omongan2 yg sekedar pembelaan buta tidak akan saya ladeni.
yg dikatakan si Chatib sederhana saja rupiah bakal melemah arus modal asing 
masuk juga akan berkurangsementara itu karena rupiah melemah produksi dalam 
negeri jadi relatif lebih murah sehingga eksport menguatbegitu saja tidak lebih 
tidak kurang
sungguhpun secara general benar melemahnya rupiah akan memperkuat eksport 
tetapi hal ini sebenarnya relatif dilihat dari sektor yg mana, dalam sektor 
industri cangkul misalnya masih tanda tanya besar karena biarpun biji besi-nya 
banyak di Indonesia tetapi toh lempengan besi yg dipakai buat bikin cangkul itu 
import dari Tiongkok. 

---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

Koq nanya tidak sependapatnya dimana?Dede bilang dia mau rupiah melemah, ente 
dan siajeg kan bashing Jokowi/RI melulu kalau rupiah melemah.Dede bilang RI 
adalah negara yg paling menarik utk investor. Moso’ lupa ente ndak percaya ane 
bilang yg sama dan ente kasih2 data competitiveness Indonesia yg nomer sekian 
dibawah. Hehehehehe pendapat sendiri dan sudah ditulis saja lupa. Koq mau 
goblog2in orang laen? Apa perlu ane tulis disini tulisan ente yg tidak percaya 
RI adalah negara menarik utk investor asing? Nesare  From: 
[email protected] [mailto:[email protected]
Sent: Thursday, November 17, 2016 12:51 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Chatib: Capital Inflow 2017 Tak Sederas Tahun Ini  
tidak sependapat dimananya? nggak tahu anda yg pemahamannya jeleneh atawa dgn 
sengaja menyesatkan seperti Buni Yani. tempo hari yg kita bicarakan foreign 
investment, dan ini jelas senada dgn Chatib Basri yg mengatakan arus modal 
asing bakal lesu karena rupiah yg diperkirakan bakal terdepresiasi. kalau 
kemudian Chatib melihat dari sisi export agar terkesan positif hal ini lain 
lagi.  ---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

Pendapat dede ini tidak sama dengan pendapat jonathan dan ajeg yg pengin rupiah 
menguat dan bilang Indonesia tidak dilirik negara asing krn competitiveness 
terpuruk dll. Ini diskusi kita belum lama ini. Dede: "Saya lebih pilih rupiah 
yang melemah, karena kita akan pindah dari negara berbasis sumber daya mentah 
ke manufaktur. Problem kita sekarang rupiah terlalu kuat, itu ’membunuh’ 
manufaktur,"Dede: Indonesia adalah negara paling menarik untuk investor, di 
tengah kondisi global yang kurang baik saat ini. Apalagi, Jepang dan Uni Eropa 
masih mempertahankan suku bunga negatif yang akan sulit menarik minat 
investasi. Nesare From: [email protected] 
[mailto:[email protected]
Sent: Thursday, November 17, 2016 6:11 AM
To: Undisclosed-Recipient:;
Subject: [GELORA45] Chatib: Capital Inflow 2017 Tak Sederas Tahun Ini  
http://id.beritasatu.com/macroeconomics/chatib-capital-inflow-2017-tak-sederas-tahun-ini/152790
 Chatib: Capital Inflow 2017 Tak Sederas Tahun Ini
Kamis, 17 November 2016 | 15:19CHATIB BASRI. Foto: Investor Daily/EMRALBerita 
Terkait   
   - Ekonomi RI Cukup Kuat Membendung Capital Outflow
   - BI: Hingga Akhir Oktober, Capital Inflow Rp 157 Triliun
   - BI: Dana Asing Pengaruhi Nilai Tukar Rupiah 2017
   - BI: Dana Asing Masuk Capai Rp 97 Miliar
   - Modal Asing Masuk Diprediksi Makin Deras
JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri memperkirakan, modal 
asing masuk (capital inflow) ke Indonesia pada 2017 tidak akan sederas tahun 
ini, mengingat kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The 
Fed).Dalam Seminar Prospek Ekonomi 2017 oleh UOB Indonesia di Jakarta, Rabu 
(17/11), Chatib mengatakan, The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga 
acuannya, jika presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump benar-benar 
mengekspansi belanja fiskal yang mengakibatkan pelebaran defisit anggaran."Kita 
mungkin akan masuk ke sebuah era yang berbeda, di mana jika Trump melakukan 
ekspansi fiskal, suku bunga akan naik maka mungkin dana asing ke emerging 
markets tidak akan sebesar yang terjadi di dalam sembilan bulan terakhir," kata 
dia.Chatib memperkirakan, The Fed akan menahan level suku bunga acuannya di 
0,25-0,5% pada tahun ini. Bank Sentral AS tersebut diperkirakan baru akan 
menaikkan suku bunga acuan setelah pemerintahan Trump memutuskan untuk mencari 
pendanaan di pasar keuangan guna menutupi defisit anggaran akibat ekspansifnya 
belanja fiskal.Setelah The Fed menaikkan suku bunga acuannya, maka suku bunga 
instrumen keuangan di pasar pun akan ikut terkerek naik, sehingga mampu menarik 
pelaku pasar untuk berinvestasi.Ketika modal asing ke Indonesia tidak sederas 
tahun ini, Chatib mengakui, kemungkinan akan terjadi penyesuaian nilai tukar 
rupiah terhadap mata uang asing. Namun menurut dia, level nilai tukar rupiah 
saat ini memang lebih baik terdepresiasi untuk memacu ekspor."Saya lebih pilih 
rupiah yang melemah, karena kita akan pindah dari negara berbasis sumber daya 
mentah ke manufaktur. Problem kita sekarang rupiah terlalu kuat, itu ’membunuh’ 
manufaktur," kata dia dalam sesi diskusi.Namun, Chatib meyakini, Indonesia 
tidak akan ditinggalkan oleh para investor ketika suku bunga di AS naik. 
Menurut dia, Indonesia adalah negara paling menarik untuk investor, di tengah 
kondisi global yang kurang baik saat ini. Apalagi, Jepang dan Uni Eropa masih 
mempertahankan suku bunga negatif yang akan sulit menarik minat investasi."Jadi 
sepertinya masih ada inflow walau tidak sebesar atau sesignifikan seperti 
bulan-bulan lalu," ujar dia seperti dikutip Antara.Bank Indonesia (BI) mencatat 
aliran modal masuk dari Januari hingga Oktober 2016 telah mencapai Rp 157 
triliun. Jumlah itu sudah lebih tinggi dibanding modal masuk sepanjang 2015 
yang jumlahnya tidak mencapai Rp 80 triliun. (ns)

Kirim email ke