Program belanja pangan khusus untuk peningkatan giziseperti itu belum dengar. 
Tapi pernah ada program keluargaberencana (KB) yang mencakup layanan ibu dan 
kandungan,
bukan melulu tentang kontrasepi. Lalu ada juga program 
pelayanan terpadu yang diselenggarakan setiap bulan di 
setiap kelurahan (Posyandu) untuk melayani kesehatan balita 
serta lansia.
Beda dengan program KB yang mengalami koma mendadak, 
Posyandu sempat morat-marit dulu selama gejolak krismon 
dan betul-betul bangkrut ketika meletus reformasi. Maklum, 
program bulanan di kantor kelurahan ini merupakan swadaya 
masyarakat dengan dukungan tenaga kesehatan pemerintah.
Di era Gus Dur, program swadaya Rakyat ini coba dibangkitkan lagi. 
Tapi gonjang-ganjing politik, dan terutama akibat krismon yang 
tak terpulihkan, membuat kemampuan Rakyat sangat terbatas.Jaman SBY, program KB 
dan Posyandu ini sepertinya digabung 
ke dalam KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Hanya saja kalauditanya, orang Indonesia 
ngertinya KIA itu ya pabrik mobil Korea..

--- jonathangoeij@... wrote:
Di US ada program khusus untuk meningkatkan gizi Ibu dan anak balita, namanya 
Women Infant Care (WIC)  
https://www.nutrition.gov/food-assistance-programs/wic-women-infants-and-children
 program ini memberi semacam voucher yg bisa dibelanjakan di supermarket untuk 
barang2 tertentu seperti susu, formula, keju, cereal dlsb. Program ini sangat 
sukses selain kekurangan gizi bisa ditekan hampir mendekati nol juga ternyata 
juga penghematan anggaran yang luar biasa...lho? kok bisa? karena biaya 
kesehatan bisa ditekan.



Nggak tahu diantara kartu2 sakti Jokowi itu apakah ada program peningkatan gizi 
ibu dan anak2, seandainya belum ada patut dipertimbangkan.
On Wednesday, October 12, 2016 12:10 PM, jonathangoeij@... wrote:
Daerah2 seperti NTT, NTB, Papua, dan Papua Barat rasanya bukannya kantong2 
Islam, sedang Sumatra Barat dan Sumatra Utara memang iya. Rasanya kekurangan 
pangan ini bukan karena masalah haji.
Kutipan berita:Adakah temuan lainnya selain masalah kekurangan konsumsi pangan?
Sekitar 37% malnutrisi terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun. Khususnya di 
NTT, sebagian NTB, Papua, Papua Barat, kemudian di Sumatera Barat, Sumatera 
Utara, terutama di pulau-pulau kecil di wilayah itu. Pulau-pulau itu merupakan 
beberapa daerah yang sebelumnya terdampak tsunami.

--- comoprima45@... wrote :

DARI ANDA PRIBADI  dengan kata lain dari Eoerang Expert bernama AjeGile-emang 
Gile
2016-10-12 18:47 GMT+02:00 ajeg :
Dari mana Anda bisa begitu yakin ke 20 juta orang itu menjadi miskin 
lantaran uangnya dipakai naik haji?
Atau ini sekedar menunjukkan sikap rasis?


--- comoprima45@... wrote:
ANALYSA SUATU DNA MASYARAKAT .......Dan  kepercayaan yang sering membuat 
FATAL....------------------------------ ------------------------------ 
------------------------------ ------------------------------ ------------------
Gimana 20 Juta Anak2  bisa makan sehat dan berkecukupan Jika Uang KELUARGA 
terutama untuk anak2nya Habis dipakai untuk Beaya dan Keperluan  NAIK HAJI oleh 
1O JUTA orang Tuanya ...... 
>> Pulang dari Haji mereka Tinggal cari Utang .....   
   - Anak2nya  itu Terlantar ,Tak bisa makan sehat dan Tak bisa makan  
secekupnya ...apalagi untuk Sekolah   > boleh Dilupalan untuk selamaya    

   - Hutang pun tambah bertumpuk > karena HUtang Bulanan berikutnya haabis 
dipakai Bunga Hutang dari Bulan2 sebelumnya
   - Kepaksa jual SAWAH -satu2 nya Milik yg tertinggal untuk menunjang Hidup 
se.hari2... ..         ( Itupun  kalau masih ada .dan kalau dimiliki sebelumnya 
....)
AKHIRNYA : > ANAK2 TERLANTAR  SEMUA  ( mending kalau cuman punya 1 atau 2 
anak....                           belum lagi BINI2....nya , yang lebih dari 1 
.....hahhaaaa.. )                        > SAWAH HABIS TERJUAL                  
       > HUTANG semakin BERTUMPUK                        > CARI KERJAAAN SULIT  
( engga punya Kwalifikasi - maupun Pengalaman Kerja                            
lain , yang bisa cukup untuk  mempertahankan Hidup dan menghidupi Keluragnya  
)...                        > YANG tertinggal cuming Satu2nya > GELAR HAJI yang 
engga Laku dimana2                           didunia , bahkan maupun di Acherat 
 (Diplom Haji kan engga ADA dan Tidak                          tertulis ...Jadi 
manpulan dibawa kekuburun ...untuk ditujukkan pada Malaekat yang                
          beridiri dipintu Gerbang Surga sewaktu para Umat  harus masuk Gerbang 
Surga....
 ..........Laul Mereka  Heran dan Tak mengerti dirinya sendiri ... MENGAPA UMAT 
ISLAM ITU SELALU TERHINA...... dan MREKA LUPA DAN TAK PERNAH MENGERTI DIRINYA 
sendiri  , bahwa RESPEKT ITU TIDAK BISA DIMINTA ataupu DIBELI melainkan HARUS 
DIBANGUN SENDIRI oleh setiap orang  , karena CHARAKTER YANG BAIK dan KUAT , 
CARA BERPIKIR yang baik serta DAYA PIKIR yang membumi dan meyakinkan dari  
SESEORANG ITULAH .... yang justru akan membuat ORANG LAIN DISEKITAR KITA   
RESPEKT pada KITA..... (Jalan Lain  bisa dikatakan Hampir Tak ada 
.......kendaitpun sampai menamakan dirinya HABIB .... )

2016-10-12 17:35 GMT+02:00 ajeg :Di usia kepala 7 sekarang ini Indonesia masih 
berkutat 
di episode kebutuhan dasar yaitu, sandang-pangan-papan.Bukan cuma kalangan 
miskin saja yang bermasalah 
dengan kebutuhan dasar itu, kalangan terdidik dan kaya 
juga merasa kekurangan akan sandang-pangan-papan 
yang mewah. Itu sebabnya korupsi merajalela.

Belum terlihat tanda-tanda dimulainya pembangunan untuk 
membawa Indonesia memasuki era produksi / industri 
secara nasional. Untuk memenuhi kebutuhan dasar itu saja 
masyarakat dikepung perusahaan / industri besar swasta.
--- jetaimemucho1@... wrote:
Selasa 11 Oct 2016, 07:10 WIB
Wawancara Khusus Kepala Perwakilan FAO

20 Juta Orang di RI Kekurangan Konsumsi Pangan
Muhammad Idris - detikFinanceJakarta - Di tengah ingar-bingar pembangunan dan 
pertumbuhan ekonomi, rupanya  masih banyak penduduk Indonesia yang belum mampu 
memenuhi kebutuhan pangan mereka secara layak. Badan Pangan PBB (Food and 
Agriculture Organization of The United Nations/FAO) mengungkapkan, dari total 
250 juta orang jumlah penduduk Indonesia, 7,9% atau sekitar 20 juta orang masih 
kekurangan pangan.

Sebagian besar tersebar di Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat 
(NTB), Papua Barat, dan Papua. Sementara sisanya berada di pulau-pulau kecil 
Sumatera dan sebagian Pulau Jawa.

Masalah tersebut tak semata berkutat pada kekurangan pangan, namun meluas pada 
masalah ketiadaan akses untuk pemenuhan makanan yang layak, sehingga berbuntut 
pada gizi buruk. Jika diuraikan benang kusutnya, maka kemiskinan menjadi 
penyebabnya.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang masalah kekurangan konsumsi pangan ini, 
detikFinance  berkesempatan mewawancarai Mark Smulders, Kepala Perwakilan FAO 
untuk Indonesia dan Timor Leste di kantornya, Menara Thamrin, Jakarta, Jumat 
(7/10/2016). Berikut petikan wawancaranya:

Berapa jumlah orang di dunia yang masih mengalami kekurangan konsumsi pangan?
Ada sekitar 800 juta orang masih kelaparan di dunia. Ini karena kekurangan 
makanan atau masih kelaparan saat mereka pergi tidur setiap malamnya, tidak 
cukup kalori. Karena makanan yang tidak cukup, tidak ada energi untuk bisa 
menjalankan aktivitasnya.

Bagaimana dengan Indonesia, berapa jumlah orang yang masih kekurangan konsumsi 
pangan?
Di Indonesia ada 7,9% dari 250 juta orang atau sekitar 20 juta orang mengalami 
kekurangan pangan. Tidak cukup protein, tidak cukup vitamin dan mineral, 
harusnya makan lebih banyak mengandung protein dan sayuran untuk melengkapi 
nasi putih.

Di Asia Tenggara ada 60 juta penduduk kekurangan makanan yang layak, dan 
sepertiganya ada di Indonesia yang tidak cukup mendapatkan makanan layak karena 
kemiskinan. Ini sebagian besar di NTT, NTB, Papua, Papua Barat.

Bank Dunia dan BPS (Badan Pusat Statistik) memperkirakan 11% populasi hidup di 
bawah kemiskinan, itu kira-kira 28 juta orang yang tidak punya cukup uang untuk 
membeli makanan. Hanya makan sekali, hanya makan dua kali karena tidak cukup 
uang.


|  |

Adakah temuan lainnya selain masalah kekurangan konsumsi pangan?
Sekitar 37% malnutrisi terjadi pada anak-anak di bawah 5 tahun. Khususnya di 
NTT, sebagian NTB, Papua, Papua Barat, kemudian di Sumatera Barat, Sumatera 
Utara, terutama di pulau-pulau kecil di wilayah itu. Pulau-pulau itu merupakan 
beberapa daerah yang sebelumnya terdampak tsunami.

Menurut FAO, apa yang harus dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah  
kekurangan konsumsi pangan ini? Sudahkah pemerintah melakukannya?
Pemerintah umumnya sudah punya kebijakan berupa komoditas strategis seperti 
beras, jagung, dan kedelai. Namun itu sebenarnya tak cukup hanya dengan usaha 
memproduksi makanan. Tapi sebenarnya lebih tepat dengan intensifikasi lahan. 
Lahan-lahan (pertanian) di Indonesia kecil-kecil, sehingga tak menghasilkan 
pendapatan yang cukup untuk petani.

Jadi kita dorong pemerintah lebih melakukan arah perbaikan manajemen, 
mengantisipasi perubahan iklim, dan program seperti intensifikasi dengan mina 
padi, karena produksinya menghasilkan pendapatan yang bagus.

Selain itu, kita juga mendorong untuk mengatasi malnutrisi. Ini terjadi karena 
sulitnya akses pada makanan yang higienis dan air bersih. Pemerintah perlu 
memperhatikan hal ini agar kualitas makanan terjaga. (hns/wdl)

   

Kirim email ke