Korban Banjir Bandang Bima Butuh Obat, Stok Beras Cukup!
26 Desember 2016
Koran Sulindo – Banjir bandang yang menerjang kota Bima, Nusa Tenggara Barat
(NTB) beberapa waktu lalu merusak berbagai fasilitas. Salah satunya yang
terdampak adalah gudang Bulog kota Bima. Akibatnya, 1.700 ton beras yang ada
dalam gudang terendam air banjir.Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa
mengatakan, berdasarkan hasil tinjauannya dari 2.200 ton beras yang ada dalam
gudang hanya 500 ton yang bisa diselamatkan. Kendati demikian, pasokan beras
untuk Bima, Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu dipastikan masih cukup untuk
delapan bulan.“Cadangan beras pemerintah untuk kota Bima sudah terpakai. Namun,
masih ada cadangan beras pemerintah Provinsi NTB sebanyak 200 ton,” kata
Khofifah seperti dikutipantaranews.com pada Senin (26/12).Sementara ini,
pasokan beras untuk kota Bima akan dikirim dari gudang Bulog Kabupaten Bima dan
Dompu. Bahkan, Kementerian Sosial siap untuk mengirimkan beras jika pasokan
dari Provinsi NTB masih kurang.Secara terpisah, para pengungsi yang terdiri
atas anak-anak hingga orang dewasa – korban banjir bandang – mulai mengalami
gatal-gatal dan cacar air. Erpan, misalnya, yang terpaksa mengungsi di Masjid
An-Nur, Bima mengaku mengalami gatal-gatal dan cacar air sejak banjir bandang
surut.Tidak hanya Erpan. Anaknya dan juga pengungsi yang lain mengalaminya.
Karena itu, mereka sangat membutuhkan bantuan obat-obatan dan petugas
kesehatan. Erpan telah berada di Masjid An-Nur sejak banjir bandang menerjang
rumah mereka di Monggonao. Rumah dan harta benda mereka habis dibawa air. Tidak
ada yang tersisa, kata Erpan.Seperti Erpan, Aminah, 50 tahun, mengaku
membutuhkan obat-obatan saat ini. Pasalnya, kelurganya mulai mengalami
gatal-gatal terutama anak-anaknya. Kendati banjir bandang mulai surut, Aminah
belum berani kembali ke rumahnya terlebih kondisinya sudah hancur dan
berantakan.Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB menyebutkan lokasi
pengungsian Masjid An-Nur Monggonao menampung sekitar 700 orang. Sementara SD
Negeri Monggonao menampung 30 orang, rumah H Anas 20 orang, dan Masjid Al-Huda
menampung 500 orang. [KRG]