Inilah orang-orang penganggur yang keisengan menggunakan tulisan kelompok Falungong sebagai dasar pemikiran untuk menyerang PKT!
From: Tatiana Lukman Sent: Wednesday, September 21, 2016 8:06 PM To: yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD Cc: Daeng ; Mitri ; Mang Broto ; Marsiswo Dirgantoro ; Roeslan ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Ronggo A. ; Lusi.D ; Lingkar Sitompul ; Jonathan Goeij ; Hsin Hui Lin ; Chan CT ; Wuting301 Subject: Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1) Kalau baru sekarang orang sadar akan adanya "demaoisasi", orang itu kesiangan bangunnya!!! Ingat tuh hasil penelitian dan kesimpulan prof. Wertheim yang sejak Deng xiaoping naik panggung sudah bilang PKT "pura-pura mendukung Fikiran Mao Tsedong". Pernyataan siapa yang sesuai dengan kenyataan? Pernyataannya Chan atau prof. Wertheim? Boleh terus melempar dan mengobral segala macam ejekan dan julukan peyoratif kepada saya. Tidak masalah!Kenyataan akan terus membelejeti orang-orang seperti Chan sebagai pengkhianat usaha sosialisme dan renegat!!! Jangan membelokkan tema ke Falonggong. Itu bukan tema perdebatan saya. Tema perdebatan saya dengan Chan adalah masalah PKT yang sudah lama mengkhianati FMTT dan membongkar struktur sosialisme dan kepalsuan pemakaian kata "sosialisme dengan ciri Tkk" untuk menutupi KAPITALISME BRUTAL yang telah melahirkan elit Tkk yang hidup dalam kemewahan yang sangat memuakkan dan ratusan juta buruh dan tani dan rakyat jelata yang menderita penghisapan dan penindasan para kabir dan komprador yang merangkap anggota dan kader PKT. Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1) By Erabaru - 17/09/2016 Isi pidato Wang Qangjiang, kepala Biro Riset Pembangunan Partai pada Akademi Partai Pusat PKT, menyangkal Marxisme dan menyangkal ajaran Mao Zedong, menandakan teori Marxisme dan pemikiran Mao Zedong yang sejalan dengan PKT telah ditinggalkan oleh para akademisi partai, ideologi komunis pun telah usang. (internet) 9 September 2016, adalah peringatan 40 tahun meninggalnya sang diktator PKT Mao Zedong. Para pengikut Mao (faksi ekstrem kiri dari Partai Komunis Tiongkok/PKT-red.) sebelumnya sudah melakukan persiapan membuat suatu pergerakan pada peringatan 40 tahun meninggalnya Mao, untuk melawan aksi pemberantasan korupsi “memukul macan” yang dilancarkan oleh pemerintahan Xi Jinping dalam rangka meringkus Jiang. Akan tetapi, serangkaian kegiatan peringatan oleh pengikut Mao di dalam negeri dihentikan oleh pihak kepolisian, dan diberi peringatan. Pemerintah Beijing tidak mau melihat pemberitaan apa pun terkait Mao, bahkan kegiatan terkait di luar negeri pun dilarang. Selain itu, media massa ofisial PKT serempak membisu soal pemberitaan terkait topik Mao. Untuk itu agenda Xi Jinping memilih hari yang sama dengan hari wafatnya Mao, melakukan inspeksi besar-besaran di sekolah almamaternya yakni Akademi 81 dan menyampaikan pidato penting di sekolah tersebut. Ini membuat para fans Mao sangat terpukul, serangkaian fenomena ini menjelaskan, gerakan demaoisasi oleh pemerintahan Xi Jinping yang tadinya hanya di balik layar kini sudah bergeser menjadi di depan panggung. Menilik kembali dari awal menjabatnya Xi Jinping sebagai pemimpin tertinggi sejak Kongres Nasional PKT ke-18, orientasi yang ditempuh adalah menggulingkan Jiang bersamaan dengan itu menghapus pengaruh Mao (de-maoisasi). Dan fenomena lain yang muncul adalah, setiap kali aksi anti-korupsi “memukul harimau” yang digalakkan Xi dan Wang (Wang Qishan, tangan kanan Xi Jinping dalam pemberantasan KKN) telah mencapai tahap krusial, kubu Jiang dan para pengikut Mao selalu berusaha menghalangi upaya pemerintah Xi. Kubu Jiang juga berusaha mengacau, menjegal berbagai upaya reformasi yang diterapkan Xi dan Li (PM Li Keqiang) atau merusak dan mengacaukan tatanan hukum pada pemerintahan Xi dan Wang, atau menyerang dan menghambat aksi pemberantasan korupsi “memukul harimau” untuk menggulingkan Jiang. Baik kubu Jiang maupun pengikut Mao dengan berani nekad mengusung arwah Mao untuk melawan pemerintahan Xi Jinping, karena Mao Zedong adalah leluhur PKT, adalah asal muasal kediktatoran, korupsi, dan kekacauan. Mao Zedong semasa hidup, menerapkan teori ekstrim kiri seperti “revolusi”, dan “Perjuangan Kelas (konflik antar kelas)” serta serangkaian metode ekstrim untuk menutupi ambisi pribadinya demi menjadi kaisar turun temurun. “Revolusi Kebudayaan” yang dilakukan Mao di masa itu, adalah menggalang massa muda mudi yang lugu untuk menggulingkan pihak berkuasa yang berhaluan paham kapitalis, dan bersumpah melindungi kelangsungan Dinasti Merah”, yang realitanya guna menutupi segala kejahatan yang dilakukan Mao akan terungkap (seperti programnya Lompatan Besar ke Depan yang gagal total dan menimbulkan bencana kelaparan terparah dalam sejarah, Red.) jika Mao kehilangan kekuasaannya dan dijadikan penjahat sejarah. Kondisi Jiang Zemin dan para anteknya sekarang, persis seperti posisi Mao pada saat itu, maka itu arwah Mao pun diusung, untuk membuat kekacauan, menjegal, bahkan mereka tidak segan-segan melakukan aksi teror dan upaya pembunuhan serta kudeta untuk merebut kekuasaan tertinggi dari Xi Jinping, agar kejahatan Jiang Zemin berikut para pengikutnya tidak terungkap. Mao Zedong adalah politisi yang paling berambisi dalam sejarah PKT, juga seorang diktator besar, dan sumber segala korupsi dan kebobrokan. Teori ekstrim kirinya beserta perilaku tidak berperikemanusiaannya, telah menjadi pedoman bagi pengikutnya yakni Jiang Zemin, menjadi cadar, sekaligus jimat dan tameng bagi Jiang Zemin. Jadi, hanya dengan pemberantasan korupsi “memukul harimau” dan menggulingkan Jiang tanpa melenyapkan pengaruh Mao, tidak akan sempurna, tidak akan tuntas, juga tidak mungkin bisa mewujudkan Impian Tiongkok (yang digagas Xi) dan kebangkitan kebangsaan Tiongkok. Itu sebabnya pada Januari tahun ini, sebuah patung Mao Zedong setinggi 36 meter di provinsi Henan yang belum genap sehari dirampungkan pengerjaannya, sudah diperintahkan untuk dibongkar. Ini mungkin menjelaskan intensitas pemerintahan Xi Jinping. (Ran Shazhou/sud/whs)
