saya mau melihat disisi lain bagaimana penggrebekan itu, melihat berita 
dibawah yg dimaksud wajah khas Asia itu khan kulit kuning dan mata sipit, 
bukankah seandainya modus penggrebekan ini di-terus2kan jadinya mereka yg 
keturunan tionghoa akan jadi sasaran penggrebekan terus, secara tidak langsung 
kembalinya PP 10?
 

 ---
 Benar saja, dari kejauhan, tampak beberapa wajah khas Asia, yang sangat 
mencolok dan terlihat berbeda di tengah kerumunan petani lokal. Tanpa 
basa-basi, tim langsung menghampiri dan memeriksa beberapa orang tersebut.
 
http://www.jawapos.com/read/2016/11/09/63282/ketika-petani-tiongkok-buka-ladang-di-bogor
 
http://www.jawapos.com/read/2016/11/09/63282/ketika-petani-tiongkok-buka-ladang-di-bogor
  



---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

 Ayo kita nyanyi blowin' in the wind, 

 hehe...

 

 --- jonathangoeij@... wrote:
 

hal itu benar 

 dari berita di link itu terkesan petani China itu sebagai buruh tani, ini 
mengherankan sekali karena tentu harus membayar upah buruh yg jauh lebih mahal. 
kenapa kok bisa begitu? apakah ada hal lain selain diberita sepintas itu?
 
--- ajegilelu@... wrote :

 Begitu juga petani, banyak di Indonesia kan?
 

 --- jonathangoeij@... wrote:

 diberita dibawah terkesan harga cangkul impor itu lebih murah dgn kwalitas yg 
lebih bagus. 
 

 kenapa kok cangkul dalam negeri lebih mahal dgn kwalitas yg lebih jelek?
 bukannya biji besi banyak di Indonesia?
 

---
 Sementara, salah seorang Petani di Playen, Gunungkidul Suwito mengaku, ia 
lebih memilih membeli produk China yang dijual di toko banguanan karena 
harganya lebih murah. Untuk satu cangkul diberi harga Rp100 ribu sampai Rp150 
ribu.
 "Cangkul dari China lebih awet, saya pakai sejak 2 tahun lalu, kondisinya 
masih bagus," ucapnya.

--- ajegilelu@... wrote :

 
 setelah cangkul, petaninya juga 
http://www.mediapribumi.com/2016/11/setelah-cangkul-impor-petani-china.html

 Setelah Cangkul Impor, Petani China Mul... 
http://www.mediapribumi.com/2016/11/setelah-cangkul-impor-petani-china.html 


 --- jetaimemucho1@... wrote:
 

 Bukannya dibantu para perajin lokal untuk berkembang dan meningkatkan kwalitas 
produknya, tapi malah dimatikan bisnisnya demi mengabdi kepada para pengusaha 
Tkk dan komprador Indonesianya/importir. Inilah free trade!!!
 Pemerintah Impor Cangkul, Sejumlah Perajin Lokal Hentikan Produksi
 

 
 

 Sejumlah pengrajin besi di Gunugkidul berhenti memproduksi cangkul (Markus 
Yuwono/Okezone)

 



 YOGYAKARTA – Kebijakan impor cangkul dari China dan Vietnam yang dilakukan 
pemerintah membuat sejumlah perajin besi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, 
mengaku kecewa. Menanggapi kebijakan impor tersebut, para perajin memutuskan 
utnuk berhenti tidak memproduksi cangkul.
 Salah satu perajin besi, di Desa Karangtengah, Kota Wonosari, Siswanto Anwar 
mengatakan, sejak masuknya cangkul impor beberapa tahun terakhir, menyebabkan 
para perajin mengalami penurunan omset yang cukup signifikan. Diakuinya, harga 
cangkul impor lebih murah dibandingkan hasil karyanya.
 BERITA REKOMENDASI
 Perajin Lokal Belum Terpengaruh Cangkul Impor China 
http://economy.okezone.com/read/2016/11/07/320/1534580/perajin-lokal-belum-terpengaruh-cangkul-impor-china?utm_source=br&utm_medium=referral&utm_campaign=news
 DPR Desak Pemerintah Stop Impor Cangkul 
http://economy.okezone.com/read/2016/11/03/320/1531707/dpr-desak-pemerintah-stop-impor-cangkul?utm_source=br&utm_medium=referral&utm_campaign=news
 Gagang Cangkul Lokal Masih Mendominasi Pasar Nasional 
http://economy.okezone.com/read/2016/11/02/320/1530975/gagang-cangkul-lokal-masih-mendominasi-pasar-nasional?utm_source=br&utm_medium=referral&utm_campaign=news
 "Untuk segi kualitas, sebenarnya tidak kalah, tetapi karena omset terus 
menurun, kami tidak lagi memproduksi cangkul," katanya kepada wartawan, Senin 
(7/11/2016).
 Ia menambahkan, saat ini pihaknya lebih berfokus untuk memproduksi sabit, 
parang dan juga perkakas pertanian lainnya yang lebih laku di pasaran. "Saat 
ini fokus memproduksi yang laku saja, semoga pemerintah tidak mengimpor sabit 
juga," harapnya.
 Ia berharap, kebijakan impor cangkul yang dilakukan pemerintah di kaji ulang, 
agar para perajin kelas menengah tidak dirugikan dengan adanya kebijakan 
tersebut. Apalagi, selama ini pemerintah selalu mengkampanyekan penggunaan 
barang produksi lokal untuk menghidupkan kembali industri kerajinan lokal.
 "Jangan sampai mematikan pengrajin lokal, kalau perlu ditambah modal," ujar 
dia.
 Sementara, salah seorang Petani di Playen, Gunungkidul Suwito mengaku, ia 
lebih memilih membeli produk China yang dijual di toko banguanan karena 
harganya lebih murah. Untuk satu cangkul diberi harga Rp100 ribu sampai Rp150 
ribu.
 "Cangkul dari China lebih awet, saya pakai sejak 2 tahun lalu, kondisinya 
masih bagus," ucapnya.













 


















 
 











  

Kirim email ke