Bg. Jo, Ndak terlalu bertele-tele, Apakah IDI mengadakan study yg mendalam, luas, ilmiah, impartial terhadap para pasien Dr. Tewaran, entah 40,000 (???).dan term ask yg sebenarnya pasien sehat atau tidak, Apa hasilnya study itu dgn segala detail nya hingga sampai pada kesimpulan harus pecat dr Tewaran..... Dengan ini kan tak usah berlarut debat lagi.
Sent from my Samsung Galaxy smartphone. -------- Original message --------From: "B.H. Jo" <[email protected]> Date: 30/03/2022 1:33 p.m. (GMT+05:30) To: BILLY GUNADIE <[email protected]>, [email protected], GELORA45_In <[email protected]>, ehhlin <[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih Bung Lin, Kritik/komentar saya terhadap dr. Terawan sebelumnya adalah dilihat dari segi metode penelitian. Dari diskusi di luar negeri, telah diketahui bahwa pasien2 yg. mendapat "cuci otak" dari Terawan, tidak mempunyai stroke tetapi orang2 sehat. Tentunya, prosedur "diagnotic angiography" dilakukan terhadap orang sehat, ya tidak akan berubah menjadi lebih sehat. Prosedur yg. dilakukan adalah utk. diagnose, bukan prosedur utk. terapi. Contohnya; Dahlan Iskan, Mahmud Md khan (orang sehat) yg. tidak mempunyai penyakit stroke. Orang tidak ada stroke di cuci otaknya, ya tentunya tetap tidak ada stroke. Saya mendapat email japri dari anggota dari Gelora45 kita ini, yg. juga telah mendapat "cuci otak" dari Terawan. Dia (anggota Gelora45 ini) adalah orang sehat, dicuci otaknya yg. tidak bertambah sehat otaknya (atau bertambah pintar, ha ha ha). Sudah untung tidak mendapat komplikasi dari prosedurnya. Terawan telah melanggar etik medis dimana penipuan terhadap publik, yg. tidak mengerti prosedur medik, telah terjadi. Dibawah ini ada 2 ahkli luar negeri yg. melihat/mengikuti tindakan dari Terawan dari segi prosedurnya: Akhli dari America:Some one posted on Dr Terawan before. And as I recall he is a radiologist. In that posting, I read about his claim of “cuci otak”(literal English translation: brain wash?). Also as I recall he claimed that he can cure one year old stroke.In the video of the previous posting, it was shown an angiographic suite. I interpreted his claim of “cuci otak” is angiographic procedure of thrombolysis for stroke patient. I am a radiologist and familiar with this procedure. Thrombolytic procedure for stroke is done by inserting a catheter from the groin, into the blood vessel (artery) in the brain where the blood clot is located that cause blockage and stroke (this explanation is for members who are not familiar with this procedure). Thrombolytic procedure is done by delivering drug through catheter directly into the blood clot to open up circulation to the brain affected by stroke. This procedure is done in US under strict criteria for acute stroke patient who still meet the golden hour criteria following the onset of stroke.I got the feeling that by showing the (modern looking for Indonesian public??)angiographic suite where he does the “cuci otak” he could (FALSELY) appeal to the unsuspecting public that he can do amazing procedure of cuci otak. If what I said is correct, we can conclude that he is a quack making false claim, doing procedure that does not meet a standard medical practice (to cure one year old stroke). Tom Akhli dari Netherlands:I posted about the Quack Dr. Terawan a year or longer ago . The procedure he performed was a purely diagnostic cerebral angiography where as usual a little heparin was added to prevent thrombus formation in the catheter during the procedure . The patients were all healthy in the first place , so no cure was performed since there was no disease in the first place .The procedure Tom described is indeed an interventional angiographic procedure for thrombolysis where the catheter is placed as close to the cerebral-thrombus as possible , where it will be dissolved by Heparin or some other thrombolytic material , or it can even be mechanically removed by means of a special kind of catheter . None of these procedures however were performed by Dr. Terawan and his healthy patients were all duped by his nonsensical talk , since they were not knowledgable and easily impressed by a white-coat .Most anything goes in Indonesia if you’ve got the right people to back you up .That’s how a quack survives until - like Dahlan Iklan writes - he is summoned back home by Jesus .Ho Salam,BH Jo On Tuesday, March 29, 2022, 01:43:44 AM MDT, ehhlin <[email protected]> wrote: Bg. Jo, Dalam soal pengobatan, obat2an dn cara pengobatan.... apa yg bung jelaskan, disini banyak dibincangkan oleh dunia medis setempat dn tertulis dalam media semasa corona virus menjalar disini n tetapi "Suatu teori, benar atau salah hanya akan terbuktikan setelah teori itu di-praktek-kan" ini kan benar. Bg tentunya juga sadar bahwa pembuatan obat2an dimonopoli oleh sejumlah kelompok industry obat2an dibarat, walaupun diproduksi Di lain negara, umpama India , promotion /marketing obat2an dari suatu pharmaceutical company bukan soal kecil, wakil2 pharmaceutical company Saling bersaing dihalaman rumah sakit dn biasalah Kalau sang dokter memberi resep obat dari perusahan obat2an tertentu... saya tahu sendirian, dulu di Indonesia, bahwa apotik memberi 10% pada dokter yg menganjurkan obat itu!!! Jadi dibidang dunia medis tidaklah selalu bersih. Mungkin saja Dr Terawan tidak memperduli standard dunia pharmacy barat, yg lebih penting kan jiwa sipasien yg harus diselamatkan, disembuhkan dulu. Jadi Apakah sejumlah 40,000 pasien Dr. Tewaran ini "bahan"" retrospective ", yg menjadi masalah kan" gagal"atau "berhasil" - menyelamatkan jiwa manusia," selidiki lah presentage kegagalan dn keberhasilan secara luas-mendalam- . Ini kan jawabannya, lalu tindakan selanjutnya baru diambil. Adakah "penyelidikan, study yg luas dn mendalam" oleh IDI??? Salam, Lin Sent from my Samsung Galaxy smartphone. -------- Original message --------From: "B.H. Jo" <[email protected]> Date: 29/03/2022 10:31 a.m. (GMT+05:30) To: BILLY GUNADIE <[email protected]>, [email protected], GELORA45_In <[email protected]>, ehhlin <[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih Bung Lin, Meskipun dr. Terawan. misalnya, telah melakukan prosedur/metode "cuci otak" sebanyak lebih dari 40,000 pasien dan data record-nya dari setiap pasien, kita tidak akan bisa mengetahui pasti apakah metode yg. baru ini (yg. belum teruji klinis dan kita namakan saja: metode 2) lebih baik atau setara dgn. metode yg. telah ada sebagai terapi standar/patokan (standard treatment/benchmark dan kita namakan saja: metode 1). Ini disebabkan karena metode 2 tidak dibandingkan dgn. terapi/metode 1 pada waktu dan situasi yg. sama/bersamaan. Penelitian, dimana meneliti pasien2 yg. telah diterapi sebelumnya (yg. 40,000 itu), ini namanya penelitian "retrospective" (ditinjau "kebelakang"). Uji klinis yg. bisa dipercaya adalah penelitian yg. namanya penelitian "prospective" (ditinjau "kedepan"). Cara melakukan penelitian "prospective" sebagai berikut: kita tidak boleh memilih pasien tertentu utk. mendapat metode 1 atau metode 2. Kalau ada pasien baru yg. akan diteliti, dia harus mengambil satu amplop tertutup dimana sudah ada isinya ttg. metode apa didalamnya (misal: metode 1). Pasien dan dokter peneliti tidak tahu sebelumnya metode apa didalamnya (yg. namanya: "double blind" method). Jadi tidak akan ada pengaruh "bias" dari pasien dan dari dokter peneliti yg. bisa akan mengurangi hasil statistik yg. bisa dipercaya/diandalkan. Misal: setelah 4 tahun, kita mendapat pasien 1,200 dimana 567 pasien yg. mendapat metode 1 dan 633 pasien mendapat metode 2 (jumlah total 1,200). Tentunya "double blind" method tidak akan bisa mendapat jumlah jumlah pasien yg. sama: 600 metode 1 dan 600 metode 2. Dan juga tidak akan bisa mendapat jumlah yg. sama, misal, berapa jumlah pasien wanita, berapa yg. perokok, berapa yg. umurnya tertentu dan sebagainya di metode 1 dan metode 2. Pada akhir jangka penelitian, kita akan mengtahui berapa pasien yg. berhasil dan berapa pasien yg. mendapat komplikasi (termasuk kematian) dari metode 1 dan metode 2. Karena pasti ada perbedaan jumlah faktor/factor (pasien, jenis kelamin, perokok, umur dsb.). Faktor2 ini bisa mempengaruhi hasil dari terapi, misal, perokok akan bisa kena stroke otak lebih gampang drpd. yg. tidak merokok. Jadi karena adanya perbedaan jumlah dari faktor2 akan diperlukan " factor adjustment" dgn. perhitungan statistik yg. canggih. Dan hasil statistik dari cara ini (prospective study yg. diuraikan tsb. diatas yg. namanya "prospective randomized double blind clinical trial Phase III) adalah cara penelitian dgn. hasil bisa dipercaya dan diandalkan (dipakai diseluruh dunia). Saya kutip kenapa kalau mau mempelajari pasien2 telah diterapi oleh dr. Terawan, tidak akan bisa menghasilkan hasil yg. bisa dipercaya atau bisa diandalka karena ini adalah "retrospective study (ditinjau kebelakang)' Quote:DISADVANTAGES OF RETROSPECTIVE STUDIESinferior level of evidence compared with prospective studies.controls are often recruited by convenience sampling, and are thus not representative of the general population and prone to selection bias.prone to recall bias or misclassification bias.End of quote. Apa yg. telah dilakukan oleh Terawan, per-tama2 tidak diteliti sama sekali. Seharusnya, paling sedikit harus diteliti secara "retrospective" walaupun hasilnya kurang bisa diandalkan dibandingkan dgn. penelitian "prospective". Jadi kita tidak akan bisa tahu apakah terapi dari dr. Terawan itu berguna atau malahan merugikan pasien2. Tentunya banyak orang yg. tidak mengerti penelitian medis, bisa terpengaruh dari "jualan atau bualan" dari terapinya. Sampai2 orang setingkat Mahmud Md bisa termakan oleh bualan dr. Terawan. Sama saja kalau kita ketempat jualan obat/koyo dipasar. Terawan telah menjual terapi baru tanpa ada bukti ttg. kemanjurannya. Ini yg. dinamakan "pelangaran etik medis/professional misconduct". Salam,BH Jo On Monday, March 28, 2022, 07:54:59 PM MDT, ehhlin <[email protected]> wrote: Benar atau tidak satu theory adalah dibuktikan dengan di-praktek-kan theory itu. Dr. Tewaran menurut yg. pernah saya baca telah men cuci-otak itu terhadap 40,000-han (?) pasien , kenapa TAK diteliti kembali para pasien itu, tentu ada record dari para pasien, bagimana keadaan para pasien itu sekarang , apa "cuci-otak" itu berhasil atau tidak, berada prosen gagal, berada prosen berhasil dll.Jumlah 40,000 pasien itu sangat besar!!!Lin. Sent from my Samsung Galaxy smartphone. -------- Original message --------From: BILLY GUNADIE <[email protected]> Date: 28/03/2022 8:17 p.m. (GMT+05:30) To: [email protected], [email protected], GELORA45_In <[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih Sepengetahuan saya...IDI itu tidak berfungsi ...?BPJS...kenapa tidak universal...ada yang ikut program ...ada yang tidak .Di Jerman juga ada Ikatan dokter...pake sticker jarum dan uler.... Kebanyakan Mobil dokter tidak mau pasang sticker, karena ada sangsinya... hypocrite oath... Juga harus menolong nyawa orang....misalnya ada car accident... Dokter tidak boleh meninggalkan begitu saja...Dan juga di pengaruhi oleh pharmaceutical company...dengan insentive... Tour packages...atau bonus...?Nyawa manusia jadi tidak relevant lagi...?Juga kwalitas dokter badan diragukan...Terbukti ..pandemik .. vaccine...yang terburu buru...klinikal uji...1-3...?Dan terbukti... vaccine tidak menjadiksn kemebalan... Pfizer... Modena..Tidak ada sangsinya....?Kenapa tidak ada data statistic Dr. Terawan. .sukses dan kematian atas tetapinya....?Cuci otak....juga Di tolak di Eropah ...Banyak juga teori yang di tolak..Antara lain guntingan kertas koran Wegener soal plate tektonik... ? Sent from Rogers Yahoo Mail on Android On Mon., Mar. 28, 2022 at 10:17 a.m., B.H. Jo<[email protected]> wrote: Dahlan Iskan adalah seorang analis politik. Namun masalah dr. Terawan adalah masalah medik yg. harus dianalisa dari segi sain medik (medical science) dan bukan dianalisa dari segi politik. Kalau Terawan mau membuka praktek seperti dukun atau penjual obat dipasar, ya, boleh saja (bedasarkan hukum yg. ada di Indonesia) tetapi tidak boleh memakai nama dokter atau profesor yg. dipakai oleh organisasi dokter (IDI). IDI harus melindungi nama dan kredebilitas dokter2 lain dibawah organisasinya dimana terapi atau perawatan harus berdasarkan sain medik. Kalau pasien2 dari Terawan mendapat kerugian kesehatan dari metodenya yg. belum teruji, ya langsung berhadapan dgn. polisi kriminal. BH Jo On Monday, March 28, 2022, 03:07:41 AM MDT, BILLY GUNADIE <[email protected]> wrote: Oleh : Dahlan Iskan28 03 2022 APAKAH Terawan bukan lagi dokter? Setelah dipecat secara permanen dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI)? Tentu Terawan tetap dokter. Sepanjang ijazah dokternya tidak dicabut –oleh universitas yang memberikannya: Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia juga tetap dokter sepanjang ilmu kedokterannya tidak dicabut dari otaknya –oleh Tuhannya: Yesus. Apakah Terawan masih bisa buka praktik sebagai dokter? Sepanjang pemerintah masih mengizinkan, Terawan tetap bisa praktik. Apakah Terawan masih bisa bekerja di rumah sakit –RS Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta? Sepanjang direktur di RS tersebut masih memercayainya, Terawan tetap bisa bekerja di sana. Intinya: semua terserah pemerintah. Yang mengeluarkan izin itu pemerintah –Kementerian Kesehatan. Bukan IDI. Masalahnya: dengan pangkat yang sudah letnan jenderal TNI-AD, apakah Terawan masih memerlukan untuk berpraktik sebagai mata pencaharian. Jabatan di dunia kedokteran juga sudah mencapai puncak: menteri kesehatan. Sebelum itu pun sudah direktur RSPAD. Sebagai ilmuwan, Terawan juga sudah mencapai puncaknya: bergelar doktor. Inilah dokter dengan capaian tertinggi yang pernah dipecat secara permanen dari IDI. IDI adalah organisasi. Semua anggotanya harus dokter. Sebagai organisasi biasa, IDI punya aturan dasar (AD/ART) yang harus ditaati. Sebagai organisasi profesi, IDI punya kode etik yang juga harus diikuti. Rasanya Terawan dianggap lebih melanggar kode etik daripada melanggar AD/ART. Itu bisa dilihat dari proses pemecatannya: lewat sidang-sidang dewan etika dokter. Yakni, satu lembaga yang mengawasi apakah seorang dokter melanggar etika kedokteran atau tidak. Apakah karena Terawan gigih ”melahirkan” Vaksin Nusantara di awal pandemi, lalu dianggap melanggar kode etik IDI? Rasanya bukan itu. VakNus itu murni soal izin dari BPOM. Izin tersebut tidak keluar karena VakNus tidak memenuhi kriteria definisi vaksin. Saya pun pernah menulis: mengapa Terawan ngotot menyebutnya vaksin. Mengapa, misalnya, tidak menyebutnya terapi dendritik. Toh, para dokter yang mempraktikkan stem cell atau PRP atau juga cell cure tidak ada yang dipecat dari IDI. Rasanya pemecatan ini masih terkait dengan cuci otak. Yang dikembangkannya jauh sebelum VakNus. Ia pernah dipecat sementara dari IDI di soal cuci otak itu. Terawan dianggap tidak mau mempertanggungjawabkannya secara ilmu kedokteran di depan IDI. Waktu itu ributnya juga luar biasa. Tidak kalah dengan VakNus. Medsos belum seeksis sekarang. Keriuhan waktu itu hanya terlihat di media mainstream. Saking ributnya, saya sampai ingin mencoba sendiri. Saya ke RSPAD. Saya minta dilakukan ”cuci otak”. Masih dr Terawan sendiri yang mengerjakan. Belum seperti sekarang –sudah banyak dokter binaan Terawan yang bisa melakukannya. Lalu, saya menulis pengalaman saya menjalani praktik cuci otak itu (lihat Disway, 19/3/2021: Empat Misi Terawan). Sampai dua atau tiga seri. Istri saya minta terapi itu juga. Syaratnya: saya harus bersamanya. Maka, dua kali saya menjalani cuci otak. Begitu banyak tokoh nasional yang juga menjalaninya –sebelum dan sesudah saya. Lebih banyak lagi yang bukan tokoh: sudah lebih dari 40.000 orang. Terawan dianggap tidak pernah mau mempertanggungjawabkan itu. Sebenarnya ia bisa minta: agar pemecatan sementaranya itu ditinjau. Lewat muktamar IDI berikutnya. Terawan tidak mau memanfaatkan proses itu. Sampailah ada Muktamar IDI 2022. Di Aceh. Pekan lalu. Status pemecatan sementara itu tidak boleh terus menggantung: Terawan dipecat secara permanen. Di masa lalu Terawan mengatakan: pernah memberikan penjelasan yang diminta. IDI menganggap belum cukup. Terawan menganggap cukup. IDI terus mempersoalkan. Terawan memilih diam seribu bahasa –sambil terus mempraktikkan terapi cuci otak. Belakangan Terawan menulis disertasi: untuk meraih gelar doktor. Di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Disertasinya soal cuci otak itu. Terawan pernah mengatakan kepada saya: itulah pertanggungjawaban tertinggi secara ilmiah soal cuci otak. Disertasi itu diterima tim penguji di Unhas. Terawan berhak atas gelar doktor cuci otak. Terawan tidak melayani permintaan IDI. Ia abaikan begitu saja. Apakah tanpa menjadi anggota IDI Terawan masih dokter? Anda sudah tahu. Masalahnya, tidak ada organisasi dokter di luar IDI. Berarti, Terawan adalah dokter independen. Di antara organisasi-organisasi profesi (dokter, wartawan, pengacara, dan yang sejenis), IDI memang paling solid. Semua organisasi profesi sudah tidak tunggal lagi. Organisasi wartawan tidak lagi hanya PWI. Organisasi pengacara lebih banyak lagi. Hanya para dokter yang tidak mau membentuk organisasi di luar IDI. Mungkin itu karena ada legalitas yang kuat untuk IDI: izin praktik dokter tidak bisa diterbitkan kalau tidak ada rekomendasi IDI. Di situ tertulis eksplisit: IDI. Bukan organisasi dokter. Saya tidak tahu apakah sudah ada yang mempersoalkan ”monopoli” IDI itu secara hukum. Tapi, harus diakui: IDI adalah organisasi profesi yang paling ketat mengontrol anggotanya. Yang terketat. Organisasi wartawan begitu longgar. Pun organisasi advokat. Pelanggaran etika wartawan dan etika advokat begitu banyak. Padahal, sebuah profesi tanpa pengawasan kode etik sangat bahaya. Salah satu kriteria sebuah pekerjaan bisa disebut profesi adalah: apabila pekerjanya memiliki otonomi untuk melakukan atau tidak melakukan. Seorang dokter harus memutuskan sendiri obat apa yang harus diberikan ke pasien. Berdasar ilmu yang mereka kuasai. Dokter tidak bisa didikte siapa pun dalam mendiagnosis dan memberikan obat. Wartawan seharusnya juga begitu. Ia punya otonomi untuk menulis apa pun atau tidak menulis apa pun. Bukan karena disuruh atau dilarang oleh siapa pun –termasuk oleh penguasa dan pemilik amplop: tepatnya pemilik isi amplop. Pun pengacara: semestinya membela yang ia anggap benar dan keadilan harus ditegakkan –apa pun risikonya. Dokter, menurut pengamatan saya, adalah yang paling tinggi kadar ketaatan pada kode etiknya. Dan IDI mengontrolnya dengan ketat –lewat dewan etiknya. Saya sering melontarkan tantangan: ayo buka-bukaan. Dalam satu forum profesi. Temanya: siapa di antara organisasi profesi yang paling rusak –yang pelanggaran kode etiknya paling parah. Itu sebagai bagian dari misi agar para pekerja profesi lebih taat pada kode etik mereka. Terjadinya pelanggaran etika di berbagai profesi jelas: karena uang. Atau jabatan. Atau fasilitas. Dan ini bagian yang sangat memalukan dari sebuah profesi. Tapi, ini dia: pelanggaran etika yang dilakukan Terawan tidak ada hubungannya dengan uang atau jabatan atau fasilitas. Itu murni masalah keilmuan –mengerjakan menyembuhkan di luar ilmu kedokteran. Maka, Terawan tidak perlu malu dipecat dari IDI. Pun kalau salah –dalam Islam– ia masih harus dapat pahala. ”Salah” di situ bisa dibuktikan dengan jatuhnya korban –saya dua kali menjalani cuci otak: baik-baik saja. Saya dan banyak relawan mendapatkan VakNus –alhamdulillah, Anda sudah tahu, baik semua. (Dahlan Iskan) Sent from Rogers Yahoo Mail on Android On Mon., Mar. 28, 2022 at 3:10 a.m., B.H. Jo<[email protected]> wrote: Tambahan: Apa motifnya membuat terapi baru walaupun tidak teruji dimana sudah ada terapi standar yg. teruji? 1) Cari nama dan2) Cari uang berlebihan dengan mengabaikan atau dgn. potensi mengorbankan kesejahteraan pasien2/masyarakat. Ini adalah tindakan pelanggaan etika profesi (professional misconduct). BH Jo On Monday, March 28, 2022, 12:41:06 AM MDT, 'B.H. Jo' via GELORA45 <[email protected]> wrote: Dokter sebagai "anggota" dari profesi dokter (seperti, misalnya, IDI), dr. Terwan harus hanya melakukan metode pengobatan yg. telah teruji klinis (proven by a clinical trial about its effectiveness and potential side-effects/complications) sebagai terapi/perawatan standar ("standard of care"). Kalau belum teruji klinis (undergone a clinical trial), dokter tidak boleh melakukan pengobatan yg. belum teruji klinis. dr. Terawan telah melakukan terapi atau prosedur utk. stroke otak yg. dinamakan "cuci otak" secara TIDAK ETIS. Stroke otak terjadi karena pembuluh darah yg memberi "makan" (antara lain oxygen) ke-otak, tersumbat oleh gumpalan darah (blood clot) yg. terbawa dialiran darah ke otak. Kesumbatan dari pembuluh darah ke otak juga bisa terjadi kalau diding dari pembuluh darah terus menjadi sempit karena adanya proses arteriosklerosis di diding pembuluh darah yg. bersangkutan. Stroke otak sudah ada terapi standarnya yg. telah teruji klinis (yg. dipakai diseluruh dunia). Dan dr. Terawan melakukan terapi baru yg. berlainan dgn. terapi standar tanpa diuji klinis lebih dulu. Contoh: Cara melakukan uji klinis utk. terapi baru utk. stroke otak atau terapi utk. penyakit lain, seperti berikut: dr. Terawan harus minta ijin kpd. IDI/yg. berwenang bagian "uji klinis". Dan dia harus menunjukan protokol uji klinisnya kpd. yg. berwenang dimana terapi baru (yg. belum teruji) dibandingkan dgn. terapi standar (yg. telah teruji ber-tahun2). Misal: akan diperlukan paling sedikit 200 pasien yg. akan "mendapat terapi baru" dan 200 pasien yg. akan "mendapat terapi standar". Kemudian mereka semua diawasi utk. beberapa lama. Setelah waktu tertentu, kita bisa melihat berapa yg. sembuh dan berapa yg. mendapat komplikasi dari terapi baru dibandingkan dgn. terapi standar dimana statistik canggih akan dipakai utk. mendapat hasil perbandingannya (yg. bisa dipercaya). Terang kalau terapi baru hasil kesembuhannya kalah dgn./lebih sedikit dari terapi standar atau hasil komplikasi dari terapi lebih banyak, terapi baru TIDAK boleh dipakai utk. terapi sebagai pengganti dari terapi standar. Yg. telah dilakukan oleh dr. Terawan adalah terapi "cuci otak" yg. belum diuji klinis (clinical trial Phase III). Dan dia melakukan terapi barunya yg. belum teruji sebagai pengganti terapi standar. Jadi barangkali telah banyak pasien2 yg. dirugikan tetapi kita/pasien2 nya tidak mengetahuinya. Tindakan medisnya adalah TIDAK ETIS kalau disini namanya dia telah melakukan "professional misconduct". Saya juga pernah bekerja di Jerman dan tindakan dr. Terawan juga disana pasti dianggap melanggar etika kedokteran. 4-5 tahun yg. lalu saya menggikuti diskusi terapi "cuci otak" dari dr. Terawan tetapi tidak ingat secara detailnya lagi tetapi terapinya tidak bisa masuk diakal. Juga rencana pembuatan vaksin "Nusantara" dari dr. Terawan, tidak masuk diakal (does not make any sense). Kami diskusikan vaksin Nusantara dgn. anggota2 medical group dari US/Canada/Europe, kami juga geleng2 kepala dgn ide-nya. Sudah betul sekali, IDI mencabut ijin praktek dari dr. Terawan, yg. telah membahayakan pasien2 dan masyarakat di Indonesia. Cuma IDI kurang tegas, semestinya ijin praktenya sudah harus dicabut beberapa tahun yg. lalu. Tetapi ada ungkapan: "Better late than never". Salam,BH Jo On Sunday, March 27, 2022, 07:33:29 PM MDT, BILLY GUNADIE <[email protected]> wrote: Sent from Rogers Yahoo Mail on Android On Sun., Mar. 27, 2022 at 9:09 p.m., Chan CT<[email protected]> wrote: Saya awam kedokteran, jadi TIDAK JELAS sampai dimana kebenaran ilmiah terapi “cuci otak” juga vaksin Merah Putih yang diajukan dr. Terawan itu, ... Tapi, dari yang saya baca dimedsos, disamping pertentangan ilmiah kedokteran juga ada pertentangan kepentingan antara IDI dan dr. Terawan itu yang kemudian dituduh telah melanggar ketentuan moral-etika kedokteran IDI. Yang satu menganggap kebijakan sosial dr. Terawan itu bisa menggempur kepentingan pengusaha yang dibela IDI, ...? Entahlah bagaimana konkritnya. Jadi, mestinya penemuan pengobatan dr. Terawan itu tidak ditekan, ditindas begitu saja, tapi bisa diperdebatkan secara ilmiah dan dibuktikan lebih lanut! Kalau saja pengembangan/penemuan dr. Terawan itu yang sekarang ini dituduh pelanggaran, siapa tahu justru itulah yang benar dan sebaiknya dikembangkan. Atau katakanlah juga masih ada kekurangan yang perlu disempurnakan, ... tapi kesitulah arah pengembangan agar manusia bisa hidup lebih baik dan sehat? Salam, ChanCT From: 'B.H. Jo' via GELORA45 Sent: Sunday, March 27, 2022 11:32 AM To: GELORA45_In Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih Mestinya dr. Terawan sudah dipecat beberapa tahun yg lalu waktu dia mulai melakukan terapi cuci otak (yg tidak berdasarkan ilmu yg benar) , yg akan merugikan pasien2. BH Jo On Saturday, March 26, 2022, 08:00:04 PM MDT, Chan CT <[email protected]> wrote: Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih Kadek Melda Luxiana - detikNews Minggu, 27 Mar 2022 07:57 WIB Foto: Dok. Kemenko Polhukam Jakarta - Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dipecat dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Menko Polhukam Mahfud Md mengaku pernah menjalani terapi cuci otak oleh dokter Terawan dan divaksin merah putih. Terawan dan IDI sendiri memiliki hubungan yang panas dingin. Hubungan panas dingin itu mulai terjadi sejak munculnya terapi 'cuci otak'. Kembali ke Mahfud, dia mengatakan sudah dua kali terapi cuci otak. Karena merasa hasil terapi cuci otak bagus, dia kemudian mengajak istrinya untuk ikut terapi. "Saya pernah dua kali cuci otak atau DSA (Digital Subtraction Angiography) ke dokter Terawan, yakni, ketika masih ketua MK sekitar tahun 2011 dan pada tahun 2017. Saya bukan ahli medis tapi kalau perasaan saya sih hasilnya bagus, keluhan langsung hilang. Makanya saya sampai dua kali dan yang kedua mengajak istri," kata Mahfud kepada detikcom, Sabtu (26/3/2022). Baca juga: Disuntik Vaksin Nusantara, Legislator Kecewa Terawan Dipecat IDI Selain pernah terapi dengan dokter Terawan, Mahfud menuturkan dirinya juga mendapat suntikan vaksin Nusantara yang dicetuskan oleh Terawan. Mahfud mengaku usai mendapat vaksin Nusantara, imun tubuhnya meningkat. "Saya juga sudah ikut minta vaksin Nusantara yang digarap oleh Pak Terawan sebelum dapat vaksin booster. Waktu mau booster dulu kan pejabat non-tendis (tenaga medis) atau TNI/Polri masih harus antre atau menunggu, tak bisa cepat. Saya juga tak mau cari-cari booster lewat jalan tol," ujarnya. "Ketika saya minta booster dan diberi tahu oleh Menkes bahwa selain tendis dan TNI/POLRI belum boleh boostet maka saya ambil vaksin Nusantara. Antibodi saya naik tinggi setelah divaksin Nusantara," lanjutnya. Baca juga: Adib Khumaidi Dikukuhkan Jadi Ketum PB IDI 2022-2025 Meski merasa hasil kerja dokter Terawan bagus, Mahfud tidak bisa memberikan komentar terkait dipecatnya dokter Terawan dari IDI sebab sudah ada mekanisme dan aturan tersendiri. Namun yang terpenting baginya asalah kesembuhan dan imun tubuh meningkat. "Saya bukan ahli medis, jadi saya tidak bisa menanggapi apa pun terkait pemberhentian Pak Terawan dari IDI. Itu sudah ada aturan dan mekanisme tersendiri. Kalau saya sendiri sih yang penting sembuh atau imun dari virus," imbuhnya. Baca berita selengkapnya di halaman berikut Simak Video 'Sederet Kontroversi Terawan Hingga Dipecat IDI': Sebelumnya, kabar pemecatan Terawan Agus Putranto dari IDI dibenarkan oleh Ketua Panitia Muktamar Ke-31 IDI dr Nasrul Musadir Alsa. Pemecatan itu berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI. "Iya (dipecat), dari hasil muktamar yang kami terima ya. Dari hasil yang kita terima yang diserahkan panitia memang begitu, (sesuai) MKEK iya," kata Nasrul saat dimintai konfirmasi, Sabtu (26/3). Baca juga: Pimpinan DPR Khawatir Terawan Dipecat IDI Bikin Dokter Takut Berinovasi Nasrul mengatakan Terawan kini tak lagi bisa membuka praktik dokter. Hal itu lantaran Terawan tidak bisa lagi mengurus surat izin praktik (SIP). "Ya mestinya begitu ya, kan tidak bisa urus SIP dan sebagainya ya," kata Nasrul. (dek/dnu) Baca artikel detiknews, "Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih" selengkapnya https://news.detik.com/berita/d-6002776/terawan-dipecat-idi-mahfud-md-cerita-dicuci-otak-vaksin-merah-putih. Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/-- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DB447898EA6E4EA996594AB87B9FC483%40A10Live. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1896328456.378107.1648351934643%40mail.yahoo.com. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DEFBCAA8B546499489C1268A05F66BDC%40A10Live. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/1200279699.504553.1648449660657%40mail.yahoo.com. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/643607943.517631.1648458447446%40mail.yahoo.com. -- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/680310812.570336.1648478832873%40mail.yahoo.com. -- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/tny2res7vx5254iua9i0ddcq.1648637159486%40email.android.com.
