anda belajar dulu definisi negara sebelum ngomong ngelatur gak karuan. BUMN yg sudah go public itu namanya BUMN terbuka.
---In [email protected], <nesare1@...> wrote : Jonathan: Aneh aja yg namanya perusahaan negara itu ya milik negara, atau lebih tepatnya milik rakyat yg dikelola pemerintah. Nesare: anehnya dimana? Pertama negara itu bukan rakyat dalam arti kepemilikan atas suatu perusahaan. Negara ya negara. Pemasukan dan pengeluaran masuk ke kas negara bukan ke rakyat. Rakyat ya rakyat. Pemasukan dan pengeluaran atas perusahaan yg dimiliki oleh rakyat masuk keperusahaan yg dimiliki oleh rakyat itu. Ada perusahaan yg dimiliki gabungan baik pemerintah dan rakyat termasuk rakyat Indonesia dan rakyat negara lain alias asing. Ini lajimnya kepemilikan atas suatu perusahaan didunia ini yg adalah kapitalisme selain di korut. Namanya perusahaan2 itu bisa private atau public companies. Kalau saham2nya sudah diperdagangkan di bursa itu namanya: public company dan kalau saham2nya belum diperdagangkan dibursa, itu namanya private company! Kedua, ketika ente mengkontraskan perusahaan pemerintah vs perusahaan swasta (yg ente salah menyebutnya sbg rakyat), ente jelas tidak menerima adanya suatu perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah dan rakyat! Makanya dari dulu sudah ane tanya: kalau perusahaan pemerintah yg ente bilang BUMN itu kalau sudah go public disebut apa? Begitu juga perusahaan swasta (istilah ente yg salah itu loh!) kalau saham2nya dimiliki pemerintah disebut apa? Ente jelas gak akan bisa jawab kan? Kenapa? Karena diotak ente yg goblok itu hanya mengkontraskan perusahaan pemerintah vs. perusahaan swasta! Buset….masih gak ngerti! Ampun…..ampun…. Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Sunday, September 25, 2016 8:44 PM To: [email protected] Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1) Omongan anda khan terlihat gombalnya dan arahnya terlihat supaya orang beranggapan Pertamina itu private yg dikelola menurut udel pemiliknya gitu. Aneh aja yg namanya perusahaan negara itu ya milik negara, atau lebih tepatnya milik rakyat yg dikelola pemerintah. Dalam perusahaan negara karena itu pada dasarnya milik rakyat harus ada bentuk pentanggung jawabannya, setidaknya didepan wakil rakyat didepan DPR. Tulisan anda dibawah terlihat rancu sekali mengacaukan pemahaman antara swasta dan pemerintah dengan prusahaan tertutup dan terbuka (go public/public company). ---In [email protected] mailto:[email protected], <nesare1@... mailto:nesare1@...> wrote : Oh sekarang mundur lagi ya dari menuduh ane kesurupan menjadi saraf otak. Semakin nulis semakin salah ente ini! Nah sekarang bilang ane saraf otak. Ane sarafnya dimana? Ente mentertawakan ketika ane bilang ada “BUMN = private company”. Argument ane jelas sekali dari ilmu bisnis yang mengatakan private company itu adalah perusahaan yang saham2nya dimiliki oleh seseorang, kumpulan orang2, perusahaan, group perusahaan atau siapa dan apa saja dll dan kepemilikan yang diukur dari saham yg dimiliki itu tidak dijual di bursa saham (go public). Ini arti private company dari ilmu bisnis. Gak masalah siapa shareholders nya…bisa pemerintah, individu, investment groups, private investors dll. Demikian juga sebaliknya kalau saham2 kepemilikan atas suatu perusahaan dijual dibursa artinya melewati IPO itu namanya perusahaan public lawan dari perusahaan swasta/private company. Ente itu kan gak ngerti bisnis. Pakai logika umum bikin definisi sendiri bahwa: lawan dari perusahaan pemerintah (BUMN) itu adalah swasta. Swasta itu ente samakan dengan perusahaan non pemerintah. Ini kan ngaco. Sudah ane kasih contoh banyak BUMN yg sudah go public seperti: garuda, Telkom, semen Indonesia dll. Perusahaan ini disebut perusahaan public bukan perusahaan swasta atau perusahaan negara. Moso’ Telkom disebut perusahaan milik negara? Gimana bisa? Sedangkan kepemilikannya Telkom sudah mencakup: rakyat Indonesia, rakyat amerika, rakyat seluruh dunia yang memiliki saham Telkom krn sudah diperdagangkan di bursa NYSE. Begitu banyak ADR perusahaan public Indonesia yg sdh diperjual belikan dibursa OTC dll. Pengetahuan ente itu cetek, ketika ada pengetahuan bisnis seperti ini ya otak ente gak menerima krn malu lalu ya berlaru2 kaya’ gini. Ini menunjukkan ente itu sombong. Anak SMA yang belajar ilmu ekonomi saja tahu pengetahuan yang sangat mendasar dan simple ini. Ente ini lain orangnya. Sok pinter sedangkan tidak. ditambah kesombongannya ya jadi bahan tertawaan orang banyak. Nesare From: [email protected] mailto:[email protected] [mailto:[email protected] mailto:[email protected]] Sent: Sunday, September 25, 2016 3:26 PM To: [email protected] mailto:[email protected] Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1) kalau anda tidak kesurupan mungkin ada saraf otak yg nggak beres makanya lebih baik ke neurologist khan ber-jaga2 itu lebih baik. ---In [email protected] mailto:[email protected], <nesare1@... mailto:nesare1@...> wrote : Koq lucu neurologis saja belum tahu ane kesurupan, ente sudah ultimatum ane kesurupan. Lagi pula koq orang kesurupan disuruh lihat neurologis? Jangan2 ente ini yang sudah gila dan perlu pergi lihat dokter jiwa! Ngaco aja. Sok berlogika tetapi dijawab begitu gak ngerti lalu muter2 pake’ kesurupan segala. Pointnya you don’t understand the points! Nesare From: [email protected] mailto:[email protected] [mailto:[email protected] mailto:[email protected]] Sent: Sunday, September 25, 2016 1:59 PM To: [email protected] mailto:[email protected] Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1) nggak kesurupan tapi nulisnya begini, mungkin sebaiknya anda periksa ke neurologist kalau2 ada saraf otak yg kurang beres. lebih baik preventive lho daripada nanti kalau sudah kebablasan nggak bisa diobatin lagi. ---In [email protected] mailto:[email protected], <nesare1@... mailto:nesare1@...> wrote : Tidak! Moso’ kalau ane kesurupan bisa nulis begini. Ane kan menjawab concern nya ente tentang BUMN vs swasta dan private vs. public?! Koq sudah dijawab, ente melabel ane kesurupan? Nesare From: [email protected] mailto:[email protected] [mailto:[email protected] mailto:[email protected]] Sent: Sunday, September 25, 2016 3:24 AM To: [email protected] mailto:[email protected] Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1) anda lagi kesurupan ya? ---In [email protected] mailto:[email protected], <nesare1@... mailto:nesare1@...> wrote : Koq BUMN = swasta dibilang ngawur? Kalau BUMN = public company ngawur enggak? Kalau jawabannya ngawur juga, jadi BUMN itu perusahaan apa? Bukan swasta/private, juga bukan perusahaan public. Apakah ente mau bilang BUMN itu perusahaan abal2 hahahaha. Kalau jawabannya tidak ngawur alias benar, artinya BUMN itu = perusahaan yang sudah go public artinya saham2nya sudah dijual di pasar alias diperdagangkan di bursa saham. Kalau begini artinya apa? Kan artinya hanya 1: BUMN = public company dan bukan private company. Gimana ceritanya ente koq BUMN bisa jadi public company????!!!!!! Ane mau lihat gimana logika umumnya berjalan? Berjalan kekiri, kesamping masuk jurang atau jalan terus. Kalau jalan terus ane mau lihat gimana argumennya: BUMN itu perusahaan apa? Perusahaan swasta atau public? Hehehehe Sudah dijelaskan kaya’ anak kecil artinya private company vs. public company. Masih enggak mudeng juga. Nesare From: [email protected] mailto:[email protected] [mailto:[email protected] mailto:[email protected]] Sent: Friday, September 23, 2016 11:35 AM To: yahoogroups <[email protected] mailto:[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1) Bung Chan, hakekat state capitalism itu ya industri dipegang negara bukannya tidak ada industri besar sama sekali, adanya industri pertambangan besar ditangan BUMN itu jelas bagian dari state capitalism, rupanya anda terkecoh atau kacau dgn pendapat ngawur yg mengatakan BUMN itu swasta ha ha ha. Saya setuju dgn yg dikemukakan Tatiana NEP itu hanya "temporary retreat" tujuan utamanya sebenarnya mengembalikan pertanian, didalam NEP ini yg ditolerir Stalin para petani gurem, industri ringan skala kecil, perdagangan eceran kelas mom and dad pokoknya hanya UKM sedang industri skala besar, perbankan, transportasi, ekspor impor ditangani negara. Dan ingat ini hanyalah sementara saja. Sedang investment asing pada industri minyak joint venture dgn BUMN yg anda sebutkan itu selain hanya utk ekspor juga tujuan utamanya cuman ahli tehnologi. Sedang tentang Tiongkok dewasa ini bung Chan bagaimana bisa bilang "Tapi, kenyataan yang saya lihat, tali kendali ekonomi nasional tetap dipegang kuat oleh NEGARA!" kalau billioner dan millioner itu bejibun menguasai parlemen yg mengeluarkan kebijakan negara? ---In [email protected] mailto:[email protected], <SADAR@... mailto:SADAR@...> wrote : Tidak, bung Goei! Lenin justru pegang kuat industri besar, spt. pertambangan tetap milik Negara, hanya memperkenankan UKM, borjuis kecil tumbuh berkembang dengan kebijakan NEP nya di tahun 1921. Tapi, kemudian Lenin juga berani membuka modal asing masuk kerjakan tambang dan kehutanan, dalam bentuk kerjasama dengan Negara dan bentuk sewa. Yaa, bagaimana kalau teknologi dan ahli-ahli dalam negeri belum bisa mengerjakan, untuk mengejar ketertinggalannya, ya harus berani membuka pintu, mempersilahkan modal asing masuk dan dari situ BELAJAR. Dari tulisan kisah Lenin menentukan NEP (bhs. Tionghoa), merubah pikiran semula sama sekali menentang yang berbau kapitalis, Lenin sampai juga pada kesimpulan dengan menyatakan: “Masyarakat Rusia yang mayoritas mutlak adalah petani, tenaga produksi sangat terbelakang dan tingkat budaya masih sangat rendah, tanpa mengembangkan kapitalisme khususnya kapitalisme negara, adalah sulit bisa dibayangkan negara sosialis bisa mengejar ketertinggalan dari negara maju kapitalis bahkan sulit untuk melewati transisi menjadi negara murni sosialisme dengan sistim pembagian sosialis. Adalah sesuatu yang berada diluar kemampuan kita sendiri.” Hanya saja sayang, dari tulisan Lenin yang mana dan dimana diambil kata-kata Lenin itu. Dari penangkapan dan pengertian saya, tidak seharusnya diambil secara ekstrim atau dimutlakkan antara sosialisme dan kapitalisme itu! Baiknya justru memadukan keunggulan kedua sistem itu dengan bijaksana, banyak masalah praktis jadi berlawanan dengan prinsip sosialisme itu sendiri kalau dilakukan dengan ektrim. Prinsip mengembangkan/membebaskan TENAGA Produksi misalnya, dengan cara pembagian kerja Komune Rakyat yang begitu ketatnya, setiap petani tidak lagi berhak mengerjakan ditanah-sendiri, itu dalam kenyataan memukul atau mengekang petani yang giat kerja. Mestinya boleh saja setiap petani mengerjakan tanah-nya sendiri diluar jam kerja kolektif, bahkan harus didorong begitu. Begitu juga hasil produksi kelebihan ditanahnya sendiri itu, boleh-boleh saja dia jual pada orang lain yang butuh. Kenapa pula harus dilarang? Sekalipun dengan dibiarkannya jual-beli bebas, menjadi muncul pasar bebas. Uaa, akhirnya akan berkembang dan tumbuh kapitalis. Tapi, itu sikap dan cara merangsang setiap orang lebih giat bekerja untuk meningkatkan taraf hidupnya. Bukan dilarang, tapi ditertipkan saja, jangan sampai terjadi penipuan, dan kecurangan, ... Yang terjadi di Tiongkok, perkembangan cepat di masa Jiang, kemudian dilanjutkan oleh Hu harus dikatakan sedikit kebablasan, pertumbuhan ekonomi begitu dahsyat dicapai dengan munculnya kapitalis-kapitalis miliuner bahkan billiuner dengan tertinggalnya sistem/ketentuan yang mengontrol, dengan maraknya koruptor sampai pucuk pimpinan pusat. Tapi, kenyataan yang saya lihat, tali kendali ekonomi nasional tetap dipegang kuat oleh NEGARA! Baru setelah Xi-Li bisa ada ketegasan memngendalikan dan memberantas koruptor dan gang mafia yang sudah menyusup dahsyat itu, ... banyak orang, khususnya kader-kader tua yang bisa bernafas lega melihat ketegasan Xi-Li. PKT bisa diselamatkan dari keruntuhan. Salam, ChanCT From: mailto:[email protected] mailto:[email protected] Sent: Friday, September 23, 2016 12:13 PM To: [email protected] mailto:[email protected] Subject: Re: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1) hampir bung Chan tetapi masih kurang tepat, Lenin menentang "petty-bourgeois" dan "private capitalism" yg menurut beliau akan membawa ke capital imperialism, ekonomi pasar yg dimaksud beliau pada level UKM. Yg terjadi di Tiongkok justru petty-bourgeois dan private capitalism inilah yg merajalela, ditambah dgn dominasi billioner dan millioner ini diparlemen sukar disangkal Tiongkok dibawah cengkeraman capitalist imperialist seperti yg dimaksud Lenin. ---In [email protected] mailto:[email protected], <SADAR@... mailto:SADAR@...> wrote : Baguuuslah, ternyata masalah aktual yang dihadapi untuk menjernihkan hubungan ekonomi sosialis dan ekonomi pasar bisa mendapatkan tanggapan dari banyak kawan, ...! Terkadang memang agak sulit berdiskusi dengan sementara orang, khususnya mbak Tatiana yang TIDAK BERANI menggunakan otak sendiri untuk berpikir, maunya apa yang dikatakan Lenin secara tertulis bagaimana. Apa benar seperti dikatakan Fuwa Tetsiro, Ketua PKJepang itu, Lenin PERNAH memadukan ekonomi sosialis dan ekonomi pasar? Satu kata Lenin juga tidak ada! Tandas Tatiana. Terus terang saja, saya sendiri tidak banyak membaca karya Lenin, semalam juga jadi ribet dimana saya harus mencari kata-kata Lenin sehubungan ekonomi pasar itu? Ternyata baru tahu pagi ini dari tanggapan beberapa kw, yang digunakan Lenin malah “Kapitalisme Negara” bukan ekonomi pasar! Sungguh menarik, di Tiongkok, Deng juga menggunakan sebutan ekonomi pasar, tidak meenggunakan “kapitalisme negara”. Padahal pengertian saya selama ini, kalau sudah menyatakan “Kapitalisme Negara” itu berarti negara dikuasai kapitalisme! Bagaimana bisa tetap dikendalikan oleh diktatur Proletariat, 2 sistem yang bertolak belakang? Entah bagaimana sesungguhnya Lenin ketika itu menggunakan istilahnya. Barangkali ada kw yang bisa memberi pencerahan. Kalau gak salah ingat, bung Tjaniago pernah mengulas masalah ini, ya? Coba nanti saya aduk-aduk kumpulan email lama di GELORA45. Lenin dengan berani menyebutkan “kapitalisme negara” masih dibawah diktatur proletariat, karena tali kendali ekonomi nasional tetap dipegang oleh NEGARA, dengan menggunakan BUMN-BUMN nya. Sedang Deng, menyatakan ekonomi sosialis mempunyai ekonomi pasar nya sendiri, dengan tetap mempertahankan keunggulan ekonomi sosialis dengan mengambil keunggulan ekonomi pasar! Membuag bagian-bagian ekonomi sosialis berencana yang terlalu tersentralisasi, artinya berikan kebebasan daerah juga ikut menentukan sendiri pengembangan ekonomi daerah sesuai kebutuhan dan kondisi konkritnya. Sedang ekonomi pasar juga dijalankan secara terbatas saja, tidak dibiarkan berkeembang liar apalagi menjadi neolibralisme! Dan kenyataan yang dijalan RRT, tali kendali ekonomi nasional TETAP dipegak erat-erat oleh NEGARA! Tidak bedanya dengan pemikiran Lenin. Jadi, nampak jelas, yang SALAH adalah Stalin, yang kata Fuwa Tetsiro, setelah 5 tahun Lenin meninggal, keputusan Lenin NEP nya itu dicabut, membatalkan meneruskan “kepitalisme negara” dibawah diktatur propletariat! Dan itulah yang kemudian juga diikuti oleh Mao setelah tahun 1956 di Tiongkok. Jadi ikutan SALAH! TENTU, menyatakan Stalin dan Mao salah dalam hal membabat kapitalis, jangan kebablasan menjadi menghujat bahkan menegasi jasa-jasanya yang luar biasa besarnya bagi RAKYAT Rusia dan RAKYAT Tiongkok! Begitu sikap Deng terhadap kesalahan Mao dan dengan TEGAS menyalahkan sikap Krushchove yang menghujat Stalin dan anti-Stalin! Begitu juga dengan Deng membubarkan komune rakyat ditahun 1980 itu, dia tidak anti-komune rakyat secara prinsip. Tidak! Yang disalahkan, dilaksanakan terlalu cepat, karena KESADARAN petani di TIongkok belum sampai kekesadaran sepenuhnya kerja kolektif, usaha meningkatkan KESADARAN rakyat itu TIDAK bisa dipaksakan apalagi gunakan KEKERASAN! Harus dilakukan dengan SABAR melalui proses kehidupan dan kerja yang cukup panjang, agar mereka sendiri mencapai kekesadaran KERJA KOLEKTIF sebagai KEHARUSAN! Itulah yang saya perhatikan mengapa desa Xiao Gang yang dipilih dan diangkat menjadi model desa reformasi yang BERHASIL, merubah desa miskin terbelakang menjadi desa yang maju sekarang ini. Karena desa Xiao Gang itulah yang menempuh jalan wajar sebagaimana proses kesadaran PETANI yang terjadi. Setelah hak-guna tanah diserahkan kembali pada setiap keluarga petani, kembali terjadi kerja petani secara individual, sendiri-sendiri yang ternyata sulit untuk berkembang. Muncullah 18 petani bertekad mensukseskan produksi pertaniannya, menyatukan diri bekerjasama, dan kemudian membentuk koperasi kerja dan kemudian ditingkatkan menjadi koperasi tingkat tinggi, yang mengolah kebutuhan dan kepentingan warga desa Xiao Gang. Kalau diperhatikan lebih lanjut, sekalipun belum menyebutkan diri komune rakyat, hakekat koperasi-tingkat tinggi di Xiao Gang itu ya sudah komune rakyat! Mengapa? Karena hak-guna tanah yang semula dibagikan pada petani itu, semua sudah tergabung kembali dalam SAHAM koperasi yang mereka bentuk, dan pembagian pekerjaan juga dilakukan oleh barisan produksi yang mereka tentukan sendiri. From: mailto:[email protected] mailto:[email protected] Sent: Friday, September 23, 2016 3:40 AM To: yahoogroups mailto:[email protected] Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1) Saya rubah sedikit highlight anda utk meliputi "Large businesses would still be nationalized" disini terlihat ekonomi pasar yg dimaksud Lenin itu pada level UKM yg dijalankan masyarakat kebanyakan bukannya ekonomi pasar yg dijalankan perusahaan2 besar, atau dalam istilah Indonesia mungkin mirip2 dgn istilah ekonomi kerakyatan walaupun tidak sepenuhnya sama. Kita juga bisa lihat penekanan Lenin pada State Capitalism yg disebut beliau sebagai aspek penting yg prinsipal "The state capitalism, which is one of the principal aspects of the New Economic Policy...". Pengertian ekonomi pasar Lenin ini adalah jauh berbeda dgn pemahaman ekonomi pasar bung Chan yg diterapkan di Tiongkok yg lebih cenderung kearah ekonomi pasar-nya capital imperialist. "As stated by Lenin, “economically and politically speaking the New Economic Policy completely ensures to us the possibility of building the foundation of a socialist economy.” It was meant to be based off of the existence of capitalism. Basically it would be a combination of the capitalist economy and the communist politics. Large businesses would still be nationalized, in order to ensure that the “petty bourgeoisie,” or the capitalist Imperialists, would not gain too much power over or get in the way of the growing Socialist society. Lenin believed that capitalism would lead to Imperialism, which is the entity which they had only just eliminated." ---In [email protected] mailto:[email protected], <nesare1@... mailto:nesare1@...> wrote : Jelas ente gak ngerti NEP nya lenin. Baca dulu sebelum sesumbar! Bagi ane: NEP itu resep Lenin untuk menanggulangi masalah ekonomi setelah revolusi. Karena ingin mempertahankan politik sosialismenya, ekonominya “dibebaskan” kepasar. Lenin yang anti imperialism dan takut kapitalisme itu menjadi imperialism (ini salah satu ide utamanya lenin bahwa imperialism is the highest stake of capitalism. Ini juga ide bung Karno dan para pemimpin negara2 dunia setelah PD2). NEP itu adalah cara memanipulasi kapitalisme utk meyakinkan bahwa capital itu adalah hasil dari labor, sehingga imperialism tidak bisa masuk infiltrasi dan menang/berkuasa. As stated by Lenin, “economically and politically speaking the New Economic Policy completely ensures to us the possibility of building the foundation of a socialist economy.” It was meant to be based off of the existence of capitalism. Basically it would be a combination of the capitalist economy and the communist politics. Large businesses would still be nationalized, in order to ensure that the “petty bourgeoisie,” or the capitalist Imperialists, would not gain too much power over or get in the way of the growing Socialist society. Lenin believed that capitalism would lead to Imperialism, which is the entity which they had only just eliminated. From: [email protected] mailto:[email protected] [mailto:[email protected] mailto:[email protected]] Sent: Thursday, September 22, 2016 11:17 AM To: yahoogroups <[email protected] mailto:[email protected]> Subject: RE: [GELORA45] Lenin dan Ekonomi Pasar ==> Program Anti KKN dan Demaoisasi Harus Berjalan Bareng (1)
