Di medsos ada berita warga keturunan yang sudah memesan tiket untuk bepergian 
keluar negeri tgl 25 nop serta akan terjadi rush pada keuanganpun tidak akan 
memerosotkan rupiah.
Sebab isunya tidak jelas, disamping dana desa sudah mencakarkan kakinya dibumi 
indonesia  kuat-kuat. Apalagi ramalan yang saya bilang kemarin yang ada 
dilontar….bumi menandakan negeri ini tak akan  kekurangan apa apa.

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Friday, November 18, 2016 1:51 AM
To: Yahoogroups
Subject: [**EXTERNAL**] RE: [GELORA45] Chatib: Capital Inflow 2017 Tak Sederas 
Tahun Ini


tidak sependapat dimananya? nggak tahu anda yg pemahamannya jeleneh atawa dgn 
sengaja menyesatkan seperti Buni Yani.

tempo hari yg kita bicarakan foreign investment, dan ini jelas senada dgn 
Chatib Basri yg mengatakan arus modal asing bakal lesu karena rupiah yg 
diperkirakan bakal terdepresiasi. kalau kemudian Chatib melihat dari sisi 
export agar terkesan positif hal ini lain lagi.


---In [email protected]<mailto:[email protected]>, 
<nesare1@...<mailto:nesare1@...>> wrote :

Pendapat dede ini tidak sama dengan pendapat jonathan dan ajeg yg pengin rupiah 
menguat dan bilang Indonesia tidak dilirik negara asing krn competitiveness 
terpuruk dll. Ini diskusi kita belum lama ini.

Dede: "Saya lebih pilih rupiah yang melemah, karena kita akan pindah dari 
negara berbasis sumber daya mentah ke manufaktur. Problem kita sekarang rupiah 
terlalu kuat, itu ’membunuh’ manufaktur,"
Dede: Indonesia adalah negara paling menarik untuk investor, di tengah kondisi 
global yang kurang baik saat ini. Apalagi, Jepang dan Uni Eropa masih 
mempertahankan suku bunga negatif yang akan sulit menarik minat investasi.

Nesare

From: [email protected]<mailto:[email protected]> 
[mailto:[email protected]]
Sent: Thursday, November 17, 2016 6:11 AM
To: Undisclosed-Recipient:;
Subject: [GELORA45] Chatib: Capital Inflow 2017 Tak Sederas Tahun Ini


http://id.beritasatu.com/macroeconomics/chatib-capital-inflow-2017-tak-sederas-tahun-ini/152790

Chatib: Capital Inflow 2017 Tak Sederas Tahun Ini
Kamis, 17 November 2016 | 15:19
[CHATIB BASRI. Foto: Investor Daily/EMRAL]CHATIB BASRI. Foto: Investor 
Daily/EMRAL
Berita Terkait

  *   Ekonomi RI Cukup Kuat Membendung Capital Outflow
  *   BI: Hingga Akhir Oktober, Capital Inflow Rp 157 Triliun
  *   BI: Dana Asing Pengaruhi Nilai Tukar Rupiah 2017
  *   BI: Dana Asing Masuk Capai Rp 97 Miliar
  *   Modal Asing Masuk Diprediksi Makin Deras
JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri memperkirakan, modal 
asing masuk (capital inflow) ke Indonesia pada 2017 tidak akan sederas tahun 
ini, mengingat kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Dalam Seminar Prospek Ekonomi 2017 oleh UOB Indonesia di Jakarta, Rabu (17/11), 
Chatib mengatakan, The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga acuannya, jika 
presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump benar-benar mengekspansi belanja 
fiskal yang mengakibatkan pelebaran defisit anggaran.
"Kita mungkin akan masuk ke sebuah era yang berbeda, di mana jika Trump 
melakukan ekspansi fiskal, suku bunga akan naik maka mungkin dana asing ke 
emerging markets tidak akan sebesar yang terjadi di dalam sembilan bulan 
terakhir," kata dia.
Chatib memperkirakan, The Fed akan menahan level suku bunga acuannya di 
0,25-0,5% pada tahun ini. Bank Sentral AS tersebut diperkirakan baru akan 
menaikkan suku bunga acuan setelah pemerintahan Trump memutuskan untuk mencari 
pendanaan di pasar keuangan guna menutupi defisit anggaran akibat ekspansifnya 
belanja fiskal.
Setelah The Fed menaikkan suku bunga acuannya, maka suku bunga instrumen 
keuangan di pasar pun akan ikut terkerek naik, sehingga mampu menarik pelaku 
pasar untuk berinvestasi.
Ketika modal asing ke Indonesia tidak sederas tahun ini, Chatib mengakui, 
kemungkinan akan terjadi penyesuaian nilai tukar rupiah terhadap mata uang 
asing. Namun menurut dia, level nilai tukar rupiah saat ini memang lebih baik 
terdepresiasi untuk memacu ekspor.
"Saya lebih pilih rupiah yang melemah, karena kita akan pindah dari negara 
berbasis sumber daya mentah ke manufaktur. Problem kita sekarang rupiah terlalu 
kuat, itu ’membunuh’ manufaktur," kata dia dalam sesi diskusi.
Namun, Chatib meyakini, Indonesia tidak akan ditinggalkan oleh para investor 
ketika suku bunga di AS naik. Menurut dia, Indonesia adalah negara paling 
menarik untuk investor, di tengah kondisi global yang kurang baik saat ini. 
Apalagi, Jepang dan Uni Eropa masih mempertahankan suku bunga negatif yang akan 
sulit menarik minat investasi.
"Jadi sepertinya masih ada inflow walau tidak sebesar atau sesignifikan seperti 
bulan-bulan lalu," ujar dia seperti dikutip Antara.
Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal masuk dari Januari hingga Oktober 
2016 telah mencapai Rp 157 triliun. Jumlah itu sudah lebih tinggi dibanding 
modal masuk sepanjang 2015 yang jumlahnya tidak mencapai Rp 80 triliun. (ns)

Kirim email ke