Bung Marco,
Bung sama seperti saya, tidak tahu Bahasa Arab. Untuk mengetahui isi
Al-Qur'an mesti baca yang terjemahan dari Depag.Namun selama membaca itu
saya tidak temukan kalimat yang mengatakan bahwa kalau masuk sorga dapat
72 bidadari cantik. Dalam surat apa dan ayat berapa tentang 72 bidadari
itu? Sebab setahu saya (karena membaca) waktu sebelum banjir Nuh,
sebagian maklaekat di sorga melihat kebumi dan mendapati gadis-gadis
dibumi cantik-cantik, lalu malekat itu turun kebumi dan memperistri
perempuan-perempuan manusia itu, dan melahirkan anak-anak yang disebut
Nephilim yang kuat perkasa dan berbuat segala kejahatan dibumi. Inilah
sebabnya Tuhan membuat banjir besar karena bumi sudah dipenuhi dengan
segala macam kejahatan........... itu yang saya pernah baca dalam
alkitab.......Apakah hal itu ada tertulis juga di AlQuran?
------ Original Message ------
From: "Marco 45665 [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>
To: "GELORA_In" <[email protected]>; "Sunny" <[email protected]>
Cc: "Chan CT" <[email protected]>
Sent: Sunday, 9 Oct, 2016 At 7:40 AM
Subject: Re: [GELORA45] Sesungguhnya Muslim Boleh Pilih Ahok
Saya tidak bisa berbahasa Arab ....tetapi jika saya membaca Ayat2 QORAN
YANG DITERJEMAHKAN DALAM BAHSA INDONESIA dan mencoba menyesuluri
Kliamat per Kalimat dan mencoba mengunyah dan menr=yerat ARTI DAN ATAU
MAKSUD AYAT2 tsb ( yang sudah diterjemakan dalam Sususan bahas
Indoneisa ynag serba Kaku dan diterjemahkan kata per kata
(Tidak Pemegrtia Filofois dibelakng Kalmat2 atau ayat2mya ..... ) maka
terus saya dapat kesimpulna yang satu : SANGAT CONFUSING DAN TIDAK
MEYAKINKAN ISINYA dan apabila diterpakan pada SISTUASI DAN SIKON
KEHIDU[AN MANUSIA didunia dewasa kini ....... saya mendapat kesan yang
RASANYA SULIT untuk BISA DIJADIKAN suatu Yang bisa PAS BERLAKU DIMASA
KINI......
2016-10-08 13:45 GMT+02:00 'Sunny' [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected]
<mailto:[email protected]> >:
Boleh memilih kafir berarti melanggar wahyu Allah. Pelanggaran ini
adalah kecelakaan besar yang berakibat tidak bisa masuk surga untuk
duduk besantai dan berinteraksi dengan malakeat-malaekat cantik nan
sexy di taman firdaus yang indah penuh kelimpahan abadi. hahahahahaha
Amin!
From: mailto:[email protected] <mailto:[email protected]>
Sent: Saturday, October 8, 2016 11:47 AM
To: GELORA_In <mailto:[email protected]>
Subject: Fw: [GELORA45] Sesungguhnya Muslim Boleh Pilih Ahok
From: Yoseph T Taher
Sent: Saturday, October 8, 2016 2:53 PM
Dari Dokumen Simpanan: YTTaher:
Inilah Penjelasan Bahwa Sesungguhnya Muslim
Boleh Pilih Ahok
Senin,
14 Maret 2016 berita,
islami
Artikel ini Dikutip dari tulisan Adrianto Idea
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang
Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka
adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu
mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk
golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang zalim.” ( Al Quran surah Al Maidah 51)
Ayat di atas sedang menjadi populer sekarang. Ayat itu selalu populer
ketika menjelang pemilu. Dalam hal pilkada DKI yang salah satu calon
kuatnya adalah Nasrani, ayat ini menjadi semakin kuat lagi bergema.
Akan tetapi apakah ayat ini mengenai pemilu? Apakah ini ayat mengenai
pemilihan gubernur? Menurut saya bukan.
Sejarah Islam tidak pernah mengenal adanya pemilu atau pemilihan umum.
Juga tidak pernah ada pemilihan gubernur atau kepala daerah.
Satu-satunya pemilihan yang pernah terjadi adalah pemilihan khalifah.
Itu pun hanya 5 kali, dan hanya melibatkan sekelompok orang yang
tinggal di Madinah. Gubernur khususnya adalah pejabat yang ditunjuk
oleh khalifah. Tak pernah dipilih.
Jadi sebenarnya ayat ini tentang apa? Wali atau awliya itu soal
pemimpin wilayah atau daerahkah? Bukan. Bagaimana mungkin ada ayat yang
mengatur tentang pemilihan pemimpin, padahal pemilihan itu tidak pernah
terjadi?
Jadi, apakah yang dimaksud? Apa makna wali atau awliya? Wali artinya
pelindung,
atau sekutu. Ketika Nabi ditekan di Mekah, beliau menyuruh kaum
muslimin hijrah
ke Habasyah (Ethopia).
Rajanya yang seorang Nasrani, menerima orang-orang yang hijrah itu,
melindungi mereka dari kejaran Quraisy Mekah. Inilah yang disebut wali,
orang yang melindungi. Kejadian ini direkam dalam surat Al-Maidah juga,
ayat 82 yang Artinya:
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya
terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan
orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat
persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang
berkata: “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani”. Yang demikian itu
disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat
pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka
tidak menymbongkan diri. (5: 82)
Berdasarkan berbagai riwayat sejarah, pada tahun ke 5 pengangkatan Nabi
Muhammad Saw, sekelompok kaum Muslimin melakukan hijrah dari Mekah ke
Habasyah untuk menyelamatkan akidah dan jiwa mereka dari siksaan kaum
Musyrikin.
Najasyi, Raja Habasyah saat itu adalah pemeluk Kristen yang taat.
Karena itu raja menyambut kedatangan kaum Muslimin tersebut dengan
hangat dan tidak bersedia menyerahkan mereka kepada wakil orang-orang
Musyrik Mekah.
Selain itu, ketika melihat Raja Najasyi menangis saat mendengarkan
ayat-ayat suci al-Quran yang dibacakan oleh Jakfar bin Abi Thalib as
selaku ketua rombongan, para pendeta akhirnya juga ikut mendukung dan
melindungi umat Islam.
Adapun ayat 51 yang melarang orang menjadikan Yahudi dan Nasrani
sebagai pelindung itu adalah soal persekutuan dalam perang. Tidak ada
sama sekali kaitannya dengan pemilihan pemimpin. Ini sudah pernah saya
bahas, dan juga dibahas banyak orang.
Pagi ini, bangun tidur saya menyaksikan berita pilu. Orang-orang Arab
dari Syiria dan Irak masih terus mengungsi. Ke mana kah mereka
mengungsi? Ke Eropa. Siapa orang-orang Eropa itu? Muslimkah mereka?
Sebagian besar tidak.
Kebanyakan dari mereka, orang-orang Eropa itu, adalah Nasrani, atau
atheis (musyrik). Tapi kini mereka menjadi pelindung bagi orang-orang
muslim, persis seperti ketika kaum muslim hijrah ke Habasyah.
Jadi, cobalah orang-orang yang rajin melafalkan ayat Al-Maidah 51 itu
berkhotbah kepada para pengungsi itu. Katakan kepada mereka bahwa
meminta perlindungan kepada Nasrani, menjadikan mereka wali atau awliya
itu haram hukumnya. Bisakah?
Ironisnya, dari siapa mereka lari? Apakah dari kaum kafir? Bukan.
Mereka justru lari karena ditindas oleh pemimpin-pemimpin mereka
sendiri, kaum muslim. Kaum muslim yang berebut kekuasaan. Utamanya Sunni
melawan Syiah.
Tahukah Anda bahwa bibit konflik Sunni-Syiah itu sudah terbentuk sejak
Rasul wafat? Ketika orang-orang mulai kasak-kusuk untuk mencari siapa
yang akan jadi khalifah, padahal jenazah Rasul belum lagi diurus.
Permusuhan itu abadi, mengalirkan darah jutaan kaum muslimin sepanjang
sejarah ribuan tahun, kekal hingga kini.
Tidakkah kita sebagai kaum muslim malu ketika saudara-saudara kita
dizalimi oleh saudara kita yang lain, mereka meminta perlindungan
kepada kaum Nasrani dan kafir?
Tapi pada saat yang sama mulut kita fasih mengucap ayat-ayat yang
memusuhi orang-orang Nasrani, memelihara permusuhan kepada mereka.
Ingatlah, musuh abadi kita sebenarnya bukan Yahudi dan Nasrani,
melainkan rasa permusuhan itu sendiri.
Rasa permusuhan itulah yang telah mengalirkan banyak darah kaum
muslimin, mengalir menjadi kubangan darah sesama saudara. Sesama saudara
pun bisa saling berbunuhan kalau ada permusuhan di antara mereka.
Kenapa mereka berbunuhan? Karena Politik & Perebutan kekuasaan.
Itulah yang sedang dilakukan banyak orang dengan Al-Maidah ayat 51.
Berebut kekuasaan politik dengan mengobarkan permusuhan.
Mereka sedang mengabadikan kebodohan yang sudah berlangsung 15 abad.
Anda mau menjadi bagian dari kebodohan itu? Saya tidak. Karena saya
tidak mau menjadi pengungsi seperti orang-orang Irak dan Syiria itu. #
sudutpandanglain