Sebagai economic advisor? Economic advisor siapa? Yang ane tahu dari artikel ini, dede ngomong di seminar Prospek Ekonomi 2017 oleh UOB Indonesia di Jakarta, Rabu (17/11/2016).
Bikin2 aja! Berimaginasi terus! Jangan kebanyakan pake’ wangsit! Ngomong diranjang aja kaya’ ginian supaya ndak ditertawain orang lain. Dede ngomong dia mau rupiah menguat. Beda sama ente dan ajeg kalau rupiah melemah langsung ditulis/dibashing. Dulu Rp.14000 ente berdua goblok2in Jokowi. Sekarang naik lagi dari Rp.13000, si ajeg mulai bashing lagi tapi ente diemkan. Lucunya waktu rupiah turun dari Rp.14000 ke Rp.13000, gak nulis apa2. Hilang atau menghilangkan diri! Ente berdua itu ndak ngerti bisnis. Ngertinya hanya bashing orang saja. Gak ada bedanya sama para isfun bashing ahok pake’ Al-Maidah yg ente bilang salah itu! Hehehehe Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Thursday, November 17, 2016 1:29 PM To: Yahoogroups <[email protected]> Subject: RE: [GELORA45] Chatib: Capital Inflow 2017 Tak Sederas Tahun Ini si dede itu berkata sebagai economic advisor yg memperkirakan rupiah bakal melemah tahun depan, seandainya perkiraan rupiah bakal menguat ya omongannya lain lagilah. perkara rupiah melemah atau terdepresiasi itu sudah terjadi ber-kali2 sepanjang sejarah, tetapi toh kenyataannya eksport ya masih kembang kempis. ---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... <mailto:nesare1@...> > wrote : Jonathan: yg dikatakan si Chatib sederhana saja rupiah bakal melemah arus modal asing masuk juga akan berkurang sementara itu karena rupiah melemah produksi dalam negeri jadi relatif lebih murah sehingga eksport menguat begitu saja tidak lebih tidak kurang dede/chatib: Namun menurut dia, level nilai tukar rupiah saat ini memang lebih baik terdepresiasi untuk memacu ekspor. Dede/chatib: "Saya lebih pilih rupiah yang melemah, karena kita akan pindah dari negara berbasis sumber daya mentah ke manufaktur. Problem kita sekarang rupiah terlalu kuat, itu ’membunuh’ manufaktur," Nesare: koq bisa ya bilang pendapat sederhana chatib alias dede adalah rupiah bakal lemah? Dede atau chatib itu pengin rupiah yang lemah! Gobloknya minta ampun! Baca kaya’ gini saja ndak bisa! Nesare From: [email protected] <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected]] Sent: Thursday, November 17, 2016 1:14 PM To: Yahoogroups <[email protected] <mailto:[email protected]> > Subject: RE: [GELORA45] Chatib: Capital Inflow 2017 Tak Sederas Tahun Ini omongan2 yg sekedar pembelaan buta tidak akan saya ladeni. yg dikatakan si Chatib sederhana saja rupiah bakal melemah arus modal asing masuk juga akan berkurang sementara itu karena rupiah melemah produksi dalam negeri jadi relatif lebih murah sehingga eksport menguat begitu saja tidak lebih tidak kurang sungguhpun secara general benar melemahnya rupiah akan memperkuat eksport tetapi hal ini sebenarnya relatif dilihat dari sektor yg mana, dalam sektor industri cangkul misalnya masih tanda tanya besar karena biarpun biji besi-nya banyak di Indonesia tetapi toh lempengan besi yg dipakai buat bikin cangkul itu import dari Tiongkok. ---In <mailto:[email protected]> [email protected], < <mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote : Koq nanya tidak sependapatnya dimana? Dede bilang dia mau rupiah melemah, ente dan siajeg kan bashing Jokowi/RI melulu kalau rupiah melemah. Dede bilang RI adalah negara yg paling menarik utk investor. Moso’ lupa ente ndak percaya ane bilang yg sama dan ente kasih2 data competitiveness Indonesia yg nomer sekian dibawah. Hehehehehe pendapat sendiri dan sudah ditulis saja lupa. Koq mau goblog2in orang laen? Apa perlu ane tulis disini tulisan ente yg tidak percaya RI adalah negara menarik utk investor asing? Nesare From: <mailto:[email protected]> [email protected] [ <mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] Sent: Thursday, November 17, 2016 12:51 PM To: Yahoogroups < <mailto:[email protected]> [email protected]> Subject: RE: [GELORA45] Chatib: Capital Inflow 2017 Tak Sederas Tahun Ini tidak sependapat dimananya? nggak tahu anda yg pemahamannya jeleneh atawa dgn sengaja menyesatkan seperti Buni Yani. tempo hari yg kita bicarakan foreign investment, dan ini jelas senada dgn Chatib Basri yg mengatakan arus modal asing bakal lesu karena rupiah yg diperkirakan bakal terdepresiasi. kalau kemudian Chatib melihat dari sisi export agar terkesan positif hal ini lain lagi. ---In <mailto:[email protected]> [email protected], < <mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote : Pendapat dede ini tidak sama dengan pendapat jonathan dan ajeg yg pengin rupiah menguat dan bilang Indonesia tidak dilirik negara asing krn competitiveness terpuruk dll. Ini diskusi kita belum lama ini. Dede: "Saya lebih pilih rupiah yang melemah, karena kita akan pindah dari negara berbasis sumber daya mentah ke manufaktur. Problem kita sekarang rupiah terlalu kuat, itu ’membunuh’ manufaktur," Dede: Indonesia adalah negara paling menarik untuk investor, di tengah kondisi global yang kurang baik saat ini. Apalagi, Jepang dan Uni Eropa masih mempertahankan suku bunga negatif yang akan sulit menarik minat investasi. Nesare From: <mailto:[email protected]> [email protected] [ <mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] Sent: Thursday, November 17, 2016 6:11 AM To: Undisclosed-Recipient:; Subject: [GELORA45] Chatib: Capital Inflow 2017 Tak Sederas Tahun Ini <http://id.beritasatu.com/macroeconomics/chatib-capital-inflow-2017-tak-sederas-tahun-ini/152790> http://id.beritasatu.com/macroeconomics/chatib-capital-inflow-2017-tak-sederas-tahun-ini/152790 Chatib: Capital Inflow 2017 Tak Sederas Tahun Ini Kamis, 17 November 2016 | 15:19 <http://id.beritasatu.com/media/images/original/20130304123526597.jpg> CHATIB BASRI. Foto: Investor Daily/EMRAL Berita Terkait * Ekonomi RI Cukup Kuat Membendung Capital Outflow * BI: Hingga Akhir Oktober, Capital Inflow Rp 157 Triliun * BI: Dana Asing Pengaruhi Nilai Tukar Rupiah 2017 * BI: Dana Asing Masuk Capai Rp 97 Miliar * Modal Asing Masuk Diprediksi Makin Deras JAKARTA - Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri memperkirakan, modal asing masuk (capital inflow) ke Indonesia pada 2017 tidak akan sederas tahun ini, mengingat kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Dalam Seminar Prospek Ekonomi 2017 oleh UOB Indonesia di Jakarta, Rabu (17/11), Chatib mengatakan, The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga acuannya, jika presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump benar-benar mengekspansi belanja fiskal yang mengakibatkan pelebaran defisit anggaran. "Kita mungkin akan masuk ke sebuah era yang berbeda, di mana jika Trump melakukan ekspansi fiskal, suku bunga akan naik maka mungkin dana asing ke emerging markets tidak akan sebesar yang terjadi di dalam sembilan bulan terakhir," kata dia. Chatib memperkirakan, The Fed akan menahan level suku bunga acuannya di 0,25-0,5% pada tahun ini. Bank Sentral AS tersebut diperkirakan baru akan menaikkan suku bunga acuan setelah pemerintahan Trump memutuskan untuk mencari pendanaan di pasar keuangan guna menutupi defisit anggaran akibat ekspansifnya belanja fiskal. Setelah The Fed menaikkan suku bunga acuannya, maka suku bunga instrumen keuangan di pasar pun akan ikut terkerek naik, sehingga mampu menarik pelaku pasar untuk berinvestasi. Ketika modal asing ke Indonesia tidak sederas tahun ini, Chatib mengakui, kemungkinan akan terjadi penyesuaian nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Namun menurut dia, level nilai tukar rupiah saat ini memang lebih baik terdepresiasi untuk memacu ekspor. "Saya lebih pilih rupiah yang melemah, karena kita akan pindah dari negara berbasis sumber daya mentah ke manufaktur. Problem kita sekarang rupiah terlalu kuat, itu ’membunuh’ manufaktur," kata dia dalam sesi diskusi. Namun, Chatib meyakini, Indonesia tidak akan ditinggalkan oleh para investor ketika suku bunga di AS naik. Menurut dia, Indonesia adalah negara paling menarik untuk investor, di tengah kondisi global yang kurang baik saat ini. Apalagi, Jepang dan Uni Eropa masih mempertahankan suku bunga negatif yang akan sulit menarik minat investasi. "Jadi sepertinya masih ada inflow walau tidak sebesar atau sesignifikan seperti bulan-bulan lalu," ujar dia seperti dikutip Antara. Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal masuk dari Januari hingga Oktober 2016 telah mencapai Rp 157 triliun. Jumlah itu sudah lebih tinggi dibanding modal masuk sepanjang 2015 yang jumlahnya tidak mencapai Rp 80 triliun. (ns)
