Pada Sabtu, 22 Oktober 2016 3:47, "'Sunny' [email protected] [nasional-list]" 
<[email protected]> menulis:
 

     res : Dalam  ekonomi jilid-jilitan ke berapa disebut penutupan pabrik 
gula? hehehehehe 
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/10/22/070842726/penutupan.pabrik.gula.akan.dilakukan.secara.bertahap
 
Penutupan Pabrik Gula Akan Dilakukan Secara Bertahap
Sabtu, 22 Oktober 2016 | 07:08 WIB KOMPAS.com/ Ahmad Winarno Direktur Utama 
PTPN XI, Dolly P Pulungan (memegang mic), Saat Berdialog Dengan Petani Tebu di 
City Forest, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (21/10/2016). JEMBER, 
KOMPAS.com - Direktur Utama PTPN XI, Dolly P Pulungan, mengatakan bahwa 
penutupan sembilan pabrik gula (PG) di Jawa Timur akan dilakukan secara 
bertahap.Sembilan pabrik yang akan ditutup di antaranya PG Rejosari, Kanigoro, 
dan Purwodadi di Madiun, lalu PG Toelangan dan PG Watoetoelis di Sidoarjo, 
kemudian PG Meritjan di Kediri, dan tiga PG di Situbondo, yakni PG Pandji, PG 
Olean, dan PG Wringinanom.“Jadi tidak benar jika penutupan itu dilakukan 
sekaligus, tetap akan dilakukan secara bertahap,” ungkap Dolly, Jumat 
(21/10/2016), di Jember, Jawa Timur.Menurut Dolly, pabrik yang akan ditutup 
tersebut rata-rata berusia di atas 100 tahun.“Jadi rata-rata sudah tua-tua 
usianya, tetapi penutupannnya bisa tiga tahun, atau bahkan empat tahun lagi, 
sambil lalu kita lakukan studi,” tegas dia.Pabrik gula yang ditutup, lanjut 
Dolly, tidak akan dibiarkan begitu saja, namun akan diubah fungsinya.“Misalnya 
di Kabupaten Situbondo, kan ada tiga pabrik gula yang akan ditutup. Jadi satu 
pabrik kami ubah jadi pabrik pupuk dan dua (lainnya) kami jadikan pabrik 
maintenance. Kalau kami punya pusat perbengkelan, kan tidak perlu kerjasama 
dengan rekanan, karena kami punya pabriknya sendiri,” tegasnya.Dengan perubahan 
fungsi pabrik gula tersebut, diharapkan tidak akan berdampak terhadap 
rasionalisasi besar-besaran terhadap karyawan.“Kan tetap dikaryakan atau 
digandeng untuk menjalin kemitraan dengan kami. Kalau yang waktunya pensiun, ya 
tetap pensiun, jadi alamiah saja,” ungkapnya.Sebelumnya diberitakan, pemerintah 
melalui Kementerian BUMN akan menutup sejumlah pabrik gula di Jawa Timur. 
Alasannya, dalam rangka re-grouping BUMN serta meningkatkan efisiensi. Pabrik 
gula yang ditutup adalah yang berada di bawah pengelolaan PTPN IX, X, XI, dan 
PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).(Baca juga: Di Depan Dirut PTPN XI, 
Petani Tebu Ungkap Curhat soal Penutupan Pabrik 
Gula)+++++http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/07/26/154845526/pemerintah.dorong.revitalisasi.pabrik.gula.dan.perluasan.lahan.tebu?utm_source=RD&utm_medium=box&utm_campaign=Kaitrd
Pemerintah Dorong Revitalisasi Pabrik Gula dan Perluasan Lahan Tebu
Selasa, 26 Juli 2016 | 15:48 WIB  JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pertanian Andi 
Amran Sulaiman mengatakan, ada dua upaya yang akan dilakukan pemerintah untuk 
menurunkan harga gula pasir yang saat ini menembus Rp 16.000 per kilogram 
(kg).Pertama, upaya intensifikasi, yaitu dengan memperbaiki bibit tebu melalui 
sistem bongkar ratoon.Sementara itu, upaya kedua berupa ekstensifikasi lahan 
dan revitalisasi pabrik gula.Amran mengatakan, pemerintah perlu menyiapkan 
380.000 hektar lahan untuk ditanami tanaman tebu.Perluasan ini dilakukan untuk 
menggerakkan 13 pabrik gula yang saat ini terbilang masih idle 
capacity."Investasinya, untuk on farm dan off farm satu pabrik Rp 5 triliun. 
Itu untuk satu pabrik dengan kapasitas 10.000 TCD (ton cane per day)," kata 
Amran seusai rapat koordinasi di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, 
Jakarta, Selasa (26/7/2016).Amran mengatakan, peningkatan produksi gula akan 
dikerjakan oleh perusahaan-perusahaan pelat merah.Sayangnya, Menteri Badan 
Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno, yang juga hadir dalam rapat, enggan 
menemui wartawan, dan memilih meninggalkan Kantor Kemenko Perekonomian lewat 
pintu belakang."Kalau bergerak cepat, pabrik-pabrik ini bisa beroperasi, dan 
3-5 tahun sudah bisa menghasilkan gula," ujar Amran.Sementara itu, harga gula 
pasir yang masih tinggi di pasaran juga menjadi perhatian Menteri Koordinator 
Perekonomian Darmin Nasution.Darmin mengharapkan harga gula pasir pada akhir 
tahun bisa di level Rp 12.500 per kg.
| Penulis | : Estu Suryowati |
| Editor | : M Fajar Marta |

 
+++++++http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/01/18/194507826/Bangun.Pabrik.Gula.Pemodal.Asing.Wajib.Libatkan.Petani.Lokal.
 
Bangun Pabrik Gula, Pemodal Asing Wajib Libatkan Petani Lokal
Senin, 18 Januari 2016 | 19:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky 
Sibarani mengatakan, pemerintah telah mengambil kesepakatan di tingkat menteri 
koordinasi untuk membuka kesempatan bagi investasi asing masih di bidang 
pertanian. Salah satunya adalah usaha industri pengolahan hasil perkebunan di 
bawah kapasitas tertentu sesuai dengan peraturan perundang-undangan, antara 
lain industri gula pasir, dan pucuk tebu. 

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 39/2014 tentang Daftar Bidang Usaha yang 
Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman 
Modal, saat ini bidang usaha industri gula pasir (gula kristal putih, gula 
kristal rafinasi, dan gula kristal mentah), terbuka untuk asing maksimal 95 
persen. 

Dalam beleid tersebut juga disebutkan, pendirian pabrik gula pasir baru maupun 
perluasan wajib membangun terlebih dahulu perkebunan tebu milik sendiri sesuai 
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. “Industri gula, kalau mengikuti 
ketentuan sekarang kan 95 persen boleh PMA. Itu nanti kita akan buka 100 
persen, dengan ketentuan harus bermitra. Harus melakukan kemitraan di lahan, di 
perkebunannya, ya dengan petani,” kata Franky, di Jakarta, Senin (18/1/2016). 

Franky menambahkan, nantinya investor asing wajib menggandeng petani plasma 
dalam penanaman modal di usaha tersebut. Kira-kira porsinya antara 20 persen 
hingga 30 persen. “Untuk kebunnya (20-30 persen) dari plasma. Tapi bukan 
kepemilikannya,” sambung Franky. 

Selain industri gula, pemerintah juga mempertimbangkan kesempatan bagi investor 
asing untuk menanamkan modal di industri karet. Menteri Perindustrian Saleh 
Husin mengatakan, di bidang perindustrian pemerintah memutuskan tiga bidang 
usaha masih tertutup untuk asing, yakni industri berbahan kimia, industri 
senjata kimia, dan industri minuman mengandung alkohol. 
| Penulis | : Estu Suryowati |
| Editor | : Josephus Primus |

  #yiv8452208583 #yiv8452208583 -- #yiv8452208583ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583ygrp-mkp #yiv8452208583hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-mkp #yiv8452208583ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-mkp .yiv8452208583ad 
{padding:0 0;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-mkp .yiv8452208583ad p 
{margin:0;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-mkp .yiv8452208583ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-sponsor 
#yiv8452208583ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583ygrp-sponsor #yiv8452208583ygrp-lc #yiv8452208583hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583ygrp-sponsor #yiv8452208583ygrp-lc .yiv8452208583ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv8452208583 #yiv8452208583actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv8452208583
 #yiv8452208583activity span {font-weight:700;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv8452208583 #yiv8452208583activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv8452208583 #yiv8452208583activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv8452208583 #yiv8452208583activity span 
.yiv8452208583underline {text-decoration:underline;}#yiv8452208583 
.yiv8452208583attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv8452208583 .yiv8452208583attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv8452208583 .yiv8452208583attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv8452208583 .yiv8452208583attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv8452208583 .yiv8452208583attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv8452208583 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv8452208583 .yiv8452208583bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv8452208583 
.yiv8452208583bold a {text-decoration:none;}#yiv8452208583 dd.yiv8452208583last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8452208583 dd.yiv8452208583last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv8452208583 
dd.yiv8452208583last p span.yiv8452208583yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv8452208583 div.yiv8452208583attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv8452208583 div.yiv8452208583attach-table 
{width:400px;}#yiv8452208583 div.yiv8452208583file-title a, #yiv8452208583 
div.yiv8452208583file-title a:active, #yiv8452208583 
div.yiv8452208583file-title a:hover, #yiv8452208583 div.yiv8452208583file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv8452208583 div.yiv8452208583photo-title a, 
#yiv8452208583 div.yiv8452208583photo-title a:active, #yiv8452208583 
div.yiv8452208583photo-title a:hover, #yiv8452208583 
div.yiv8452208583photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv8452208583 
div#yiv8452208583ygrp-mlmsg #yiv8452208583ygrp-msg p a 
span.yiv8452208583yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv8452208583 
.yiv8452208583green {color:#628c2a;}#yiv8452208583 .yiv8452208583MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv8452208583 o {font-size:0;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583photos div {float:left;width:72px;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583photos div div {border:1px solid 
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv8452208583
 #yiv8452208583reco-category {font-size:77%;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583reco-desc {font-size:77%;}#yiv8452208583 .yiv8452208583replbq 
{margin:4px;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583ygrp-mlmsg select, #yiv8452208583 input, #yiv8452208583 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583ygrp-mlmsg pre, #yiv8452208583 code {font:115% 
monospace;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-mlmsg #yiv8452208583logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-msg 
p#yiv8452208583attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583ygrp-reco #yiv8452208583reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-sponsor 
#yiv8452208583ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583ygrp-sponsor #yiv8452208583ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583ygrp-sponsor #yiv8452208583ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv8452208583 #yiv8452208583ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv8452208583 
#yiv8452208583ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv8452208583 

   

Kirim email ke