Yang menyolok kok belum ada ex patient yang menuntut dr. Terawan kalau
pengobatannya tidak ada effeknya atau buruk effeknya dari ribuan patientnya
?
Juga belum ada tuntutan dari patient pada dokter2 lain yang juga memakai
metode dr. Terawan ?

Op di 29 mrt. 2022 om 10:20 schreef Lusi D. <[email protected]>:

> Yah baca saja tulisannya Dahlan Iskan salah seorang pasiennya. Normal
> nggak Dahlan Iskan itu?
>
>
>
> Am Tue, 29
> Mar 2022 07:24:51 +0530 schrieb ehhlin <[email protected]>:
>
> > Benar atau tidak satu theory adalah dibuktikan dengan di-praktek-kan
> > theory itu. Dr. Tewaran menurut yg. pernah saya baca telah men
> > cuci-otak itu terhadap 40,000-han (?) pasien , kenapa TAK diteliti
> > kembali para pasien itu, tentu ada record dari para  pasien,
> > bagimana keadaan para pasien itu sekarang , apa "cuci-otak" itu
> > berhasil atau tidak, berada prosen gagal, berada prosen berhasil
> > dll.Jumlah 40,000 pasien itu sangat  besar!!!Lin.
> >
> >
> >
> >
> > Sent from my Samsung Galaxy smartphone.
> > -------- Original message --------From: BILLY GUNADIE
> > <[email protected]> Date: 28/03/2022  8:17 p.m.  (GMT+05:30)
> > To: [email protected], [email protected], GELORA45_In
> > <[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat
> > IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih Sepengetahuan
> > saya...IDI itu tidak berfungsi ...?BPJS...kenapa tidak
> > universal...ada yang ikut program ...ada yang tidak .Di Jerman juga
> > ada Ikatan dokter...pake sticker jarum dan uler.... Kebanyakan Mobil
> > dokter tidak mau pasang sticker, karena ada sangsinya... hypocrite
> > oath... Juga harus menolong nyawa orang....misalnya ada car
> > accident... Dokter tidak boleh meninggalkan begitu saja...Dan juga di
> > pengaruhi oleh pharmaceutical company...dengan insentive... Tour
> > packages...atau bonus...?Nyawa manusia jadi tidak relevant
> > lagi...?Juga kwalitas dokter badan diragukan...Terbukti ..pandemik ..
> > vaccine...yang terburu buru...klinikal uji...1-3...?Dan terbukti...
> > vaccine tidak menjadiksn kemebalan... Pfizer... Modena..Tidak ada
> > sangsinya....?Kenapa tidak ada data statistic Dr. Terawan. .sukses
> > dan kematian atas tetapinya....?Cuci otak....juga Di tolak di
> > Eropah ...Banyak juga teori yang di tolak..Antara lain guntingan
> > kertas koran Wegener soal plate tektonik... ?
> >
> >
> >
> > Sent from Rogers Yahoo Mail on Android
> >    On Mon., Mar. 28, 2022 at 10:17 a.m., B.H. Jo<[email protected]>
> > wrote: Dahlan Iskan adalah seorang analis politik. Namun masalah dr.
> > Terawan adalah masalah medik yg. harus dianalisa dari segi sain medik
> > (medical science) dan bukan dianalisa dari segi politik. Kalau
> > Terawan mau membuka praktek seperti dukun atau penjual obat dipasar,
> > ya, boleh saja (bedasarkan hukum yg. ada di Indonesia) tetapi tidak
> > boleh memakai nama dokter atau profesor yg. dipakai oleh organisasi
> > dokter (IDI). IDI harus melindungi nama dan kredebilitas dokter2 lain
> > dibawah organisasinya dimana terapi atau perawatan harus berdasarkan
> > sain medik.  Kalau pasien2 dari Terawan mendapat kerugian kesehatan
> > dari metodenya yg. belum teruji, ya langsung berhadapan dgn. polisi
> > kriminal. BH Jo
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >                     On Monday, March 28, 2022, 03:07:41 AM MDT, BILLY
> > GUNADIE <[email protected]> wrote:
> >
> >
> >
> >
> >                 Oleh : Dahlan Iskan28 03 2022
> >                       APAKAH Terawan bukan lagi dokter? Setelah
> > dipecat secara permanen dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI)? Tentu
> > Terawan tetap dokter. Sepanjang ijazah dokternya tidak dicabut –oleh
> > universitas yang memberikannya: Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia juga
> > tetap dokter sepanjang ilmu kedokterannya tidak dicabut dari otaknya
> > –oleh Tuhannya: Yesus. Apakah Terawan masih bisa buka praktik sebagai
> > dokter? Sepanjang pemerintah masih mengizinkan, Terawan tetap bisa
> > praktik. Apakah Terawan masih bisa bekerja di rumah sakit –RS Pusat
> > Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta? Sepanjang direktur di
> > RS tersebut masih memercayainya, Terawan tetap bisa bekerja di
> > sana. Intinya: semua terserah pemerintah. Yang mengeluarkan izin itu
> > pemerintah –Kementerian Kesehatan. Bukan IDI. Masalahnya: dengan
> > pangkat yang sudah letnan jenderal TNI-AD, apakah Terawan masih
> > memerlukan untuk berpraktik sebagai mata pencaharian. Jabatan di
> > dunia kedokteran juga sudah mencapai puncak: menteri kesehatan.
> > Sebelum itu pun sudah direktur RSPAD. Sebagai ilmuwan, Terawan juga
> > sudah mencapai puncaknya: bergelar doktor. Inilah dokter dengan
> > capaian tertinggi yang pernah dipecat secara permanen dari IDI. IDI
> > adalah organisasi. Semua anggotanya harus dokter. Sebagai organisasi
> > biasa, IDI punya aturan dasar (AD/ART) yang harus ditaati. Sebagai
> > organisasi profesi, IDI punya kode etik yang juga harus diikuti.
> > Rasanya Terawan dianggap lebih melanggar kode etik daripada melanggar
> > AD/ART. Itu bisa dilihat dari proses pemecatannya: lewat
> > sidang-sidang dewan etika dokter. Yakni, satu lembaga yang mengawasi
> > apakah seorang dokter melanggar etika kedokteran atau tidak. Apakah
> > karena Terawan gigih ”melahirkan” Vaksin Nusantara di awal pandemi,
> > lalu dianggap melanggar kode etik IDI? Rasanya bukan itu. VakNus itu
> > murni soal izin dari BPOM. Izin tersebut tidak keluar karena VakNus
> > tidak memenuhi kriteria definisi vaksin. Saya pun pernah menulis:
> > mengapa Terawan ngotot menyebutnya vaksin. Mengapa, misalnya, tidak
> > menyebutnya terapi dendritik. Toh, para dokter yang mempraktikkan
> > stem cell atau PRP atau juga cell cure tidak ada yang dipecat dari
> > IDI. Rasanya pemecatan ini masih terkait dengan cuci otak. Yang
> > dikembangkannya jauh sebelum VakNus. Ia pernah dipecat sementara dari
> > IDI di soal cuci otak itu. Terawan dianggap tidak mau
> > mempertanggungjawabkannya secara ilmu kedokteran di depan IDI. Waktu
> > itu ributnya juga luar biasa. Tidak kalah dengan VakNus. Medsos belum
> > seeksis sekarang. Keriuhan waktu itu hanya terlihat di media
> > mainstream. Saking ributnya, saya sampai ingin mencoba sendiri. Saya
> > ke RSPAD. Saya minta dilakukan ”cuci otak”. Masih dr Terawan sendiri
> > yang mengerjakan. Belum seperti sekarang –sudah banyak dokter binaan
> > Terawan yang bisa melakukannya. Lalu, saya menulis pengalaman saya
> > menjalani praktik cuci otak itu (lihat Disway, 19/3/2021: Empat Misi
> > Terawan). Sampai dua atau tiga seri. Istri saya minta terapi itu
> > juga. Syaratnya: saya harus bersamanya. Maka, dua kali saya menjalani
> > cuci otak. Begitu banyak tokoh nasional yang juga menjalaninya
> > –sebelum dan sesudah saya. Lebih banyak lagi yang bukan tokoh: sudah
> > lebih dari 40.000 orang. Terawan dianggap tidak pernah mau
> > mempertanggungjawabkan itu. Sebenarnya ia bisa minta: agar pemecatan
> > sementaranya itu ditinjau. Lewat muktamar IDI berikutnya. Terawan
> > tidak mau memanfaatkan proses itu. Sampailah ada Muktamar IDI 2022.
> > Di Aceh. Pekan lalu. Status pemecatan sementara itu tidak boleh terus
> > menggantung: Terawan dipecat secara permanen. Di masa lalu Terawan
> > mengatakan: pernah memberikan penjelasan yang diminta. IDI menganggap
> > belum cukup. Terawan menganggap cukup. IDI terus mempersoalkan.
> > Terawan memilih diam seribu bahasa –sambil terus mempraktikkan terapi
> > cuci otak. Belakangan Terawan menulis disertasi: untuk meraih gelar
> > doktor. Di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Disertasinya
> > soal cuci otak itu. Terawan pernah mengatakan kepada saya: itulah
> > pertanggungjawaban tertinggi secara ilmiah soal cuci otak. Disertasi
> > itu diterima tim penguji di Unhas. Terawan berhak atas gelar doktor
> > cuci otak. Terawan tidak melayani permintaan IDI. Ia abaikan begitu
> > saja. Apakah tanpa menjadi anggota IDI Terawan masih dokter? Anda
> > sudah tahu. Masalahnya, tidak ada organisasi dokter di luar IDI.
> > Berarti, Terawan adalah dokter independen. Di antara
> > organisasi-organisasi profesi (dokter, wartawan, pengacara, dan yang
> > sejenis), IDI memang paling solid. Semua organisasi profesi sudah
> > tidak tunggal lagi. Organisasi wartawan tidak lagi hanya PWI.
> > Organisasi pengacara lebih banyak lagi. Hanya para dokter yang tidak
> > mau membentuk organisasi di luar IDI. Mungkin itu karena ada
> > legalitas yang kuat untuk IDI: izin praktik dokter tidak bisa
> > diterbitkan kalau tidak ada rekomendasi IDI. Di situ tertulis
> > eksplisit: IDI. Bukan organisasi dokter. Saya tidak tahu apakah sudah
> > ada yang mempersoalkan ”monopoli” IDI itu secara hukum. Tapi, harus
> > diakui: IDI adalah organisasi profesi yang paling ketat mengontrol
> > anggotanya. Yang terketat. Organisasi wartawan begitu longgar. Pun
> > organisasi advokat. Pelanggaran etika wartawan dan etika advokat
> > begitu banyak. Padahal, sebuah profesi tanpa pengawasan kode etik
> > sangat bahaya. Salah satu kriteria sebuah pekerjaan bisa disebut
> > profesi adalah: apabila pekerjanya memiliki otonomi untuk melakukan
> > atau tidak melakukan. Seorang dokter harus memutuskan sendiri obat
> > apa yang harus diberikan ke pasien. Berdasar ilmu yang mereka kuasai.
> > Dokter tidak bisa didikte siapa pun dalam mendiagnosis dan memberikan
> > obat. Wartawan seharusnya juga begitu. Ia punya otonomi untuk menulis
> > apa pun atau tidak menulis apa pun. Bukan karena disuruh atau
> > dilarang oleh siapa pun –termasuk oleh penguasa dan pemilik amplop:
> > tepatnya pemilik isi amplop. Pun pengacara: semestinya membela yang
> > ia anggap benar dan keadilan harus ditegakkan –apa pun risikonya.
> > Dokter, menurut pengamatan saya, adalah yang paling tinggi kadar
> > ketaatan pada kode etiknya. Dan IDI mengontrolnya dengan ketat –lewat
> > dewan etiknya. Saya sering melontarkan tantangan: ayo buka-bukaan.
> > Dalam satu forum profesi. Temanya: siapa di antara organisasi profesi
> > yang paling rusak –yang pelanggaran kode etiknya paling parah. Itu
> > sebagai bagian dari misi agar para pekerja profesi lebih taat pada
> > kode etik mereka. Terjadinya pelanggaran etika di berbagai profesi
> > jelas: karena uang. Atau jabatan. Atau fasilitas. Dan ini bagian yang
> > sangat memalukan dari sebuah profesi. Tapi, ini dia: pelanggaran
> > etika yang dilakukan Terawan tidak ada hubungannya dengan uang atau
> > jabatan atau fasilitas. Itu murni masalah keilmuan –mengerjakan
> > menyembuhkan di luar ilmu kedokteran. Maka, Terawan tidak perlu malu
> > dipecat dari IDI. Pun kalau salah –dalam Islam– ia masih harus dapat
> > pahala. ”Salah” di situ bisa dibuktikan dengan jatuhnya korban –saya
> > dua kali menjalani cuci otak: baik-baik saja. Saya dan banyak relawan
> > mendapatkan VakNus –alhamdulillah, Anda sudah tahu, baik semua.
> > (Dahlan Iskan) Sent from Rogers Yahoo Mail on Android On Mon., Mar.
> > 28, 2022 at 3:10 a.m., B.H. Jo<[email protected]> wrote: Tambahan: Apa
> > motifnya membuat terapi baru walaupun tidak teruji dimana sudah ada
> > terapi standar yg. teruji? 1) Cari nama dan2) Cari uang berlebihan
> > dengan mengabaikan atau dgn. potensi mengorbankan kesejahteraan
> > pasien2/masyarakat. Ini adalah tindakan pelanggaan etika profesi
> > (professional misconduct). BH Jo
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >                     On Monday, March 28, 2022, 12:41:06 AM MDT, 'B.H.
> > Jo' via GELORA45 <[email protected]> wrote:
> >
> >
> >
> >
> >
> >         Dokter sebagai "anggota" dari profesi dokter (seperti,
> > misalnya, IDI), dr. Terwan harus hanya melakukan metode pengobatan
> > yg. telah teruji klinis (proven by a clinical trial about its
> > effectiveness and potential side-effects/complications) sebagai
> > terapi/perawatan standar ("standard of care"). Kalau belum teruji
> > klinis (undergone a clinical trial), dokter tidak boleh melakukan
> > pengobatan yg. belum teruji klinis.
> >
> > dr. Terawan telah melakukan terapi atau prosedur utk. stroke otak yg.
> > dinamakan "cuci otak" secara TIDAK ETIS. Stroke otak terjadi karena
> > pembuluh darah yg memberi "makan" (antara lain oxygen)
> > ke-otak, tersumbat oleh gumpalan darah (blood clot) yg. terbawa
> > dialiran darah ke otak. Kesumbatan dari pembuluh darah ke otak juga
> > bisa terjadi kalau diding dari pembuluh darah terus menjadi sempit
> > karena adanya proses arteriosklerosis di diding pembuluh darah yg.
> > bersangkutan. Stroke otak sudah ada terapi standarnya yg. telah
> > teruji klinis (yg. dipakai diseluruh dunia). Dan dr. Terawan
> > melakukan terapi baru yg. berlainan dgn. terapi standar tanpa diuji
> > klinis lebih dulu. Contoh: Cara melakukan uji klinis utk. terapi baru
> > utk. stroke otak atau terapi utk. penyakit lain, seperti berikut: dr.
> > Terawan harus minta ijin kpd. IDI/yg. berwenang bagian "uji klinis".
> > Dan dia harus menunjukan protokol uji klinisnya kpd. yg. berwenang
> > dimana terapi baru (yg. belum teruji) dibandingkan dgn. terapi
> > standar (yg. telah teruji ber-tahun2). Misal: akan diperlukan paling
> > sedikit 200 pasien yg. akan "mendapat terapi baru" dan 200 pasien yg.
> > akan "mendapat terapi standar". Kemudian mereka semua diawasi utk.
> > beberapa lama. Setelah waktu tertentu, kita bisa melihat berapa yg.
> > sembuh dan berapa yg. mendapat komplikasi dari terapi baru
> > dibandingkan dgn. terapi standar dimana statistik canggih akan
> > dipakai utk. mendapat hasil perbandingannya (yg. bisa dipercaya).
> > Terang kalau terapi baru hasil kesembuhannya kalah dgn./lebih sedikit
> > dari terapi standar atau hasil komplikasi dari terapi lebih banyak,
> > terapi baru TIDAK boleh dipakai utk. terapi sebagai pengganti dari
> > terapi standar. Yg. telah dilakukan oleh dr. Terawan adalah terapi
> > "cuci otak" yg. belum diuji klinis (clinical trial Phase III). Dan
> > dia melakukan terapi barunya yg. belum teruji sebagai pengganti
> > terapi standar. Jadi barangkali telah banyak pasien2 yg. dirugikan
> > tetapi kita/pasien2 nya tidak mengetahuinya. Tindakan medisnya adalah
> > TIDAK ETIS kalau disini namanya dia telah melakukan "professional
> > misconduct". Saya juga pernah bekerja di Jerman dan  tindakan dr.
> > Terawan juga disana pasti dianggap melanggar etika kedokteran. 4-5
> > tahun yg. lalu saya menggikuti diskusi terapi "cuci otak" dari dr.
> > Terawan tetapi tidak ingat secara detailnya lagi tetapi terapinya
> > tidak bisa masuk diakal. Juga rencana pembuatan vaksin "Nusantara"
> > dari dr. Terawan, tidak masuk diakal (does not make any sense). Kami
> > diskusikan vaksin Nusantara dgn. anggota2 medical group dari
> > US/Canada/Europe, kami juga geleng2 kepala dgn ide-nya. Sudah betul
> > sekali, IDI mencabut ijin praktek dari dr. Terawan, yg. telah
> > membahayakan pasien2 dan masyarakat di Indonesia. Cuma IDI kurang
> > tegas, semestinya ijin praktenya sudah harus dicabut beberapa tahun
> > yg. lalu. Tetapi ada ungkapan: "Better late than never". Salam,BH Jo
> > On Sunday, March 27, 2022, 07:33:29 PM MDT, BILLY GUNADIE
> > <[email protected]> wrote:
> >
> >
> >
> >
> >
> > Sent from Rogers Yahoo Mail on Android
> >    On Sun., Mar. 27, 2022 at 9:09 p.m., Chan CT<[email protected]>
> > wrote:
> >
> >
> > Saya awam kedokteran, jadi TIDAK JELAS sampai dimana kebenaran
> > ilmiah terapi “cuci otak” juga vaksin Merah Putih yang diajukan dr.
> > Terawan itu, ...
> > Tapi, dari yang saya baca dimedsos, disamping pertentangan
> > ilmiah kedokteran juga ada pertentangan kepentingan antara IDI dan
> > dr. Terawan itu yang kemudian dituduh telah melanggar ketentuan
> > moral-etika kedokteran IDI. Yang satu menganggap kebijakan sosial dr.
> > Terawan itu bisa menggempur kepentingan pengusaha yang dibela
> > IDI, ...? Entahlah bagaimana konkritnya.
> >
> > Jadi, mestinya penemuan pengobatan dr. Terawan itu tidak
> > ditekan, ditindas begitu saja, tapi bisa diperdebatkan secara ilmiah
> > dan dibuktikan lebih lanut! Kalau saja pengembangan/penemuan dr.
> > Terawan itu yang sekarang ini dituduh pelanggaran, siapa tahu justru
> > itulah yang benar dan sebaiknya dikembangkan. Atau katakanlah juga
> > masih ada kekurangan yang perlu disempurnakan, ... tapi kesitulah
> > arah pengembangan agar manusia bisa hidup lebih baik dan sehat?
> >
> > Salam,
> > ChanCT
> >
> >
> >
> >
> >
> > From: 'B.H. Jo' via GELORA45
> > Sent: Sunday, March 27, 2022 11:32 AM
> > To: GELORA45_In
> > Subject: Re: [GELORA45] Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita
> > 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah Putih
> >
> >
> >
> >
> > Mestinya dr. Terawan sudah dipecat beberapa
> > tahun yg lalu waktu dia mulai melakukan terapi cuci otak (yg tidak
> > berdasarkan ilmu yg benar) , yg akan merugikan pasien2.
> >
> > BH Jo
> >
> >
> >
> > On Saturday, March 26, 2022, 08:00:04 PM MDT, Chan CT
> > <[email protected]> wrote:
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci Otak'-Vaksin Merah
> > Putih
> > Kadek
> > Melda Luxiana - detikNews
> > Minggu,
> > 27 Mar 2022 07:57 WIB
> >
> >
> > Foto:
> > Dok. Kemenko Polhukam
> >
> > Jakarta
> > - Mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dipecat dari
> > keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Menko Polhukam Mahfud Md
> > mengaku pernah menjalani terapi cuci otak oleh dokter Terawan dan
> > divaksin merah putih. Terawan
> > dan IDI sendiri memiliki hubungan yang panas dingin. Hubungan panas
> > dingin itu mulai terjadi sejak munculnya terapi 'cuci otak'.
> >
> > Kembali
> > ke Mahfud, dia mengatakan sudah dua kali terapi cuci otak. Karena
> > merasa hasil terapi cuci otak bagus, dia kemudian mengajak istrinya
> > untuk ikut terapi.
> >
> >
> > "Saya
> > pernah dua kali cuci otak atau DSA (Digital Subtraction Angiography)
> > ke dokter Terawan, yakni, ketika masih ketua MK sekitar tahun 2011
> > dan pada tahun 2017. Saya bukan ahli medis tapi kalau perasaan saya
> > sih hasilnya bagus, keluhan langsung hilang. Makanya saya sampai dua
> > kali dan yang kedua mengajak istri," kata Mahfud kepada detikcom,
> > Sabtu (26/3/2022).
> >
> > Baca
> > juga:
> > Disuntik
> > Vaksin Nusantara, Legislator Kecewa Terawan Dipecat IDI
> >
> > Selain
> > pernah terapi dengan dokter Terawan, Mahfud menuturkan dirinya juga
> > mendapat suntikan vaksin Nusantara yang dicetuskan oleh Terawan.
> > Mahfud mengaku usai mendapat vaksin Nusantara, imun tubuhnya
> > meningkat.
> >
> > "Saya
> > juga sudah ikut minta vaksin Nusantara yang digarap oleh Pak Terawan
> > sebelum dapat vaksin booster. Waktu mau booster dulu kan pejabat
> > non-tendis (tenaga medis) atau TNI/Polri masih harus antre atau
> > menunggu, tak bisa cepat. Saya juga tak mau cari-cari booster lewat
> > jalan tol," ujarnya.
> >
> > "Ketika
> > saya minta booster dan diberi tahu oleh Menkes bahwa selain tendis
> > dan TNI/POLRI belum boleh boostet maka saya ambil vaksin Nusantara.
> > Antibodi saya naik tinggi setelah divaksin Nusantara," lanjutnya.
> >
> > Baca
> > juga:
> > Adib
> > Khumaidi Dikukuhkan Jadi Ketum PB IDI 2022-2025
> >
> > Meski
> > merasa hasil kerja dokter Terawan bagus, Mahfud tidak bisa memberikan
> > komentar terkait dipecatnya dokter Terawan dari IDI sebab sudah ada
> > mekanisme dan aturan tersendiri. Namun yang terpenting baginya asalah
> > kesembuhan dan imun tubuh meningkat.
> >
> > "Saya
> > bukan ahli medis, jadi saya tidak bisa menanggapi apa pun terkait
> > pemberhentian Pak Terawan dari IDI. Itu sudah ada aturan dan
> > mekanisme tersendiri. Kalau saya sendiri sih yang penting sembuh atau
> > imun dari virus," imbuhnya.
> >
> > Baca
> > berita selengkapnya di halaman berikut
> >
> >
> > Simak
> > Video 'Sederet Kontroversi Terawan Hingga Dipecat IDI':
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Sebelumnya,
> > kabar pemecatan Terawan Agus Putranto dari IDI dibenarkan oleh Ketua
> > Panitia Muktamar Ke-31 IDI dr Nasrul Musadir Alsa. Pemecatan itu
> > berdasarkan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI.
> >
> > "Iya
> > (dipecat), dari hasil muktamar yang kami terima ya. Dari hasil yang
> > kita terima yang diserahkan panitia memang begitu, (sesuai) MKEK
> > iya," kata Nasrul saat dimintai konfirmasi, Sabtu (26/3).
> >
> > Baca
> > juga:
> > Pimpinan
> > DPR Khawatir Terawan Dipecat IDI Bikin Dokter Takut
> > Berinovasi
> >
> > Nasrul
> > mengatakan Terawan kini tak lagi bisa membuka praktik dokter. Hal itu
> > lantaran Terawan tidak bisa lagi mengurus surat izin praktik (SIP).
> >
> > "Ya
> > mestinya begitu ya, kan tidak bisa urus SIP dan sebagainya ya," kata
> > Nasrul.
> >
> > (dek/dnu)
> >
> > Baca
> > artikel detiknews, "Terawan Dipecat IDI, Mahfud Md Cerita 'Dicuci
> > Otak'-Vaksin Merah Putih"
> > selengkapnya
> https://news.detik.com/berita/d-6002776/terawan-dipecat-idi-mahfud-md-cerita-dicuci-otak-vaksin-merah-putih
> .
> >
> > Download
> > Apps Detikcom Sekarang
> > https://apps.detik.com/detik/--
> >
> > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "GELORA45" di Google
> > Grup.
> > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup
> > ini, kirim email ke [email protected].
> > Untuk
> > melihat diskusi ini di web, kunjungi
> >
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/DB447898EA6E4EA996594AB87B9FC483%40A10Live
> .
>
> --
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari
> Google Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi
> https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/20220329102006.782f1fb6%40lilik-ThinkPad-T420s
> .
>

-- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "GELORA45" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk melihat diskusi ini di web, kunjungi 
https://groups.google.com/d/msgid/gelora1945/CAG8tavjv_i6N7ih8vRmwnD%3D6i%3D54ugbPKg0RKf%3D3yc73Omv9dA%40mail.gmail.com.

Reply via email to