Bung Roeslan, Dari jawaban bung, saya belum melihat hubungan langsung antara pelebaran kembali sungai dan kepentingan pengembang. Kalau pada reklamasi, jelas sekali kepentingan pengembang di dalamnya. Kalau sungai diperlebar kembali seperti semula, tidak banjir lagi, ya semua yang tinggal di Jakarta kemungkinan tidak kebanjiran lagi. Kalau masih ada tanah luas di dekat sungai, bisa menguntungkan untuk yang mengembangkan nantinya. Harga tanah akan naik, karena tidak kebanjiran lagi. Tetapi apa masih ada,tanah seperti itu dan cukup besar ? Salam, KH
2016-09-30 16:43 GMT+02:00 roeslan <[email protected]>: > Bls. Terikakasih bung Dji atas responnya, begini ya, saya tidak menolak > melebaraan bantaran sungai, yang saya tolah adalah cara pelaksanaannya. > Tentang pengembang saya tanggapi sebagai pemborang pelaksanaan > pembangunan,yang logis jika mereka hanya melihat ada proyek yang bisa > mendapatkan keuntungan, untuk mengantongi Renten ekonomi > sebanyak-banyaknya. > > Dalam konteks ini, menurut pendapat saya melihat Jakarta tidak hanya > secara *holistis*, tapi melihat Jakarta juga harus secara *ekologis*; Sebagai > contoh misalnya dalam ilmu Tata-Kota : > > > > „Melihat jakarta secara *holistis*, berarti melihat Jakarta hanya melihat > : Mol-mol, Gedung-gedung tingggi megah dengan glamour-glamour elektronik, > melihat kali Ciliwung yang kotor, melihat kemacetan dijalan-jalan, melihat > rumah-umah mewah, melihat rumah yang kumuh, melihat yang tidak punya rumah > dan tidur di bawah kolong jembatan dll.dll. Semuanya itu menurut pendapat > saya baru melihat Kota Jakarta secara sepintas, artinya ``Melihat > gambaran yang lebih besar`` tentang jakarta. > > > > Cara pandang diatas dapat di katakan sebagai cara padang holistik; *``Seeing > the bigger picture``,* melihat gambaran yang lebih besar, katakanlah > melihat Jakarta (seeing City) secara menyeluruh. Meskipun juga melihat > semua projek-projeknya, namun demikian bisa di katergorikan melihat secara > holistis. Ia holistis karena hanya berfokus pada *substasinya* *(materi, > struktur, kuantitas)* saja, artinya melihat Jakarta hanya melihat > projek-projeknya (MOL, gedung-gedung tinggi, kali cilwung dll. hanya > sepintas lalau dan hanya *materinya* saja; *tidak* memperhatikan > *bentuknya* *(polanya, ordernya, dan kualitas)* nya. > > > > Melihat Jakrta secara *ekologis*, berarti *mencakup* pandangan holistik, > tapi menambah dengan persepsi melihat bentuknya (*(polanya, ordernya, > dan kualitas)* nya. Artinya bagaimana pola dan fungsi-fungsi gedung-gdung > tinnggi, > bagaimana fungsi Kali Ciliwung dan bagaimana hubungannya dengan lingkungan > dan masyaarakatnya, dengan komunitas-komunitas yang lainnya, bagaimana > membangun manusia-manusia (SDM) dan bagaimana menghidupinya dll.dll. > > Jadi untuk membangun Jakarta baru tidak cukup hanya menggunakan pemikiran > *holistis* saja, tapi harus di lengkapi juga dengan pemikiran menurut > pandangan *ekologi*, melihat Jakrta tidak hanya melihat gambaran yang > lebih besar. Tapi melihat Jakrta juga dari segi polanya, ordernya dan > kwalitasnya. Jadi jangan mengharap dalam waktu 100 hari semuanya akan > beres; karena pola lama Jakrta adalah pola yang ambrul-adul dan anti > ekologi. > > > > Dalam konteks ini Ahok menghendaki secepat mungkin, lalu perintahkan > pengembang, sambil mengeluarkan ancaman pada peduduk yang bersangkutan > untuk segra meninggalkan tempat tinggalnya, tanpa melaluai budaya bangsa > Indonesia yaitu budaya *musyawarah dan mufakat*, seperti yang tercantum > dalam sila kedua dari Pancasila 1 Juni 1945; Yang sedang berjalan lewat > pengadilan negeri, tapi apa yang dilakukan oleh Ahok. *Persetan > pengadilan! *Tanpa menunggu proses pengadilan yang sedang berjalan terus > perintahkan penggusuran sekarang juga. Warga digusur secara paksa dengan > menggunakan paramiliteris polosi dan TNI. Cara-cara seperti inilah yang > kini telah menimbulkan kesan tidak manusiawi. Demikianlah yang terjadi, > pengembang tanpa pikir panjang telah melakukan penggusuran paksa dengan > dukungan dari paramiliteris polisi dan TNI. Jadi yang dipersoalkan disini > bukan masalan menolak perluasan sungai, tapi persoalan yang melanggar > hak-hak kemanusiaan, kerena Ahok tunduk pada nabi-nya, yaitu kaum > Kapitalis Neoliberal. Semua negara di dunia ini yang telah men-``dewa``-kan > atau me-``nabi``-kan Kapitalis Neoliberal melakukan cara-cara yang sama, > yaitu cara-cara yang brutal, yang sama sekali tidak mengindahkan masalah > HAM. Inilah yang terjadi di NKRI, dimana Kapitalis Neoliberal dipandang > sebagai Nabi. > > > > Roeslan. > > > > *Von:* [email protected] [mailto:[email protected]] > *Gesendet:* Donnerstag, 29. September 2016 15:39 > *An:* Gelora45 > *Betreff:* Re: [nasional-list] Re: [GELORA45] Ahok bilang hal ini lebih > penting daripada menang pilkada DKI > > > > > > Bung Roeslan, > > Saya kok tidak melihat kepentingan langsung kaum pengembang dengan > penggusuran penduduk di bantaran sungai, karena tanahnya tidak dioper > untuk dibanguni flat aau perumahan mewah oleh pengembang, tetapi untuk > pelebaran sungai. > > Kalau reklamasi pulau2, pengembang jelas punya kepentingan besar. > > Salam, > > KH > > > > 2016-09-29 15:02 GMT+02:00 roeslan [email protected] [GELORA45] < > [email protected]>: > > > > *Refleksi:* *KAPITALIS* *NEOLIBERAL ADALAH NABINYA PENGUASA NKRI .* > > > > Apa yang kita saksikan di NKRI sekarang ini tercermin secara jelas dalam > pengakuan Ahok yang menatakan : > "Kami nggak mau pusing soal pilkada, > kami mau kejar sebaik mungkin> janji-janji saya dan Pak Jokowi sejak 2012," > kata Ahok. (kutipan selesai). Bisa dipercaya bahwa janji-janji itu adalah > janji-janji untuk memenuhi kepentingan *kelompok kapitalis Neoliberal*, > dalam dan luarnegeri, yang dalam konteks ini adalah para pengembang, yang > mereka nilai sebagai *Nabi*, yang bisa menyelamatkan NKRI, dan > menuntaskan kemiskinan di NKRI; Oleh karena itulah, mereka harus > diutamakan. Dalam konteks ini: terkesan kuat bahwa *Pengembang ada diatas > segala-galanya !!!; Ini tercemin dalam kebijakan dimana* *kedaulatan* > *pengembang > ditempatkan* *diatas* *kedaulatan Rakyat.* Perlu ditegaskan disini bahwa > Pasal 33 UUD 45 tidak menolak adanya pengembang. Yang kita tolak adalah > *sistem* *penempatan pengembang*, *yang mengungguli kedaulatan Rakyat*. > Ini termanifestasikan dalam kebijakan penggusuran yang terjadi diseluruh > nusantara. Penggusuran yang terkini misalnya penggusuran Kampung Bukitduri, > yang sedang dalam proses hukum, toh rumah-rumah penduduk sudah diratakan > dengan tanah. Semua kebijakan itu hanya menguntungkan para investor yang > kini sudah dijadikan sebagai NABI oleh pengusa di NKRI (Jokowi & Ahok) > > > > Jangan berilusi bahwa Ahok dan Jokowi adalah pembela sejati Rakyat > Indonesia, dan NKRI; meskipun mereka selalu mengunakan kata-kata baik, yang > menyitir kata-kata Bung Karno. Pengalaman empiris selama ini talah > mendukung suatu pernyataan bahwa Ahok dan Jokowi telah menjadi agen-agen > pengembang (Centhe´ng ) pengembang, yang rajin, menjalankan politik > gusur-menggusur perumahan Rakyat, dan tanah pertanian Rakyat tanpa > kompromi, dan tanpa ganti rugi yang sepadan, yang semua itu adalah tujuan > utama dari kaum kapitalis Neoliberal yang kini telah mendominasi kekuasaan > politik di NKRI, yang berfungsi sebagai Nabi. Barang siapa yang mengkritik > atau menentang , akan segera diberi jukulan Komunis ( PKI)gaya baru oleh > Ahok. > > > > Roeslan. > > > > > > *Von:* [email protected] [mailto:[email protected]] > > *Gesendet:* Mittwoch, 28. September 2016 09:38 > *An:* [GELORA45]; [email protected] > *Betreff:* [nasional-list] Re: [GELORA45] Ahok bilang hal ini lebih > penting daripada menang pilkada DKI > > > > > > Pengabdian utamanya kan memang jadi centhèngnya kaum pengembang!!! > > Am Wed, > 28 Sep 2016 14:50:23 +0800 schrieb "'Chan CT' [email protected] > [GELORA45]" <[email protected]>: > > > Ahok bilang hal ini lebih penting daripada menang pilkada DKI > > > > Rabu, 28 September 2016 11:39 WIB | 4.336 Views > > > > Pewarta: Natisha Andarningtyas > > > > > > > > Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (ANTARA FOTO/M Agung > > Rajasa) > > > > > > > > Jakarta (ANTARA News) - Gubernur petahana DKI Jakarta Basuki "Ahok" > > Tjahaja Purnama mengatakan tidak peduli pada pencitraan berkaitan > > penggusuran warga yang berdekatan waktunya dengan masa pemilihan > > kepala daerah. > > > > "Yang penting orang harus kenang saya, walaupun saya nggak terpilih > > lagi, Oktober 2017, orang akan melihat saya yang membereskan Kampung > > Pulo dan Bukit Duri. Saya yang bisa membuat titik banjir di Jakarta > > berkurang banyak. Itu lebih penitng bagi saya daripada menjabat 5 > > tahun lagi," kata Ahok di Balai Kota, Rabu (28/9). > > > > "Kami nggak mau pusing soal pilkada, kami mau kejar sebaik mungkin > > janji-janji saya dan Pak Jokowi sejak 2012," kata Ahok. > > > > Ia tidak memusingkan sejumlah survei yang menyatakan popularitasnya > > turun dan berpendapat masih punya waktu untuk membuktikan dirinya > > sebagai gubernur hingga Oktober 2017. > > > > "Yang penting, orang harus kenang saya, walaupun saya nggak terpilih > > lagi," kata Ahok. > > > > Editor: Aditia Maruli > > > > > > > > >
