Sekali lagi saya usul agar setiap 3 bulan atau 6 bulan sekali bebas visa harus 
dievaluasi.
Sejauh mana tingkat ekonomi masyarakat jika bebas visa diberlakukan, kalau 
tidak menguntungkan di tutup saja
Karena kalau bebas visa, banyak warga asing masuk keindonesia seenak udelnya 
seperti adanya PSK dari luar negeri masuk ke Indonesia, adanya bule menjadi 
pengemis dibali, adanya bule jahat kawin dengan orang kampung lalu mencuri 
motor untuk modal dll
Menurut info de medsos banyak warga negara  asing masuk keindonesia dengan 
mencetak KTP di negaranya lalu dibawa Indonesia.
Begitu juga menurut media masa dibali, tingkat ekonomi masyarakat bali tidak 
dipengaruhi oleh bebas visa, malah rakyat bali semakin menderita dengan 
banyaknya lapangan kerja di ambil alih oleh tenaga asing.
Bagusnya bebas visa diberlakukan 3 hari untuk visa touris atau bebas visa 
selama 3 bulan diberlakukan jika yang bersangkutan membawa uang yang cukup 
banyak banyak sejenis jaminan tinggal di Indonesia.


From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Wednesday, November 16, 2016 2:55 PM
To: [email protected]
Subject: [**EXTERNAL**] Re: [GELORA45] Pemerintah Impor Cangkul, Sejumlah 
Perajin Lokal Hentikan Produksi


Menurut saya nggak ada masalah, selama legal.
Yang jadi masalah kan pemerintah sudah terbukti

suka membual.

--- jonathangoeij@... wrote:

bagaimana pengaruh MEA pada tenaga kerja asing?

--- ajegilelu@... wrote :
Sayangnya saya tidak melihat seperti itu. Bisa dimaklumi

kalau ada yang berperspektif rasis lantaran pengetahuan dan

pengalamannya.



Sekali lagi, yang terciduk dalam razia pekerja ilegal di

Indonesia terdiri dari beraneka ragam wajah. Bahwa sering

diberitakan tertangkapnya pekerja ilegal asal RRC ya karena

ternyata jumlahnya sangat bertolakbelakang dengan

pernyataan pemerintah tentang tidak adanya pekerja asal RRC

(lalu mengaku ada tapi tidak dalam jumlah besar, lalu hanya

tenaga ahli, dan berbagai alasan lain). Faktanya, semua itu

tidak benar.


Jadi, yang kelihatan jelas pada kasus terciduknya pekerja ilegal

asal RRC adalah kondisi pemerintah yang amburadul. Di satu

sisi kelihatan sebagai pembual, di sisi lainnya tidak solid. Ibarat

dua sisi dari mata uang monopoli; ada nominalnya tapi tak ada

nilainya.

--- jonathangoeij@... wrote:

apakah benar2 tidak ada racist sama sekali dalam kasus pemburuan tenaga2 kerja 
ilegal dari Tiongkok itu?


--- ajegilelu@... wrote :


Kelihatan sekali Anda terlalu meneror diri sendiri berdasarkan

pemberitaan di Jawa Pos yang khas dengan gaya soft / opinion news

di mana si penulis bernarasi seolah sedang bercakap-cakap dengan
pembaca. Lalu, Anda tercekam sendiri di bagian petugas dan

wartawan tiba di lokasi perkebunan dan menggambarkan apa yang

mereka temui di sana: wajah yang berbeda dari petani lainnya.



Anda membuang-buang energi untuk terjebak pada teks 'wajah' lalu

mengembangkan imajinasi ke hal yang tidak perlu. Padahal energi itu

lebih bermanfaat untuk menyimak informasi bahwa razia dilakukan

setelah petugas mendalami laporan warga. Artinya, petugas tidak

sekonyong-konyong datang lalu main ciduk orang hanya berdasarkan

wajah. Logika pasti mengunyah bahwa warga melaporkan bukan

perkara wajah, tetapi karena mendapati orang-orang yang tidak dikenal

dan tidak bisa berbahasa Indonesia maupun Inggris bekerja di

lingkungan mereka.



Imajinasi rasis yang Anda kembangkan tidak berlaku. Terlebih jika

membaca kasus serupa di Halim.


--- jonathangoeij@... wrote:

Anda kelihatannya kurang paham, ini saya kasih contoh: si Ahok dan si Aliong 
keduanya wni asli sejak lahir keturunan tionghoa, si Tahar wna ilegal urang 
padang; ke tiga beliau itu bekerja sebagai buruh tani di Bogor. Tim pencari 
tenaga kerja ilegal datang melihat wajah khas asia segera menciduk si Ahok dan 
si Aliong sementara si Tahar dibiarkan saja. Anda lihat disini, kriteria 
penggrebekan wajah khas Asia itu diskriminatif.


--- ajegilelu@... wrote :

Barangkali betul diskriminatif; diskriminatif terhadap pekerja ilegal

dan pekerjaan terlarang (narkoba, prostitusi dsb). Selama berlandaskan

hukum saya kira menciduk pekerja ilegal atau yang berkecimpung

di pekerjaan terlarang bukanlah rasisme. Sering juga kok artis Indonesia

berdarah campuran kena ciduk lantaran berpaspor negara lain dan tanpa

dokumen kerja.

--- jonathangoeij@... wrote:

Benar razia seperti ini selalu ada, di US bahkan pernah seorang Indonesia 
(kisah nyata) yg keciduk bahkan sempat ditahan tetapi segera dilepas setelah 
melalui pengecekan SSN beliau terbukti kalau citizen, petugas ICE (Immigration 
Custom Enforcement) kemudian meminta maaf bahkan memberikan settlement (ganti 
rugi) karena salah tangkap ini. Belum lagi banyak sekali yg berwajah latina 
ataupun ngomong dgn aksen yg berat yg jadi sasaran pemeriksaan, dus disini 
menimbulkan protes keras akan tindakan diskriminasi thd mereka yg tidak 
bertampang kaukasian dan beraksen berat, padahal toh ada juga yg kaukasian yg 
bekerja secara ilegal (contoh nyonya Donald Trump sebelum kawin).

Pembelaan sang mantan menteri ilegal itu juga simple "lha wong tampang Padang 
begini" ha ha ha, ini juga bersifat racist.

Yg perlu dicari caranya adalah bagaimana menghindari tindakan diskriminatif 
seperti ini, mencari tenaga kerja ilegal dari Tiongkok dgn gampang terjebak 
wajah khas asia seperti yg disebutkan diberita itu yg dgn jelas disebutkan ke 4 
orang itu digrebek karena wajah khas asia itu. Dus seandainya dilakukan 
pencarian besar2an dgn metode wajah khas asia artinya orang indonesia asli dgn 
wajah khas asia (atawa keturunan Tionghoa) yg berada didaerah rasia akan ikut 
jadi sasaran.

--- ajegilelu@... wrote :

Razia tenaga kerja asing ilegal selalu ada. Hasilnya pun

tidak melulu berwajah Asia. Di negara lain pun razia seperti

itu pasti ada.



Masalahnya, pemerintah selalu membantah masuknya tenaga

kerja asing asal RRC. Lucunya, semakin membantah malah

semakin sering ditemukan pekerja RRC ilegal di berbagai bidang.

Melalui menteri BUMN akhirnya pemerintah mengakui bahwa

proyek KCIC (Kereta Cepat Indonesia Cina) memang melibatkan

pekerja RRC tetapi sebatas tenaga ahli. Aneh, kenapa pemerintah
cuci tangan tentang yang ilegal lainnya, dan kenapa bukan

menteri tenaga kerja yang bicara.


Menaker Bantah Pekerja Asing Tiongkok Masuk 
Indonesia<http://sp.beritasatu.com/home/menaker-bantah-pekerja-asing-tiongkok-masuk-indonesia/90931>


Tambah lucu lagi, selang 2 bulan setelah menteri BUMN mengaku,
tertangkaplah 5 pekerja asing ilegal pada proyek KCIC di Halim.


5 Pekerja China di 
Halim<http://www.kompasiana.com/yonbayu/5-pekerja-china-di-halim-dan-isu-mobilisasi-warga-luar-jelang-pilkada_5720cad6c923bd4b09f2c765>

Menjadi pertanyaan besar kenapa pemerintah seolah tutup mata

terhadap merebaknya gejala ini. Atau memang secekak itukah

pengetahuan pemerintah sampai tingkat menteri pun sempat diisi

dengan pekerja ilegal?


Seperti biasa, jawabannya paling blowin' in the wind.


--- jonathangoeij@... wrote:

saya mau melihat disisi lain bagaimana penggrebekan itu, melihat berita dibawah 
yg dimaksud wajah khas Asia itu khan kulit kuning dan mata sipit, bukankah 
seandainya modus penggrebekan ini di-terus2kan jadinya mereka yg keturunan 
tionghoa akan jadi sasaran penggrebekan terus, secara tidak langsung kembalinya 
PP 10?
---
Benar saja, dari kejauhan, tampak beberapa wajah khas Asia, yang sangat 
mencolok dan terlihat berbeda di tengah kerumunan petani lokal. Tanpa 
basa-basi, tim langsung menghampiri dan memeriksa beberapa orang tersebut.
http://www.jawapos.com/read/2016/11/09/63282/ketika-petani-tiongkok-buka-ladang-di-bogor

--- ajegilelu@... wrote :

Ayo kita nyanyi blowin' in the wind,

hehe...

--- jonathangoeij@... wrote:

hal itu benar

dari berita di link itu terkesan petani China itu sebagai buruh tani, ini 
mengherankan sekali karena tentu harus membayar upah buruh yg jauh lebih mahal. 
kenapa kok bisa begitu? apakah ada hal lain selain diberita sepintas itu?

--- ajegilelu@... wrote :

Begitu juga petani, banyak di Indonesia kan?

--- jonathangoeij@... wrote:

diberita dibawah terkesan harga cangkul impor itu lebih murah dgn kwalitas yg 
lebih bagus.

kenapa kok cangkul dalam negeri lebih mahal dgn kwalitas yg lebih jelek?
bukannya biji besi banyak di Indonesia?

---
Sementara, salah seorang Petani di Playen, Gunungkidul Suwito mengaku, ia lebih 
memilih membeli produk China yang dijual di toko banguanan karena harganya 
lebih murah. Untuk satu cangkul diberi harga Rp100 ribu sampai Rp150 ribu.
"Cangkul dari China lebih awet, saya pakai sejak 2 tahun lalu, kondisinya masih 
bagus," ucapnya.
--- ajegilelu@... wrote :

setelah cangkul, petaninya 
juga<http://www.mediapribumi.com/2016/11/setelah-cangkul-impor-petani-china.html>


[https://s.yimg.com/vv/api/res/1.2/xQa.XAH.hBBW_WvcNVLA5g--/YXBwaWQ9bWFpbDtmaT1maWxsO2g9ODA7dz04MA--/https:/1.bp.blogspot.com/-WvwkI9PtDUU/WCQYGrPyuyI/AAAAAAAAnvE/-gl_OIIHBvg_Q_Y2b6hi1sgMs9iWnM37ACLcB/w1200-h630-p-nu/petani%2Bcina%2Bbogor.jpg.cf.jpg]

Setelah Cangkul Impor, Petani China Mul...



--- jetaimemucho1@... wrote:

Bukannya dibantu para perajin lokal untuk berkembang dan meningkatkan kwalitas 
produknya, tapi malah dimatikan bisnisnya demi mengabdi kepada para pengusaha 
Tkk dan komprador Indonesianya/importir. Inilah free trade!!!
Pemerintah Impor Cangkul, Sejumlah Perajin Lokal Hentikan Produksi

[\Pemerintah Impor Cangkul, Sejumlah Perajin Lokal Hentikan Produksi\]

Sejumlah pengrajin besi di Gunugkidul berhenti memproduksi cangkul (Markus 
Yuwono/Okezone)

YOGYAKARTA – Kebijakan impor cangkul dari China dan Vietnam yang dilakukan 
pemerintah membuat sejumlah perajin besi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, 
mengaku kecewa. Menanggapi kebijakan impor tersebut, para perajin memutuskan 
utnuk berhenti tidak memproduksi cangkul.
Salah satu perajin besi, di Desa Karangtengah, Kota Wonosari, Siswanto Anwar 
mengatakan, sejak masuknya cangkul impor beberapa tahun terakhir, menyebabkan 
para perajin mengalami penurunan omset yang cukup signifikan. Diakuinya, harga 
cangkul impor lebih murah dibandingkan hasil karyanya.
BERITA REKOMENDASI
________________________________

  *   Perajin Lokal Belum Terpengaruh Cangkul Impor 
China<http://economy.okezone.com/read/2016/11/07/320/1534580/perajin-lokal-belum-terpengaruh-cangkul-impor-china?utm_source=br&utm_medium=referral&utm_campaign=news>
  *   DPR Desak Pemerintah Stop Impor 
Cangkul<http://economy.okezone.com/read/2016/11/03/320/1531707/dpr-desak-pemerintah-stop-impor-cangkul?utm_source=br&utm_medium=referral&utm_campaign=news>
  *   Gagang Cangkul Lokal Masih Mendominasi Pasar 
Nasional<http://economy.okezone.com/read/2016/11/02/320/1530975/gagang-cangkul-lokal-masih-mendominasi-pasar-nasional?utm_source=br&utm_medium=referral&utm_campaign=news>
"Untuk segi kualitas, sebenarnya tidak kalah, tetapi karena omset terus 
menurun, kami tidak lagi memproduksi cangkul," katanya kepada wartawan, Senin 
(7/11/2016).
Ia menambahkan, saat ini pihaknya lebih berfokus untuk memproduksi sabit, 
parang dan juga perkakas pertanian lainnya yang lebih laku di pasaran. "Saat 
ini fokus memproduksi yang laku saja, semoga pemerintah tidak mengimpor sabit 
juga," harapnya.
Ia berharap, kebijakan impor cangkul yang dilakukan pemerintah di kaji ulang, 
agar para perajin kelas menengah tidak dirugikan dengan adanya kebijakan 
tersebut. Apalagi, selama ini pemerintah selalu mengkampanyekan penggunaan 
barang produksi lokal untuk menghidupkan kembali industri kerajinan lokal.
"Jangan sampai mematikan pengrajin lokal, kalau perlu ditambah modal," ujar dia.
Sementara, salah seorang Petani di Playen, Gunungkidul Suwito mengaku, ia lebih 
memilih membeli produk China yang dijual di toko banguanan karena harganya 
lebih murah. Untuk satu cangkul diberi harga Rp100 ribu sampai Rp150 ribu.


Kirim email ke