bagaimana pengaruh MEA pada tenaga kerja asing?
 

---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

 Sayangnya saya tidak melihat seperti itu. Bisa dimaklumi 

 kalau ada yang berperspektif rasis lantaran pengetahuan dan 

 pengalamannya. 


 

 Sekali lagi, yang terciduk dalam razia pekerja ilegal di 

 Indonesia terdiri dari beraneka ragam wajah. Bahwa sering 

 diberitakan tertangkapnya pekerja ilegal asal RRC ya karena 

 ternyata jumlahnya sangat bertolakbelakang dengan 

 pernyataan pemerintah tentang tidak adanya pekerja asal RRC 

 (lalu mengaku ada tapi tidak dalam jumlah besar, lalu hanya 

 tenaga ahli, dan berbagai alasan lain). Faktanya, semua itu 

 tidak benar.
 


 Jadi, yang kelihatan jelas pada kasus terciduknya pekerja ilegal 

 asal RRC adalah kondisi pemerintah yang amburadul. Di satu 

 sisi kelihatan sebagai pembual, di sisi lainnya tidak solid. Ibarat 

 dua sisi dari mata uang monopoli; ada nominalnya tapi tak ada 

 nilainya.
 

 --- jonathangoeij@... wrote:
 

 apakah benar2 tidak ada racist sama sekali dalam kasus pemburuan tenaga2 kerja 
ilegal dari Tiongkok itu?

 


 

 --- ajegilelu@... wrote :
 

 Kelihatan sekali Anda terlalu meneror diri sendiri berdasarkan

 pemberitaan di Jawa Pos yang khas dengan gaya soft / opinion news 

 di mana si penulis bernarasi seolah sedang bercakap-cakap dengan
 pembaca. Lalu, Anda tercekam sendiri di bagian petugas dan 

 wartawan tiba di lokasi perkebunan dan menggambarkan apa yang 

 mereka temui di sana: wajah yang berbeda dari petani lainnya.

 

 Anda membuang-buang energi untuk terjebak pada teks 'wajah' lalu 

 mengembangkan imajinasi ke hal yang tidak perlu. Padahal energi itu 

 lebih bermanfaat untuk menyimak informasi bahwa razia dilakukan 

 setelah petugas mendalami laporan warga. Artinya, petugas tidak 

 sekonyong-konyong datang lalu main ciduk orang hanya berdasarkan 

 wajah. Logika pasti mengunyah bahwa warga melaporkan bukan 

 perkara wajah, tetapi karena mendapati orang-orang yang tidak dikenal 

 dan tidak bisa berbahasa Indonesia maupun Inggris bekerja di 

 lingkungan mereka.

 

 Imajinasi rasis yang Anda kembangkan tidak berlaku. Terlebih jika 

 membaca kasus serupa di Halim. 

 

 --- jonathangoeij@... wrote:

 


 Anda kelihatannya kurang paham, ini saya kasih contoh: si Ahok dan si Aliong 
keduanya wni asli sejak lahir keturunan tionghoa, si Tahar wna ilegal urang 
padang; ke tiga beliau itu bekerja sebagai buruh tani di Bogor. Tim pencari 
tenaga kerja ilegal datang melihat wajah khas asia segera menciduk si Ahok dan 
si Aliong sementara si Tahar dibiarkan saja. Anda lihat disini, kriteria 
penggrebekan wajah khas Asia itu diskriminatif.
 

 --- ajegilelu@... wrote :


 Barangkali betul diskriminatif; diskriminatif terhadap pekerja ilegal 

 dan pekerjaan terlarang (narkoba, prostitusi dsb). Selama berlandaskan 

 hukum saya kira menciduk pekerja ilegal atau yang berkecimpung 

 di pekerjaan terlarang bukanlah rasisme. Sering juga kok artis Indonesia 

 berdarah campuran kena ciduk lantaran berpaspor negara lain dan tanpa 

 dokumen kerja.
 

 --- jonathangoeij@... wrote:

 

 Benar razia seperti ini selalu ada, di US bahkan pernah seorang Indonesia 
(kisah nyata) yg keciduk bahkan sempat ditahan tetapi segera dilepas setelah 
melalui pengecekan SSN beliau terbukti kalau citizen, petugas ICE (Immigration 
Custom Enforcement) kemudian meminta maaf bahkan memberikan settlement (ganti 
rugi) karena salah tangkap ini. Belum lagi banyak sekali yg berwajah latina 
ataupun ngomong dgn aksen yg berat yg jadi sasaran pemeriksaan, dus disini 
menimbulkan protes keras akan tindakan diskriminasi thd mereka yg tidak 
bertampang kaukasian dan beraksen berat, padahal toh ada juga yg kaukasian yg 
bekerja secara ilegal (contoh nyonya Donald Trump sebelum kawin).



 

 Pembelaan sang mantan menteri ilegal itu juga simple "lha wong tampang Padang 
begini" ha ha ha, ini juga bersifat racist.
 

 Yg perlu dicari caranya adalah bagaimana menghindari tindakan diskriminatif 
seperti ini, mencari tenaga kerja ilegal dari Tiongkok dgn gampang terjebak 
wajah khas asia seperti yg disebutkan diberita itu yg dgn jelas disebutkan ke 4 
orang itu digrebek karena wajah khas asia itu. Dus seandainya dilakukan 
pencarian besar2an dgn metode wajah khas asia artinya orang indonesia asli dgn 
wajah khas asia (atawa keturunan Tionghoa) yg berada didaerah rasia akan ikut 
jadi sasaran.
 

 --- ajegilelu@... wrote :


 Razia tenaga kerja asing ilegal selalu ada. Hasilnya pun 
 tidak melulu berwajah Asia. Di negara lain pun razia seperti 

 itu pasti ada. 

 

 Masalahnya, pemerintah selalu membantah masuknya tenaga 

 kerja asing asal RRC. Lucunya, semakin membantah malah 

 semakin sering ditemukan pekerja RRC ilegal di berbagai bidang. 

 Melalui menteri BUMN akhirnya pemerintah mengakui bahwa 

 proyek KCIC (Kereta Cepat Indonesia Cina) memang melibatkan 

 pekerja RRC tetapi sebatas tenaga ahli. Aneh, kenapa pemerintah
 cuci tangan tentang yang ilegal lainnya, dan kenapa bukan 

 menteri tenaga kerja yang bicara.
 

Menaker Bantah Pekerja Asing Tiongkok Masuk Indonesia 
http://sp.beritasatu.com/home/menaker-bantah-pekerja-asing-tiongkok-masuk-indonesia/90931
 

 Tambah lucu lagi, selang 2 bulan setelah menteri BUMN mengaku,
 tertangkaplah 5 pekerja asing ilegal pada proyek KCIC di Halim.
 

 5 Pekerja China di Halim 
http://www.kompasiana.com/yonbayu/5-pekerja-china-di-halim-dan-isu-mobilisasi-warga-luar-jelang-pilkada_5720cad6c923bd4b09f2c765

 Menjadi pertanyaan besar kenapa pemerintah seolah tutup mata 

 terhadap merebaknya gejala ini. Atau memang secekak itukah 

 pengetahuan pemerintah sampai tingkat menteri pun sempat diisi 

 dengan pekerja ilegal?
 

 Seperti biasa, jawabannya paling blowin' in the wind.
 

 --- jonathangoeij@... wrote:
 

 saya mau melihat disisi lain bagaimana penggrebekan itu, melihat berita 
dibawah yg dimaksud wajah khas Asia itu khan kulit kuning dan mata sipit, 
bukankah seandainya modus penggrebekan ini di-terus2kan jadinya mereka yg 
keturunan tionghoa akan jadi sasaran penggrebekan terus, secara tidak langsung 
kembalinya PP 10?
 ---

 Benar saja, dari kejauhan, tampak beberapa wajah khas Asia, yang sangat 
mencolok dan terlihat berbeda di tengah kerumunan petani lokal. Tanpa 
basa-basi, tim langsung menghampiri dan memeriksa beberapa orang tersebut.
 
http://www.jawapos.com/read/2016/11/09/63282/ketika-petani-tiongkok-buka-ladang-di-bogor
 
http://www.jawapos.com/read/2016/11/09/63282/ketika-petani-tiongkok-buka-ladang-di-bogor
  
--- ajegilelu@... wrote :


 Ayo kita nyanyi blowin' in the wind, 

 hehe...

 

 --- jonathangoeij@... wrote:
 

hal itu benar 

 dari berita di link itu terkesan petani China itu sebagai buruh tani, ini 
mengherankan sekali karena tentu harus membayar upah buruh yg jauh lebih mahal. 
kenapa kok bisa begitu? apakah ada hal lain selain diberita sepintas itu?
 
--- ajegilelu@... wrote :

 Begitu juga petani, banyak di Indonesia kan?
 

 --- jonathangoeij@... wrote:

 diberita dibawah terkesan harga cangkul impor itu lebih murah dgn kwalitas yg 
lebih bagus. 
 

 kenapa kok cangkul dalam negeri lebih mahal dgn kwalitas yg lebih jelek?
 bukannya biji besi banyak di Indonesia?
 

---
 Sementara, salah seorang Petani di Playen, Gunungkidul Suwito mengaku, ia 
lebih memilih membeli produk China yang dijual di toko banguanan karena 
harganya lebih murah. Untuk satu cangkul diberi harga Rp100 ribu sampai Rp150 
ribu.
 "Cangkul dari China lebih awet, saya pakai sejak 2 tahun lalu, kondisinya 
masih bagus," ucapnya.
--- ajegilelu@... wrote :

 setelah cangkul, petaninya juga 
http://www.mediapribumi.com/2016/11/setelah-cangkul-impor-petani-china.html

 Setelah Cangkul Impor, Petani China Mul... 
http://www.mediapribumi.com/2016/11/setelah-cangkul-impor-petani-china.html 


 --- jetaimemucho1@... wrote:
 

 Bukannya dibantu para perajin lokal untuk berkembang dan meningkatkan kwalitas 
produknya, tapi malah dimatikan bisnisnya demi mengabdi kepada para pengusaha 
Tkk dan komprador Indonesianya/importir. Inilah free trade!!!
 Pemerintah Impor Cangkul, Sejumlah Perajin Lokal Hentikan Produksi
 

 
 

 Sejumlah pengrajin besi di Gunugkidul berhenti memproduksi cangkul (Markus 
Yuwono/Okezone)

 



 YOGYAKARTA – Kebijakan impor cangkul dari China dan Vietnam yang dilakukan 
pemerintah membuat sejumlah perajin besi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, 
mengaku kecewa. Menanggapi kebijakan impor tersebut, para perajin memutuskan 
utnuk berhenti tidak memproduksi cangkul.
 Salah satu perajin besi, di Desa Karangtengah, Kota Wonosari, Siswanto Anwar 
mengatakan, sejak masuknya cangkul impor beberapa tahun terakhir, menyebabkan 
para perajin mengalami penurunan omset yang cukup signifikan. Diakuinya, harga 
cangkul impor lebih murah dibandingkan hasil karyanya.
 BERITA REKOMENDASI
 Perajin Lokal Belum Terpengaruh Cangkul Impor China 
http://economy.okezone.com/read/2016/11/07/320/1534580/perajin-lokal-belum-terpengaruh-cangkul-impor-china?utm_source=br&utm_medium=referral&utm_campaign=news
 DPR Desak Pemerintah Stop Impor Cangkul 
http://economy.okezone.com/read/2016/11/03/320/1531707/dpr-desak-pemerintah-stop-impor-cangkul?utm_source=br&utm_medium=referral&utm_campaign=news
 Gagang Cangkul Lokal Masih Mendominasi Pasar Nasional 
http://economy.okezone.com/read/2016/11/02/320/1530975/gagang-cangkul-lokal-masih-mendominasi-pasar-nasional?utm_source=br&utm_medium=referral&utm_campaign=news
 "Untuk segi kualitas, sebenarnya tidak kalah, tetapi karena omset terus 
menurun, kami tidak lagi memproduksi cangkul," katanya kepada wartawan, Senin 
(7/11/2016).
 Ia menambahkan, saat ini pihaknya lebih berfokus untuk memproduksi sabit, 
parang dan juga perkakas pertanian lainnya yang lebih laku di pasaran. "Saat 
ini fokus memproduksi yang laku saja, semoga pemerintah tidak mengimpor sabit 
juga," harapnya.
 Ia berharap, kebijakan impor cangkul yang dilakukan pemerintah di kaji ulang, 
agar para perajin kelas menengah tidak dirugikan dengan adanya kebijakan 
tersebut. Apalagi, selama ini pemerintah selalu mengkampanyekan penggunaan 
barang produksi lokal untuk menghidupkan kembali industri kerajinan lokal.
 "Jangan sampai mematikan pengrajin lokal, kalau perlu ditambah modal," ujar 
dia.
 Sementara, salah seorang Petani di Playen, Gunungkidul Suwito mengaku, ia 
lebih memilih membeli produk China yang dijual di toko banguanan karena 
harganya lebih murah. Untuk satu cangkul diberi harga Rp100 ribu sampai Rp150 
ribu.




































































Kirim email ke