Ayo kita nyanyi blowin' in the wind,
hehe...
--- jonathangoeij@... wrote:
hal itu benar
dari berita di link itu terkesan petani China itu sebagai buruh tani, ini
mengherankan sekali karena tentu harus membayar upah buruh yg jauh lebih mahal.
kenapa kok bisa begitu? apakah ada hal lain selain diberita sepintas itu?
--- ajegilelu@... wrote :
Begitu juga petani, banyak di Indonesia kan?
--- jonathangoeij@... wrote:
diberita dibawah terkesan harga cangkul impor itu lebih murah dgn kwalitas yg
lebih bagus.
kenapa kok cangkul dalam negeri lebih mahal dgn kwalitas yg lebih
jelek?bukannya biji besi banyak di Indonesia?
---
Sementara, salah seorang Petani di Playen, Gunungkidul Suwito mengaku, ia lebih
memilih membeli produk China yang dijual di toko banguanan karena harganya
lebih murah. Untuk satu cangkul diberi harga Rp100 ribu sampai Rp150
ribu."Cangkul dari China lebih awet, saya pakai sejak 2 tahun lalu, kondisinya
masih bagus," ucapnya.
--- ajegilelu@... wrote :
setelah cangkul, petaninya juga
| |
Setelah Cangkul Impor, Petani China Mul...
|
|
--- jetaimemucho1@... wrote:
Bukannya dibantu para perajin lokal untuk berkembang dan meningkatkan kwalitas
produknya, tapi malah dimatikan bisnisnya demi mengabdi kepada para pengusaha
Tkk dan komprador Indonesianya/importir. Inilah free trade!!!
Pemerintah Impor Cangkul, Sejumlah Perajin Lokal Hentikan Produksi
Sejumlah pengrajin besi di Gunugkidul berhenti memproduksi cangkul (Markus
Yuwono/Okezone)
YOGYAKARTA – Kebijakan impor cangkul dari China dan Vietnam yang dilakukan
pemerintah membuat sejumlah perajin besi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta,
mengaku kecewa. Menanggapi kebijakan impor tersebut, para perajin memutuskan
utnuk berhenti tidak memproduksi cangkul.Salah satu perajin besi, di Desa
Karangtengah, Kota Wonosari, Siswanto Anwar mengatakan, sejak masuknya cangkul
impor beberapa tahun terakhir, menyebabkan para perajin mengalami penurunan
omset yang cukup signifikan. Diakuinya, harga cangkul impor lebih murah
dibandingkan hasil karyanya.BERITA REKOMENDASI
- Perajin Lokal Belum Terpengaruh Cangkul Impor China
- DPR Desak Pemerintah Stop Impor Cangkul
- Gagang Cangkul Lokal Masih Mendominasi Pasar Nasional
"Untuk segi kualitas, sebenarnya tidak kalah, tetapi karena omset terus
menurun, kami tidak lagi memproduksi cangkul," katanya kepada wartawan, Senin
(7/11/2016).Ia menambahkan, saat ini pihaknya lebih berfokus untuk memproduksi
sabit, parang dan juga perkakas pertanian lainnya yang lebih laku di pasaran.
"Saat ini fokus memproduksi yang laku saja, semoga pemerintah tidak mengimpor
sabit juga," harapnya.Ia berharap, kebijakan impor cangkul yang dilakukan
pemerintah di kaji ulang, agar para perajin kelas menengah tidak dirugikan
dengan adanya kebijakan tersebut. Apalagi, selama ini pemerintah selalu
mengkampanyekan penggunaan barang produksi lokal untuk menghidupkan kembali
industri kerajinan lokal."Jangan sampai mematikan pengrajin lokal, kalau perlu
ditambah modal," ujar dia.Sementara, salah seorang Petani di Playen,
Gunungkidul Suwito mengaku, ia lebih memilih membeli produk China yang dijual
di toko banguanan karena harganya lebih murah. Untuk satu cangkul diberi harga
Rp100 ribu sampai Rp150 ribu."Cangkul dari China lebih awet, saya pakai sejak 2
tahun lalu, kondisinya masih bagus," ucapnya.