haiya... paling juga gedabrus, ngomong gedabrus nggak ada referensinya sama 
sekali biarpun bilang 100% juga bisa saja.
---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

Jonathan: Kalau tidak di-press tentu anda tidak akan mengaku kalau yg anda 
bicarakan itu sebelum 2008 kejaman dahulu kala padahal itu sudah saya tulis 
ber-kali2 bahkan jelas saya tanyakan tahun berapaNesare: ente tahu dari mana 
itu hanya terjadi sebelum 2008. Emangnya ane ndak tahu dari ngerpek kalau itu 
terjadi banyak sekali sebelum 2008? Yg ente serang kan sekarang bahwa tidak ada 
lagi praktik DSR 90% (hehehehe ane tambahin 10% biar mangkel)? Gimana bisa ndak 
ada, orang illegal saja ndak takut dinegara ente koq ambil mortgage beli rumah 
koq bisa ndak berani?! Tempo hari mau nyerang dan salahin ane ketika ane bilang 
bisa tax deductible. Lalu ane salahin (hehehehe dari ngerpek), ente gak ngerti 
pajak! Jelas sekali ente gak ngerti pajak dinegara ente. Bisa2nya bilang yg 
pake’ ITIN ndak bisa tax deductible dan hanya SSN yg bisa??!!! Udah ngerpek 
belum??!! Jangan malu!!! Hehehehehe.Ini baru personal tax. Dulu sesumbar mau 
ngomongin corporate tax dan tax secara umum. Weleh….weleh…! Sombongnya minta 
ampun! Mentang2 tinggal di USA, kita2 yg tinggal didusun dipedalaman Kalimantan 
dianggap ndak tahu. Hehehehehe untung diingetin bisa ngerpek! Nesare  From: 
nesare1@... [mailto:nesare1@...] 
Sent: Friday, November 4, 2016 1:03 PM
To: '[email protected]' <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan Tetapi setelah 
financial crisis praktek2 seperti diatas sudah tidak ada lagi atau setidaknya 
berkurang banyak sekali.Nesare: sekarang masih ada ‘kan? Wong illegal immigrant 
saja masih petentang petenteng berani terang2an hidup di negara ente, koq bisa 
takut ambil mortgage utk beli rumah?! Emangnya ene gak tahu dulu sebelum krisis 
lebih parah?!Lah kalau ane ngerpek melihat keterangan orang lain, emangnya 
salah? Gak boleh? Ya jelas ane ngerpek krn ane tinggal di desa di Indonesia yg 
internetnya lambat dan tidak secured. Lah kalau salah ya kasih tahu salah!!! 
Ente mau ngotot apa lagi? Nesare  From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, November 4, 2016 11:06 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan   Kalau tidak 
di-press tentu anda tidak akan mengaku kalau yg anda bicarakan itu sebelum 2008 
kejaman dahulu kala padahal itu sudah saya tulis ber-kali2 bahkan jelas saya 
tanyakan tahun berapa, dalam menjawabpun ternyata anda ngerpek melihat 
keterangan orang sebelumnya kemudian ditulis lagi dengan kata2 yg berbeda. 
Begini ya saya ulangi lagi, sebelum financial crisis-pun standar DSR 28-43% itu 
sudah dipakai, hanya waktu itu stated income juga umum dipakai sehingga sso yg 
income-nya tidak cukup bisa ngibul (baiknya dirinya sendiri ataupun kerja sama 
dengan loan officer) mempunyai income tambahan sebesar sekian self employed 
atau kerjaan tambahan tanpa pay stub atau apalah.  Juga ada program creative 
financing dengan negative amortization yg memberi grace period beberapa tahun 
awal cukup membayar nilai yg kecil sekali bahkan lebih kecil dari tingkat bunga 
dimana kekurangannya dimasukkan kepokok alhasil pokok menjadi semakin besar. 
Contoh creative financing seperti ini di Indonesia ada di proyek KA Cepat 
Jakarta Bandung yg memberi grace period sekitar 4-5 th tidak perlu membayar 
bunganya yg selisihnya dimasukkan kepokok. Tentang tanpa DP, yg terjadi sang 
borrower meminjam lebih dari satu loan (umumnya 2 loan). Sebagai contoh loan yg 
pertama senilai 80% LTV sedang loan kedua 20% LTV ke second lender. Bagi lender 
pertama sang borrower seakan pinjam duit dengan 20% dp memberikan loan dgn 
tingkat bunga normal sesuai dengan credit rating sang borrower, sedang lender 
yg kedua menarik tingkat bunga yg lebih tinggi karena asume resiko yg lebih 
tinggi. Disini seandainya terjadi foreclosure lender pertama akan dapat 
pengembalian lebih dahulu dan bila masih ada sisanya barulah dibayarkan ke 
lender kedua yg sering2 tidak mencukupi. Tetapi setelah financial crisis 
praktek2 seperti diatas sudah tidak ada lagi atau setidaknya berkurang banyak 
sekali. Apa yg terjadi diatas adalah beberapa penyebab financial crisis, yg 
terjadi karena sistem kapitalisme murni yg diterapkan President Bush walaupun 
diperingatkan banyak ahli akan terjadi bubble kalau terus dibiarkan bapak 
presiden tetap saja cuek dan sibuk main perang2an. Tetapi memang itulah prinsip 
yang dianut Partai Republic yg menghindari banyaknya regulasi dalam pasar. 
Setelah pemerintahan beralih ke Democrat regulasi2 yg mengatur pasar diterapkan 
yg bisa meredam banyak praktek2 seperti diatas.  ---In 
[email protected], <nesare1@...> wrote :Koq bisa confidential? Apanya yg 
confidential?Orangnya? Apanya yg confidential illegal immigrant ini? sudah buta 
tuli jutaan illegal immigrant berkeliaran bebas dinegara ente! Malahan dibikin 
film documenter ala mahoma lopez di manhattan NY. Datanya confidential? Iya. 
Ini benar datanya confidential. Ini yg ente minta dan ini yg disebut goblok!!!! 
Ini pertanyaan ente yg  ane gak jawab! Mintanya data confidential orang!!! 
Minta ampun gobloknya!!! Pemberian mortgage kaya’ gitu itu begitu lazimnya 
dinegara ente. Seperti yg ane tulis tempo hari praktis ini sangat lazim dan 
tanpa DP sebelum 2008. Ini salah satu penyebab krisis real estate dinegara 
ente!!!! Klik sana DP 0% ini digoogle, bejibun banyaknya informasi ini!!!! Ente 
itu ngak ngerti!!! Pake’ logika sendiri utk mempertahankan opini standard DSR 
30%!!!Ini yg ane bidik!!! Ini yg ane salahkan!!! Ini yg ane bilang cupat 
pikirannya!!! Inilah ente!!!Pake logika kalau 80% utk bayar cicilan kredit 
rumah, mana cukup sisanya 20% utk biaya hidup sehari2?! Ini yg ente pake’ utk 
menyokong logika ente. Emangnya yg ambil kredit begitu gobloknya kalau dia 
nggak mampu bayar cicilan kredit rumah/mortgage itu dari awalnya?!! Emangnya 
dia mau default??!!! Emangnya dia mau foreclosure??!!!Ya jelas orang sudah 
ambil kredit mortgage pasti sudah tahu dia mampu bayar!!! Lender gak pusing 
masalah ini. yg ditakuti lender adalah kalau nantinya gak bisa bayar. Ini 
sebabnya banyak: kehilangan pekerjaan, kena deportasi, ada guncangan 
dikeluarga, makanya sekarang setelah krisis 2008 sudah susah atau mungkin sudah 
tidak ada DP 0% alias gratis itu. Kalau dulu mah itu praktek sehari2 orang 
ambil mortgage. Ente banyak ndak tahunya tapi so’ tahu!!!! Nesare  From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, November 3, 2016 6:03 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan   anda sedemikian 
tahunya sampai2 informasi yg sangat confidential juga tahu, bisa tahu status 
undocumented yg seharusnya dirahasiakan rapat2, bisa tahu biarpun seluruh 
income dijumlahkan juga DSRnya 80% yg seharusnya tidak layak dapat loan tapi 
tetap dikasih juga, bisa tahu nggak pakai dp,  tentu hanya orang yg terlibat yg 
tahu sedemikian dalam. hal ini menimbulkan kemungkinan anda mempunyai peranan 
dalam transaksi itu atau anda hanya sekedar ngebacot.  ---In 
[email protected], <nesare1@...> wrote :

Apa nggak goblok dengan pertanyaan personal begini?Emangnya selama ente bashing 
Jokowi itu, apa peranan ente?Hehehehe ngaco aja! Nesare  From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, November 3, 2016 3:23 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan   kelihatannya anda 
sedemikian dalam pengetahuan akan transaksi itu, apa peranan anda dalam 
pemberian loan yg anda ceritakan itu? sebagai borrower, loan officer, lender, 
atau apalah? ---In [email protected], <nesare1@...> wrote :


Itu urusan ente. Itu urusan negara ente. Mau percaya atau tidak itu urusan 
ente.Lender yg ngasih ke illegal immigrant saja ada dan terang2an dinegara 
ente, koq hanya masalah DSR ente persoalkan. Bisa2 ente ini anti illegal 
immigrant ya?! Hehehehehe Nesare



 From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, November 3, 2016 10:56 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan   jadi setelah income 
bapak ibu kakek nenek saudara saudari semuanya diperhitungkan DSRnya 80% masih 
dikasih kredit tanpa DP pula, apa mungkin anda yg jadi loan officer-nya yg 
cuman ngejar komisi. ---In [email protected], <nesare1@...> wrote :



Loh kan sudah ane kasih tahu: income bapak, ibu, kakek, nenek, saudara didalam 
keluarga itu diperhitungkan sbg total income??!!!Semua income ini tidak bayar 
pajak dan tidak bisa diversify tetapi lender memperhitungkannya dan bisa 
disapprove karena buyer mintanya DSR 80%. Itu tergantung lendernya. Kalau 
lendernya agresifnya ya bisa dikasih. Kalau dulu sebelum krisis 2008 hampir 
semua dikasih dan malahan tidak pakai DP! DP ini jauh lebih berbahaya drpd DSR 
yg tinggi buat lender! Ngerti ndak??!!! Moso’ buyer mau default setelah minta 
DSR tinggi dalam bbrp bulan?Moso ada orang ambil kredit tapi gak mampu bayar 
cicilan kreditnya?Gobloknya minta ampun!! Mikir kaya’ gini saja ndak bisa!!! 
Nesare  From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, November 2, 2016 6:27 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan  Terus bagaimana kok 
anda bisa tahu DSR-nya 80%, apa cuman asal jeplak? Anda benar waktu mengatakan 
ini "menjadi persoalan oleh lender adalah takut kalau buyer gak mampu bayar 
nantinya" karena itu harus dipastikan income-nya mencukupin utk bayar angsuran 
dan juga biaya hidup. DSR 30-40% terhitung sehat karena setelah membayar 
angsuran rumah dan kredit2 yg lain masih tersisa sekitar 60-70% untuk kebutuhan 
hidup. DSR 80% adalah hampir tidak mungkin, kemungkinan default yg tinggi. 
---In [email protected], <nesare1@...> wrote :




Kalau mau detailnya tanya sana sama loan officernya. Mereka itu dinegara 
ente.Ane gak ikut2an akh urusan klerikan kaya’ gini. Aneh2 saja orang ini mau 
tahu detailnya orang. Sekalian saja tanya kakeknya itu isterinya berapa. 
Kawinnya dimana jadi sah atau tidak. terus ibunya main serong tidak. kalau main 
serong bisa tidak qualified sang ibu ini. Ya silahkan tanya dinegara ente ya 
dan kasih tahu kita2 ini Ngaco aja!!! Nesare  From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, November 2, 2016 1:29 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan   terus bagaimana? 
berapa angsuran, berapa total pendapatan si A, berapa pendapatan kakek, ibu, 
bapak, dll. mereka diikutkan sebagai apa, sebagai co-signor ataukah sebagai 
guarantor? berapa nilai rumah, berapa downpayment, terus berapa perbandingan 
antara angsuran dengan total pendapatan kesemuanya itu? ---In 
[email protected], <nesare1@...> wrote :





Illegal immigrant A apply mortgage. Masukin data sesuai dengan data pajaknya 
jadi kelihatan incomenya termasuk gross income plus bonus dll. Dirumah itu yg 
tinggal si immigrant A dengan kakek, ibu, bapaknya dll yg ada yg punya TIN dan 
ada yang tidak. yang ada artinya bayar pajak. Yang tidak ada artinya tidak 
bayar pajak. Ini semua dimasukkan kedalam pertimbangan dalam jumlah mortgage yg 
diambil. Kalau yg minta sudah berani minta mortgage tentunya mereka sudah tahu 
kemampuan bayarnya. Orang goblok minta mortgage tapi gak bisa bayar. Yg menjadi 
persoalan oleh lender adalah takut kalau buyer gak mampu bayar nantinya bukan 
gak bisa waktu apply mortgage nya. Makanya lender mengharuskan adanya DP. Ini 
semua ada subjektifitas. Bukan seperti otak ente pake’ standard 30%! Nesare 
From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, November 2, 2016 10:33 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Perusahaan Publik dan Penghisapan

(Message over 64 KB, truncated)

Kirim email ke