti ada perbedaan jumlah faktor/factor (pasien, 
jenis kelamin, perokok, umur dsb.). Faktor2 ini bisa mempengaruhi hasil dari 
terapi, misal, perokok akan bisa kena stroke otak lebih gampang drpd. yg. tidak 
merokok. Jadi karena adanya perbedaan jumlah dari faktor2 akan diperlukan " 
factor adjustment" dgn. perhitungan statistik yg. canggih. Dan hasil statistik 
dari cara ini (prospective study yg. diuraikan tsb. diatas yg. namanya 
"prospective randomized double blind clinical trial Phase III)  adalah cara 
penelitian dgn. hasil bisa dipercaya dan diandalkan (dipakai diseluruh dunia).
Saya kutip kenapa kalau mau mempelajari pasien2 telah diterapi oleh dr. 
Terawan, tidak akan bisa menghasilkan hasil yg. bisa dipercaya atau bisa 
diandalka karena ini adalah "retrospective study (ditinjau kebelakang)'
Quote:DISADVANTAGES OF RETROSPECTIVE STUDIES   
   - inferior level of evidence compared with prospective studies.
   - controls are often recruited by convenience sampling, and are thus not 
representative of the general population and prone to selection bias.
   - prone to recall bias or misclassification bias.
   - End of quote.

Apa yg. telah dilakukan oleh Terawan, per-tama2 tidak diteliti sama sekali. 
Seharusnya, paling sedikit harus diteliti secara "retrospective" walaupun 
hasilnya kurang bisa diandalkan dibandingkan dgn. penelitian "prospective". 
Jadi kita tidak akan bisa tahu apakah terapi dari dr. Terawan itu berguna atau 
malahan merugikan pasien2. Tentunya banyak orang yg. tidak mengerti penelitian 
medis, bisa terpengaruh dari "jualan atau bualan" dari terapinya. Sampai2 orang 
setingkat Mahmud Md bisa termakan oleh bualan dr. Terawan. Sama saja kalau kita 
ketempat jualan obat/koyo dipasar. Terawan telah menjual terapi baru tanpa ada 
bukti ttg. kemanjurannya. Ini yg. dinamakan "pelangaran etik medis/professional 
misconduct".
Salam,BH Jo

    On Monday, March 28, 2022, 07:54:59 PM MDT, ehhlin <[email protected]> 
wrote:  
 
 Benar atau tidak satu theory adalah dibuktikan dengan di-praktek-kan theory 
itu. Dr. Tewaran menurut yg. pernah saya baca telah men cuci-otak itu terhadap 
40,000-han (?) pasien , kenapa TAK diteliti kembali para pasien itu, tentu ada 
record dari para  pasien,  bagimana keadaan para pasien itu sekarang , apa 
"cuci-otak" itu berhasil atau tidak, berada prosen gagal, berada prosen 
berhasil dll.Jumlah 40,000 pasien itu sangat  besar!!!Lin.  




Sent from my Samsung Galaxy smartphone.
-------- Original message --------From: BILLY GUNADIE <[email protected]> 
Date: 28/03/2022 8:17 p.m. (GMT+05:30) To: [email protected], 
[email protected], GELORA45_In <[email protected]> Subject: Re: 
[GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah 
Putih 
Sepengetahuan saya...IDI itu tidak berfungsi ...?BPJS...kenapa tidak 
universal...ada yang ikut program ...ada yang tidak .Di Jerman juga ada Ikatan 
dokter...pake sticker jarum dan uler.... Kebanyakan Mobil dokter tidak mau 
pasang sticker, karena ada sangsinya... hypocrite oath... Juga harus menolong 
nyawa orang....misalnya ada car accident... Dokter tidak boleh meninggalkan 
begitu saja...Dan juga di pengaruhi oleh pharmaceutical company...dengan 
insentive... Tour packages...atau bonus...?Nyawa manusia jadi tidak relevant 
lagi...?Juga kwalitas dokter badan diragukan...Terbukti ..pandemik .. 
vaccine...yang terburu buru...klinikal uji...1-3...?Dan terbukti... vaccine 
tidak menjadiksn kemebalan... Pfizer... Modena..Tidak ada sangsinya....?Kenapa 
tidak ada data statistic Dr. Terawan. .sukses dan kematian atas 
tetapinya....?Cuci otak....juga Di tolak di Eropah ...Banyak juga teori yang di 
tolak..Antara lain guntingan kertas koran Wegener soal plate tektonik... ?



Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Mon., Mar. 28, 2022 at 10:17 a.m., B.H. Jo<[email protected]> wrote:    
Dahlan Iskan adalah seorang analis politik. Namun masalah dr. Terawan adalah 
masalah medik yg. harus dianalisa dari segi sain medik (medical science) dan 
bukan dianalisa dari segi politik.
Kalau Terawan mau membuka praktek seperti dukun atau penjual obat dipasar, ya, 
boleh saja (bedasarkan hukum yg. ada di Indonesia) tetapi tidak boleh memakai 
nama dokter atau profesor yg. dipakai oleh organisasi dokter (IDI). IDI harus 
melindungi nama dan kredebilitas dokter2 lain dibawah organisasinya dimana 
terapi atau perawatan harus berdasarkan sain medik.  Kalau pasien2 dari Terawan 
mendapat kerugian kesehatan dari metodenya yg. belum teruji, ya langsung 
berhadapan dgn. polisi kriminal.
BH Jo
    On Monday, March 28, 2022, 03:07:41 AM MDT, BILLY GUNADIE 
<[email protected]> wrote:  
 
 Oleh : Dahlan Iskan28 03 2022                                              
APAKAH Terawan bukan lagi dokter? Setelah dipecat secara permanen dari Ikatan 
Dokter Indonesia (IDI)?
Tentu Terawan tetap dokter. Sepanjang ijazah dokternya tidak dicabut –oleh 
universitas yang memberikannya: Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia juga tetap dokter 
sepanjang ilmu kedokterannya tidak dicabut dari otaknya –oleh Tuhannya: Yesus.
Apakah Terawan masih bisa buka praktik sebagai dokter?
Sepanjang pemerintah masih mengizinkan, Terawan tetap bisa praktik.
Apakah Terawan masih bisa bekerja di rumah sakit –RS Pusat Angkatan Darat 
(RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta?
Sepanjang direktur di RS tersebut masih memercayainya, Terawan tetap bisa 
bekerja di sana. Intinya: semua terserah pemerintah. Yang mengeluarkan izin itu 
pemerintah –Kementerian Kesehatan. Bukan IDI.
Masalahnya: dengan pangkat yang sudah letnan jenderal TNI-AD, apakah Terawan 
masih memerlukan untuk berpraktik sebagai mata pencaharian. Jabatan di dunia 
kedokteran juga sudah mencapai puncak: menteri kesehatan. Sebelum itu pun sudah 
direktur RSPAD. Sebagai ilmuwan, Terawan juga sudah mencapai puncaknya: 
bergelar doktor.
Inilah dokter dengan capaian tertinggi yang pernah dipecat secara permanen dari 
IDI.
IDI adalah organisasi. Semua anggotanya harus dokter. Sebagai organisasi biasa, 
IDI punya aturan dasar (AD/ART) yang harus ditaati. Sebagai organisasi profesi, 
IDI punya kode etik yang juga harus diikuti.
Rasanya Terawan dianggap lebih melanggar kode etik daripada melanggar AD/ART. 
Itu bisa dilihat dari proses pemecatannya: lewat sidang-sidang dewan etika 
dokter. Yakni, satu lembaga yang mengawasi apakah seorang dokter melanggar 
etika kedokteran atau tidak.
Apakah karena Terawan gigih ”melahirkan” Vaksin Nusantara di awal pandemi, lalu 
dianggap melanggar kode etik IDI?
Rasanya bukan itu. VakNus itu murni soal izin dari BPOM. Izin tersebut tidak 
keluar karena VakNus tidak memenuhi kriteria definisi vaksin.
Saya pun pernah menulis: mengapa Terawan ngotot menyebutnya vaksin. Mengapa, 
misalnya, tidak menyebutnya terapi dendritik. Toh, para dokter yang 
mempraktikkan stem cell atau PRP atau juga cell cure tidak ada yang dipecat 
dari IDI.
Rasanya pemecatan ini masih terkait dengan cuci otak. Yang dikembangkannya jauh 
sebelum VakNus. Ia pernah dipecat sementara dari IDI di soal cuci otak itu. 
Terawan dianggap tidak mau mempertanggungjawabkannya secara ilmu kedokteran di 
depan IDI.
Waktu itu ributnya juga luar biasa. Tidak kalah dengan VakNus. Medsos belum 
seeksis sekarang. Keriuhan waktu itu hanya terlihat di media mainstream.
Saking ributnya, saya sampai ingin mencoba sendiri. Saya ke RSPAD. Saya minta 
dilakukan ”cuci otak”. Masih dr Terawan sendiri yang mengerjakan. Belum seperti 
sekarang –sudah banyak dokter binaan Terawan yang bisa melakukannya.
Lalu, saya menulis pengalaman saya menjalani praktik cuci otak itu (lihat 
Disway, 19/3/2021: Empat Misi Terawan). Sampai dua atau tiga seri. Istri saya 
minta terapi itu juga. Syaratnya: saya harus bersamanya. Maka, dua kali saya 
menjalani cuci otak. 
Begitu banyak tokoh nasional yang juga menjalaninya –sebelum dan sesudah saya. 
Lebih banyak lagi yang bukan tokoh: sudah lebih dari 40.000 orang.
Terawan dianggap tidak pernah mau mempertanggungjawabkan itu. Sebenarnya ia 
bisa minta: agar pemecatan sementaranya itu ditinjau. Lewat muktamar IDI 
berikutnya. Terawan tidak mau memanfaatkan proses itu. Sampailah ada Muktamar 
IDI 2022. Di Aceh. Pekan lalu. Status pemecatan sementara itu tidak boleh terus 
menggantung: Terawan dipecat secara permanen.
Di masa lalu Terawan mengatakan: pernah memberikan penjelasan yang diminta. IDI 
menganggap belum cukup. Terawan menganggap cukup. IDI terus mempersoalkan. 
Terawan memilih diam seribu bahasa –sambil terus mempraktikkan terapi cuci otak.
Belakangan Terawan menulis disertasi: untuk meraih gelar doktor. Di Universitas 
Hasanuddin (Unhas), Makassar. Disertasinya soal cuci otak itu. Terawan pernah 
mengatakan kepada saya: itulah pertanggungjawaban tertinggi secara ilmiah soal 
cuci otak.
Disertasi itu diterima tim penguji di Unhas. Terawan berhak atas gelar doktor 
cuci otak.
Terawan tidak melayani permintaan IDI. Ia abaikan begitu saja.
Apakah tanpa menjadi anggota IDI Terawan masih dokter?
Anda sudah tahu.
Masalahnya, tidak ada organisasi dokter di luar IDI. Berarti, Terawan adalah 
dokter independen.
Di antara organisasi-organisasi profesi (dokter, wartawan, pengacara, dan yang 
sejenis), IDI memang paling solid. Semua organisasi profesi sudah tidak tunggal 
lagi. Organisasi wartawan tidak lagi hanya PWI. Organisasi pengacara lebih 
banyak lagi.
Hanya para dokter yang tidak mau membentuk organisasi di luar IDI. Mungkin itu 
karena ada legalitas yang kuat untuk IDI: izin praktik dokter tidak bisa 
diterbitkan kalau tidak ada rekomendasi IDI. Di situ tertulis eksplisit: IDI. 
Bukan organisasi dokter.
Saya tidak tahu apakah sudah ada yang mempersoalkan ”monopoli” IDI itu secara 
hukum. Tapi, harus diakui: IDI adalah organisasi profesi yang paling ketat 
mengontrol anggotanya. Yang terketat. Organisasi wartawan begitu longgar. Pun 
organisasi advokat.
Pelanggaran etika wartawan dan etika advokat begitu banyak.
Padahal, sebuah profesi tanpa pengawasan kode etik sangat bahaya.
Salah satu kriteria sebuah pekerjaan bisa disebut profesi adalah: apabila 
pekerjanya memiliki otonomi untuk melakukan atau tidak melakukan.
Seorang dokter harus memutuskan sendiri obat apa yang harus diberikan ke 
pasien. Berdasar ilmu yang mereka kuasai. Dokter tidak bisa didikte siapa pun 
dalam mendiagnosis dan memberikan obat.
Wartawan seharusnya juga begitu. Ia punya otonomi untuk menulis apa pun atau 
tidak menulis apa pun. Bukan karena disuruh atau dilarang oleh siapa pun 
–termasuk oleh penguasa dan pemilik amplop: tepatnya pemilik isi amplop.
Pun pengacara: semestinya membela yang ia anggap benar dan keadilan harus 
ditegakkan –apa pun risikonya.
Dokter, menurut pengamatan saya, adalah yang paling tinggi kadar ketaatan pada 
kode etiknya. Dan IDI mengontrolnya dengan ketat –lewat dewan etiknya.
Saya sering melontarkan tantangan: ayo buka-bukaan. Dalam satu forum profesi. 
Temanya: siapa di antara organisasi profesi yang paling rusak –yang pelanggaran 
kode etiknya paling parah. Itu sebagai bagian dari misi agar para pekerja 
profesi lebih taat pada kode etik mereka.
Terjadinya pelanggaran etika di berbagai profesi jelas: karena uang. Atau 
jabatan. Atau fasilitas. Dan ini bagian yang sangat memalukan dari sebuah 
profesi.
Tapi, ini dia: pelanggaran etika yang dilakukan Terawan tidak ada hubungannya 
dengan uang atau jabatan atau fasilitas. Itu murni masalah keilmuan 
–mengerjakan menyembuhkan di luar ilmu kedokteran.
Maka, Terawan tidak perlu malu dipecat dari IDI. Pun kalau salah –dalam Islam– 
ia masih harus dapat pahala.
”Salah” di situ bisa dibuktikan dengan jatuhnya korban –saya dua kali menjalani 
cuci otak: baik-baik saja. Saya dan banyak relawan mendapatkan VakNus 
–alhamdulillah, Anda sudah tahu, baik semua. (Dahlan Iskan)
Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Mon., Mar. 28, 2022 at 3:10 a.m., B.H. Jo<[email protected]> wrote:    
Tambahan: Apa motifnya membuat terapi baru walaupun tidak teruji dimana sudah 
ada terapi standar yg. teruji?
1) Cari nama dan2) Cari uang berlebihan dengan mengabaikan atau dgn. potensi 
mengorbankan kesejahteraan pasien2/masyarakat.
Ini adalah tindakan pelanggaan etika profesi (professional misconduct).
BH Jo
    On Monday, March 28, 2022, 12:41:06 AM MDT, 'B.H. Jo' via GELORA45 
<[email protected]> wrote:  
 
  Dokter sebagai "anggota" dari profesi dokter (seperti, misalnya, IDI), dr. 
Terwan harus hanya melakukan metode pengobatan yg. telah teruji klinis (proven 
by a clinical trial about its effectiveness and potential 
side-effects/complications) sebagai terapi/perawatan standar ("standard of 
care"). Kalau belum teruji klinis (undergone a clinical trial), dokter tidak 
boleh melakukan pengobatan yg. belum teruji klinis. 

dr. Terawan telah melakukan terapi atau prosedur utk. stroke otak yg. dinamakan 
"cuci otak" secara TIDAK ETIS. Stroke otak terjadi karena pembuluh darah yg 
memberi "makan" (antara lain oxygen) ke-otak, tersumbat oleh gumpalan darah 
(blood clot) yg. terbawa dialiran darah ke otak. Kesumbatan dari pembuluh darah 
ke otak juga bisa terjadi kalau diding dari pembuluh darah terus menjadi sempit 
karena adanya proses arteriosklerosis di diding pembuluh darah yg. bersangkutan.
Stroke otak sudah ada terapi standarnya yg. telah teruji klinis (yg. dipakai 
diseluruh dunia). Dan dr. Terawan melakukan terapi baru yg. berlainan dgn. 
terapi standar tanpa diuji klinis lebih dulu. Contoh: Cara melakukan uji klinis 
utk. terapi baru utk. stroke otak atau terapi utk. penyakit lain, seperti 
berikut: dr. Terawan harus minta ijin kpd. IDI/yg. berwenang bagian "uji 
klinis". Dan dia harus menunjukan protokol uji klinisnya kpd. yg. berwenang 
dimana terapi baru (yg. belum teruji) dibandingkan dgn. terapi standar (yg. 
telah teruji ber-tahun2). Misal: akan diperlukan paling sedikit 200 pasien yg. 
akan "mendapat terapi baru" dan 200 pasien yg. akan "mendapat terapi standar". 
Kemudian mereka semua diawasi utk. beberapa lama. Setelah waktu tertentu, kita 
bisa melihat berapa yg. sembuh dan berapa yg. mendapat komplikasi dari terapi 
baru dibandingkan dgn. terapi standar dimana statistik canggih akan dipakai 
utk. mendapat hasil perbandingannya (yg. bisa dipercaya). Terang kalau terapi 
baru hasil kesembuhannya kalah dgn./lebih sedikit dari terapi standar atau 
hasil komplikasi dari terapi lebih banyak, terapi baru TIDAK boleh dipakai utk. 
terapi sebagai pengganti dari terapi standar.
Yg. telah dilakukan oleh dr. Terawan adalah terapi "cuci otak" yg. belum diuji 
klinis (clinical trial Phase III). Dan dia melakukan terapi barunya yg. belum 
teruji sebagai pengganti terapi standar. Jadi barangkali telah banyak pasien2 
yg. dirugikan tetapi kita/pasien2 nya tidak mengetahuinya. Tindakan medisnya 
adalah TIDAK ETIS kalau disini namanya dia telah melakukan "professional 
misconduct". Saya juga pernah bekerja di Jerman dan  tindakan dr. Terawan juga 
disana pasti dianggap melanggar etika kedokteran. 
4-5 tahun yg. lalu saya menggikuti diskusi terapi "cuci otak" dari dr. Terawan 
tetapi tidak ingat secara detailnya lagi tetapi terapinya tidak bisa masuk 
diakal. Juga rencana pembuatan vaksin "Nusantara" dari dr. Terawan, tidak masuk 
diakal (does not make any sense). Kami diskusikan vaksin Nusantara dgn. 
anggota2 medical group dari US/Canada/Europe, kami juga geleng2 kepala dgn 
ide-nya.
Sudah betul sekali, IDI mencabut ijin praktek dari dr. Terawan, yg. telah 
membahayakan pasien2 dan masyarakat di Indonesia. Cuma IDI kurang tegas, 
semestinya ijin praktenya sudah harus dicabut beberapa tahun yg. lalu. Tetapi 
ada ungkapan: "Better late than never".
Salam,BH Jo     On Sunday, March 27, 2022, 07:33:29 PM MDT, BILLY GUNADIE 
<[email protected]> wrote:  
 
 

Sent from Rogers Yahoo Mail on Android 
 
  On Sun., Mar. 27, 2022 at 9:09 p.m., Chan CT<[email protected]> wrote:   
Saya awam kedokteran, jadi TIDAK JELAS sampai dimana kebenaran ilmiah terapi 
“cuci otak” juga vaksin Merah Putih yang diajukan dr. Terawan itu, ... Tapi, 
dari yang saya baca dimedsos, disamping pertentangan ilmiah kedokteran juga ada 
pertentangan kepentingan antara IDI dan dr. Terawan itu yang kemudian dituduh 
telah melanggar ketentuan moral-etika kedokteran IDI. Yang satu menganggap 
kebijakan sosial dr. Terawan itu bisa menggempur kepentingan pengusaha yang 
dibela IDI, ...? Entahlah bagaimana konkritnya. Jadi, mestinya penemuan 
pengobatan dr. Terawan itu tidak ditekan, ditindas begitu saja, tapi bisa 
diperdebatkan secara ilmiah dan dibuktikan lebih lanut! Kalau saja 
pengembangan/penemuan dr. Terawan itu yang sekarang ini dituduh pelanggaran, 
siapa tahu justru itulah yang benar dan sebaiknya dikembangkan. Atau katakanlah 
juga masih ada kekurangan yang perlu disempurnakan, ... tapi kesitulah arah 
pengembangan agar manusia bisa hidup lebih baik dan sehat?  Salam,ChanCT  From: 
'B.H. Jo' via GELORA45 Sent: Sunday, March 27, 2022 11:32 AMTo: GELORA45_In 
Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci 
Otak'-Vaksin Merah Putih Mestinya dr. Terawan sudah dipecat beberapa tahun yg 
lalu waktu dia mulai melakukan terapi cuci otak (yg tidak berdasarkan ilmu yg 
benar) , yg akan merugikan pasien2. BH Jo On Saturday, March 26, 2022, 08:00:04 
PM MDT, Chan CT <[email protected]> wrote:   Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md 
Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih
Kadek Melda Luxiana - detikNews
Minggu, 27 Mar 2022 07:57 WIB


Foto: Dok. Kemenko Polhukam
Jakarta - Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dipecat dari 
keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Menko Polhukam Mahfud Md mengaku 
pernah menjalani terapi cuci otak oleh dokter Terawan dan divaksin merah putih.
Terawan dan IDI sendiri memiliki hubungan yang panas dingin. Hubungan panas 
dingin itu mulai terjadi sejak munculnya terapi 'cuci otak'.

Kembali ke Mahfud, dia mengatakan sudah dua kali terapi cuci otak. Karena 
merasa hasil terapi cuci otak bagus, dia kemudian mengajak istrinya untuk ikut 
terapi.


"Saya pernah dua kali cuci otak atau DSA (Digital Subtraction Angiography) ke 
dokter Terawan, yakni, ketika masih ketua MK sekitar tahun 2011 dan pada tahun 
2017. Saya bukan ahli medis tapi kalau perasaan saya sih hasilnya bagus, 
keluhan langsung hilang. Makanya saya sampai dua kali dan yang kedua mengajak 
istri," kata Mahfud kepada detikcom, Sabtu (26/3/2022).

Baca juga:
Disuntik Vaksin Nusantara, Legislator Kecewa Terawan Dipecat IDI
Selain pernah terapi dengan dokter Terawan, Mahfud menuturkan dirinya juga 
mendapat suntikan vaksin Nusantara yang dicetuskan oleh Terawan. Mahfud mengaku 
usai mendapat vaksin Nusantara, imun tubuhnya meningkat.

"Saya juga sudah ikut minta vaksin Nusantara yang digarap oleh Pak Terawan 
sebelum dapat vaksin booster. Waktu mau booster dulu kan pejabat non-tendis 
(tenaga medis) atau TNI/Polri masih harus antre atau menunggu, tak bisa cepat. 
Saya juga tak mau cari-cari booster lewat jalan tol," ujarnya.

"Ketika saya minta booster dan diberi tahu oleh Menkes bahwa selain tendis dan 
TNI/POLRI belum boleh boostet maka saya ambil vaksin Nusantara. Antibodi saya 
naik tinggi setelah divaksin Nusantara," lanjutnya.

Baca juga:
Adib Khumaidi Dikukuhkan Jadi Ketum PB IDI 2022-2025
Meski merasa hasil kerja dokter Terawan bagus, Mahfud tidak bisa memberikan 
komentar terkait dipecatnya dokter Terawan dari IDI sebab sudah ada mekanisme 
dan aturan tersendiri. Namun yang terpenting baginya asalah kesembuhan dan imun 
tubuh meningkat.

"Saya bukan ahli medis, jadi saya tidak bisa menanggapi apa pun terkait 
pemberhentian Pak Terawan dari IDI. Itu sudah ada aturan dan mekanisme 
tersendiri. Kalau saya sendiri sih yang penting sembuh atau imun dari virus," 
imbuhnya.

Baca berita selengkapnya di halaman berikut


Simak Video 'Sederet Kontroversi Terawan Hingga Dipecat IDI':







Sebelumnya, kabar pemecatan Terawan Agus Putranto dari IDI dibenarkan oleh 
Ketua Panitia Muktamar Ke-31 IDI dr Nasrul Musadir Alsa. Pemecatan itu 
berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI.

"Iya (dipecat), dari hasil muktamar yang kami terima ya. Dari hasil yang kita 
terima yang diserahkan panitia memang begitu, (sesuai) MKEK iya," kata Nasrul 
saat dimintai konfirmasi, Sabtu (26/3).

Baca juga:
Pimpinan DPR Khawatir Terawan Dipecat IDI Bikin Dokter Takut Berinovasi
Nasrul mengatakan Terawan kini tak lagi bisa membuka praktik dokter. Hal itu 
lantaran Terawan tidak bisa lagi mengurus surat izin praktik (SIP).

"Ya mestinya begitu ya, kan tidak bisa urus SIP dan sebagainya ya," kata Nasrul.

(dek/dnu)

Baca artikel detiknews, "Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci 
Otak'-Vaksin Merah Putih" selengkapnya 
https://news.detik.com/berita/d-6002776/terawan-dipecat-idi-mahfud-md-cerita-dicuci-otak-vaksin-merah-putih.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DB447898EA6E4EA996594AB87B9FC483%40A10Live.
-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1896328456.378107.1648351934643%40mail.yahoo.com.


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DEFBCAA8B546499489C1268A05F66BDC%40A10Live.
  
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1200279699.504553.1648449660657%40mail.yahoo.com.
    


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/643607943.517631.1648458447446%40mail.yahoo.com.
    


-- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/680310812.570336.1648478832873%40mail.yahoo.com.
  

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/266253834.738597.1648530069219%40mail.yahoo.com.

Reply via email to