Ah itu lyrik dan lagu yang indah. 
Yuh nyanyi 555. 776.
Lusi.-

Am Wed, 11 Jan 2017 13:06:36 +0000 (UTC)
schrieb "Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]>:

> TIRTO.ID » MUSIK » Tembakan untuk Sang Penista Agama
> 36 Tahun Kematian John Lennon
> 
> Tembakan untuk Sang Penista Agama
> 
> 
> 
> Reporter: Petrik Matanasi08 Desember, 2016dibaca normal 3 menit   
>    - Mark David Chapman penggemar The Beatles yang menjadi seorang
> garis keras dalam beragama.
>    - John Lennon sering mengungkapkan ketidaksukaannya kepada agama.
> John Lennon membuat heboh saat mengatakan "The Beatles lebih populer
> daripada Yesus". Ia memang tidak menyukai agama (dan negara tentu
> saja).tirto.id - Jauh sebelum menembak John Lennon, Mark David
> Chapman adalah juga penggemar The Beatles. Belakangan, sebelum
> menembak John, David memilih menjadi seorang Kristen garis keras.
> Sama seperti remaja-remaja yang dulu suka Britney Spears atau
> boyband-boyband dari negara kapitalis macam Amerika atau Inggris,
> namun di kemudian hari menjadi begitu membenci liberalisme,
> kapitalisme, atau bahkan demokrasi.    
> 
> Berbekal revolver Colt 38 special, David mendatangi kawasan apartemen
> yang menjadi tempat tinggal John bersama Yoko Ono di New York. Pistol
> itu diselipkan di balik pakaian. Tak ada yang tahu rencana pembunuhan
> kecuali David dan Tuhan. Tak lupa, sebelum mengeksekusi, Mark David
> meminta John membubuhkan tanda tangan di album Double Fantasy. 
> 
> Setelah John memberi tanda tangan dan hendak memasuki gedung
> apartemen, David memanggil sang bintang sambil mencabut pistolnya dan
> menembak berkali-kali hingga tumbang. Nyawa John pun melayang di
> usianya yang ke-40 tahun.
> 
> David pun dengan cepat menjadi terkenal seketika karena menghabisi
> John Lennon pada 8 Desember 1980, peristiwa yang hari ini persis
> sudah berusia tiga puluh enam tahun silam. Dunia pun berkabung.
> Ribuan lilin menyala untuk mengenang John yang cinta damai.   
> 
> Sejak muda, John adalah sosok yang bengal di balik lagu-lagu yang
> ditulis dan dinyanyikannya. Dia senang mengganggu otoritas, entah itu
> otoritas negara maupun moral (baca: agama). 
> 
> Bersama The Beatles, bulan Juli 1966, John Winston Lennon sedang
> berada di Filipina. Usai menggelar konser, mereka “berulah” dengan
> membuat ngamuk Ibu Negara Filipina Imelda Marcos dan kroni-kroninya.
> Kugiran asal Liverpool itu rupanya menolak kemauan Ibu Negara
> Filipina nan glamor itu untuk tampil di Istana Malacanang, Manila.
> Alasannya jelas: itu agenda yang tidak ada dalam jadwal. 
> 
> John dan personil Beatles lainnya yang dibesarkan di negara yang
> bebas, tak pernah tahu di negara yang dikuasai rezim macam Marcos
> semua kemauan keluarga penguasa adalah sabda yang harus dijunjung.
> Tentu saja John Lennon tak peduli.
> 
> “Jika ingin pertunjukan datang saja ke kamar kami,” kata John. 
> 
> Antek-antek Marcos yang terkenal korup itu tersinggung. Rombongan
> kugiran Britpop itu pun segera angkat kaki dari Filipina. Mereka
> harus pergi lebih cepat sebelum orang-orang fasis yang cinta mati
> pada keluarga Marcos membunuh mereka. Meski harus senam jantung, John
> sukses menistakan rezim Marcos dengan menolak bermain. Setelahnya
> John tak pernah menginjakkan kaki di negeri Marcos itu.
> 
> Kekurangajaran John tak hanya itu. Pada tahun yang sama, John  yang
> dipuja gadis-gadis itu bikin masalah besar. Bahkan Lebih parah. Jika
> di Filipina dia bikin marah pendukung Marcos, maka kali ini umat
> Kristiani sejagad dibuat marah - mungkin seperti Ahok yang tersandung
> di Pulau Seribu terkait Al Maidah 51.
> 
> “The Beatles lebih terkenal daripada Yesus,” kata John Lennon. 
> 
> Segera poster dan piringan hitam The Beatles pun jadi sasaran
> pembakaran orang-orang yang agamanya dinistakan John. Ia pun
> belakangan harus minta maaf atas ucapannya itu. Dia begitu gugup. 
> 
> John tentu saja punya alasan mengapa dia mengatakannya. Bagi John,
> televisi yang kala itu mulai populer sebagai media massa penting,
> sebenarnya juga lebih populer daripada Yesus Kristus. John melihat
> kehidupan sekuler anak muda di tahun 1960an, menunjukkan bahwa budaya
> populer menang lebih dahsyat daripada agama apapun di dunia. 
> 
> John hanya ingin menunjukkan hal itu. “Beatles lebih berarti bagi
> anak-anak daripada Yesus, atau agama, pada waktu itu. Saya tidak
> bermaksud melecehkan atau merendahkan, saya hanya mengatakan itu
> sebagai fakta,” ucap John.
> 
> Di Indonesia hal ini sangat bisa dianggap penistaan. Ingatlah kasus
> yang menimpa Arswendo Atmowiloto. Sebagai pemimpin redaksi
> tabloid Monitor, ia mengumumkan hasil angket pembaca yang memilih
> tokoh yang mereka kagumi melalui kartu pos. 
> 
> Angket ini menjadi kecaman karena Nabi Muhammad SAW hanya menempati
> posisi ke-11 dengan 616 kartu pos pengagum saja. Nabi Muhammad kalah
> populer dibandingkan Zainuddin MZ, Soeharto, Saddam Husein, Soekarno,
> bahkan kalah dari Arswendo sendiri. 
> 
> Arswendo pun harus menelan pil pahit. Ia dibawa ke pengadilan dan
> diputuskan bersalah. Ia dihukum bui selama lima tahun. Bicara soal
> agama, John memang tidak pernah mesra dengan agama apa pun di dunia
> ini. Bahkan perjalanannya ke India tak membuatnya memuja Tuhan.
> Setelah Beatles bubar dan bersolo karier, John bahkan pernah menulis
> lagu berjudul God (1970). 
> 
> Lagu tersebut menegaskan ketidakpercayaan John pada tokoh-tokoh dan
> hal-hal mulia macam Yesus, Budha, Injil, Taurat dan lain-lainnya.
> Tidak percaya pada Yesus, tentu bisa dianggap dia tidak percaya
> ajaran Yesus juga. Begitu pun pada Budha. 
> 
> Entah kenapa dalam lagu God tersebut John tak menyebut nama Muhammad?
> Jika Muhammad masuk dalam lagu ini, John akan dapat fatwa mati
> seperti halnya Salman Rushdie yang menulis Ayat-Ayat Setan.
> 
> Penegasan John bahwa agama tak penting, atau sebaiknya agama tidak
> pernah ada, ia tuliskan dalam lagunya yang paling
> sohor, Imagine (1971). Lagu yang dianggap sebagai lagu perdamaian
> dunia ini ditulisnya ketika Perang Dingin berlangsung. John termasuk
> orang yang membenci perang. Meski tinggal di New York, John adalah
> musuh Amerika Serikat. Sebagai seniman asal Inggris, dia mirip
> Charlie Chaplin. Sama-sama dimusuhi pemerintah Amerika. 
> 
> Lewat lagunya ini, John juga mengajak orang-orang untuk membayangkan
> jika agama tak pernah ada. Baginya, mungkin di dunia tidak ada perang
> yang membawa-bawa nama Tuhan. Di awal lagu saja, John sudah menulis,
> “Bayangkan jika tidak surga”. 
> 
> John bermimpi juga tak ada neraka. Selain berharap agama, yang bagi
> Marx adalah candu, sebaiknya tak perlu ada, John juga membayangkan
> negara tak pernah ada. Bagi John, jika negara (dan agama) tidak ada,
> tentu tak akan pernah ada banyak darah yang tertumpah.  
> 
> Dalam buku Lennon in America (2000) karya Geoffrey Giuliano, Lennon
> berkomentar bahwa lagu Imagine adalah "lagu anti agama, anti
> nasionalistis, anti konvensional, anti kapitalistis, tetapi karena
> kata-katanya diperhalus, lagu ini dapat diterima". 
> 
> Ternyata, John tetap saja “penista”, hanya saja dari tahun ke tahun
> John makin mampu menista tanpa harus membuat kehebohan sedahyat
> seperti saat membandingkan Beatles dengan Yesus. 
> 
> Tetap saja kepiawaian bermain kata-kata, bahkan saat menista, tak
> mampu menyelamatkannya dari peluru yang dimuntahkan oleh pistol dalam
> genggaman Chapman. Peluru rupanya lebih konkret daripada kata-kata,
> setidaknya di saat ia meregang nyawa. 

Kirim email ke