*ANALYSA SUATU DNA MASYARAKAT .......Dan  kepercayaan yang sering membuat
FATAL....*
*------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------*

*Gimana 20 Juta Anak2  bisa makan sehat dan berkecukupan Jika Uang KELUARGA
*terutama *untuk anak2nya Habis dipakai untuk Beaya dan Keperluan  NAIK
HAJI oleh* *1O JUTA orang Tuanya* ......

*>> Pulang dari Haji mereka Tinggal cari Utang ..*...

   - *Anak2nya  itu Terlantar ,Tak bisa makan sehat dan Tak bisa makan
    secekupnya ...apalagi untuk Sekolah   > boleh Dilupalan untuk selamaya *
   - *Hutang pun tambah bertumpuk > *karena HUtang Bulanan berikutnya
   haabis dipakai Bunga Hutang dari Bulan2 sebelumnya
   - *Kepaksa jual SAWAH -satu2 nya Milik yg tertinggal* untuk menunjang
   Hidup se.hari2... ..         ( Itupun  kalau masih ada .dan kalau dimiliki
   sebelumnya ....)

*AKHIRNYA : >** ANAK2 TERLANTAR  SEMU**A  ( *mending kalau cuman punya 1
atau 2 anak....
                           belum lagi BINI2....nya , yang lebih dari 1
.....hahhaaaa.. )
                        *> SAWAH HABIS TERJUAL *
*                        > HUTANG semakin BERTUMPUK*
*                        > CARI KERJAAAN SULIT  (* engga punya Kwalifikasi
- maupun Pengalaman Kerja
                           lain , yang bisa cukup untuk  mempertahankan
Hidup dan menghidupi Keluragnya * )...*
*                        > YANG tertinggal cuming Satu2nya > GELAR HAJI
yang engga Laku dimana2 *
*                          didunia , bahkan maupun di Acherat  (*Diplom
Haji kan engga ADA dan Tidak
                          tertulis ...Jadi manpulan dibawa kekuburun
...untuk ditujukkan pada Malaekat yang
                          beridiri dipintu Gerbang Surga sewaktu para Umat
 harus masuk Gerbang Surga....

* ..........Laul Mereka  Heran dan Tak mengerti dirinya sendiri *...
MENGAPA UMAT ISLAM ITU SELALU TERHINA...... dan MREKA LUPA DAN TAK PERNAH
MENGERTI DIRINYA sendiri  , bahwa RESPEKT ITU TIDAK BISA DIMINTA ataupu
DIBELI *melainkan HARUS DIBANGUN SENDIRI oleh setiap orang  , karena
CHARAKTER YANG BAIK dan KUAT , CARA BERPIKIR yang baik serta DAYA PIKIR
yang membumi dan meyakinkan dari  SESEORANG ITULAH .... yang justru akan
membuat ORANG LAIN DISEKITAR KITA   RESPEKT pada KITA..... *
*(*Jalan Lain  bisa dikatakan Hampir Tak ada .......kendaitpun sampai
menamakan dirinya HABIB .... )


2016-10-12 17:35 GMT+02:00 ajeg ajegil...@yahoo.com [GELORA45] <
GELORA45@yahoogroups.com>:

>
>
> Di usia kepala 7 sekarang ini Indonesia masih berkutat
> di episode kebutuhan dasar yaitu, sandang-pangan-papan.
> Bukan cuma kalangan miskin saja yang bermasalah
> dengan kebutuhan dasar itu, kalangan terdidik dan kaya
> juga merasa kekurangan akan sandang-pangan-papan
> yang mewah. Itu sebabnya korupsi merajalela.
>
> Belum terlihat tanda-tanda dimulainya pembangunan untuk
> membawa Indonesia memasuki era produksi / industri
> secara nasional. Untuk memenuhi kebutuhan dasar itu saja
> masyarakat dikepung perusahaan / industri besar swasta.
>
> --- jetaimemucho1@... wrote:
>
> Selasa 11 Oct 2016, 07:10 WIB
> Wawancara Khusus Kepala Perwakilan FAO20 Juta Orang di RI Kekurangan
> Konsumsi Pangan
> Muhammad Idris - detikFinance
> *Jakarta* - Di tengah ingar-bingar pembangunan dan pertumbuhan ekonomi,
> rupanya masih banyak penduduk Indonesia yang belum mampu memenuhi kebutuhan
> pangan mereka secara layak. Badan Pangan PBB (Food and Agriculture
> Organization of The United Nations/FAO) mengungkapkan, dari total 250 juta
> orang jumlah penduduk Indonesia, 7,9% atau sekitar 20 juta orang masih
> kekurangan pangan.
>
> Sebagian besar tersebar di Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat
> (NTB), Papua Barat, dan Papua. Sementara sisanya berada di pulau-pulau
> kecil Sumatera dan sebagian Pulau Jawa.
>
> Masalah tersebut tak semata berkutat pada kekurangan pangan, namun meluas
> pada masalah ketiadaan akses untuk pemenuhan makanan yang layak, sehingga
> berbuntut pada gizi buruk. Jika diuraikan benang kusutnya, maka kemiskinan
> menjadi penyebabnya.
>
> Untuk mengetahui lebih lanjut tentang masalah kekurangan konsumsi pangan
> ini, *detikFinance* berkesempatan mewawancarai Mark Smulders, Kepala
> Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor Leste di kantornya, Menara
> Thamrin, Jakarta, Jumat (7/10/2016). Berikut petikan wawancaranya:
>
> *Berapa jumlah orang di dunia yang masih mengalami kekurangan konsumsi
> pangan?*
> Ada sekitar 800 juta orang masih kelaparan di dunia. Ini karena kekurangan
> makanan atau masih kelaparan saat mereka pergi tidur setiap malamnya, tidak
> cukup kalori. Karena makanan yang tidak cukup, tidak ada energi untuk bisa
> menjalankan aktivitasnya.
>
> *Bagaimana dengan Indonesia, berapa jumlah orang yang masih kekurangan
> konsumsi pangan?*
> Di Indonesia ada 7,9% dari 250 juta orang atau sekitar 20 juta orang
> mengalami kekurangan pangan. Tidak cukup protein, tidak cukup vitamin dan
> mineral, harusnya makan lebih banyak mengandung protein dan sayuran untuk
> melengkapi nasi putih.
>
> Di Asia Tenggara ada 60 juta penduduk kekurangan makanan yang layak, dan
> sepertiganya ada di Indonesia yang tidak cukup mendapatkan makanan layak
> karena kemiskinan. Ini sebagian besar di NTT, NTB, Papua, Papua Barat.
>
> Bank Dunia dan BPS (Badan Pusat Statistik) memperkirakan 11% populasi
> hidup di bawah kemiskinan, itu kira-kira 28 juta orang yang tidak punya
> cukup uang untuk membeli makanan. Hanya makan sekali, hanya makan dua kali
> karena tidak cukup uang.
>
> [image: 20 Juta Orang di RI Kekurangan Pangan]
>
>
> *Adakah temuan lainnya selain masalah kekurangan konsumsi pangan?*
> Sekitar 37% malnutrisi terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun. Khususnya
> di NTT, sebagian NTB, Papua, Papua Barat, kemudian di Sumatera Barat,
> Sumatera Utara, terutama di pulau-pulau kecil di wilayah itu. Pulau-pulau
> itu merupakan beberapa daerah yang sebelumnya terdampak tsunami.
>
> *Menurut FAO, apa yang harus dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah
> kekurangan konsumsi pangan ini? Sudahkah pemerintah melakukannya?*
> Pemerintah umumnya sudah punya kebijakan berupa komoditas strategis
> seperti beras, jagung, dan kedelai. Namun itu sebenarnya tak cukup hanya
> dengan usaha memproduksi makanan. Tapi sebenarnya lebih tepat dengan
> intensifikasi lahan. Lahan-lahan (pertanian) di Indonesia kecil-kecil,
> sehingga tak menghasilkan pendapatan yang cukup untuk petani.
>
> Jadi kita dorong pemerintah lebih melakukan arah perbaikan manajemen,
> mengantisipasi perubahan iklim, dan program seperti intensifikasi dengan
> mina padi, karena produksinya menghasilkan pendapatan yang bagus.
>
> Selain itu, kita juga mendorong untuk mengatasi malnutrisi. Ini terjadi
> karena sulitnya akses pada makanan yang higienis dan air bersih. Pemerintah
> perlu memperhatikan hal ini agar kualitas makanan terjaga. *(hns/wdl)*
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke