Bls. Terikakasih bung Dji atas responnya, begini ya, saya tidak menolak 
melebaraan bantaran sungai, yang saya tolah adalah cara pelaksanaannya. Tentang 
pengembang saya tanggapi sebagai pemborang pelaksanaan pembangunan,yang logis 
jika mereka hanya melihat ada proyek yang bisa mendapatkan keuntungan, untuk 
mengantongi Renten ekonomi sebanyak-banyaknya. 

Dalam konteks ini, menurut pendapat saya melihat Jakarta tidak hanya secara 
holistis, tapi melihat Jakarta juga harus secara ekologis; Sebagai contoh 
misalnya dalam ilmu Tata-Kota : 

 

„Melihat jakarta secara holistis, berarti melihat Jakarta hanya melihat : 
Mol-mol, Gedung-gedung tingggi megah dengan glamour-glamour elektronik, melihat 
kali Ciliwung yang kotor, melihat kemacetan dijalan-jalan, melihat rumah-umah 
mewah, melihat rumah yang kumuh, melihat yang tidak punya rumah dan tidur di 
bawah kolong jembatan dll.dll. Semuanya itu menurut pendapat saya baru melihat 
Kota Jakarta secara sepintas, artinya  ``Melihat gambaran yang lebih besar`` 
tentang jakarta.

 

Cara pandang diatas dapat di katakan sebagai cara padang holistik; ``Seeing the 
bigger picture``, melihat gambaran yang lebih besar, katakanlah melihat Jakarta 
(seeing City) secara menyeluruh. Meskipun juga melihat semua projek-projeknya, 
namun demikian bisa di katergorikan melihat secara holistis. Ia holistis karena 
hanya berfokus pada substasinya (materi, struktur, kuantitas) saja, artinya 
melihat Jakarta hanya melihat projek-projeknya (MOL, gedung-gedung tinggi, kali 
cilwung dll. hanya sepintas lalau dan hanya materinya saja; tidak memperhatikan 
bentuknya (polanya, ordernya, dan kualitas) nya.

 

Melihat Jakrta secara ekologis, berarti mencakup pandangan holistik, tapi 
menambah dengan persepsi melihat  bentuknya ((polanya, ordernya, dan kualitas) 
nya. Artinya bagaimana pola dan fungsi-fungsi gedung-gdung tinnggi, bagaimana 
fungsi Kali Ciliwung dan bagaimana hubungannya dengan lingkungan dan 
masyaarakatnya, dengan komunitas-komunitas yang lainnya, bagaimana membangun 
manusia-manusia (SDM) dan bagaimana menghidupinya dll.dll.

Jadi untuk membangun Jakarta baru tidak cukup hanya menggunakan pemikiran 
holistis saja, tapi harus di lengkapi juga dengan pemikiran menurut pandangan 
ekologi, melihat Jakrta tidak hanya melihat  gambaran yang lebih besar. Tapi 
melihat Jakrta juga dari segi polanya, ordernya dan kwalitasnya.  Jadi jangan 
mengharap dalam waktu 100 hari semuanya akan beres; karena pola lama Jakrta 
adalah pola yang ambrul-adul dan anti ekologi.

 

Dalam konteks ini Ahok menghendaki secepat mungkin, lalu perintahkan 
pengembang, sambil mengeluarkan ancaman pada peduduk yang bersangkutan untuk 
segra meninggalkan tempat tinggalnya, tanpa melaluai budaya bangsa Indonesia 
yaitu budaya musyawarah dan mufakat, seperti yang tercantum dalam sila kedua 
dari Pancasila 1 Juni 1945; Yang sedang berjalan lewat pengadilan negeri, tapi 
apa yang dilakukan oleh Ahok. Persetan pengadilan! Tanpa menunggu proses 
pengadilan yang sedang berjalan terus perintahkan penggusuran sekarang juga. 
Warga digusur secara paksa dengan menggunakan paramiliteris polosi dan TNI. 
Cara-cara seperti inilah yang kini telah menimbulkan kesan tidak manusiawi. 
Demikianlah yang terjadi, pengembang tanpa pikir panjang telah melakukan 
penggusuran paksa dengan dukungan dari paramiliteris polisi dan TNI. Jadi yang 
dipersoalkan disini bukan masalan menolak perluasan sungai, tapi persoalan yang 
melanggar hak-hak kemanusiaan, kerena Ahok tunduk pada nabi-nya, yaitu kaum 
Kapitalis Neoliberal. Semua negara di dunia ini yang telah men-``dewa``-kan 
atau me-``nabi``-kan Kapitalis Neoliberal melakukan cara-cara yang sama, yaitu 
cara-cara yang brutal, yang sama sekali  tidak mengindahkan masalah HAM. Inilah 
yang terjadi di NKRI, dimana Kapitalis Neoliberal dipandang sebagai Nabi.

 

Roeslan.

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Donnerstag, 29. September 2016 15:39
An: Gelora45
Betreff: Re: [nasional-list] Re: [GELORA45] Ahok bilang hal ini lebih penting 
daripada menang pilkada DKI

 

  

Bung Roeslan,

Saya kok tidak melihat kepentingan langsung kaum pengembang dengan penggusuran 
penduduk di bantaran sungai, karena tanahnya tidak  dioper untuk dibanguni flat 
aau perumahan mewah oleh pengembang, tetapi untuk pelebaran sungai.

Kalau reklamasi pulau2, pengembang jelas punya kepentingan besar.

Salam,

KH

 

2016-09-29 15:02 GMT+02:00 roeslan [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>:

  

Refleksi: KAPITALIS NEOLIBERAL ADALAH NABINYA PENGUASA NKRI .

 

Apa yang kita saksikan di NKRI sekarang ini tercermin secara jelas dalam 
pengakuan Ahok yang menatakan : > "Kami nggak mau pusing soal pilkada, kami mau 
kejar sebaik mungkin> janji-janji saya dan Pak Jokowi sejak 2012," kata Ahok. 
(kutipan selesai). Bisa dipercaya bahwa janji-janji itu adalah janji-janji 
untuk memenuhi kepentingan kelompok kapitalis Neoliberal, dalam dan luarnegeri, 
yang dalam konteks ini adalah para pengembang, yang mereka  nilai sebagai Nabi, 
yang bisa menyelamatkan NKRI, dan menuntaskan kemiskinan di NKRI; Oleh karena 
itulah, mereka harus diutamakan. Dalam konteks ini: terkesan kuat bahwa 
Pengembang ada diatas segala-galanya !!!; Ini tercemin dalam kebijakan dimana 
kedaulatan pengembang ditempatkan diatas kedaulatan Rakyat. Perlu ditegaskan 
disini bahwa Pasal 33 UUD 45 tidak menolak adanya pengembang. Yang kita tolak 
adalah sistem penempatan pengembang, yang mengungguli kedaulatan Rakyat. Ini 
termanifestasikan dalam kebijakan penggusuran yang terjadi diseluruh nusantara. 
Penggusuran yang terkini misalnya penggusuran Kampung Bukitduri, yang sedang 
dalam proses hukum, toh rumah-rumah penduduk sudah diratakan dengan tanah. 
Semua kebijakan itu hanya menguntungkan para investor yang kini sudah dijadikan 
sebagai NABI oleh pengusa di NKRI (Jokowi & Ahok)

 

Jangan berilusi bahwa Ahok dan Jokowi adalah pembela sejati Rakyat Indonesia, 
dan NKRI; meskipun mereka selalu mengunakan kata-kata baik, yang menyitir 
kata-kata Bung Karno. Pengalaman empiris selama ini talah mendukung suatu 
pernyataan bahwa Ahok dan Jokowi telah menjadi agen-agen  pengembang (Centhe´ng 
) pengembang, yang rajin, menjalankan politik gusur-menggusur perumahan Rakyat, 
dan tanah pertanian Rakyat tanpa kompromi, dan tanpa ganti rugi yang sepadan, 
yang semua itu adalah tujuan utama dari kaum kapitalis Neoliberal yang kini 
telah mendominasi kekuasaan politik di NKRI, yang berfungsi sebagai Nabi. 
Barang siapa yang mengkritik atau menentang , akan segera diberi jukulan 
Komunis ( PKI)gaya baru oleh Ahok.

 

Roeslan.

 

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Mittwoch, 28. September 2016 09:38
An: [GELORA45]; [email protected]
Betreff: [nasional-list] Re: [GELORA45] Ahok bilang hal ini lebih penting 
daripada menang pilkada DKI

 

  

Pengabdian utamanya kan memang jadi centhèngnya kaum pengembang!!!

Am Wed,
28 Sep 2016 14:50:23 +0800 schrieb "'Chan CT' [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]>:

> Ahok bilang hal ini lebih penting daripada menang pilkada DKI
> 
> Rabu, 28 September 2016 11:39 WIB | 4.336 Views
> 
> Pewarta: Natisha Andarningtyas
> 
> 
> 
> Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (ANTARA FOTO/M Agung
> Rajasa)
> 
> 
> 
> Jakarta (ANTARA News) - Gubernur petahana DKI Jakarta Basuki "Ahok"
> Tjahaja Purnama mengatakan tidak peduli pada pencitraan berkaitan
> penggusuran warga yang berdekatan waktunya dengan masa pemilihan
> kepala daerah.
> 
> "Yang penting orang harus kenang saya, walaupun saya nggak terpilih
> lagi, Oktober 2017, orang akan melihat saya yang membereskan Kampung
> Pulo dan Bukit Duri. Saya yang bisa membuat titik banjir di Jakarta
> berkurang banyak. Itu lebih penitng bagi saya daripada menjabat 5
> tahun lagi," kata Ahok di Balai Kota, Rabu (28/9).
> 
> "Kami nggak mau pusing soal pilkada, kami mau kejar sebaik mungkin
> janji-janji saya dan Pak Jokowi sejak 2012," kata Ahok.
> 
> Ia tidak memusingkan sejumlah survei yang menyatakan popularitasnya
> turun dan berpendapat masih punya waktu untuk membuktikan dirinya
> sebagai gubernur hingga Oktober 2017.
> 
> "Yang penting, orang harus kenang saya, walaupun saya nggak terpilih
> lagi," kata Ahok.
> 
> Editor: Aditia Maruli
> 
> 

 



Kirim email ke