TIRTO.ID » MUSIK » Tembakan untuk Sang Penista Agama
36 Tahun Kematian John Lennon

Tembakan untuk Sang Penista Agama



Reporter: Petrik Matanasi08 Desember, 2016dibaca normal 3 menit   
   - Mark David Chapman penggemar The Beatles yang menjadi seorang garis keras 
dalam beragama.
   - John Lennon sering mengungkapkan ketidaksukaannya kepada agama.
John Lennon membuat heboh saat mengatakan "The Beatles lebih populer daripada 
Yesus". Ia memang tidak menyukai agama (dan negara tentu saja).tirto.id - Jauh 
sebelum menembak John Lennon, Mark David Chapman adalah juga penggemar The 
Beatles. Belakangan, sebelum menembak John, David memilih menjadi seorang 
Kristen garis keras. Sama seperti remaja-remaja yang dulu suka Britney Spears 
atau boyband-boyband dari negara kapitalis macam Amerika atau Inggris, namun di 
kemudian hari menjadi begitu membenci liberalisme, kapitalisme, atau bahkan 
demokrasi.    

Berbekal revolver Colt 38 special, David mendatangi kawasan apartemen yang 
menjadi tempat tinggal John bersama Yoko Ono di New York. Pistol itu diselipkan 
di balik pakaian. Tak ada yang tahu rencana pembunuhan kecuali David dan Tuhan. 
Tak lupa, sebelum mengeksekusi, Mark David meminta John membubuhkan tanda 
tangan di album Double Fantasy. 

Setelah John memberi tanda tangan dan hendak memasuki gedung apartemen, David 
memanggil sang bintang sambil mencabut pistolnya dan menembak berkali-kali 
hingga tumbang. Nyawa John pun melayang di usianya yang ke-40 tahun.

David pun dengan cepat menjadi terkenal seketika karena menghabisi John Lennon 
pada 8 Desember 1980, peristiwa yang hari ini persis sudah berusia tiga puluh 
enam tahun silam. Dunia pun berkabung. Ribuan lilin menyala untuk mengenang 
John yang cinta damai.   

Sejak muda, John adalah sosok yang bengal di balik lagu-lagu yang ditulis dan 
dinyanyikannya. Dia senang mengganggu otoritas, entah itu otoritas negara 
maupun moral (baca: agama). 

Bersama The Beatles, bulan Juli 1966, John Winston Lennon sedang berada di 
Filipina. Usai menggelar konser, mereka “berulah” dengan membuat ngamuk Ibu 
Negara Filipina Imelda Marcos dan kroni-kroninya. Kugiran asal Liverpool itu 
rupanya menolak kemauan Ibu Negara Filipina nan glamor itu untuk tampil di 
Istana Malacanang, Manila. Alasannya jelas: itu agenda yang tidak ada dalam 
jadwal. 

John dan personil Beatles lainnya yang dibesarkan di negara yang bebas, tak 
pernah tahu di negara yang dikuasai rezim macam Marcos semua kemauan keluarga 
penguasa adalah sabda yang harus dijunjung. Tentu saja John Lennon tak peduli.

“Jika ingin pertunjukan datang saja ke kamar kami,” kata John. 

Antek-antek Marcos yang terkenal korup itu tersinggung. Rombongan kugiran 
Britpop itu pun segera angkat kaki dari Filipina. Mereka harus pergi lebih 
cepat sebelum orang-orang fasis yang cinta mati pada keluarga Marcos membunuh 
mereka. Meski harus senam jantung, John sukses menistakan rezim Marcos dengan 
menolak bermain. Setelahnya John tak pernah menginjakkan kaki di negeri Marcos 
itu.

Kekurangajaran John tak hanya itu. Pada tahun yang sama, John  yang dipuja 
gadis-gadis itu bikin masalah besar. Bahkan Lebih parah. Jika di Filipina dia 
bikin marah pendukung Marcos, maka kali ini umat Kristiani sejagad dibuat marah 
- mungkin seperti Ahok yang tersandung di Pulau Seribu terkait Al Maidah 51.

“The Beatles lebih terkenal daripada Yesus,” kata John Lennon. 

Segera poster dan piringan hitam The Beatles pun jadi sasaran pembakaran 
orang-orang yang agamanya dinistakan John. Ia pun belakangan harus minta maaf 
atas ucapannya itu. Dia begitu gugup. 

John tentu saja punya alasan mengapa dia mengatakannya. Bagi John, televisi 
yang kala itu mulai populer sebagai media massa penting, sebenarnya juga lebih 
populer daripada Yesus Kristus. John melihat kehidupan sekuler anak muda di 
tahun 1960an, menunjukkan bahwa budaya populer menang lebih dahsyat daripada 
agama apapun di dunia. 

John hanya ingin menunjukkan hal itu. “Beatles lebih berarti bagi anak-anak 
daripada Yesus, atau agama, pada waktu itu. Saya tidak bermaksud melecehkan 
atau merendahkan, saya hanya mengatakan itu sebagai fakta,” ucap John.

Di Indonesia hal ini sangat bisa dianggap penistaan. Ingatlah kasus yang 
menimpa Arswendo Atmowiloto. Sebagai pemimpin redaksi tabloid Monitor, ia 
mengumumkan hasil angket pembaca yang memilih tokoh yang mereka kagumi melalui 
kartu pos. 

Angket ini menjadi kecaman karena Nabi Muhammad SAW hanya menempati posisi 
ke-11 dengan 616 kartu pos pengagum saja. Nabi Muhammad kalah populer 
dibandingkan Zainuddin MZ, Soeharto, Saddam Husein, Soekarno, bahkan kalah dari 
Arswendo sendiri. 

Arswendo pun harus menelan pil pahit. Ia dibawa ke pengadilan dan diputuskan 
bersalah. Ia dihukum bui selama lima tahun. 
Bicara soal agama, John memang tidak pernah mesra dengan agama apa pun di dunia 
ini. Bahkan perjalanannya ke India tak membuatnya memuja Tuhan. Setelah Beatles 
bubar dan bersolo karier, John bahkan pernah menulis lagu berjudul God (1970). 

Lagu tersebut menegaskan ketidakpercayaan John pada tokoh-tokoh dan hal-hal 
mulia macam Yesus, Budha, Injil, Taurat dan lain-lainnya. Tidak percaya pada 
Yesus, tentu bisa dianggap dia tidak percaya ajaran Yesus juga. Begitu pun pada 
Budha. 

Entah kenapa dalam lagu God tersebut John tak menyebut nama Muhammad? Jika 
Muhammad masuk dalam lagu ini, John akan dapat fatwa mati seperti halnya Salman 
Rushdie yang menulis Ayat-Ayat Setan.

Penegasan John bahwa agama tak penting, atau sebaiknya agama tidak pernah ada, 
ia tuliskan dalam lagunya yang paling sohor, Imagine (1971). Lagu yang dianggap 
sebagai lagu perdamaian dunia ini ditulisnya ketika Perang Dingin berlangsung. 
John termasuk orang yang membenci perang. Meski tinggal di New York, John 
adalah musuh Amerika Serikat. Sebagai seniman asal Inggris, dia mirip Charlie 
Chaplin. Sama-sama dimusuhi pemerintah Amerika. 

Lewat lagunya ini, John juga mengajak orang-orang untuk membayangkan jika agama 
tak pernah ada. Baginya, mungkin di dunia tidak ada perang yang membawa-bawa 
nama Tuhan. Di awal lagu saja, John sudah menulis, “Bayangkan jika tidak 
surga”. 

John bermimpi juga tak ada neraka. Selain berharap agama, yang bagi Marx adalah 
candu, sebaiknya tak perlu ada, John juga membayangkan negara tak pernah ada. 
Bagi John, jika negara (dan agama) tidak ada, tentu tak akan pernah ada banyak 
darah yang tertumpah.  

Dalam buku Lennon in America (2000) karya Geoffrey Giuliano, Lennon berkomentar 
bahwa lagu Imagine adalah "lagu anti agama, anti nasionalistis, anti 
konvensional, anti kapitalistis, tetapi karena kata-katanya diperhalus, lagu 
ini dapat diterima". 

Ternyata, John tetap saja “penista”, hanya saja dari tahun ke tahun John makin 
mampu menista tanpa harus membuat kehebohan sedahyat seperti saat membandingkan 
Beatles dengan Yesus. 

Tetap saja kepiawaian bermain kata-kata, bahkan saat menista, tak mampu 
menyelamatkannya dari peluru yang dimuntahkan oleh pistol dalam genggaman 
Chapman. Peluru rupanya lebih konkret daripada kata-kata, setidaknya di saat ia 
meregang nyawa. 

Kirim email ke